Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Wanita murahan



"Ya, bosku memang tampan!", masih dengan sikap angkuhnya. Tapi sejenak matanya langsung membulat besar saat ia menyadari ada sesuatu yang salah.


"Dia,,,, kau,,, dia dan kau,,, adalah,,, !", Tuan Rin menunjuk foto yang ia pegang lalu juga ke arah orang yang berada di hadapannya secara bergantian. Wajahnya yang sombong seketika berubah menjadi pias.


"Sama!", sambung Ben dengan santainya. Sedang wanita yang berada di dalam dekapannya tak dapat menahan tawanya. Jadi Rose hanya mengulum bibirnya saat ini untuk menahan tawa yang menguar dari sana.


"Ku bilang juga apa?! Andai saja dia berhenti sejak tadi! Hah!", Manajer Toni bergumam sendiri mengomentari kebodohan Tuan Rin yang sudah tua itu.


Seandainya pria itu mendengarkannya sejak awal, pasti tidak akan ada kejadian memalukan seperti ini. Dan karena ini sudah terlanjur, maka biarlah ia menjadi penonton drama ini sampai akhir. Manajer Toni merapatkan dirinya ke dinding untuk bersandar. Lalu menikmati tontonan dimana Tuan Rin yang terus saja mempermalukan dirinya sendiri.


Foto yang baru saja ia tunjukkan segera ia masukkan kembali ke dalam dompetnya. Wajah pias, sekujur tubuh gemetar. Sial, dia telah menyinggung orang yang salah. Orang itu adalah bos besarnya, lalu mengapa dia tidak menyadarinya sedikit pun. Padahal setiap hari ia selalu memandangi foto itu takut-takut suatu saat bisa bertemu dengannya.


Adalah sebuah keberuntungan bagi mereka yang bisa bertemu langsung dengan pemimpin besar geng mereka sendiri. Karena Tuan Rin pernah mendengar kabar bahwa bos besar mereka sedang berada di kota ini. Dan sebuah pesan mengatakan untuk melindunginya apa pun yang terjadi di sana. Tapi sekarang apa, sekarang malahan dirinya sendirilah yang membuat masalah dengan bos besarnya sendiri.


Tapi tunggu dulu, memang ada yang berbeda dengan penampilan bos besarnya. Penampilannya jelas sangat berbeda. Di foto, Ben dengan ciri khasnya, kemeja bermotif berpadu jas dan juga topi koboi yang selalu menutupi kepalanya. Sedangkan saat ini, Ben yang ia temui seperti seorang anak muda dengan kaos pantai biasa, hanya saja pria itu tetap memakai topi di kepalanya. Meski itu hanya topi casual yang biasa orang-orang pakai. Pantas saja ia jadi tidak mengenalinya.


Berkutat dengan masalah penampilan bos besarnya, ia baru menyadari bahwa ia harus segera menyelamatkan dirinya sendiri dari amarah bos besarnya. Wanita, semua ini karena wanita itu. Ia akan melimpahkan semua kesalahannya pada wanita itu sehingga ia pasti akan aman setelah ini. Lagipula bos besarnya tak pernah dekat dengan wanita manapun kecuali dengan Nona Ana yang ia sendiri juga kenal sebagai pemilik tempat ini. Maka ia yakin bahwa bos besarnya tidak akan mempermasalahkan hal ini. Sebuah kesempatan cerah ia rasa bisa ia gapai di depan sana.


brruk


Tuan Rin segera menjatuhkan diri ke lantai. Ia berlutut sambil menggosokkan tangannya di depan dada. Wajahnya pun dibuat menjadi memelas mungkin.


"Ampuni aku, Tuan! Ampuni aku karena telah bertindak kurang ajar dan menyinggung Tuan Ben. Saya tidak tau jika Tuan adalah Tuan Ben kami. Jika saja tidak datang wanita ini, mungkin saya akan segera mengenali Anda, Tuan", pria paruh baya itu masih berlutut dsn memohon di seberangnya berdiri.


"Memangnya apa yang dia lakukan?", tanya Ben dingin sambil menatap lurus ke depan. Tangannya yang berada di pinggang Rose mulai mempererat pegangannya.


