Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Lakukan secepatnya



tok,, tok,, tok,,


"Mama! Mama! Apakah Mama masih di dalam? Papa ingin bertanya dimana kita akan tidur nanti!", Bervan mengetuk pintu kamar itu agak keras sambil berteriak dari luar dengan suara polosnya. Tanpa tahu bahwa pertanyaannya itu juga bisa mengandung makna bagi orang dewasa.


Jika Rose hanya mengerang, bingung dengan maksud pertanyaan anak kecil itu. Lalu Bella melepaskan camilan di tangannya tanpa sadar, sebab sepertinya ia mengerti maksud dari pertanyaan dari putranya itu. Namun ia tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.


Setelah berhasil mengumpulkan seluruh kesadarannya, Bella segera meninggalkan tempat tidur dan juga bungkusan camilan yang baru habis setengahnya dari tangannya. Wanita itu mempercepat langkahnya menuju pintu kamar.


"Sayang, ada apa? Kenapa berteriak-teriak seperti itu?" Bella langsung merundukkan tubuhnya seraya bertanya dengan wajah pura-pura bingung.


"Mama, Papa ingin bertanya dimana kita akan tidur nanti? Ayo, Mama ikut turun denganku sekarang! Papa sedang menunggu di bawah!", dengan tidak sabar Bervan menarik tangan ibunya itu menuju tangga.


"Kenapa Mama diam saja! Ayo, Mama! Cepat, kita turun ke bawah!", putranya lekas menarik-narik tangan Bella saat wanita itu hanya diam saja di tempatnya. Sedangkan anak kecil itu sudah begitu antusias untuk mendengar jawaban dari ibunya bahwa mereka akan tidur bersama, bertiga dengan ayahnya nanti. Bervan sudah sangat menantikan hal itu. Tapi sayangnya, pikiran orang tuanya tidak seperti itu.


"Ya, ya, ya! Pelan-pelan, Bervan! Nanti kita bisa jatuh! Tidak boleh berlarian di tangga!", seru Bella saat anaknya itu terus menariknya bahkan saat mereka sedang menuruni tangga.


"Ada apa sebenarnya? Aku jadi penasaran!" Rose meletakkan bungkusan camilan yang juga belum habis itu ke atas meja rias begitu saja. Pandangan matanya tetap lurus ke depan ke arah ibu dan anak itu pergi. Ia lahap beberapa jemarinya yang masih berpadu dengan rasa bumbu yang gurih dari camilan yang ia nikmati tadi. Setelah mengecap ibu jarinya ke mulut, ia langsung menyusul ke bawah. Tak peduli jika rambutnya masih digulung dengan handuk saat ini.


***


Ketika Rose turun, Bervan sudah menangis di samping Bella. Anak kecil itu mengusap wajahnya beberapa kali dengan lengannya. Dan satu tangannya lagi mencengkeram rok ibunya itu. Setengah tubuhnya bersembunyi di balik tubuh Bella.


"Ada apa? Kenapa Bervan menangis?", tanya Rose seraya menuruni anak tangga terakhir. Pandangan matanya langsung jatuh pada sosok keponakannya yang berwajah sembab itu.


Bola matanya bergerak meneliti wajah orang-orang yang berada di sana satu persatu. Karena sampai ia berada di dekat Bella, tak ada satu pun yang mau mulai mengeluarkan suara. Semuanya lebih memilih bersembunyi di balik keheningan yang ada.


Untuk Paman Alex ia bisa merasa wajar, mungkin pria paruh baya itu sedikit canggung karena merasa masih orang luar di antara keluarga kecil itu. Tapi ada apa dengan kakaknya dan juga Bella?! Kenapa kedua orang itu hanya diam sambil memalingkan wajah mereka?! Kenapa keduanya tidak mau membuka mulut sama sekali?!


Rose berjongkok, mengurai senyumnya sambil mengulurkan tangan. Ia tidak suka melihat keponakannnya menangis lagi. Lalu dengan ragu-ragu Bervan menerima uluran tangan itu. Anak kecil itu langsung dibawa masuk ke dalam pelukan hangatnya. Menyebarkan suhu yang lebih tinggi dari dinginnya air mata yang sudah terlanjur membasahi seluruh wajah dan hati keponakannya.


