Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Aku benar-benar harus pergi darimu



Dua kali tamparan dan juga kata-kata Rose yang tak mampu ia terima, sudah cukup memancing emosinya yang siap meledak kapan saja. Rose telah membangkitkan jiwanya yang kejam sekarang.


Ben memegangi kedua tangan Rose dengan satu tangannya. Cukup kuat ia menahan tangan wanita itu di atas kepalanya. Ia mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah Rose hingga wanita itu menoleh ke samping seraya memejamkan matanya. Ben tak terima dengan penolakan, ia meraih dagu Rose untuk kembali menghadap ke arahnya.


Rose benar-benar ketakutan saat ini. Ini bukan lagi Ben yang ia kenal. Pria yang berada di depannya kini telah berubah menjadi monster. Makhluk yang sudah siap menerkamnya kapan saja. Apapun yang terjadi Rose tetap akan menolak.


Ben mulai menciuminya lagi dengan kasar. Satu tangannya mulai menyusuri wajah Rose hingga ke lehernya dan berhenti tepat pada kancing pertama dress yang ia gunakan sekarang. Ada tiga kancing di bagian atas. Dengan gerakan tidak sabar, Ben membuka kancing itu satu persatu. Lalu tangannya mulai bergerilya menelusup ke sekitar dadanya.


Air mata yang tumpah kian banyak. Rose merasakan tangan besar itu mulai bermain dengan miliknya di bagian dada. Ada sensasi nikmat saat Ben bahkan mulai menciuminya, namun Rose merasa ini tetap tidak benar. Kejadian ini malah lebih mengerikan daripada momen-momen yang sudah ia lewatkan sebagai luka mendalam.


Meskipun mereka seperti saling memiliki perasaan, tapi orang yang berada di hadapannya ini sekarang adalah monster. Bukan Tuan seramnya itu. Ia ingat bagaimana saat itu Ben pun pernah hampir bertindak lebih, tapi ia malah menahannya. Sungguh berbanding terbalik dengan pria yang berada di depannya saat ini.


Di tengah perasaannya yang campur aduk, Rose berusaha membuka matanya untuk menemukan jalan supaya ia bisa melarikan diri dari pria ini. Memang sangat kuat cekalan tangan pria itu, tapi Rose tak boleh kehilangan akal. Dan sepertinya hanya ada satu cara.


bugh


Rose menendang senjata milik Ben yang sudah menegang. Jelas saja semua pengekangan terhadap diri Rose segera terlepas begitu saja. Saat ini Ben tengah mengerang kesakitan sambil memegangi tempat dimana itu terasa sangat sakit. Ben kehilangan pengawasannya karena rasa nyeri yang terus menerjang.


Beruntung ternyata Ben sudah membuka kunci pintu mobil itu sebelumnya. Sehingga Rose dengan cepat membuka pintu itu dan segera keluar dari sana. Tapi Ben masih sempat untuk menahan satu tangannya. Rose menundukkan kepalanya, ia melepaskan tangan Ben dari tangannya. Meskipun sangat kuat tapi sepertinya pria itu kehilangan kendali karena rasa sakit yang kini sedang menyerangnya.


"Maaf, tapi aku harus benar-benar pergi darimu, Tuan!", satu kalimat itu terucap setelah Rose berhasil terlepas dari tangan Ben. Lalu ia menutup pintu mobil itu dengan keras.


Dan kalimat itu sangat menyakitkan, menusuk ke dalam indera pendengaran Ben hingga ia hampir tuli. Ben menyandarkan tubuhnya pada kursi yang tadi Rose tempati. Ia terdiam menikmati sakit yang menghujam hatinya dan juga senjata kejantanannya. Ben memejamkan mata sambil merutuki dirinya yang sudah begitu bodoh terbawa emosi dan malah menyakiti hati wanita itu yang rapuh.


Ben tak mengejar Rose, karena ia yakin wanita itu butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri. Dan untuk dirinya ini, sungguh Ben ingin sekali memukuli dirinya sendiri jika bisa. Menyadari kesalahan besarnya kali ini sungguh membuat hatinya terasa amat sakit. Padahal ia tau sendiri bagaimana pengalaman wanita itu sebelumnya. Yang ia tau Rose pernah trauma akan hal seperti itu.


Setelah menunggu sampai sakitnya mereda, butuh waktu sedikit lama untuk hal itu. Lalu Ben segera menghidupkan mobilnya kembali untuk menyusul Rose. Ia harus mendapatkan maaf dari wanita itu atas dosa besar yang telah ia lakukan padanya. Bukannya melindunginya, tapi Ben malahan menyakitinya dengan sangat parah. Meskipun nanti Rose tak ingin bertemu dengannya, tak apa. Yang jelas pertama ia harus memastikan Rose sampai di rumah terlebih dahulu. Lalu memohon pengampunan dari wanita itu.


***


Tadi setelah berhasil keluar dari mobil sport berwarna putih itu, Rose berlari sambil membenahi kancing bajunya yang terbuka. Ia berjalan ke arah jalan raya untuk menunggu taksi yang lewat dan bisa mengantarnya sampai ke rumah. Dengan perasaan was-was karena takut Ben akan menyusulnya Rose terus menoleh ke kanan dan ke kiri menanti lewatnya sebuah taksi. Dan kini, ia sudah berada di dalamnya dengan perasaan yang sangat lelah.


