Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Lebih berperikemanusiaan



Bunyi suara tembakan berderu di atas dek kapal. Orang-orang mulai tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir di beberapa bagian tubuhnya. Ben bersama dengan anak buahnya menyerang kapal itu habis-habisan. Tak pandang bulu, terkecuali para tuna wisma yang menjadi sandera mereka. Ben menempatkan mereka ke sisi yang lebih aman dari kapal itu.


"Apakah di antara kalian ada yang melihat wanita ini?", Ben bertanya pada para tuna wisma itu sambil menunjukkan selembar foto Rose.


"Jangan takut! Kami di sini ada untuk menyelamatkan kalian! Kami akan membebaskan kalian dari sini setelah urusan kami selesai. Maka dari itu tolong jawab pertanyaan bos kami!", Relly maju memberi pengertian kepada mereka semua setelah tak ada satu pun yang mau menjawab. Dan bahkan kebanyakan di antara mereka terlihat ketakutan dan waspada. Mungkin saja para tuna wisma itu berpikir jika mereka ini adalah sama seperti orang yang menangkap mereka, lantaran perawakan dan pakaian yang mereka kenakan tidak kalah menyeramkan dibandingkan orang-orang kapal ini.


"Ya! Aku melihatnya!", salah satu di antara mereka akhirnya ada yang mau bersuara. Menghentikan keheningan di tengah kerumunan orang-orang itu. Para tuna wisma itu pun mulai mengingat-ingat bersama.


"Ya! Kami memang sempat melihatnya! Tapi tadi orang-orang itu membawanya untuk diberikan kepada bos besar mereka!", sambung lagi yang lainnya memberi informasi penting ini.


Ben menarik nafasnya sangat dalam sambil mengetatkan rahangnya. Sungguh emosinya sudah akan meledak saat ini. Ia sudah membayangkan apa yang mereka maksud dengan hal itu. Dan ia yang paling tahu bagaimana wanita itu memiliki trauma karena hal ini. Ben bersumpah, jika sampai terjadi sesuatu kepada kekasihnya itu, ia akan membinasakan seluruh orang-orang ini beserta kapalnya. Dan bahkan ia akan menggali sampai ke lubang asalnya. Ben mencengkeram senjata api yang berada di genggaman tangannya itu dengan sangat erat sampai buku-buku jarinya memutih.


"Katakan! Dimana bos besarmu itu?", Relly menggunakan kakinya untuk menggulingkan tubuh seorang yang masih hidup meskipun saat ini tubuhnya sudah bersimbah darah.


"Sa,, sa,, saya tidak tahu pasti, Tuan! Yang jelas bos besar berada di kamar paling mewah di kapal ini!", orang itu mengeluarkan darah dari mulutnya setelah selesai berbicara. Dia terbatuk beberapa kali dengan darah merah segar.


"Lalu apakah kau pernah melihat wanita ini?", Ben sedikit menunduk untuk menunjukkan foto Rose dengan jelas.


"Saya tidak tahu!", suara orang itu semakin melemah seraya menggeleng dengan sisa tenaga yang dia punya. Lantas Relly mengangkat kakinya dari atas tubuh orang itu, ketika tak ada informasi penting yang bisa mereka dapatkan. Dan tak lama orang itu pun mengembuskan nafas terakhirnya. Para tuna wisma lantas saling meringkuk, memandangi dengan takut pemandangan mengerikan itu.


***


Hentakkan langkah kakinya menggema sepanjang lorong ini bersama dengan suara tembakan yang berasal dari tangannya juga beberapa orang di belakangnya. Ben menyingkirkan setiap orang yang menghalangi jalannya, yang menghalangi usahanya mencari kekasih tercintanya.


Setiap ruangan didobrak paksa dan diperiksa, para bawahannya mencari keberadaan Rose. Dan sampai saat ini masih nihil hasil yang mereka temukan. Ben semakin marah. Sosoknya yang menjulang kini tengah mengeluarkan sungutnya di kedua sisi kepalanya. Sosoknya semakin terlihat menakutkan bak raja iblis yang seluruh badannya berwarna merah.


