
๐ถ๐ถ๐ถ
Dering ponsel langsung terdengar dari ponsel milik Ben. Pria itu meminta izin untuk mengangkatnya sebentar. Ia berjalan sedikit menjauh dari Bella.
"Aku akan mengangkat telepon dulu sebentar!", pamitnya seraya berjalan menjauh.
"Ya, silahkan! Aku akan mencoba mengetuk pintu kamar la,,, ", sebelum selesai kalimatnya itu, Bella sudah ditarik dari arah dalam kamar yang sedari tadi pintunya ia ketuk. Lalu menghilang bagaikan asap, bahkan Ben sendiri tidak menyadarinya karena sibuk menerima kabar.
"Ada apa?", tanya Ben yang sekarang suaranya berubah dingin.
"Ada yang menukar barang kita di pelabuhan, Tuan! Mereka menggantinya dengan senjata mainan!", terdengar Relly sebisa mungkin menahan emosi saat melaporkan hal ini kepada bosnya itu. Ia juga geram.
"Siapa yang begitu berani,,, ", Ben hampir saja berteriak karena amarahnya sudah sangat siap untuk meledak. Tapi ia ingat jika tempat ini tidak tepat untuknya melakukan hal itu.
"Siapa yang begitu berani melakukan hal itu?!", seru pria bertopi koboi itu pelan sambil menggertakan gigi. Dan jadilah ia menahan diri sambil memijit pangkal alisnya. Kepalanya mendadak pusing hebat.
"Kami masih melacaknya, Tuan!", jawab Relly di seberang saluran sana.
"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke markas sekarang!", sahut Ben tak berpikir panjang lagi. Pria itu pun menutup sambungan telepon.
Pria eksentrik itu berbalik sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya. Ia berjalan pelan ke arah pintu kamar yang sedari tadi tidak terbuka untuk dirinya. Karena begitu berbalik, ia menyadari jika Bella sudah tidak ada di sana, sepertinya sudah masuk ke dalam. Itu berarti memang benar jika dirinya yang tidak diterima oleh penghuni kamar itu.
Ben mengulurkan tangannya mendekat ke arah pintu. Telapak tangannya sudah mengepal ingin mengetuk pintu kamar itu. Ia sungguh menyesal karena tidak bisa membujuk kekasihnya itu lebih lama lagi. Situasinya mendesak yang mengharuskan dirinya untuk segera pergi dari sana. Karena ia harus menangani masalah ini secara langsung.
Maaf! Ben mengucapkan kata itu dalam hati seraya menarik kembali tangannya yang belum jadi menyentuh daun pintu kamar itu. Pria itu pun menundukkan kepalanya sambil berlalu pergi dari sana.
***
"Kau mau kemana?", tanya Victor pada temannya yang terlihat terburu-buru keluar dari rumah. Bervan yang masih marah pada pria bertopi koboi itu pun memalingkan wajahnya, tak ingin melihat ke arah paman galak itu. Sebelumnya, mereka sedang bermain tangkap bola di halaman depan.
"Sesuatu terjadi, aku harus kembali ke markas!", pria itu berhenti lalu menjawab dengan nada datar. Ia menyembunyikan murungnya hatinya karena belum mendapatkan maaf dari adik temannya itu. Ia juga sempatkan untuk memandang ke arah anak kecil di samping Victor yang tak ingin melihat wajahnya sama sekali. Pria itu mendesah pelan.
"Aku akan kembali lagi secepatnya untuk meminta maaf kepada adikmu setelah urusanku selesai!", tambahnya lagi sambil menyembunyikan emosinya.
Sebenarnya ia tujukan kalimat ini untuk Bervan supaya anak kecil itu tidak marah lagi kepadanya. Entah sejak kapan ia jadi begitu peduli dengan dengan pendapat orang lain, apalagi dari seorang anak kecil seperti Bervan itu. Ben menyadari jika dirinya yang dingin dan kejam ini sudah memiliki banyak perubahan. Namun ia tak akan merubah dirinya dalam menghadapi semua musuh-musuhnya itu. Terutama sekarang ini, ia bangkitkan jiwanya yang berdarah dingin untuk menyelesaikan masalah yang ada itu.