"Pak, tolong antar aku ke alamat xxxx ya!", Rose memberi arahan kemudian menyandarkan diri dengan pasrah.


Ia memejamkan matanya berharap air matanya tak lagi mengalir. Tapi sayang, hatinya sedang bekerja sama dengan tubuhnya untuk memproduksi air mata yang berlebih. Mengingat kejadian tadi sungguh membuat hatinya terasa sakit. Orang yang saat itu pernah menjaga dan melindunginya, kini malahan bertindak kasar padanya.


Memikirkan hal itu pula, Rose jadi teringat kata-kata pria itu. Ben sempat membawa-bawa masalah Rose berpelukan dengan lelaki lain. Apakah pria itu sedang cemburu?! Tapi untuk apa cemburu?! Memangnya siapa dia bagi pria itu?! Mungkinkah pria itu memiliki hati padanya?! Tapi meskipun begitu apa yang Ben lakukan padanya sungguh sangat keterlaluan. Rose masih belum menerima kenyataan ini.


***


Taksi yang mengantarnya sudah pergi. Saat ini ia sedang menyusuri halaman rumah kakaknya dengan langkah gontai. Waktu sudah malam saat ia sampai, gelap dan sunyinya seakan mendukung suasana hatinya saat ini. Tapi ia bertekad untuk menyembunyikan kesedihannya dari kakaknya agar orang itu tidak perlu khawatir pada dirinya.


Ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari nomer yang tidak dikenalnya. Dengan ragu Rose menjawab telepon itu sebelum ia mencapai teras.


"Ha,, halo!", jawabnya jelas dengan keraguan.


"Apakah ini Nona Rose?", suara pria ternyata.


"Ya, benar!", jawab Rose namun dia malahan mengernyitkan alisnya dalam karena pria itu bisa tau nomor telepon dirinya yang diberikan langsung oleh Ben. Bukankah nomor ini agak rahasia.


"Saya Relly, Nona. Saya asisten Tuan Ben. Apakah Nona sudah sampai rumah sekarang? Tuan Ben nomornya tidak dapat dihubungi sejak tadi. Saya sangat khawatir karena tadi Tuan langsung meninggalkan markas dengan tergesa-gesa saat mendengar kabar bahwa Nona menghilang. Padahal, pekerjaan di sini masih menumpuk! Tapi saya serius bertanya apakah Tuan bersama Anda sekarang? Sejak berangkat dari markas nomornya tidak bisa dihubungi", Relly berbicara tanpa henti menyampaikan kekhawatirannya terhadap Ben. Dan memperkecil suaranya saat menyebutkan keluhannya tentang pekerjaan yang Ben tinggalkan untuknya. Sedikit kesal, tapi lebih banyak rasa khawatir terhadap bosnya itu.


"Emmhh,, ya! Dia ada bersamaku sekarang", lebih baik berbohong pikir Rose saat ini. Ia tidak ingin Relly khawatir lagi. Lagipula ia yakin jika pria itu sekarang pasti bisa menjaga dirinya baik-baik.


Setelah menutup telepon Rose jadi berpikir, kemungkinan yang ada adalah Ben segera datang dari markas karena mengkhawatirkan dirinya. Lalu ia sampai saat Baz memintanya berpelukan tadi. Dan Ben melihatnya. Ben kesal karena dia cemburu, lalu berakhir dengan seperti itu.


Oh sungguh! Asumsinya ini membuat kepala Rose semakin pusing saja. Ia bahkan melewati kakaknya yang sedang duduk di ruang tengah begitu saja.


"Hey, kau pulang tanpa suara!", tegur Victor pada adiknya yang sedang melamun sambil berjalan.


"Oh, hai Kakak! Aku pulang!", Rose tersadar lalu mengangkat kepalanya. Ia tersenyum canggung saat ini.


"Dimana Ben?", Victor mengedarkan pandangannya ke sekitar.


"Nanti dia segera menyusul! Ah,, Kakak aku sangat lelah. Jadi aku mau buru-buru mandi ya. Daaahhh!", Rose buru-buru mengakhiri pembicaraan dengan kakaknya sebelum Victor menanyainya lebih banyak lagi. Ia melambaikan tangan sambil berlari kecil menaiki tangga.


"Jangan lupa makan malam!", Victor berteriak dari bawah. Ia menggelengkan kepalanya pelan. Lalu mendongak menatap Paman Alex dengan wajah penuh tanda tanya.


Paman Alex selalu setia berada di samping Victor jika tidak ada pekerjaan lain untuknya. Karena memang tugas utamanya adalah menjaga dan merawat Victor yang gerakannya mulai terbatas.


"Sepertinya mereka baru saja bertengkar!", komentar Paman Alex pun disetujui dengan anggukan dari Victor.


-


-


**Maaf ya semalem author ketiduran 😅 habisnya ngelonin anak tuh enak kalo sambil merem juga 😂


Dan halunya author tiba-tiba ganti nih,, kayanya dibuat dramatis dulu lebih seru, jadi belum ada uwu-uwuan dulu ya teman-teman 🙏 nanti pas mereka baikan baru deh nongol romantis-romantisannya lagi


Selamat membaca, semoga kalian sukak 😉**