"Sudah! Jangan menangis lagi, ya! Nanti keponakan Bibi tidak tampan lagi, bagaimana?!", wanita itu menepuk-nepuk punggung Bervan dengan lembut.


Tapi bukannya berhenti menangis, anak kecil itu malah memulai tangisannya lagi. Sambil memeluk bibinya, ia mengusap keras wajahnya yang kembali banjir air mata. Sesekali ia menarik cairan hidungnya yang menggantung melewati bibir dengan keras.


Rose tak menghentikannya, ia menunggu tangis anak kecil itu mereda dengan sabar. Tapi pandangan ketidaksabaran ia luncurkan kepada Bella dan kakaknya. Tatapan menuntut dan penuh tanda tanya, ia menyipitkan matanya dengan sedikit perasaan kesal. Rose tahu jika kedua orang itu memiliki masalah mereka sendiri, tapi tidak seharusnya juga membuat anak kecil yang begitu tampan ini menjadi bersedih.


"Aku ingin ti,, tidur bersama Pa,, pa dan Ma,, ma! Tapi Ma,, ma langsung bi,,bilang tidak bo,, leh dan mema,, mara,, hiku! Dan Pa,, Papa hanya di,, diam saja ti,, tidak mem,, be,, la,, ku!", jelas Bervan dengan terbata sambil menangis sejadi-jadinya. Anak kecil itu sedang mengingat sebab dirinya merasa bersedih saat ini.


Rose langsung membuka matanya lebar-lebar. Tatapan nyalang langsung ia hunuskan kepada keduanya. Seperti pedang bermata dua yang langsung menyerang kedua arah. Tambah kesal lagi ia mendengar alasan kenapa anak kecil itu sampai menangis sekarang. Meskipun baru bertemu, ia sudah sangat menyayangi keponakannya itu. Ia tidak rela jika anak kecil yang tampannya ini mirip dengan kakaknya itu menangis lagi. Sudah cukup tadi Bervan menangis karena dirinya.


"Sudah! Sudah! Jangan menangis lagi ya, Sayang! Kau tenang saja, barusan Papa dan Mama sudah berdiskusi, mulai sekarang kalian akan tinggal di dalam satu kamar. Jadi kau bisa tidur dengan Papa dan Mama juga!", Rose bersuara lembut sambil membuat tangannya bergerak untuk mengusap-usap punggung keponakannya itu. Tidak apa-apa dengan kaos di bagian bahunya yang basah karena air mata Bervan.


Sayangnya, tak ada kelembutan sama sekali pada raut wajah yang Rose tampilkan untuk dua orang dewasa itu. Baik Bella maupun Victor langsung terkejut, seperti terkena setruman listrik mereka reflek menoleh ke arahnya. Keduanya menahan nafas mereka ketika Rose langsung memutuskan hal itu.


Meskipun Victor tersenyum di dalam hati, ia tetap menampilkan wajah bingungnya. Ia tidak ingin terlihat terlalu nyata di hadapan Bella. Juga, ia merasa bangga dengan adiknya itu. Ia berterima kasih karena telah menyelamatkan situasi canggung ini, lagipula menguntungkan untuk dirinya. Jadi, ia lebih memilih untuk memalingkan wajahnya ke samping dan berdiam diri. Biar saja adiknya yang bekerja untuk membantunya.


"Rose,,,!", ucapan wanita itu tertahan di tenggorokan ketika adik dari Victor itu malahan memelototinya. Rose tidak menerima penolakan kali ini. Kemudian Bella hanya diam, menunggu waktu yang tepat untuk berkompromi tentang hal ini.


"Benarkah yang Bibi katakan?!", Bervan langsung mengendurkan pelukannya untuk menatap wajah bibinya itu. Anak kecil itu menarik cairan di hidungnya dengan ekspresi lucu.


"Tentu saja, benar! Kau tanyakan saja kepada Papa dan Mamamu!", wanita itu meneduhkan senyumannya, seperti rindangnya sebuah pohon di tengah teriknya mentari. Ia juga menggerakkan kepalanya ke arah Bella dan juga Victor secara bergantian dengan wajah yakin.


