
Ini masih di masa yang sama. Tapi waktu itu sudah berlalu sekitar hampir satu minggu sejak Baz memanggil Victor ke kamarnya. Yang berarti sudah dua minggu Victor bekerja di rumah besar keluarga Peterson itu.
Selama itu pula muncul beberapa hal manis yang terjadi antara Bella dan Victor. Seperti Bella yang telah menyiapkan bekal untuk Victor alih-alih untuk kakaknya. Namun saat akan memberikannya gadis itu merasa gugup setengah mati. Rasanya kaki yang ia miliki tak mampu berpijak dengan benar, seperti ingin langsung mengayun melarikan diri dari hadapan Victor segera. Hingga akhirnya gadis itupun menyerahkan bekal yang ia buat sambil menundukkan kepala dengan tangan yang merentang lurus ke depan.
"Ini bekal untukmu! Maksudku,,, untuk kakak juga sekalian aku buatkan untukmu", cepat-cepat gadis itu berkata tanpa mau melihat ke arah orang di hadapannya.
Kebetulan saat itu Baz melihatnya, ia menahan geli sambil kakinya mantap berjalan ke arah adiknya itu.
"Terimakasih adikku sayang!", Baz langsung menyambar dua kotak bekal yang berada di atas tangan Bella. Pria itu acuh tak mengehentikan langkahnya.
"Ayo, Victor! Kita akan terlambat!", serunya saat sudah beberapa langkah meninggalkan mereka berdua.
"Kakak!", Bella berdecak kesal sambil mengumpat kakaknya. Ia mengerucutkan bibirnya ingin protes namun tidak bisa.
"Terimakasih, Nona!", Victor tersenyum lalu mengusap pucuk kepala Bella tanpa sadar. Ucapannya terdengar tulus, namun gerakan tangannya itu di luar dugaan.
Suasana canggung pun terjadi, keduanya saling terpaku dan mengunci pandangan masing-masing. Ia angkat tangannya di udara sambil tertegun untuk beberapa saat. Ia sempat terpesona oleh wajah cantik yang dimiliki oleh nonanya itu. Tapi sesuatu mengganggu pikirannya, hingga ia akhirnya memilih untuk mengakhiri keheningan ini.
Tangannya turun secara perlahan, ia sempatkan untuk mengusap bahu gadis itu lalu mengayun ke bawah hendak pergi dari sana. Dan tanpa sengaja jemari tangan mereka bersentuhan. Menimbulkan sengatan listrik pada keduanya. Namun Victor sudah terlanjur membalikkan badannya. Ia juga tak mungkin menunjukkan rasa tertariknya lebih jauh lagi pada gadis itu, hingga memilih untuk segera pergi dari sana. Meninggalkan Bella yang masih terhenyak sambil memegangi kepala dan memandangi jemari tangannya yang tadi sempat bersentuhan dengan milik Victor.
Dengan tatapan kosong gadis itu menampar pipinya sendiri. Sakit, iya gadis itu langsung menjerit kesakitan. Tapi belum cukup sampai di situ, tangannya membuat kepalan lalu ia memukul dadanya berulang kali masih dengan tatapan yang sama. Jantungnya berdetak sangat-sangat cepat. Dan untung saja wajahnya menghangat setelah pria itu pergi dari hadapannya. Jadi ia tak perlu merasa malu pada siapapun sekarang.
"Ahh,, ini bukan mimpi ternyata!", Bella berteriak kegirangan di tempatnya.
"Nona! Apakah nona baik-baik saja?", salah satu pelayan menghampirinya karena merasa khawatir nonanya tiba-tiba berteriak.
"Tidak,,, tidak apa-apa! Sudah sana lanjutkan pekerjaanmu!", gadis itu menipiskan sedikit bibirnya. Tersenyum canggung seraya mengusir pelayan itu pergi dari hadapannya. Lalu ia melenggang meninggalkan halaman rumahnya ke arah dalam sambil bersenandung bahagia.
***
Langit telah berubah gelap dengan sinar rembulan yang mengimbangi temaramnya. Siluet pelangi juga berada di sekeliling bola besar bercahaya itu. Sepoy angin malam membuat semilir hati yang berdesir ikut merinding dibuatnya.
Victor tengah tersenyum memandangi beberapa potret Bella di tangannya. Senyum polosnya, wajah cantiknya, Victor merasa memiliki ketertarikan di hatinya terhadap gadis itu. Meski umur mereka terlampau cukup jauh, tapi itu tak bisa menghentikan hatinya untuk mendambakan gadis yang umurnya baru genap dua puluh tahun sedangkan dirinya sudah akan menginjak umur dua puluh tujuh tahun.
