Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Biar saja menjadi makanan anjing sekalian!



Meninggalkan kedua orang itu yang sedang terlibat dengan perasaan mendalam mereka. Kedamaian di halaman belakang pun sebentar lagi akan sirna. Setelah berpikir keras selama beberapa kali. Dan setelah menggosok dagunya sampai terasa licin. Akhirnya Rose memutuskan untuk menuruti keinginan keponakannya itu. Bervan ingin buah mangga yang keberadaannya tidak lebih jauh daripada buah mangga yang terakhir kali dia sendiri inginkan.


Bolak-balik Rose menoleh ke arah Tuan seramnya itu dengan khawatir. Pokoknya jangan sampai mereka ketahuan! Bisa-bisa ia mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi dari sebelumnya. Tapi melihat jarak buah mangga yang diinginkan Bervan itu tidak terlalu jauh. Membuatnya optimis, tidak buuh waktu lama untuk bisa mendapatkannya.


Baiklah! Sekarang yang ia perlukan adalah tangga untuk memudahkannya menggapai buah mangga itu. Rose mengedarkan pandangannya. Benda yang ia butuhkan berdiri tak jauh dari pohon mangga itu. Oh, sungguh beruntung dirinya dan juga Bervan kali ini! Tangga lipat itu sekarang seperti sedang melambaikan tangan memanggil dirinya untuk segera menggunakannya. Rose ingin memanjat, tapi pasti akan memakan waktu lama, karena dia tidak terlalu ahli. Jadi lebih baik menggunakan bantuan saja, agar lebih cepat.


"Kau diam di sini dan jangan membuat suara! Jangan sampai orang itu tahu apa yang akan kita lakukan! Soalnya dia lumayan galak!", Rose merundukkan tubuhnya untuk memberikan peringatan kepada keponakannya itu. Ia juga mengingatkan Bervan mengenai Ben sambil memasang wajah ngeri.


"Ya, kurasa memang begitu! Dia memang terlihat agak seram!", Bervan memasang wajah serius sambil menganggukkan kepalanya. Ia setuju dan seakan mengerti. Rose sampai gemas melihat wajah dibuat-buat terlalu dewasa itu.


"Tenang saja, Bibi! Aku akan diam dan tak bersuara!", anak kecil itu berdiri tegak sambil mengunci mulutnya yang ditutup rapat dengan kunci khayalannya.


"Kau ini benar-benar menggemaskan!", sebelum Rose pergi untuk mengambil tangga lipat itu, ia mencubit pipi keponakannya itu agak kencang. Ia tidak tahan saking gemasnya pada anak kecil yang sok tua itu.


"Sakit, Bibi!", Bervan mengeluh agak keras dengn mulutnya yang masih tertutup rapat. Sehingga suaranya menjadi tidak jelas.


"Ssstt! Nanti dia bisa dengar!", Rose bedesis, menempatkan jari telunjuknya di bibir sambil melirik ke arah Ben untuk memperingati Bervan. Anak kecil itu segera mengangguk patuh dengan beberapa kali.


Ben yang berada agak jauh dari mereka pun sempat menjatuhkan pandangannya ke arah mereka berada saat ini. Pria itu bermaksud mengecek apa yang sedang dilakukan oleh wanita dan anak kecil itu. Apakah mereka berdua membuat masalah atau tidak. Lalu ia melihat Rose melambaikan tangan ke arahnya. Pria bertopi koboi itu pun membalasnya dengan tatapan galak untuk memperingati mereka untuk tidak macam-macam. Rose mengangguk sambil tersenyum, kemudian terlihat berbicara lagi dengan Bervan.


Menyadari situasi yang begitu sunyi beberapa saat ini, sebenarnya Ben agak curiga. Tapi selama itu pula, ia tak mendapati mereka berdua membuat masalah. Jadi ia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya saja. Mempercayai wanita itu sesekali tidak ada salahnya, kan?! Ben memiringkan kepalanya sebentar saat berpikir demikian. Lalu ia berkutat lagi dengan benda pipihnya itu.


"Lihat! Tidak mengeluarkan suara saja dia sudah seram!", ucap Rose dengan aksen mengejek yang merajuk pada Tuan seramnya itu. Bervan mengangguk lagi dengan begitu semangatnya. Anak kecil itu masih ingat jika dirinya belum boleh mengeluarkan suara.


"Ya sudah, Bibi mau mengambil tangga dulu, ya!", wanita itu kembali mencubit pipi Bervan sampai memerah. Ia terlalu gemas pada anak kecil itu.


Bervan mengelus pipinya yang terasa sakit dengan wajah kesal. Tambah kesal lagi saat bibinya itu melenggang tanpa rasa bersalah sedikit pun. Anak kecil itu mendengus kesal. Nanti ia harus memberitahu bibinya itu jika dia tidak suka diperlakukan seperti anak kecil. Ia lebih suka diperlakukan seperti seorang,, pria. Anak kecil itu lalu tesenyum bangga.


Rose telah mendapatkan tangga lipat itu di dalam pelukannya. Wanita itu memeluknya dengan erat seakan tidak ingin kehilangannya. Ia memutar kepalanya ke arah Tuan seramnya itu berada. Hah,, leganya saat melihat orang itu masih sibuk dengan ponselnya. Pasti banyak yang harus dia cek, pikir Rose begitu. Dan berarti itu merupakan hal baik baginya. Jadi ia bisa sedikit leluasa melancarkan aksinya. Lagipula,, rasanya tidak tega sekali menolak keinginan keponakannya yang baru saja ia temui itu. Dan lagi keponakannya itu sudah cerdas, tampan pula, jadi ia secara sukarela mengambil resiko ini. Meskipun nanti Tuan seramnya itu akan menghukumnya, ini demi keponakan kesayangannya itu.