"Benarkah itu Pa? Ma?", anak kecil itu langsung membalikkan tubuhnya dengan begitu bersemangat. Lalu ia bertanya kepada ayah dan ibunya secara bergantian.


Binar-binar penuh harapan, kepolosan di wajahnya, semangat yang langsung mengeringkan air matanya, siapa juga yang masih akan tega untuk membuat anak kecil itu murung kembali?! Siapa juga yang akan tega membuat anak kecil itu menangis lagi?!


Bahkan Bella, ibunya sendiri, tidak pernah melihat wajah memohon yang penuh harap seperti ini selama ia merawat putranya itu. Ia tidak pernah melihat anaknya sangat menginginnkan sesuatu hal sama seperti ia menginginkan hal yang sedang dipermasalahkan saat ini. Dan ia tidak pernah melihat betapa kecewanya anak kecil itu seperti saat ini ketika keinginannya tidak dituruti. Saat ini, tiba-tiba saja putranya itu menjadi keras kepala seperti batu karang. Karena biasanya Bervan selalu menuruti apa kata ibunya itu. Hati wanita itu serasa di kuliti oleh rasa bersalah karena tadi tidak memperhatikan hal ini sama sekali. Bella menundukkan kepalanya dengan perasaan sedih.


"Mama? Papa?", anak kecil itu bertanya lagi kala kesunyian masih betah mendiami kedua orang tuanya itu. Ia sempat murung kembali karena Bella dan Victor tak jua mengeluarkan suara.


"Ya,,, ", suara lemah Bella akhirnya keluar seraya ia mengangkat kepalanya. Namun belum sempat ia meneruskan kata-katanya, sebuah suara sudah menyelanya.


"Ya, benar! Mulai sekarang kita akan tidur bersama, Sayang!", suara Victor seperti menggema ditelinga Bella hingga wanita itu tak dapat berkata-kata. Bahkan tubuhnya terasa kaku mendengar hal itu. Hanya bola matanya saja yang bergerak mengikuti gerak kursi roda yang berjalan mendekat ke arah Bervan berada.


Tanpa bantuan Paman Alex, Victor menjalankan kursi rodanya sendiri ke arah putranya berdiri. Ia sematkan senyum yang menghangatkan hati putranya itu sambil terus memutar roda. Sesaat, pria itu mengerlingkan sebelah matanya samar ke arah adiknya yang sedang memperhatikannya juga. Setelah ini ia harus berterima kasih dengan benar atas kerja keras adiknya ini.


"Kau senang sekarang?", tanya Rose sambil menundukkan kepalanya, menatap Bervan yang baru saja memeluk Victr untuk berterima kasih kepadanya.


"Tentu saja! Terima kasih, karena Mama sudah mau mengabulkan keinginan Bervan!", lalu kepala anak kecil itu bergerak menoleh ke arah ibunya yang sedang menyembunyikan air mata. Ia lebarkan senyumannya yang paling sumringah kepada Bella.


"Ya, apapun untukmu , Sayang!", Bella pun menyematkan senyum di bibirnya yang gemetar. Tangisnya yang tertahan adalah sebab dari dari hal itu.


"Apakah kau tidak ingin memeluk Mama?", wanita itu pun merentangkan tangannya. Ia sudah tidak tahan, ia ingin menumpahkan air mata ini meskipun hanya sedikit saja. Tapi ia tidak ingin putranya itu mengetahui ibunya ini menangis karenanya.


Bervan setengah berlari menghampirinya. Lalu anak kecil itu langsung menyambarnya dengan sebuah pelukan. Tubuh Bella bahkan sampai berguncang lantaran begitu semangatnya Bervan. Anak kecil itu sangat bahagia karena benar-benar bisa merasakan sebuah keluarga utuh seperti yang lainnya. Apa artinya mereka sekarang tinggal bersama, jika mereka saja tidur secara terpisah!


Bulir-bulir cairan bening tumpah, menetes perlahan ke penjuru pipi. Basah, lembab dan sembab wajah Bella saat ini. Tangis yang ia tahan sejak tadi, akhirnya bisa ia luapkan juga. Bukan karena ia masih marah atau kecewa karena pada akhirnya mereka tetap tinggal di dalam satu kamar. Tapi,, ini karena kekecewaan yang ia rasakan terhadap dirinya sendiri. Mengapa ia begitu egois dan tidak memikirkan perasaan putranya sama sekali!


