
Ketika fajar mulai menyingsing, Ben dan kelompoknya sudah kembali lagi ke markas. Pria bertopi koboi itu kemudian masuk ke dalam ruangan pribadinya disusul oleh Relly di belakang. Ben menduduki kursi hitam kebesarannya. Ia menengadah, menyandarkan kepalanya pada kursi itu sambil memejamkan mata.
"Mau sampai kapan kau berada di situ Relly?", tanyanya pelan dengan nada lelah.
"Aku khawatir Tuan masih membutuhkan sesuatu lagi!", jawab orang itu sedikit terperanjat. Relly menggaruk ujung alisnya yang tiba-tiba terasa gatal sambil tersenyum kikuk.
"Ya, aku memang masih membutuhkan sesuatu!", ucap Ben seraya membuka matanya.
"Aku butuh mandi sekarang ini. Jadi,, apakah kau akan memandikan aku sekarang?", tanya Ben lambat-lambat sambil menyanggah wajahnya dengan satu tangan yang ia letakkan di atas meja.
"Ti,, tidak, Tuan! Sepertinya Tuan bisa melakukan hal itu sendiri! Kalau begitu saya permisi dulu!", Relly segera mengalami kepanikan yang luar biasa. Ia takut jika perintah bosnya itu adalah nyata, bukan bualan biasa. Bagaimana pun juga dia ini masih seorang pria normal! Tidak mungkin dia berpindah haluan! Lelaki itu langsung membalikkan tubuhnya dan segera pergi dengan tergesa-gesa.
"Lain kali perhatikan dengan baik ucapanmu itu, Relly!", Ben memperingati asistennya itu dengan nada santai. Pria bertopi koboi itu pun hanya menggerakkan sedikit bola matanya. Dia masih berekspresi sama, acuh tak acuh seperti biasanya.
Relly hanya menatap sekilas wajah bosnya itu sebelum ia benar-benar menghilang di balik pintu. Sungguh,, tadi itu adalah sesuatu yang berbahaya. Memiliki bos yang wataknya sulit di tebak sungguh membuatnya harus memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi.
brak
Pintu itu ditutup dengan kencang oleh Relly dari depan. Membayangkan wajah polos bosnya tadi, membuat bulu kuduknya merinding. Sebenarnya itu adalah ekspresi acuh yang biasa ditampilkan oleh bosnya itu. Tapi mungkin karena kalimat yang keluar itu sungguh mengerikan, justru Relly berhalusinasi jika bosnya itu benar-benar sedang menggodanya. Sekali lagi, lelaki itu bergidik ngeri. Sebelum akhirnya berlalu dari depan pintu ruangan bosnya itu. Mandi bersama? Membayangkannya saja ia tidak mau! Sampai mati pun ia tidak mau! Minta saja Nona Rose itu untuk memandikannya! Gumam pria itu dalam hati sambil sedikit berpikir.
***
Untuk beberapa waktu yang Ben lakukan hanyalah bermalas-malasan. Ia meletakkan kepalanya di atas meja, mungkin hampir setengah bagian tubuhnya bersandar ke meja itu. Rasanya lesu sekali, mungkin karena ia masih memiliki beban di hati mengenai wanita yang ia cintai itu. Ia pun memandangi sebuah vas berukuran sedang dimana bunga lili putih yang selalu ia pesan bertahta di sana.
Tanpa mengangkat kepala yang masih ia rebahkan di atas meja, Ben menarik vas bunga itu dengan beberapa jarinya yang panjang. Setelah vas bunga itu mendekat, barulah ia mengangkat kepalanya dengan perasaan berat.
"Rose!", serunya pada setangkai lili putih itu. Bunga itu ia dedikasikan untuk seseorang. Setelah patah hatinya dari Ana perlahan membaik, untuk pertama kalinya ia peduli terhadap hal-hal konyol seperti ini.
Sambil menyentuh kelopak yang putih suci itu, ia mengingat-ingat setiap momen yang telah ia lalui dengan Rose. Sejak pertemuan mereka yang pertama kali hingga momen-momen tak terduga dimana mereka bisa saling jatuh cinta. Dan kini,, ia telah menyakiti hati wanita itu. Rasanya ia benar-benar ingin segera kembali pulang dan meminta maaf kepadanya. Ben ingin sekali memeluk wanita itu untuk memulihkan rasa lelahnya saat ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi ketika ia menyudahi lintas pikirannya mengenai Rose, wanita yang mengisi relung hatinya saat ini. Ben letakkan kembali vas bunga itu ke posisi semula. Ia pun bangkit, sambil melangkah ia menyentuh kelopak bunga itu untuk terakhir kali, lalu meninggalkan jejak bayangannya di bangku kebesaran yang ia duduki tadi.