Rose angkat tangga lipat itu sambil berjalan pelan-pelan. Pokoknya jangan sampai ia menimbulkan suara. Nanti Tuan seramnya pasti akan melihat ke arahnya. Itu tentu berbahaya bagi dirinya. Akhirnya berhasil juga ia bawa tangga itu sampai di depan pohon. Dan Tuan seramnya itu tidak menyadarinya, orang itu masih sibuk.


"Bervan, kau pegang tangga ini, ya! Jaga keseimbangannya agar Bibi tidak terjatuh nanti! Mengerti?", wanita itu memberi perintah kepada Bervan dengan wajah penuh keyakinan.


Sekali lagi, untuk yang terakhir kalinya ia menoleh ke arah Tuan seramnya itu untuk memastikan lagi jika orang itu tidak melihat ke arah sini. Untung saja, semua masih sesuai dengan rencananya, Tuan seramnya itu masih sibuk bahkan terlihat serius dengan ponselnya.


Lalu ia mendongakkan kepalanya untuk melihat sasaran yang ia tuju. Matanya memprediksi strategi apa yang akan ia ambil untuk mempercepat langkahnya untuk mengambil buah mangga yang ditunjuk Bervan itu. Setelah itu ia menatap Bervan, kemudian keduanya mengangguk bersamaan dengan tatapan penuh keyakinan. Dalam hal ini mereka akan menjadi rekan yang solid.


"Roooossseee!", baru tiga buah anak tangga yang wanita itu tapaki, namanya sudah menggema di halaman belakang itu. Tidak, mungkin sampai ke seluruh penjuru rumah itu. Otomatis ia menghentikan langkahnya untuk naik ke step berikutnya lagi.


"Tuan! Hehe,,, ", Rose menoleh seraya meringis tak berdaya pada orang yang saat ini sedang melangkahkan kaki ke arahnya dengan terburu-buru.


Dan benar apa yang ia perkirakan, semua orang dari dalam rumah maupun dari halaman depan berbondong-bondong datang. Mereka datang dengan kebingungan dan juga penasaran pastinya. Ada apa sebenarnya sampai namanya itu diteriaki hingga begitu kencang seperti itu?!


"Rose!", seru Victor yang saat ini tengah didorong oleh Bella.


"Nona Rose!", lalu menyusul Paman Alex dan juga yang lainnya.


"Sebenarnya kau ini masih menggunakan telingamu atau tidak?! Jika kau sudah merasa tidak perlu dengan sepasang telingamu itu, biar aku potong lalu aku buang ke jalanan! Biar saja menjadi makanan anjing sekalian! Bukannya aku sudah mengatakan bahwa yang kemarin adalah yang terakhir kali! Sebenarnya kau itu mendengarkan perkataanku atau tidak? Hah!", teriak Ben emosi. Ia tidak peduli dengan banyaknya orang di belakangnya. Terlebih lagi ada Victor yang notabene merupakan kakak kandung dari wanita itu sendiri.


Ben marah karena khawatir. Ia tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Ia tidak ingin terjadi apapun pada wanita itu. Lagipula ada dia sebagai lelaki dewasa di sana. Kenapa wanita itu tidak memintanya saja untuk melakukan hal ini?! Kenapa wanita itu malahan memilih untuk melakukan hal yang pasti akan membuatnya kesal?! Bukankah dengan bertindak seperti ini membuat orang berpikir bahwa dia tidak berguna sebagai seorang laki-laki?! Ben benar-benar murka karena Rose tidak mendengarkannya. Yang bahkan masalah ini baru saja terjadi kemarin, itu belum lama sama sekali.


"Tuan,,, kau benar-benar keterlaluan! Kali ini aku tidak bisa menerima semua ucapanmu itu!", Rose sudah bertahan untuk tetap tersenyum pun akhirnya kalah dengan perasaan sakit yang membludak di dalam hatinya.


Biasanya ia bisa menerima perlakuan Tuan seramnya itu yang selalu galak dan tegas kepadanya. Tapi kali ini ucapan orang itu benar-benar keterlaluan dan hatinya tidak dapat menerimanya begitu saja. Matanya panas, sangat panas hingga melelehkan air mata yang selalu bersembunyi di dalam pelupuk matanya. Perlahan cairan bening itu jatuh. Namun secepat mungkin Rose menyekanya. Dan secepat itu pula ia berlari menerobos kerumunan orang di belakang orang itu. Ia melewati Ben begitu saja tanpa menoleh sedikit pun. Tangannya terlalu sibuk untuk mengusap wajahnya dari air mata yang terus saja terjun bebas di sana.


-


niatnya semalem aku update,, tapi sayang, mataku udah rapet banget,, susah diajak kompromi,,


segini dulu ya,, aku mau lanjut nerusin urusannya Louis sama Krystal di novel sebelah,, kalo masih kuat melek, nanti lanjutin lagi cerita yang ini,,, okeh 😉


terima kasih ya buat teman-teman semua yang selalu nungguin cerita aku yang ga ada apa-apanya ini 🙏😊