Padahal di antara mereka semua, dialah yang paling tahu betapa Bervan ingin memilki dan merasakan sebuah keluarga yang lengkap, yang utuh dan sempurna selayaknya sebuah keluarga yang anak kecil itu ketahui dari teman-temannya atau pun televisi. Itulah mengapa tangis ini tak terbendung lagi.


Maafkan Mam, Sayang! Maafkan lah ibumu ini! Wanita itu memohon dalam hatinya sambil memejamkan matanya dengan keras hingga air mata yang belum semestinya turun pun dipaksa keluar.


Rose dan Victor memandangi hal ini dalam diam. Begitu pun dengan Paman Alex yang hanya bergerak untuk membenarkan posisi kacamatanya saja. Mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


Kesedihan yang Bella rasakan membuatnya tanpa sadar terus menangis hingga satu isakan lolos dari mulutnya. Dan Bervan pun mendengarnya.


"Mama menangis?", tanya anak kecil itu sambil berusaha menolehkan kepalanya. Ia penasaran ingin melihat bagaimana wajah ibunya itu saat ini. Benarkah ibunya itu sedang menangis sesuai dengan apa yang ia dengar tadi? Dan tentu saja ia akan merasa sangat bersalah jika penyebabnya adalah dirinya.


"Tidak apa-apa, Sayang! Mama tidak menangis. Mungkin kau salah dengar tadi!", Bella menahan tubuh putranya agar tidak bergerak untuk melihat ke arahnya. Ia tidak ingin ketahuan oleh anaknya itu.


"Tapi tadi aku mendengar Mama sedang menarik ingus ke dalam hidung!", sontak saja semua orang tertawa mendengar ucapan polos anak kecil itu. Termasuk Bella yang jadi tertawa kecil di tengah tangisannya yang akan usai.


"Tadi ada debu yang membuat hidung Mama berair. Jadi seperti itulah yang terjadi!", Bella tertawa kecil di akhir ucapannya lantaran ia memang tidak ingin menyebutkan hal memalukan itu secara langsung. Dan tentu saja ia harus berbohong sekarang. Ia tetap tidak ingin mengatakan dengan jujur bahwa dia sedang menangis saat ini. Wanita itu tidak ingin membuat putranya khawatir.


Bervan mengangguk polos mencoba mengerti ucapan ibunya itu. Meskipun sebenarnya ia sedikit tidak percaya dengan semua kata-kata ibunya. Kadang Bella sepertinya lupa jika putranya itu tidak dapat dibohongi begitu saja. Apalagi setelah ia melepaskan pelukannya dan melihat wajah lembab ibunya itu. Sudah pasti jika itu adalah bekas air mata. Bisakah ibunya itu berhenti berpikir jika dirinya ini dapat dibodohi?! Bervan diam-diam mendengus sambil berdiri tegak kembali.


"Baiklah, Bervan! Sekarang kau bermain dulu dengan Paman Alex, ya! Nanti Bibi akan menyusul setelah menyisir rambut Bibi!", Rose berjalan mendekati anak kecil itu. Ia meminta seraya menunjukkan handuk yang masih melingkar di kepalanya seperti ular.


"Baiklah!", jawab anak kecil itu sedikit enggan. Ia ingin bermain dengan ayahnya. Tapi ia tahu jika sebenarnya bibinya itu sedang mengusirnya secara halus. Pasti ada yang ingin dibicarakan di antara ketiga orang dewasa itu.


"Ayo, Bervan!", ajak Paman Alex sambil mengulurkan tangannya kepada anak kecil itu.


Setelah menggenggam tangan Paman Alex, keduanya berjalan bersama ke arah halaman belakang. Sesekali Bervan menoleh ke arah yang lainnya berada. Lalu satu senyuman tersemat di bibirnya. Ia hanya berharap jika bibinya itu akan memarahi kedua orang tuanya yang tadi telah membuatnya menangis. Bervan bisa merasakan jika bibinya itu amat menyayanginya. Bahkan ia merasa jika bibinya itu lebih seperti orang tuanya sendiri.


