
"Hari ini adalah hari dimana ayahnya akan dimakamkan. Karena tak ada luka yang berarti di tubuhnya, Bella bersikeras untuk keluar dari rumah sakit, lantaran dia sangat menginginkan hadir di acara pemakaman mendiang ayah tercintanya itu. Ia ingin mengantarkan orang tuanya yang tinggal hanya satu itu ke tempat peristirahatan terakhirnya.
"Kemana Kakakku?", tanyanya pada salah satu anak buah Baz yang diperintahkan untuk menjemputnya di rumah sakit.
Kemarin, tak lama setelah Baz menemui Bella untuk memberitahukan kabar wafatnya ayah mereka, kakaknya itu langsung mengurus beberapa prosedur supaya jenazah ayahnya bisa mereka bawa langsung ke rumah. Pasti akan ada banyak pelayat yang datang, jadi banyak yang harus dipersiapkan oleh kakaknya itu.
"Tuan masih menerima banyak pelayat yang datang di rumah!", jawab pria itu sopan sambil menundukkan kepalanya.
"Apakah Kakak benar-benar tidak mau mendengarkan kata-kataku?", tanya wanita itu sambil meraih mantelnya di atas tempat tidur untuk ia pakai.
"Maaf Nona! Saya rasa bukti yang sekarang kami miliki cukup kuat. Dan semuanya memang mengarah kepada orang itu! Saat ini Tuan Baz masih sangat marah, apapun yang Nona katakan tidak akan didengarkan oleh Tuan!", pria itu menjawab pertanyaan Bella dengan sabar.
"Bagaimana jika kau mengatakan bahwa kemarin aku bertemu dengannya? Dan orang itu mengatakan sendiri bahwa bukan dia pelakunya, masih ada orang lain yang menjadi dalang di balik kecelakaan ini! Apakah kau yakin keluarga ini tidak memiliki musuh lain?!", Bella duduk di pinggir tempat tidur seraya melipat kedua tangannya di depan. Memandang anak buah kakaknya itu dengan tatapan menantang.
"Nona?!", pria itu hanya berseru saja dengan wajah terkejut. Ia bingung harus merespon bagaimana. Pria itu menjadi sangat takut jika sampai tuannya mendengar bahwa adiknya itu telah bertemu orang yang sangat ia benci saat ini. Dan pemikiran yang baru saja nonanya itu sampaikan, cukup membuatnya kehilangan kata-kata. Karena selama ini yang ia tahu, nonanya itu adalah sosok manja yang tidak terlalu mau ikut campur di dalam urusan keluarganya.
"Sudahlah, anggap saja kau tidak mendengarkan apa-apa!", Bella berdiri seraya melambaikan tangannya ke arah pria itu. Lagipula memang tidak ada gunanya berbicara dengan kakaknya yang sedang diliputi emosi itu. Ia akan mencobanya lagi lain waktu. Sekarang yang paling penting adalah ia harus segera pergi ke acara pemakaman mendiang ayahnya terlebih dahulu.
Ia lalu berjalan ke arah luar kamar, melewati anak buah kakaknya itu begitu saja. Pria itu masih berkutat dengan pikirannya sendiri saat ini. Memangnya siapa lagi musuh keluarga tuannya yang tega sampai merenggut nyawa tuan besarnya itu?! Setelah sadar ia tinggal sendirian saja di kamar itu, ia pun bergegas untuk mengejar nonanya yang sudah berjalan lebih dulu.
Semalam, Bella menelepon kakaknya yang sedang berada di rumah. Rasanya ia sudah tidak tahan menyimpan spekulasi ini sendirian. Ia harus menyampaikan keragu-raguannya perihal bukti yang menjadikan Victor tersangka dari kecelakaan ini. Belum juga sampai lima menit dirinya bicara, kakaknya itu sudah menghentikannya dan memilih untuk langsung menutup sambungan telepon. Karena menurut kakaknya, semua yang ia katakan hanya atas dasar rasa sukanya pada Victor yang masih ada sampai sekarang.
Bella masih bisa paham sampai di sini, pikiran kakaknya itu masih sangat kacau saat ini. Jadi ia akan mencoba bicara lagi lain waktu, ketika kondisi kakaknya itu lebih tenang. Selagi menunggu,ia juga harus mendapatkan bukti yang menyatakan bahwa Victor tidak bersalah.
***
Mendiang Tuan Ander sudah dimakamkan. Kakak beradik Peterson itu juga sudah tiba di rumah mereka. Selama prosesi pemakaman itu, Bella tak berhenti menangis. Maka dari itu terlihatlah sekarang matanya yang sembab dan masih basah. Wanita itu sangat terpukul dengan kepergian ayahnya yang mendadak ini. Dan semua itu jelas-jelas terjadi di depan matanya. Bella benar-benar tak kuasa, beruntung saja ia tidak sampai pingsan di sana.