Mobil sport putih yang semula memang ia gunakan untuk berangkat ke rumah ini, sekarang ia pergunakan lagi untuk kembali ke markasnya. Ia membutuhkan akomodasi yang memiliki kecepatan lebih, agar ia bisa lekas sampai di markasnya. Pria itu sudah geram dan sudah ingin membantai orang-orang yang mencari masalah dengannya.
Victor, Bervan dan juga Paman Alex memandangi mobil sport putih itu keluar dari halaman rumah. Semuanya terdiam tak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun. Sampai pagar halaman rumah itu ditutup, hening masih berada di antara mereka semua.
"Papa, kemana Paman akan pergi?", Bervan menggoyang-goyangkan lengan Victor yang ia pegang sejak tadi.
Sebelum menjawab pertanyaan putranya itu, Victor tersenyum. Hatinya seperti dialiri sesuatu yang menghangatkan setiap kali anak kecil yang mirip dengan dirinya itu memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Padahal belum lama mereka bertemu, tapi ikatan batin ini terasa kuat sekali.
Tak perlu ia melakukan tes DNA atau semacamnya. Dari dalam hatinya ia sangat yakin jika anak kecil ini memanglah putra kandungnya sendiri. Karena ia sangat tahu bagaimana Bella, wanita manja yang selalu ingin dituruti kemauannya itu tetaplah seorang wanita terhormat yang selalu menjaga hal berharga miliknya itu. Jadi Victor bisa pastikan jika Bella hanya melakukan hal itu dengan dirinya. Terlebih lagi ada Baz, kakaknya yang selalu menjaganya dengan sangat protektif. Sudah sampai sini saja, ia sudah mendapat keyakinan jika anak kecil ini memanglah putra kandungnya.
"Paman Ben akan kembali ke markasnya untuk mengurus masalah yang terjadi di sana! Nanti dia pasti akan kembali lagi ke sini jika masalah di sana sudah selesai!", Victor menjawab pertanyaan putranya itu sambil mengelus belakang kepala Bervan. Tatapan matanya dipenuhi dengan balutan kasih sayang.
"Aku tidak bertanya kapan dia kembali? Lagipula siapa yang mengharapkan dia kembali!", Bervan langsung memalingkan dirinya ke samping sambil melipat tangannya di depan dada. Anak kecil itu juga terdengar mendengus. Ia hanya kesal karena paman galak itu belum meminta maaf kepada bibinya.
"Papa pikir kau sudah tidak tahan ingin bermain lagi dengan Paman Ben! Kelihatannya kalian sangat dekat!", Victor memiringkan kepalanya sambil memasang senyuman untuk menggoda anak kecil itu.
"Tidak, kami tidak dekat!", Bervan segera menjawab tidak terima. Anak kecil itu lalu menghadap ke arah ayahnya dengan tatapan nyalang. Ia benar-benar serius dengan jawabannya. Adapun Paman Alex yang setia mendampingi mereka sejak tadi, mengulum senyumnya di belakang kursi roda tuannya itu.
"Aku masih kesal dengan Paman Ben! Dia belum meminta maaf pada Bibi!", jelasnya lagi, tak ingin ayahnya itu salah paham terhadap pertanyaan yang ia ajukan pertama kali.
"Wah,, sepertinya kau sangat menyayangi bibimu, ya?!", Victor kembali mengelus belakang kepala Bervan. Ia senang karena anak kecil itu cepat beradaptasi dan langsung dekat dengan orang-orang di rumahnya. Kekhawatiran yang ia miliki sebelumnya pun hilang. Karena ia takut jika putranya itu akan tidak senang begitu sampai di sini.
"Tentu saja! Bibi sangat baik kepadaku!", jawab anak kecil itu begitu yakin.
"Kalau begitu,, apa Bervan menyayangi Papa?", Paman Alex yang berada di belakang tuannya pun terhenyak mendengar pertanyaan itu. Ia jadi yang merasa gugup menunggu jawaban dari Bervan untuk tuannya. Victor pun sebenarnya harus mengumpulkan keberanian yang tinggi untuk mengajukan pertanyaan ini. Hatinya sedang berdebar sekarang. Ia seperti sedang menunggu jawaban ketika sedang menyatakan cinta kepada seseorang.