Tidak! Ini salah! Victor menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ini adalah misinya, ia tak boleh menggunakan hatinya dalam menjalankan setiap misi. Biasanya ia akan mengeraskan hatinya meskipun jika misi itu harus berurusan dengan wanita. Tapi entah kenapa kali ini hatinya bermain, hatinya berdesir di dalam sana.
Pria itu menggeser beberapa foto yang menampakan momen-momen dimana Baz sedang berbincang dengan seseorang di markasnya. Setelah perbincangan kala itu di kamar tuannya, Victor telah mendapatkan kepercayaan penuh untuk mengikuti setiap kegiatannya. Pun termasuk dengan setiap kegiatan yang berurusan dengan rahasia yang selama ini ditutupi dari keluarganya.
Victor berusaha mengeraskan hatinya saat ia melihat foto-foto Baz yang mengingatkan dirinya tentang misi yang sedang dijalakannya. Ia tak bisa memenangkan keinginan hatinya untuk mengejar wanita yang membuatnya merasakan suka. Lagipula mereka berasal dari keluarga senat yang akan sulit baginya untuk mendapatkannya kelak. Terlalu rumit keluarga itu pikirnya.
Victor membereskan semua kumpulan foto-foto yang dipegangnya, lalu ia masukkan ke dalam sebuah amplop. Malam ini dia sudah membuat janji dengan seseorang untuk menyerahkan foto-foto yang ia dapatkan. Tentu saja Victor ingat untuk menyisakan semua foto Bella untuk dirinya. Ia tidak akan menyerahkan foto wanita itu pastinya. Lagipula tak ada hubungannya dengan misinya kali ini.
"Aku jalan sekarang!", ucapnya pada ponsel yang sudah berada di telinganya.
***
Tempat sampah di bahan pohon
Itu isi pesan yang ia kirim pada seseorang yang telah memiliki janji dengannya. Victor kembali menuju mobilnya sambil sesekali melihat sekitar yang amat sunyi.
Pria itu masih bergeming di dalam mobilnya. Tak berapa lama seseorang dengan pakaian yang hampir sama dengannya berdiri di depan pohon dimana di sana terdapat tempat sampah itu. Pria itu mengeluarkan ponselnya dan seperti mengirimkan sebuah pesan.
ting
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
Aku sudah mendapatkannya. Nanti bos akan menelepon
Setelah membaca pesan itu, Victor kembali mengalihkan pandangannya ke arah pohon. Dan benar saja, pria tadi sudah menghilang bersama bungkusan hitam yang tadi dibawanya. Setelah merasa tak ada gunanya masih berada di sana, Victor pun melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
***
Waktu sudah lewat tengah malam saat Victor telah kembali ke apartemennya. Tadi ia sempatkan berkeliling dulu untuk mengusir penatnya. Maka setelah sampai ia pun langsung membanting tubuhnya ke ranjang sambil sedikit memijit keningnya. Victor sedang berusaha menghilangkan perasaan sukanya pada Bella karena misinya sudah selesai dan ia akan segera kembali ke markas Harimau Putih. Tapi belakangan ini memang kepalanya sering merasakan denyut yang sedikit berlebihan. Namun pria itu tak pernah menghiraukannya.
🎶🎶🎶🎶
Tiba-tiba ponselnya berdering. Victor mengambil ponsel yang tadi ikut terbanting ke ranjang, benda itu berada di sebelahnya. Ia mengernyitkan alisnya. Layar ponsel itu menampilkan nomer yang tidak di kenalnya.
-
-
-
-
-
Maaf ya teman-teman setelah sekian lama baru update lagi 🙏🙏
Bangunin mood yang jelek dan kehabisan inspirasi itu ga gampang,,,aku harap temen-temen mau maklumin ya. Apalagi aku ngerjain dua novel yang ongoing, jadi pikiranku rasanya mumet bgt harus kerja keras meres otak tiap hari😁
Setel rehat selama beberapa hari,, moodku buat nulis udah oke lagi dan siap tempur buat menghibur temen-temen semuanya😉
Maaf ya kalo aku jadi curhat begini 🤭
Makanya jangan lupa buat kasih like, vote sama komentar kalian ya teman-teman ☺️
Keep strong and healthy okeh 🥰