Dan sekarang, pria bertopi koboi itu tengah berdiri seraya menampakkan kekuasaannya. Anak buahnya bersiap waspada menjaga beberapa orang yang tengah bersimpuh dengan tangan diikat ke belakang. Wajah mereka babak belur, terkecuali yang wanita. Dua orang anak buah Ben menodongkan senjata laras panjangnya ke arah orang-orang yang telah berhasil mereka tangkap itu.


"Jadi siapa bos besarnya di antara kalian semua?", Relly membuka suara, karena ia melihat tuannya saat ini sedang tenggelam dalam kemarahannya.


Ketika mereka berhasil menggerebek ruangan itu. Situasinya sedang sangat menjijikan dan mengotori mata. Tuan Rogh dan kedua wanita seksi itu tengah bermain-main di atas ranjang dengan hanya menggunakan pakaian dalam saja. Sudah begitu, masih ada pria lagi yang tengah mabuk dan tenggelam di dalam dunia khayalnya. Beberapa botol minuman keras telah kosong dan aroma alkohol menyengat dan mengusik indera penciuman. Mereka tergeletak tak sadarkan diri saking mabuknya, sehingga anak buah Ben harus menyiram mereka dengan seember air untuk membuat mereka bangun.


Melihat hal ini Ben semakin memikirkan kekasihnya yang masih belum ditemukan itu. Pikiran dan kekhawatirannya semakin menjadi ketika bayangan buruk terbesit dipikirannya. Pria tua yang gila wanita ini mungkinkah telah menempatkan tangan kotornya pada kekasihnya itu?! Gunung berapi yang bersemayam di dalam dirinya, saat ini seperti akan segera memuntahkan lahar panasnya.


Memikirkan hal ini, Ben merasa akan menjadi gila. Bukan hanya mengenai pelecehan saja yang ia pikirkan. Tapi ia juga tahu trauma apa yang wanita itu miliki. Jika sampai kemungkinan buruk itu terjadi, entah bagaimana kondisi kejiwaan wanita tiu saat ini. Bagaimana ia bisa menghadapi Victor untuk hal ini?! Padahal pria itu sudah mempercayakan adiknya itu kepada dirinya. Ben sungguh sangat mengkhawatirkan Rose saat ini.


"Dia, Tuan! Dia bos besar kami!", Tuan Rogh segera berpikir cepat dan menudingkan telunjuknya ke arah orang yang berada di sampingnya. Yang tak lain adalah bos dari orang-orang yang menangkap para tuna wisma. Walaupun begitu, dia tetap bukanlah bos besar di sini. Sayangnya ia kalah cepat dalam berpikir. Sehingga Tuan Rogh sudah memakannya sebagai umpan terlebih dahulu.


Tuan Rogh yang licik itu langsung mengambil tindakan setelah melihat aura menakutkan yang menguar dari tubuh Ben yang ia kira adalah pemimpin dari mereka semua. Tuan Rogh tahu bahwa jika sampai ia berurusan dengannya, maka hanya kematian yang akan menyambut dirinya.


"Apa-apaan ini, Tuan!", orang yang dituding Tuan Rogh berseru tidak terima. Ia mengerti jika dirinya akan dikorbankan dalam hal ini. Namun tatapan mata Tuan Rogh kepada dirinya seolah orang itu sedang memohon kepada dirinya.


Tidak bisa! Meminta tolong apanya?! Dalam situasi seperti ini, siapa yang peduli dengan nyawa orang lain. Sudah tentu ia akan mempedulikan nyawanya sendiri. Dan begitu pun yang ia yakini mengenai bos besarnya itu. Ia sangat yakin jika bos besarnya itu sedang menjebaknya.


"Tuanlah bos besar kami! Tuan yang membayar hasil kerja kami. Dan sebagai hadiah, kami sudah memberikan wanita paling cantik untuk Tuan! Benar begitu, kan?!", ia membawa rekannya yang ikut tertangkap untuk meyakinkan pernyataan yang baru saja ia buat.


