Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Masa lalu versi Victor - 2



"Bella,, wajahnya ada di sini! Kau menunjuk apa sebenarnya?!", temannya membenarkan posisi telunjuk Bella yang salah ke arah wajah Victor yang tengah menunduk ke bawah.


Seketika sakit kepala melanda Victor. Kepalanya terasa sangat berat untuk ia angkat. Ia berusaha untuk tetap sadar dan memandang ke arah Bella dengan memegang bahu wanita itu sebagai topangannya.


"Kau tidak boleh mabuk! Jangan minum lagi! Dengar! Jangan minum lagi! Dan kau harus segera keluar dari sini! Mengerti!", pria itu sedikit mengguncang bahu Bella yang dipegangnya agar wanita itu menangkap apa yang diucapkannya barusan.


"Memangnya siapa dirimu berani mengaturku seperti itu, huh?! Sekarang aku senang karena kesedihanku seperti menghilang", Bella tersenyum tidak jelas sambil menghempaskan tangan Victor dari bahunya. Wanita itu masih dalam kendali alkohol saat ini.


"Bellena Peterson! Apa kau pikir dengan begini masalahmu akan menghilang begitu saja, huh?!", lelaki itu memegang erat kedua bahu Bella dan mengguncangnya berulang kali agar wanita itu lekas tersadar dari pengaruh alkohol itu. Di tengah sakit kepala dan rasa tidak nyaman yang mulai datang di dalam tubuhnya, Victor terus berusaha menyadarkan wanita itu.


"Tentu saja! Setelah ini masalahku akan hilang semua! Semuanya,,, semua kenyataan yang aku ketahui tapi tak satu pun orang mau mendengarkan aku! Apa kau tahu, orang itu tidak bersalah! Dia tidak bersalah, tapi kakakku tidak mau mendengarkan aku! Kakakku sudah termakan oleh kebenciannya! Jadi aku harus bagaimana?! Aku harus bagaimana?!", tiba-tiba Bella berteriak kencang dengan tatapan nyalangnya ke arah Victor. Kepedihan dan kesedihan yang ia tahan selama ini, tumpah ruah begitu saja bersama air mata yang mengalir deras di pipinya. Kenyataan yang ia bicarakan tentu saja mengenai Victor yang memang sebenarnya tidak bersalah dalam kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya itu.


Meskipun dalam keadaan setengah mabuk, teman di samping Bella masih bisa mendengar dengan jelas apa saja yang mereka berdua katakan. Dan sepertinya teman Bella itu menangkap jika Bella dan pria itu saling mengenal. Jadi ia membiarkannya saja untuk sesaat. Memberi mereka ruang untuk saling bicara. Teriakan Bella memang mengundang temannya yang lain untuk mendekat. Maka dari itu ia menenangkan mereka semua bahwa semuanya masih baik-baik saja. Sehingga yang lain pun kembali ke tempat mereka semula.


Victor,, lelaki itu sudah mulai merasa tidak karuan dengan tubuhnya. Ia sudah ingin sekali pergi dari sana, dari hadapan Bella. Tapi,, melihat wanita yang memiliki daya tarik tersendiri baginya itu menangis, hatinya terenyuh dan menjadi tidak tega. Ia raih tubuh itu untuk ia peluk dengan erat.


Sialnya adalah ketika ia memeluk Bella, perasaan tidak nyaman dan panas kian menjalar dan semakin hebat saat tubuh mereka berhimpitan seperti itu. Masih berusaha membuat wanita itu berhenti menangis, Victor memejamkan matanya kuat-kuat menahan gejolak sialan yang mulai membakar tubuhnya ini. Ia harus segera pergi. Lelaki itu tidak ingin jika Bella sampai melihat dirinya menggila ataupun malahan menyakitinya.


"Ingat! Jangan minum lagi! Dan cepatlah pulang! Kakakmu pasti sangat mengkhawatirkanmu!", untuk terakhir kalinya ia membelai kepala Bella dan menghadiahkan satu buah kecupan pada dahi wanita itu. Sebuah kecupan yang mendalam seakan ia tidak akan bertemu dengan Bella lagi.


Lalu mereka benar-benar berpisah seperti sepasang kekasih yang baru saja memutuskan hubungan. Dan wanita itu masih setengah sadar saat memandang bayangan pria yang makin menjauh dari dirinya. Hingga ia pun terduduk dengan pandangan kosong di matanya.


***


Saat ini Victor sedang berada di dalam toilet, masih di dalam area club malam itu. Lelaki itu tengah memandangi pantulan dirinya yang berada di dalam cermin lebar di hadapannya. Wajahnya dan hampir setengah dadanya basah kuyup karena sengaja ia siram sendiri. Ia berharap dengan begini, panas yang terus menjalar ke setiap bagian tubuhnya itu bisa sedikit reda sebelum ia berhasil keluar dari tempat ini dan pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan penawarnya.


"Sial! Sebenarnya berapa dosis yang orang itu berikan! Ini terlalu menyakitkan!", Victor memaki dengan keras seraya memukul keran air di hadapannya.


Dia pernah merasakan efek dari obar perangsang seperti ini. Victor tahu sampai sejauh mana obat itu akan bekerja, dan sedikit banyaknya ia sudah tahu tubuhnya bisa bertahan sejauh apa sampai ia bisa menemukan penawarnya.


