Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Penasaran



"Sebaiknya kita duduk dulu!", Ben menggiring wanita itu untuk duduk kembali di pinggir ranjang. Mereka duduk berdampingan.


"Cepat katakan, Tuan!", wanita itu sungguh tidak sabar. Rasa penasarannya terlalu besar untuk membuat mulutnya diam saja menunggu Ben mulai bercerita.


"Kau memiliki seorang keponakan, Rose!", Ben terkekeh sambil menggelengkan kepalanya melihat ketidaksabaran kekasihnya itu. Pria itu mengambil tangan Rose dengan lembut untuk ia genggam.


"Apa maksudnya, Tuan?", Rose menggeser posisi duduknya sehingga menghadap ke arah pria itu. Dengan raut wajah yang luar biasa penasaran, wanita itu terus memandanginya memohon diberikan penjelasan.


Lelaki itu terkekeh lagi. Tapi ia hanya mengerang, enggan untuk berbicara lebih lanjut. Ia membiarkan Rose untuk berpikir sendiri kemana arah tujuan ucapannya tadi.


Keponakan apa maksudnya? Keponakan dari siapa? Ia hanya memiliki seorang saudara yaitu kakaknya. Dan kakak lelakinya ini belum menikah. Ditambah lagi dia juga sedang mengidap penyakir separah ini. Jadi dari mananya ia bisa mempunyai seorang keponakan?! Tuan seramnya ini sepertinya sedang bercanda!


Tunggu dulu! Tapi selama ia tidak pernah bertemu dengan kakaknya itu. Rose memang sama sekali tidak mengetahui kehidupan pribadinya. Bahkan ia saja baru mengetahui jika kakaknya pernah menjadi seorang mafia di pertemuan keduanya dengan Tuan seramnya itu. Waktu itu Ben bermaksud mengatakan tujuannya bertemu dengan Rose lagi.


Ya! Ia memang tidak tau sama apa-apa tentang kakak lelakinya itu. Kakaknya selalu misterius dengan kehidupan pribadinya. Bahkan ia tak pernah menyampaikan sepatah kata pun tentang ketertarikannya terhadap seorang wanita.


Tapi siapa yang tau apa saja yang kakaknya alami selama ini, bukan?! Bisa saja kakaknya itu pernah memiliki hubungan dengan satu atau dua orang wanita di tahun-tahun sebelumnya.


Iya! Itu dia jawabannya! Mata Rose hampir keluar saking girangnya saat ia sudah menemukan jawabannya. Ia memandangi Ben dengan senyum dan mata yang berbinar, seakan bola matanya sudah berubah menjadi bintang. Senang, ia sangat senang sekarang.


Tangan yang sedang digenggam pun ia sentuh. Tak dapat memuaskan rasa bahagianya, tangannya dan kakinya terus bergerak ke sana-sini mengekspresikan rasa bahagianya yang tak terkira. Rose melompat-lompat di posisi duduknya.


"Jadi masih ada kemungkinan bagi kakak untuk sembuh?", dia memastikan lagi kemungkinan yang sudah memenuhi benaknya. Kemungkinan yang membuat mereka memiliki harapan besar.


Lelaki itu mengangguk dengan senyum cemerlang. Ia merasa suaranya pasti akan kalah dengan antusias yang dimiliki oleh wanita itu. Jadi, ia biarkan saja Rose menari dengan kabar gembira yang baru saja didengarnya ini.


"Terima kasih, Tuhan! Meskipun aku tidak tau berapa kemungkinannya, tapi paling tidak kakakku masih memiliki kesempatan!", Rose menengadahkan kepalanya sambil mengucap syukur. Lalu ia memeluk pria yang berada di sebelahnya dengan tangis haru yang kembali mendera wajahnya.


"Jadi kau sangat bahagia meskipun belum mengetahui bagaimana kemugnkinannya?", Ben membalas pelukan kekasihnya itu dengan penuh kasih sayang. Wanita itu bisa sebahagia ini dengan kabar yang belum tau bagaimana kepastiannya.


"Iya, aku sangat bahagia! Mungkin saja Tuhan sedang menunjukkan jalan kesembuhan kakak melalui kabar ini. Oh iya, keponakanku laki-laki atau perempuan?", masih begitu bersemangat Rose lalu melepaskan pelukannya seraya bertanya.


"Laki-laki!", Ben kembali terkekeh dengan euforia yang masih dialami kekasihnya itu.


"Wah! Kakak benar-benar beruntung karena sudah memiliki seorang putra! Jika sudah bertemu nanti, aku akan mengajaknya bermain di halaman belakang", membayangkannya saja sudah membuat hati wanita itu semakin gembira.


"Tapi jangan kau ajak dia memanjat pohon mangga itu lagi!", bibir pria itu langsung mencebik kesal saat mengingat kelakuan nakal Rose tadi.