Kemudian ia jelas melihat perubahan wajah Tuan Rogh yang kesal di sisinya. Sudah jelas sekarang jika tadi orang itu hanya berpura-pura dengan memainkan peran mengasihani. Namun ia tidak bisa tertipu, ia tidak akan termakan oleh tipu muslihatnya. Bola matanya sedikit membesar untuk memberikan isyarat kepada temannya itu agar mau bekerja sama.


"Benar, Tuan! Tuan Rogh ini adalah bos besar kami!", ketika yang lainnya mengiyakan, Ben terdiam sebentar.


Tuan Rogh! Bukankah ia seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya?! Ben memaku seluruh tubuhnya untuk memikirkan hal ini dengan susah payah. Ia merasa jika nama ini terdengar begitu penting, bahkan sangat penting.


"Wanita cantik? Tuan, bolehkah aku meminjam fotonya?", Relly memiliki spekulasinya sendiri. Sedangkan Ben sedang berpikir keras saat ini.


"Apakah wanita yang kau maksud adalah wanita ini?", ia menunjukkan foto Rose kepada kedua orang selain Tuan Rogh.


"Benar, Tuan! Itu adalah dia! Nona ini yang akan kami berikan kepada bos besar!", Relly melirik dengan tajam dari posisi menunduknya ke arah Tuan Rogh. Pria itu menaikkan sebelah sudut bibirnya, sedangkan Tuan Rogh sendiri tengah merasakan krisis hidupnya saat ini.


"Tuan, Nona,,, ", setelah tanpa sengaja melihat gambar diri wanita yang sudah lama ia cari-cari itu, kepalanya terasa seperti dihantam besi. Bola mata orang tua itu juga hampir keluar dari tempatnya. Relly ingin melapor tentang hal ini, namun Ben sudah bergerak maju terlebih dahulu, sebelum mendengarkan seluruh ucapannya.


"Tuan Rogh ini apakah berasal dari negara F?", tanya Ben dingin seraya mendekat. Ia berdiri kokoh di depan Tuan Rogh persis. Sehingga pemandangannya seperti Tuan Rogh sedang bersimpuh di bawah pria bertopi koboi itu.


"Iya,, eh,, maksudku tidak, Tuan! Saya bukan berasal dari negara F! Saya berasal dari negara S!", Tuan Rogh berkilah dengan lidahnya yang kelu. Aura yang Ben pancarkan seolah sedang membunuhnya pelan-pelan.


"Apakah kau yakin?", Ben yang menjulang bak raksasa menyipitkan matanya yang berkilau merah. Orang itu semakin menekan Tuan Rogh dengan auranya.


"Tentu saja, benar!", jawab pria itu sambil mengumpulkan kepercayaan dirinya agar terlihat meyakinkan di depan Ben.


"Lalu apakah kau mengenal wanita ini?", Ben merampas foto Rose yang masih berada di tangan Relly. Lalu ia tunjukkan foto itu tepat di hadapan wajah pria tua itu. Dalam sekejap air mukanya berubah, dan Ben dapat melihat hal itu.


"Rose!", Tuan Rogh bergumam tanpa suara saat dengan jelas ia melihat wajah di foto itu. Matanya membelalak lebar.


"Iya,, eh,, tidak,, iya,, iya!", pria tua itu berhenti dari keterkejutannya. Namun ia gugup bukan main saat anak buah Ben menempelkan senjata laras panjang ke punggungnya.


"Jawab dengan benar!", Relly yang mulai memahami situasi pun menjadi geram. Ia berteriak marah.


"Tidak,, eh,, iya,, eh,, tidak, Tuan! Tidak!", Tuan Rogh tidak bisa menjawab dengan benar karena senjata api itu terus mendorong-dorong tubuhnya.


"Dimana wanitaku sekarang?", tanya Ben dengan nada rendah dan mendalam. Ben sedikit menundukkan kepalanya. Sehingga nampaklah wajah tampan yang menyeramkan itu.