Tapi apa yang ia rasakan saat ini rasanya terlalu hebat menyiksa tubuhnya. Laki-laki tua itu benar-benar brengsek! Victor tak hentinya memaki orang itu. Bagaimana jika Bella yang merasakan hal ini?! Bagaimana wanita itu akan bertahan dalam pengaruh obat yang luar biasa ini?!


Pantas saja suasana hati orang itu begitu baik. Nyatanya Tuan Ergy memang ingin merusak seluruh keluarga Peterson itu. Dan jika sesuai dengan perkiraan Victor, orang itu pasti bermaksud membuat Bella digilir oleh beberapa pria sekaligus. Memikirkannya saja sudah membuat amarah Victor membara. Dasar bajingan!!


Setangkup air ia basuhkan lagi ke wajahnya untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu ia memilih untuk keluar dari ruangan itu dan segera meredakan panas yang saat ini makin membakar tubuhnya. Awalnya ia berpikir jika ia masih bisa tahan tanpa bantuan seorang wanita. Namun akhirnya ia menyerah, efek dari obat itu terlalu kuat untuk bisa ia bertahan sampai di luar sana.


***


"Ini kunci kamarnya!", Victor menyerahkan kunci kamar yang sudah ia sewa kepada wanita bayaran yang kini tengah memapah tubuhnya.


Benar, makin lama tubuh pria itu makin panas dan lemas lantaran Victor terus saja melawan gejolak yang membakar itu. Sedangkan wanita bayaran itu hanya berpikir jika pria yang bersamanya hanya sedang mabuk saja.


Sesaat sebelum mereka sampai di depan pintu kamar, kedua orang itu bertabrakan dengan seorang wanita. Ketiganya jatuh tersungkur di lantai.


"Ambil bayaranmu dan pergi!", ketika wanita bayaran itu hendak membantu Victor untuk berdiri, wanita yang tadi menabrak mereka malah mencegahnya dan bahkan mengusirnya.


Victor tak dapat melihat wajah wanita yang mengusir wanita bayarannya itu dengan jelas. Pandangan matanya sudah mulai kabur, hanya saja suara itu cukup familiar di telinganya.


#FLASHBACK OFF


"Setelah itu Kakak tidak tahu apa yang terjadi. Apa yang Kakak lakukan dan dengan siapa Kakak melakukannya, Kakak sama sekali tidak tahu! Wanita itu hanya meninggalkan sebuah tulisan di selembar tisu. Terima kasih! Hanya itu yang ia tinggalkan untuk Kakak!", mata pria itu begitu dalam menatap entah kemana. Seakan pikirannya masih melanglang buana ke masa itu.


"Kenapa Kakak tidak mencoba mengecek rekaman cctv tempat itu? Mungkin saja Kakak bisa tahu siapa wanita itu sebenarnya", mata Rose berkedip beberapa kali dengan polosnya. Ia menyanggah dagunya dengan satu tangan, memandangi wajah kakaknya masih dengan rasa penasaran yang belum hilang.


"Kakak sudah mencobanya! Tapi semua akses seperti sengaja ditutup untuk Kakak ketahui. Jadi Kakak tak mendapat informasi apapun setelah itu", Victor pun mengakhiri nostalgianya. Pandangan matanya yang semula dalam kini ia alihkan ke arah wajah adiknya itu.


"Sudahlah! Lagipula kebenarannya sudah terungkap. Mungkin Kakak membutuhkan banyak waktu untuk saling bicara dengannya", pria itu pun mengurai senyumnya seraya mengacak rambut pirang adiknya itu.


Ya, memang ada banyak hal yang harus dia bicarakan dengan Bella. Banyak kata maaf juga yang harus ia sampaikan untuk pengorbanan yang telah Bella lakukan untuknya. Serta,, kata Terima kasih! itu, seharusnya dialah yang mengucapkannya. Bukan Bella.


"Kakak!", seru Rose tidak suka saat rambutnya kembali berantakan oleh ulah kakaknya itu.


"Jangan berteriak di sini! Lebih baik kau berteriak di depan kamar orang itu! Ini sudah siang, tapi kenapa dia belum bangun juga?! Tidak biasanya sekali!", Victor menggosok dagunya seraya memikirkan teman lamanya itu. Biasanya orang itu selalu bangun pagi tak peduli jam berapa ia tidur.


"Jangan,, jangan! Eehmm, maksudku aku tidak ingin melakukannya. Mana berani aku mengganggu macan yang sedang tidur itu! Bagaimana jika Kakak saja yang membangunkannya?!", buru-buru Rose melambaikan tangannya ke depan wajah kakaknya itu. Wajahnya sedikit panik.


Tuan seramnya itu tidak tidur semalam karena dirinya. Jika dia juga yang membangunkannya sekarang, bukankah namanya dia sedang mencari mati sendiri! Meskipun Rose khawatir karena orang itu belum makan padahal hari sudah beranjak siang. Tapi ia lebih khawatir lagi jika sampai ia mendapatkan hukuman lagi dari orang itu.


"Boleh! Tapi kau gendong Kakak naik ke atas, ya!", lalu Victor menyeringai dan menyebabkan sudut bibir Rose berkedut karena kesal.