"Iya,, iya! Aku janji!", Rose tersenyum begitu sumringah sambil menunjukkan kesungguhan akan ucapannya. Padahal dibalik tubuhnya, tangan wanita itu menyiratkan bahwa ia akan melanggar ucapannya barusan.


Untuk sesaat Ben menyipitkan matanya mengamati wajah kekasihnya itu. Ia sangat tau bahwa ada kebusukan di balik ucapan manis yang keluar dari mulut wanita itu. Awas saja! Sampai ia memergoki Rose melakukan hal-hal seperti tadi, hukuman yang akan didapatkan wanita itu akan lebih berat tentunya. Tapi sebisa mungkin saat ini ia memasang wajah yang mempercayai ucapan kekasihnya itu.


Ben menghela nafasnya yang mendadak terasa berat. Tidak mungkin juga ia menjelaskan secara gamblang siapa orang yang sudah memberinya informasi penting ini. Jika Rose tau bahwa orang itu adalah dalang dari semua penderitaan yang dialaminya selama ini, pasti wanita itu akan merasa sangat terpukul dan bersedih. Dan Ben sama sekali tidak menginginkan hal ini.


"Seseorang memberitahuku!", Ben tersenyum misterius. Biarkan saja waktu yang mengungkapkan segalanya. Ia tak ingin merusak kebahagiaan yang sedang dirasakan Rose saat ini.


Meskipun merasa aneh dengan ekspresi Tuan seramnya itu, tapi suaranya seakan tertahan untuk bertanya lebih jauh. Ada perasaan aneh yang membuatnya memilih untuk tetap diam.


"Aku juga tidak tau bagaimana jelasnya! Kakakmu dan wanita itu yang paling tau apa yang sebenarnya terjadi!", Ben tak ingin membuat sebuah kesalahpahaman di antara dirinya dan juga kekasihnya itu. Jadi ia menjelaskan duduk permasalahan yang ada. Bukan dirinya bermaskud untuk menutupi sesuatu. Tapi memang ada yang harus diketahui oleh Rose, tapi tidak sekarang. Ini bukan waktu yang tepat.


"Kalau begitu aku akan bertanya pada kakak!", setelah menghela nafas pasrah, Rose berusaha bangkit untuk segera menemui kakaknya itu. Berharap mendapatkan informasi lebih banyak mengenai hal ini. Tentang keponakannya.


"Tunggu dulu!", tapi pria itu menahan tangannya hingga ia pun terduduk kembali lantaran melihat betapa seriusnya wajah Tuan seramnya itu saat ini.


"Kenapa?", tanyanya penasaran.


"Beri dia sedikit waktu! Kakakmu terlalu terkejut setelah mendengar kabar ini tadi! Beri dia waktu untuk mencerna takdir yang tiba-tiba datang padanya ini!", Ben tak melepaskan wajah seriusnya.


Hal itu malahan membuat Rose mengerutkan alisnya makin dalam. Ada apa ini sebenarnya?! Mengapa ia merasa jika masalah yang kakaknya itu miliki sangat rumit?! Dan ia semakin penasaran akan hal ini. Tapi sepertinya ia harus menyetujui apa yang Tuan seramnya itu katakan padanya. Bahwa ia harus memberikan waktu kepada kakaknya itu.


"Barulah kau bisa bertanya sesuatu kepadanya!", Ben melanjutkan ucapannya saat melihat kerutan alis Rose sudah menjadi garis lurus. Sepertinya rasa penasaran wanita itu sudah mereda.


"Kau pasti tau sesuatu kan, Tuan?!", Rose mengacungkan jari telunjuknya ke depan wajah Ben dengan tatapan penuh selidik. Dengan apa yang Tuan seramnya itu ucapkan sejak tadi, malahan membuat rasa penasaran Rose semakin besar. Ia jadi semakin ingin tau apa yang sebenarnya terjadi di antara ibu dari keponakannya dan juga kakaknya itu.


"Aku sungguh tidak tau apa-apa!", seperti ia sedang dituduh sebagai seorang pencuri. Wajah Ben jelas tidak terima. Ia pikir wanita itu sudah menyudahi rasa ingin taunya. Nyatanya Rose malah makin jadi mencari tau tentang kakaknya itu. Bukankah sudah jelas apa yang ia katakan tadi, bahwa ia tidak mengetahui apa-apa.


"Aku tidak percaya!", wanita itu bertolak pinggang dengan mata yang semakin menyipit.


-


-


Hai teman-teman semua!


Akhirnya kita ketemu lagi ya di ceritanya babang Ben sama neng Rose ini 👏👏👏😄


Selamat membaca ya teman-teman,, semoga kalian selalu terhibur dengan karya yang aku buat ya 😊


Keep strong ang healthy ya semuanya 🥰🥰