Pria bertopi koboi itu membawa langkahnya ke arah sofa. Ia lepas topi koboi yang biasa menjadi mahkotanya sehari-hari. Lalu ia hempas sembarangan benda itu ke atas meja yang berada di depannya. Ben pun melemparkan tubuhnya yang lelah ke atas sofa panjang. Berharap saja sofa itu tidak menjerit diberi beban yang begitu berat secara tiba-tiba!
Ia memilih merebahkan tubuhnya di sana. Padahal ia memiliki kamar sendiri untuk beristirahat di ruangan itu. Pikir pria itu, karena dari posisinya sekarang ia bisa memandangi setangkai lili putih itu sebelum ia memejamkan matanya. Pria itu pun menutup wajahnya dengan satu lengan, menyudahi semua penatnya selama semalaman ini dengan satu senyum kecil di bibirnya.
***
Di tangannya saat ini terdapat sebuah benda pipih besar yang sedang menayangkan beberapa adegan laga. Dan wanita itu masih bersenandung dengan melodi yang sama, yang menggambarkan betapa riangnya dia saat ini. Itu adalah tayangan aksi Ben selama semalam ini yang diambil dari beberapa kamera nano yang tidak akan bisa disadari oleh siapa pun. Wanita muda itu lantas menghentikan video itu manakala menayangkan wajah Ben secara utuh ketika pria itu sedang menyerang orang-orang di sekitarnya. Wajah Ben terlihat serius di sana.
Jari lentiknya menyentuh layar tablet itu. Cat kuku merah menyala sangat kontras dengan wajah Ben di layar yang terlihat sedang sangat serius. Ada seringai terbit di bibir wanita muda itu.
"Staminanya sungguh luar biasa! Dia tidak terlihat kelelahan sama sekali meskipun sudah bertarung selama semalaman. Aku jadi tidak sabar merasakan staminanya ketika berada di atas ranjang!", kaki-kaki wanita itu bergerak dengan penuh semangat. Jari-jarinya yang berkuku merah pun menyentuh bibirnya yang berwarna senada. Wanita itu menggigit bibir bawahnya sambil terus memandangi wajah tampan milik pria bertopi koboi itu.
"Seram, sih! Tapi aku semakin tertarik kepadanya!", gumamnya lagi, semakin melebarkan lengkungan di bibirnya.
"Nona sedang memikirkan laki-laki lain ketika sedang bersamaku, hemm!", seorang lelaki muda langsung memeluknya dari belakang. Menciumi tengkuk belakang wanita itu, sampai wanita itu melepaskan perhatiannya dari layar tablet yang sedari tadi dipandanginya.
"Aku hanya sedang memandangi targetku selanjutnya! Apa ada masalah?", wanita itu berbalik lalu melingkarkan kedua tangannya ke sekitar bahu pria itu.
"Setelah mendapatkan target selanjutnya, apakah Nona akan melupakan aku?", tanya pria itu manja seraya mendudukkan wanita itu di atas pangkuannya.
"Kita lihat saja nanti!", jawab wanita muda itu ambigu dengan senyum misterius di bibirnya.
Sesaat ada tatapan dingin di mata lelaki itu ketika ia menatap layar persegi yang menampilkan wajah Ben dengan jelas. Kemudian pria yang menggunakan kimono handuk serupa dengan wanita itu kembali menampilkan senyum menawannya.
"Kalau begitu, apakah Nona mau menyantap sarapan Nona di sini atau di sana?", tanyanya sambil merapatkan tubuh wanita itu ke tubuhnya. Ia menggerakkan bola matanya ke arah meja makan, dimana sudah terdapat sepasang roti lapis yang baru saja ia buat.
"Aku ingin sarapan di sini saja!", jawab wanita itu penuh arti dan menatap pria itu semakin dalam.
"Apapun yang Nona inginkan!", pria itu mendekap tubuh wanita itu makin erat. Ia siap melayaninya kapan pun wanita itu menginginkannya!
Keduanya pun tenggelam dalam adegan panas yang kian lama membakar tubuh. Panasnya menitihkan peluh demi peluh, mengalahkan panas surya yang baru saja siap menghangatkan tubuh setiap orang.
-
-
Maaf ya teman-teman, bulan puasa gini aku selipkan hal-hal yang kaya gini,, aku saranin bacanya nanti pas buka aja ya 🤭
Maaf mengganggu ibadah kalian ya teman-teman semuanya🙏