"Aku bahkan belum bertemu dengannya! Tadi putraku meminta izin untuk membawa seseorang bersama dengannya. Aku yakin orang yang dibawa oleh putraku adalah Rose! Karena aku sama sekali belum bertemu dengan wanita itu semenjak mereka menyiapkan hadiahnya untukku!", dengan perasaan gugup tak terhindarkan, akhirnya ember itu pecah dan bocor secara tidak sadar. Sebenarnya Tuan Rogh memang tengah mempersiapkan kuburannya sendiri.


"Darimana kau tahu jika namanya adalah Rose? Padahal kami tidak menyebutkannya sejak tadi!", seru Relly geram di belakang Ben. Kemudian dengan cepat, kemejanya yang baru terkancing dengan sembarangan sudah diangkat dengan satu tangan. Dan bahkan hanya dengan satu tangan Ben, tubuh gempal pria tua itu ikut terangkat seolah ia sedang mengangkat setumpuk kapas.


"Jadi, benar! Kau adalah Tuan Rogh yang ku maksud, kan?!", Ben memasukkan foto Rose ke dalam saku celananya dengan kasar. Kemudian dengan tidak sabar dia mencengkeram kedua sisi kemeja pria tua itu sehingga kini tinggi mereka sejajar.


"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Tuan! Aku tidak mengenalmu!", kaki Tuan Rogh bergerak-gerak berusaha melepaskan diri dari Ben. Ia makin merasa nyawanya berada di ujung tanduk ketika bisa merasakan nafas membunuh pria seram itu.


bugh


"Ini karena kau pernah menyakiti wanitaku!", Ben melayangkan satu tinjuan keras ke perut pria itu dengan kemarahannya yang saat ini sedang meledak. Saking kerasnya pukulan Ben, dua wanita seksi yang ikut tertangkap berama mereka sampai berteriak histeris karena ngeri.


Lalu pria bertopi koboi itu pun melampiaskan seluruh amarahnya dengan menjatuhkan pukulan demi pukulan ke wajah dan tubuh pria busuk itu. Ben mengingat dengan jelas bagaimana sedih dan menderitanya Rose saat mengisahkan lukanya itu. Makanya saat ini ia marah, sangat marah, sampai hilang akal sehatnya. Orang yang berada di tangannya pun sudah lemas tak berdaya.


"Sudah cukup, Tuan! Lebih baik kita fokus mencari keberadaan Nona Rose sekarang!", Relly tak pernah melihat tuannya itu semarah ini jika bukan mengenai hal yang besar dan krusial.


Ia tidak bisa membiarkan tuannya ini terus kerasukan setan, sedangkan orang yang mereka cari belum ditemukan. Jadilah ia menarik Ben dengan mendekap tubuhnya dari belakang. Ia tahu akan sesusah itu untuk melakukannya. Makanya akan lebih mudah dengan cara seperti ini.


"Jadi,, kemana putramu itu membawanya pergi?", tanya Ben kembali seraya melepaskan diri dari Relly yang masih terus menahannya.


"Saya tidak tahu, Tuan! Anak itu tidak mengatakan kemana tujuannya! Kali ini saya berkata jujur, Tuan! Saya benar-benar tidak tahu!", jawab Tuan Rogh seraya bangkit dengan susah payah. Kontur wajahnya sudah tidak berbentuk lagi. Pun sudah warna-warni berhias pada tampang busuk pria itu. Tuan Rogh lebam di sana-sini. Tubuhnya pun seakan remuk, tulang-tulangnya seperti baru saja dihancurkan semua.


Tuan Rogh kembali mengingat ketika ia berpapasan dengan putranya yang sudah akan pergi meninggalkan kapal itu. Ia membawa tiga orang bersamanya. Dua orang di antaranya adalah ibu dan anak. Sehingga ia mencibir putranya itu yang masih diliputi oleh kasih sayang. Sedangkan satu orang lagi, tertutup rapat dengan jubah. Wajahnya hanya terlihat sebagian, hanya hidung dan bibirnya saja yang terlihat.