"Tentu saja, Papa! Bervan juga sangat menyayangi Papa, sama seperti aku menyayangi Mama, aku juga menyayangi Papa! Aku senang karena akhirnya aku bisa sama seperti teman-teman yang lainnya di sekolah, yang mempunyai mama dan papa. Sekarang aku sudah mempunyai dua-duanya!", jawab Bervan seraya menyentuh lengan Victor dan berkedip polos. Sedangkan kedua pria dewasa itu menahan nafas mereka setelah mendengar jawaban dari Bervan. Sungguh luar biasa menyentuh hati mereka. Paman Alex yang bukan siapa-siapa pun ikut terharu mendengarnya.
"Mama bilang, dulu aku itu spesial karena tidak ada Papa bersama kami. Tapi sekarang Mama bilang aku adalah sempurna karena sudah memiliki Mama dan Papa juga! Tentu saja aku sangat menyayangi Papa! Mama juga bilang Papa sedang sakit sekarang dan membutuhkan bantuanku supaya Papa bisa sembuh! Jadi Papa tidak perlu khawatir lagi, aku akan melakukan apa pun supaya Papa bisa sembuh. Lalu kita bisa bermain dan pergi piknik bersama!", anak kecil itu begitu bersemangat sambil melanjutkan kata-katanya. Dan mata Victor dibuat panas oleh semua celotehan anak kecil itu. Sudah ada genangan air mata yang mengisi pelupuk matanya. Begitu pun dengan Paman Alex yang ikut terharu mendengar jawaban tuan kecilnya yang sangat dewasa itu.
"Kemari, Sayang! Peluk Papa!", Victor merentangkan tangannya dan tak perlu menunggu lama pun Bervan segera masuk ke dalam pelukannya itu.
Sambil memeluk putranya, ia menyeka air mata yang sudah terlanjut jatuh, menetes hingga ke dagunya. Perasaan haru ini membalut seluruh bagian hatinya yang selalu dipenuhi rasa khawatir dan kegelisahan. Ia pun merasa sangat bersyukur karena Bella telah melahirkan putra yang begitu tampan dan cerdas seperti ini. Pemikiran anak itu sungguh dewasa, itu yang membuatnya menjadi bertambah bangga.
Dan yang lebih membuatnya haru lagi adalah ketika Bervan menjelaskan bahwa dirinya yang dulu adalah spesial, kini telah berganti dengan sempurna. Ya, karena Victor pun merasa seperti itu. Ia pun merasa sempurna setelah kedatangan Bella dan Bervan sekarang. Ia jadi bisa merasakan memiliki keluarga yang lengkap sekarang.
Meskipun begitu, ada juga penyesalan mendengar anak kecil itu menyebutkan masa ketika Bervan belum mengetahui keberadaan dirinya. Victor tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan anak kecil itu, dan bagaimana pula keduanya melalui masa-masa sulit itu bersama. Di tengah kebahagiaannya, ada goresan luka yang amat lelaki itu sesali.
"Tuan,,,", ia mulai membuka suaranya agak ragu, canggung untuk menanyakan hal ini kepada tuannya itu.
"Ada apa?", Victor pun melepaskan pelukannya pada Bervan. Lalu menatap ke arahnya.
"Begini,, itu, sebenarnya saya juga bingung harus bagaimana menanyakannya!", Paman Alex mengusap kepalan tangannya sendiri sambil memasang ekspresi ragu.
"Katakan saja, ada apa sebenarnya?", tanya Victor tidak sabar.
"Begini, Tuan! Saya belum memindahkan koper milik Nona Bella dan juga Tuan Bervan,,", padahal belum selesai ia berucap, tapi anak kecil di hadapan Victor itu langsung berbicara.
"No,, no,, no,, !", Bervan menggoyangkan jari telunjuknya di hadapan wajahnya seraya memejamkan mata.
"Panggil aku Bervan saja! Aku belum terlalu tua untuk dipanggil dengan sebutan seperti tuan, Paman Alex! Tolong panggil aku Bervan saja, oke!", anak kecil itu tidak ingin dipanggil dengan sebutan yang kaku seperti itu, tapi tingkahnya yang seperti sedang memberi perintah dan menggemaskan itu malahan menunjukkan jika dirinya memang pantas untuk dipanggil tuan. Baik Victor dan Paman Alex menahan senyum mereka.
