Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Roti lapis



"Hah! Untunglah!", Rose menghela nafas lega seraya mengusap dadanya saat Ben bangun dari atas tubuhnya.


Ia juga sedikit terkekeh melihat wajah tampan Tuan seramnya itu yang sekarang sudah pasti sangat jelek. Pria itu mendengus beberapa kali dengan kesalnya. Ia berjalan lebih dulu ke arah pintu dengan acuhnya. Acaranya lagi-lagi harus terganggu.


"Hey, Tuan! Tunggu dulu! Bagaimana bisa kau yang keluar duluan?!", Rose agak panik dengan hal itu.


Bagaimana jika Paman Alex mencurigai sesuatu di antara mereka?! Semua usahanya yang sudah berbohong tadi akan menjadi sia-sia saja kalau begitu! Buru-buru Rose menyusul langkah Ben yang sudah mendekat ke arah pintu.


"Nona! Tuan Victor sudah menunggu untuk sarapan!", Paman Alex berbicara di luar pintu kamarnya.


Victor merasa sudah memberi mereka cukup waktu. Jadi akhirnya ia menyerah untuk berpikir masa bodoh tentang adik dan teman lamanya itu. Akhirnya ia kembali meminta Paman Alex untuk naik ke atas lagi untuk memanggil Rose dan Ben, agar mereka segera turun.


Permintaan tuannya itu harus Paman Alex turuti. Meskipun ia harus menghela nafas terlebih dahulu, lantaran ia merasa jika tugas kali ini terasa berat. Ia seperti diberi tugas untuk mendaki bukit yang sangat tinggi oleh tuannya. Yang jelas setelah ini, ia akan meminta waktu untuk istirahat yang begitu banyak. Tadi tuannya itu ingat jika ia sudah tua, tapi kenapa dia kembali lupa dengan begitu cepat tentang hal ini?! Hah!


Rose sudah menyalip langkah Ben. Sekarang dia sedang menghadap ke arah pria itu sambil memegangi kenop pintu kamarnya. Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan bibir merengut. Tuan seramnya tidak bisa keluar sekarang!


"Sebentar, Paman! Aku baru saja akan mandi! Lima belas menit lagi aku akan turun! Jika kakak sudah lapar, katakan saja untuk sarapan duluan! Aku akan menyusul nanti!", dan lagi-lagi Rose membuka pintu kamarnya itu dengan pelitnya. Hanya beberapa sentimeter saja, menampakan satu bulat penuh wajahnya saja.


"Apakah kecoanya kembali lagi, Nona? Saya khawatir karena Nona tak kunjung turun juga", ungkap Paman Alex dengan wajah lugunya. Kepalanya bergerak-gerak untuk menyelidik ke dalam kamar nonanya itu.


"Tenang saja, Paman! Dia tidak akan kembali lagi! Ya sudah kalau begitu aku mandi dulu ya!", dan Rose menutup pintu kamarnya itu tak peduli jika Paman Alex masih membuka mulutnya untuk berbicara.


Akhirnya pria paruh baya itu hanya membuka-tutup mulutnya lagi dengan suara yang tertahan di tenggorokan. Pria paruh baya itu pun menggeleng lemah seraya membalikkan tubuhnya. Ia lebih baik turun saja.


Dengan wajah lesu Ben memandangi Rose dengan tatapan acuhnya. Ia melipat tangannya di depan sambil menggoyang-goyangkan kakinya tidak sabar. Ia sudah ingin memeluk bantal dan guling di kamarnya. Matanya pun masih terasa perih. Tapi sekarang ia malahan ditahan untuk keluar oleh Rose dengan alasan yang tidak jelas ini. Rose baru akan memperbolehkan Ben keluar dari kamarnya setelah Paman Alex benar-benar menghilang.


Setelah menunggu beberapa saat, Rose kembali membuka pintu kamarnya. Kepalanya keluar memastikan lagi bahwa Paman Alex benar-benar sudah tidak ada di sana. Barulah ia membuka pintu kamarnya dengan lebar untuk Tuan seramnya itu.


"Tuan mandilah, setelah itu kita sarapan bersama!", Rose berkata dengan ceria pada pria yang mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya itu.


"Aku sudah sarapan!", Ben berbalik menghadap Rose.


"Baru saja,, dengan roti lapis yang tipis!", dengan tatapan kurang ajar dan acuhnya, Ben memindai tubuh wanita itu dari kepala sampai kakinya beberapa kali.


"Aku lebih membutuhkan tidur sekarang!", pria itu melanjutkan kata-katanya sambil menguap dan berbalik menuju pintu kamarnya sendiri.


brak!