Tuan Rogh saat ini tersenyum penuh ironi, jadi ternyata wanita yang ia cari-cari selama ini sudah berada di depan matanya. Dan sayangnya ia tidak mengetahui. Sekarang yang tersisa adalah penyesalan karena dia telah mengizinkan Eric membawa wanita itu. Jika saja dirinya yang lebih dulu melihatnya, pasti tadi ia sudah bersenang-senang dengan wanita yang selalu membuatnya penasaran. Tuan Rogh sungguh menyayangkan hal ini di tengah kondisinya yang babak belur begini.


"Hubungi interpol untuk mengurus masalah ini! Dan sisakan dia untukku! Bawa dia ke markas!", Ben membalikkan badannya seraya memberi titah. Ia menoleh sedikit ke arah Tuan Rogh yang sedang hanyut dalam pikirannya sendiri. Ia menginginkan orang itu untuk ia hukum di depan mata Rose langsung.


"Tuan! Ampuni aku, Tuan! Tolong lepaskanlah aku, Tuan!", akhirnya Tuan Rogh tersadar jika keberuntungannya yang paling buruk di antara yang lainnya. Lebih baik ia dibawa oleh polisi, ketimbang dibawa ke tempat yang ia tidak jelas bagaimana nasibnya nanti. Tuan Rogh terus memohon dan meminta, meskipun begitu Ben tetap melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan ruangan itu.


***


"Kenapa tadi tidak langsung menghabisinya saja, Tuan?", tanya Relly seraya membuntuti Ben di belakangnya.


"Aku ingin Rose yang melakukannya! Di bersalah kepada Rose, bukan kepadaku! Biarlah Rose yang memutuskan bagaimana orang itu akan dihukum nanti!", jawab Ben serius sambil melangkah panjang-panjang.


Relly menganggukkan kepalanya di belakang orang itu sambil memikirkan hal ini. Benar memang yang tuannya itu katakan. Namun dengan seperti ini, ia merasa jika tuannya itu jadi lebih berperikemanusiaan. Biasanya jika ada hal yang tidak sesuai dengan pemikirannya, tuannya itu tidak peduli dengan nyawa makhluk hidup itu.


"Tuan, ada yang mau saya katakan! Ini mengenai Nona Rose!", karena ragu-ragu untuk menyampaikan hal ini, Relly pun tidak fokus ke depan dan terus menundukkan kepalanya.


"Aww!", sehingga ia menabrak punggung Ben yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Maaf, Tuan! Maaf!", seketika ia merasakan penurunan suhu yang cukup tinggi dari tatapan pria bertopi koboi itu.


"Ada apa?", meski terdengar datar untuk orang awam, sebenarnya suara itu cukup membekukan telinga orang-orang berada di sekitarnya.


"Di tengah jalan tadi, saya samar melihat Nona Rose di kapal kecil yang berpapasan dengan kita tadi. Karena saya tidak yakin dengan apa yang saya lihat, makanya saya tidak memberitahukan hal ini. Takutnya salah orang dan tidak berani berani berspekulasi terlalu tinggi", Relly kemudian terdiam. Ia siap jika setelah ini tuannya itu akan marah dan memberikan hukuman yang setimpal kepada dirinya.


bugh


"Dasar bodoh! Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?!", Ben beri wajah gugup itu satu tinjuan mentah. Ia geram karena hal sepenting ini mengapa Relly masih terus saja diam.


"Maaf, Tuan! Maafkan saya!", Relly terus menurunkan pandangannya ke bawah, mencoba berkompromi dengan perasaan gugupnya. Namun ia tidak sakit hati dengan tinjuan yang Ben berikan. Karena ia tahu, dalam hal ini ia memang bersalah.


Kemudian ia mempercepat langkah kakinya menyusul Ben yang sudah terlebih dahulu melangkah dengan tidak sabar.