Setelah menunggu punggung anak kecil itu benar-benar tak terlihat, akhirnya Rose memutuskan untuk membuka suaranya.


"Kalian belum menjawab pertanyaanku tadi?", Rose menyandarkan sebelah bahunya pada dinding di dekatnya. Ia melipat tangannya di depan dada. Nada bicaranya santai, namun tidak dengan wajahnya yang sudah terdapat bom waktu di sana. Bisa meledak kapan saja.


"Pertanyaan?", baik Victor maupun Bella bergumam secara bersamaan sambil berpikir keras.


"Tadi aku bertanya kenapa Bervan bisa sampai menangis?", setelah menghela nafas, Rose berjalan ke arah sofa lalu menjatuhkan diri di atasnya.


Victor mengernyitkan alisnya dalam. Sikap adiknya yang seperti ini terlihat malahan adiknya itu yang merupakan orang tuanya Bervan. Victor merasa jika adiknya itu sangat menyayangi dan melindungi Bervan melebihi dari orang tuanya sendiri. Sampai ia bingung siapa orang tua Bervan di sini?!


"Rose!", panggil Bella pelan sambil menundukkan kepalanya. Ia merasa ini adalah salahnya, jadi ia yang akan menjelaskan hal ini.


"Ya, ada apa?", sahut Rose acuh. Berbeda sekali sikapnya dengan yang tadi saat mereka berada di kamar bersama. Sekarang Rose terlihat mirip dengan Ben yang galak dan seram itu. Mereka memang cocok. Di balik semua kesedihannya, terselip satu senyum kecil ketika Bella memikirkan hal ini.


"Aku hanya merasa tidak sepantasnya jika kami berada di kamar yang sama. Karena,, karena kami bukan pasangan yang sesungguhnya. Tidak ada ikatan di antara kami saat ini. Jadi menurutku tidak pantas bagi aku dan kakakmu jika berada di satu kamar yang sama. Ini salahku karena tidak memikirkan Bervan ketika memutuskan hal ini. Aku tidak memikirkan perasaan putraku yang menginginkan perasaan memiliki keluarga yang utuh. Ini salahku karena terlalu egois. Bodohnya aku sebagai ibunya, tidak mengetahui apa keinginan putranya selama ini!", lalu terdengar isakan dari mulut Bella. Tangis yang menggema pilu dan pedih tertahan di tenggorokannya, dan malahan membuat tangisan itu menjadi lebih menyedihkan.


Hah! Rose pun tak berdaya ketika telinganya diganggu oleh tangisan dari umat sesamanya. Sebagai sesama wanita, tentu hatinya langsung tersentuh ketika mendengar yang lainnya menitihkan air mata. Ia tak dapat menahan diri untuk tidak memeluk Bella. Meskipun ia belum menjadi seorang ibu, tapi ia sudah bisa merasakan jika Bella adalah seorang ibu yang sangat menyayangi putranya. Bahkan tidak rela jika putranya itu tersakiti, pun jika itu adalah karenanya sendiri. Rose tahu betapa Bella marah dan kecewa kepada dirinya sendiri saat ini. Lalu ia bagikan energi positif yang dimilikinya kepada Bella yang lebih membutuhkan supaya tidak terus menyalahkan dirinya sendiri. Ritual yang selalu dilakukan ketika menenangkan seseorang yang sedang menangis adalah, menepuk pelan punggungnya. Bersyukurnya Rose karena Bella sudah mengetahui apa kesalahannya sendiri.


"Rose, jadwalkan pencocokan sel sumsum tulang belakangku dengan Bervan secepatnya!", seru Victor dari kursi rodanya. Wajah lelaki itu sangat serius, tidak ada kesan bercanda sama sekali.


"Kakak!", Rose membalas seruan kakaknya itu dengan nada tidak suka. Mereka ini sedang membahas masalah apa, tapi kenapa kakaknya itu malahan membahas masalah yang lainnya?! Bahkan Bella sampai melepaskan pelukannya dan menoleh dengan bingung.


"Lakukan saja perintah Kakak!", ucap pria itu seraya berlalu pergi. Victor menjalankan kursi rodanya menuju ke arah kamarnya sendiri.