Tapi Rose baru menyadari maksud dari setiap ucapan Ben tepat setelah pintu kamar pria itu tertutup rapat.


Giginya yang berwarna putih berbaris rapat untuk ia pamerkan dengan rasa kesalnya. Tangannya sudah mengepal di udara. Rasanya ia ingin sekali memukul Tuan seramnya itu. Apa-apaan orang itu menyamakan dirinya dengan roti lapis?! Bahkan tipis pula!


Dengan langkah yang sengaja ia hentakkan, Rose beberapa kali memeriksa isi kaosnya sendiri. Apa benar tubuhnya setipis itu?! Jika memang begitu, kenapa Tuan seramnya itu selalu tidak tahan untuk menyentuhnya?! Heh! Awas saja jika tangan nakal orang itu mulai beraksi, Rose jamin tidak akan ada lagi jatah untuk sentuh sana-sini lagi!


***


"Apa kecoa di kamarmu begitu besar hingga kau sulit untuk mengatasinya?!", tiba-tiba sarapannya yang begitu hening terganggu oleh suara kakaknya yang tiba-tiba datang entah dari mana.


uhuk,,, uhuk,,,


Rose seketika langsung tersedak mendengar pertanyaan kakaknya itu. Segera ia menyambar segelas air yang berada di dekatnya. Dan ia tandaskan seisi gelas itu dalam sekejap mata.


"Kakak!", serunya kemudian. Ia menyapa atau lebih tepatnya menegur kakaknya itu yang sekarang juga ikut mengambil roti lapis di tengah meja.


"Kenapa roti lapis ini tipis sekali, sih?! Siapa yang membuatnya, ya?!", padahal Victor bergumam sendiri sambil memandangi roti lapis yang kini sudah ada di tangannya itu.


uhuk,, uhuk,,


Tapi kembali Rose tersedak lagi untuk yang kedua kalinya. Ia jadi teringat dengan kata-kata Ben tadi untuknya. Sial! Sungguh sial nasibnya pagi ini! Tidak mungkin juga kakaknya tahu, kan, masalah pembicaraan antara dirinya dan juga Tuan seramnya itu?! Dan Rose pun mengambil gelas air putih yang lainnya untuk ia tandaskan lagi isinya.


"Kau ini kenapa?!", Victor menatap adiknya itu keheranan. Memangnya ada yang salah pada ucapannya barusan?! Pria itu pun menggeleng tak peduli dan meneruskan makannya.


***


"Kakak! Sebentar lagi rumah ini akan kehadiran penghuni baru, kan?! Bagaimana perasaan Kakak?", sesekali Rose melirik sambil mengajukan pertanyaan ini kepada pria berkursi roda yang saat ini tengah menikmati sinar mentari di sebelahnya.


"Hah! Entahlah Rose, Kakak tidak tahu bagaimana Kakak harus menggambarkan perasaan Kakak saat ini", terdengar Victor menghela nafas begitu panjang.


Sejujurnya ia belum siap untuk bertemu lagi dengan Bella beserta seorang bocah yang diklaim merupakan putranya. Bukan karena ia tidak mengakui anak itu, tapi rasa bersalah dan penyesalan Victor rasakan pada mereka berdua. Yang dia sesalkan adalah bagaimana bisa ia tidak mengetahui kenyataan ini. Dan pasti selama itu pula Bella telah menahan semuanya sendiri.


Momen ketika wanita itu sedang mengandung. Sejak perutnya masih rata hingga membulat besar dan kesulitan berjalan. Lalu proses melahirkan yang mendebarkan. Juga saat melihat anak kecil itu semakin bertambah besar. Semua momen itu sebenarnya sangat ingin Victor memilikinya.


Tapi karena sebuah takdir, ia sampai harus tidak mengetahui apapun setelah kemarin. Karena banyaknya momen yang terlewati, itulah sebab Victor sulit menggambarkan perasaannya saat ini. Dan pikirannya kembali ia tarik di momen dimana semua takdir ini bermulai.


"Aku hanya penasaran! Tapi jika Kakak tidak mau bercerita, maka aku tidak akan memaksa! Paling-paling aku hanya akan terus bertanya saja seperti kemarin! Haha,,,", tawa Rose pecah setelah menampilkan wajah imut supaya kakaknya itu luluh hatinya untuk membagi kisahnya kepada adiknya ini.


Belum mau menjawab, Victor menyipitkan matanya terlebih dahulu pada adiknya itu. Pasti akan sangat merepotkan jika ia tidak mengabulkan keinginan adiknya itu. Pasti ia akan terus dibuntuti seperti hari kemarin. Dan itu amat sangat menyebalkan baginya.


-


-


Maaf ya teman-teman aku telat update 🙏