Rose sendiri bisa merasakan hawa dingin yang menerpa dari tubuh pria itu. Ia juga ikut merasakan dominasi kuat hawa itu. Bibirnya menipis menahan gemetar karena tangisannya akan mulai keluar lagi saat mengingat bagaimana pria paruh baya itu juga hampir melecehkannya.


"Dia telah menggoda saya, Tuan. Wanita itu yang telah melemparkan dirinya pertama kali ke arah saya", dengan tidak tau malunya Tuan Rin melontarkan kata-kata itu.


Ben menghirup udara sambil menahan geram. Ia juga merasakan air mata menetes membasahi pakaiannya. Itu pasti Rose yang menangis. Ben tak ingin menoleh, karena jika ia melihat langsung wanita itu menitihkan air mata lagi, ia yakini bahwa dirinya tak akan mampu mengontrol emosinya lagi.


Ben melepaskan dekapannya pada tubuh Rose dan mengangsur tubuh wanita itu ke samping tanpa melihatnya. Lalu ia sendiri berjalan maju beberapa langkah meninggalkan Rose sendiri di belakang.


Wanita itu merasa makin terpuruk. Yang ada di dalam pikirannya adalah bahwa Ben mempercayai ucapan pria itu lalu meninggalkannya sendirian karena kecewa. Rose mulai terisak sambil memainkan jarinya di depan dada. Hatinya makin hancur memikirkan hal ini.


Sedangkan Ben yang sudah berada di depannya, sungguh tak tahan mendengar Rose kembali menangis seperti itu. Ia makin merasa bersalah kepada wanita itu. Ben memejamkan matanya kuat-kuat sambil mengepalkan tangannya di samping. Ia juga mengetatkan rahangnya. Pria itu jelas sekali sedang menahan diri untuk tidak meledak sekaligus. Entah bagaimana nasib pria paruh baya itu selanjutnya dengan kata-kata tidak tau malu yang akan ia lontarkan lagi.


"Lalu?", setengah menggeram Ben bertanya lagi.


"Ya, dia melemparkan dirinya kepada saya dan memohon kepada saya untuk menidurinya. Benar-benar wanita murahan!", Tuan Rin itu masih berpikir bahwa Ben berada di sisinya dengan ia meninggalkan wanita itu di belakang.


"Cukup!", suara gemetar itu sampai ke telinga Ben. Suara Rose lirih sambil menangis dan memohon. Wanita itu sudah tidak tahan mendengar Tuan Rin memfitnah dirinya.


"Dia itu sungguh wanita murahan, Tuan! Kau jangan sampai tergo,,, ", sebelum dia benar-benar menyelesaikan kalimatnya, maka satu tendangan sudah membuatnya tersungkur dan terseret jauh ke lantai.


"Tuan?!", pria itu merintih sambil memegangi perutnya yang sakit ia juga berusaha untuk bangun dari posisinya. Gila, sungguh tendangan bos besarnya itu memiliki kekuatan yang besar. Ia sampai memuntahkan sedikit darah dari mulutnya.


Tapi sebelum ia benar-benar bisa bangun, Ben sudah datang di hadapannya bak iblis yang siap memusnahkan dirinya. Wajah kejam dan aura dingin itu, sungguh sial orang yang merasakan efek dari kemarahan orang itu. Ben mencengkeram rahang Tuan Rin dengan satu tangannya. Cengkeraman tangan itu sangat kuat hingga bisa saja meremukkan tulang-tulang di sana.


"Kau bilang wanitaku murahan, hah?!", ucap Ben sambil merapatkan giginya.


bugh


Satu pukulan ia daratkan di wajah pria paruh baya itu.


"Tau apa kau tentang dirinya!", Ben mulai meluapkan amarahnya.


bugh


Satu lagi mendarat di pipi kanannya.


"Mulut kurang ajar milikmu ini harusnya aku robek sejak awal!", Ben benar-benar marah seperti kesetanan.


Ia membabi buta memukuli pria itu. Ben meluapkan semua emosinya yang ia tahan sejak tadi. Rose yang berada jauh di belakangnya, kini tengah menutup mulutnya dengan tatapan tak percaya.


-


-


-


-


-


masih ada lagi nih teman-teman yang kangen sama babang ben sama neng rose nya πŸ˜‰πŸ€­


ditunggu ajalah pokoknya ya ☺️


jangan lupa ya kasih like, vote sama komentar kalian di sini ya,, okeh


terimakasih 😘