"Baiklah, Bervan!", Paman Alex menganggukkan kepalanya sudah mengikuti keinginan anak kecil itu.
"Iya, Tuan! Koper milk Nona Bella dan Bervan belum dipindahkan! Saya tidak tahu harus meletakkannya dimana?", dan pria paruh baya itu pun meneruskan pertanyaannya dengan kecanggungan yang ia tahan tadi.
"Letakkan saja di kam,,, ", Victor menghentikan ucapannya sendiri ketika langsung menyadari maksud dari ucapan Paman Alex.
Mereka memang keluarga, tapi secara hukum, Bella belum menjadi istri sahnya. Rasanya masih canggung bagi mereka untuk langsung tinggal sebagai satu keluarga yang utuh. Sebenarnya yang ia khawatirkan adalah pendapat Bella mengenai hal ini. Ia takut jika wanita itu tidak akan setuju dengan idenya untuk tinggal di dalam satu kamar saja. Karena bagaimana pun, ia juga sangat ingin untuk tidur bersama dengan putranya yang baru ia temui itu.
"Sebaiknya kita tunggu Bella saja!", lanjut lelaki itu mengusir kekhawatirannya. Masalah ini memang ada bainknya didiskusikan lebih dulu.
"Baik, Tuan!", Paman Alex mengangguk mengerti.
Kenapa tidak diletakkan di kamar Papa saja?! Anak kecil itu menyimpan pertanyaan ini dalam hati. Para orang dewasa terlalu berbelit-belit dalam berpikir. Mereka adalah satu keluarga, jadi tentu saja kopernya dan milik mamanya bisa diletakkan di kamar papanya, kan. Bervan menipiskan bibirnay sambil menggeleng pelan, ia selalu tidak tahu dengan cara berpikir orang dewasa yang begitu rumit. Yang jelas ia ingin tidur dengan papa dan mamanya. Merasakan keluarga yang lengkap, seperti yang teman-temannya miliki.
***
"Apakah kau benar-benar tidak mau menemuinya, Rose?", tanya Bella yang sedang duduk santai di atas tempat tidur tunggal milik wanita yang diajaknya bicara. Mulutnya penuh terisi camilan.
"Tidak!", jawab Rose yakin. Ia juga sedang menikmati camilannya sendiri setelah menggulung rambutnya yang masih basah itu dengan handuk. Ia masih marah pada Tuan seramnya itu sekarang. Ucapan pria itu terlalu menyakitkan!
"Kau tadi mandi atau sedang bertapa, sih sebenarnya?! Aku pikir kau melakukan hal yang aneh-aneh karena lama sekali tidak menjawab panggilanku di depan pintu!", Bella terus memasukkan camilan ke dalam mulutnya dengan perlahan.
"Aku dengar kau memangggilku! Tapi mau bagaimana lagi! Perutku sakit sekali setelah selesai mandi! Jadi aku buang air besar dulu sebelum menemuimu! Nah, saat aku sudah selesai, aku malah mendengar suaranya! Jadi aku menguping di balik pintu sampai dia pergi dan suaranya tidak terdengar lagi. Barulah aku menarikmu ke dalam dengan cepat, karena aku tahu dia hanya bergerak menjauh untuk menerima telepon saja, kan?!", Rose mendudukkan dirinya di bingkai jendela kamar. Lalu melanjutkan lagi menikmati sebungkus keripik kentang di tangannya.
"Kau ini! Ku pikir, kau sedang menangis histeris di sini!", ujar Bella santai. Ia akhirnya merasa tenang setelah mengetahui keadaan Rose baik-baik saja. Bahkan sangat baik-baik saja seperti tidak memiliki masalah apapun. Hanya sedikit rasa kesal saja yang masih terasa dari wanita itu. Namun itu sudah cukup untuk membuat Bella merasa sangat tenang.
"Padahal,, jika dilihat dari caramu melarikan diri, kau seperti seorang wanita yang amat tersakiti! Makanya aku dan kakakmu sangat khawatir, kalau-kalau kau melakukan hal macam-macam karena terlalu bersedih!", tambah Bella lagi seraya memperhatikan ke sekitar kamar itu. Kamar itu tidak besar seperti miliknya, tapi terasa nyaman bahkan jika ada mereka berdua. Dan ia pikir berbicara dengan Rose terasa menyenangkan, seperti dirinya memiliki saudara perempuan.
"Ya,, awalnya aku memang sangat sakit hati!", jawab Rose sambil mengerucutkan bibirnya. Ia jadi teringat lagi masa ketika Tuan seramnya itu membuatnya kesal.
"Tapi kakakmu mengatakan jika memang seperti itulah sifat asli orang itu! Kau harus banyak bersabar dalam menghadapinya! Dan jika memang dia mencintaimu, nanti dia pasti akan merubah sifat buruknya perlahan!", Bella menyampaikan apa yang Victor pesankan kepadanya.
"Ya, aku tahu!", Rose mendesah sambil membuang pandangannya keluar jendela. Sedangkan Bella melipat alisnya dalam, bingung tapi juga penasaran dengan lanjutan ucapan adik dari Victor itu.
"Aku tahu Tuan seramku itu memang hanya memiliki sedikit kesabaran! Aku tahu! Aku juga tidak menyalahkan dia sepenuhnya mengenai masalah ini. Karena sebenarnya kemarin aku sudah melakukan hal yang sama, dan dia masih berusaha bersabar untukku! Jadi wajar kalau kali ini dia marah! Tapi aku tetap tidak membenarkan apa yang dia ucapkan tadi padaku! Kata-katanya terlalu kasar, dan hatiku sedang tidak siap untuk menerimanya! Jadi aku langsung menangis", wanita itu bercerita sambil sesekali memandangi kemasan plastik camilan yang ia pegang.
Rose tahu memang jika orang itu tidak memiliki limit kesabaran yang banyak. Sejak pertemuan pertamanya, juga dengan beberapa kejadian yang melibatkan dirinya dengan Tuan seramnya itu, ia memang jadi lebih mengenal orang itu. Tapi, kadang hati manusia tidak selalu siap untuk menerima bentakan dan kalimat kasar. Begitulah yang Rose rasakan tadi. Dan hal itu juga mengingatkan pada masa lalunya bersama dengan keluarga tirinya itu. Dimana hidupnya dibuat hancur di sana.
"Aku sudah terbiasa mendengar kata-kata kasar dan diperlakukan kasar. Aku tak peduli karena aku menganggap mereka bukan siapa-siapa. Jadi aku tidak harus merasakan sakit hati. Tapi karena Tuan sangat berarti bagiku, jadi rasanya aku tidak bisa menerima dia memperlakukan aku dengan kasar seperti itu!", tambahnya lagi setelah sedikit bernostalgia dengan kenangan buruknya. Ia memandang jauh keluar jendela.
"Rose,,, ", Bella kehilangan kata-kata. Meskipun sebenarnya ia sangat ingin bertanya, apa saja yang sudah dilewati oleh wanita ini. Bella jadi ingat tentang balas dendam kakaknya yang salah. Dan ia pun kini jadi merasa bersalah, mungkin seperti ini apa yang kakaknya rasakan. Meskipun bukan ia yang melakukannya, tapi Bella termasuk dalam bagian dari alasan kakaknya melakukan hal itu. Bella sungguh ingin meminta beribu maaf kepada Rose saat ini, atas apa yang telah ia lalui sebelumnya.
tok,, tok,, tok,,
"Mama! Mama! Apakah Mama masih di dalam? Papa ingin bertanya dimana kita akan tidur nanti!", Bervan mengetuk pintu kamar itu agak keras sambil berteriak dari luar dengan suara polosnya. Tanpa tahu bahwa pertanyaannya itu juga bisa mengandung makna bagi orang dewasa.
Jika Rose hanya mengerang, bingung dengan maksud pertanyaan anak kecil itu. Lalu Bella melepskan camilan di tangannya tanpa sadar, sebab sepertinya ia mengerti maksud dari pertanyaan dari putranya itu. Namun ia tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.
-
-
Maafkan aku yang akhir-akhir ini sibuk sama perkara dunia nyata, ya! Terlalu banyak yang diurus, sampe diri sendiri aja ga ke urus! Apalagi buat nulis! Ngosongin pikiran buat nyari ide tuh kaya susah bgt rasanya,,
Mohon maaf ya teman-teman semuanya๐
btw, bab ini aku tulis sekitar 2600 kata lebih ya teman-teman