Sedangkan Baz, ia yang merupakan seorang kakak laki-laki, terlihat lebih tegar dibandingkan dengan adiknya. Beberapa titik air mata memang sempat singgah di wajahnya. Namun sebisa mungkin semua kesedihannya ia tekan di dalam hati. Pikirannya saat ini dipenuhi oleh nama Victor yang menurutnya adalah penyebab dari kepergian ayahnya ini. Wajah pria itu mengeras, kakaknya lebih banyak menyimpan kemarahannya saat itu.
"Kau beristirahatlah dulu! Nanti kita makan malam bersama!", Baz masih menyempatkan dirinya untuk mengusap lembut pipi adiknya itu untuk sekedar menghiburnya. Ia juga menipiskan bibirnya meskipun tidak sanggup untuk tersenyum.
"Kakak! Apakah Kakak tidak ingin menyelidiki ulang kecelakaan ini?", Bella yang dipapah oleh salah satu asisten rumah tangga pun bertanya dengan sisa suara yang ia miliki. Suaranya hampir habis karena terus menangis selama di pemakaman tadi.
"Jangan bahas itu lagi! Semuanya sudah jelas! Victor adalah penyebab kematian Ayah!", Baz pun membalikkan tubuhnya kembali. Ia menjawab pertanyaan adiknya itu dengan nada dingin.
"Tapi, Kak! Ayah sempat berpesan bahwa kita tidak boleh mempercayai siapa pun!", di sisa suaranya, Bella berseru agak kencang.
"Kalau begitu gunakan pesan Ayah untuk dirimu sendiri! Jangan percaya kepada siapa pun!", ucap Baz lagi dengan nada dinginnya lalu berlalu pergi begitu saja.
"Tapi, Kak!", Bella menghela nafasnya pasrah. Susah sekali berbicara dengan kakaknya itu.
Tapi memang, entah mengapa ia merasa sangat mempercayai semua ucapan Victor saat di rumah sakit kemarin. Namun, ia harus menemukan bukti lain yang menyatakan bahwa orang itu tidak bersalah, sehinga kakaknya itu mau mempercayainya.
Sambil dibimbing oleh asisten rumah tangganya, Bella pun berjalan dengan langkahnya yang lemah ke arah tangga untuk menuju kamarnya.
***
Sudah seminggu lamanya ia tidak diperbolehkan keluar rumah, lantaran kakaknya itu sempat memergokinya tengah mencari bukti-bukti mengenai kecelakaan yang menimpa dirinya dan juga ayahnya. Kakaknya begitu marah karena ia masih begitu peduli dengan orang itu. Padahal bukan hanya itu tujuannya, Bella juga ingin tahu siapa dalang dibalik kecelakaannya itu. Siapa musuh mereka sebenarnya?!
Sayangnya, kakaknya itu terlalu percaya dengan semua bukti yang ada. Dan bahkan penyelidikan ulang yang diawali oleh Bella pun memiliki hasil yang sama. Tapi tetap saja, Bella tidak bisa percaya begitu saja. Dan hal itulah yang membuat kakaknya itu amat marah dan mengurungnya selama seminggu terakhir ini.
"Bosan sekali!", ia bergumam di atas tempat tidurnya sendiri. Di tangannya ada foto mendiang ayahnya yang sedang ia peluk.
"Ayah! Aku harus bagaimana untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah?! Bahkan Kakak tidak mengizinkan aku keluar rumah selama seminggu ini!", ia berbicara pada foto mendiang ayahnya itu dengan wajah penuh penyesalan.
"Aku harus bagaimana, Ayah, agar Kakak mau percaya bahwa bukan dia pelakunya?!", ia menundukkan kepalanya dan merapatkan foto mendiang ayahnya itu ke dada untuk ia peluk erat.
Perasaan hatinya begitu kacau. Kesedihan yang ia rasakan karena kehilangan ayahnya itu masih sangat terasa hingga saat ini. Lalu kebimbangan juga menjadi badai di dalam sana. Ia benar-benar bingung tentang apa yang harus ia lakukan.
Dari lubuk hatinya yang terdalam mengatakan bahwa ia harus mempercayai orang itu. Ekspresi di wajahnya saat itu benar-benar tulus dan tak memiliki jejak keraguan sama sekali, ketika orang itu berbicara kepada dirinya. Tapi sungguh, ia sama sekali tidak tahu bagaimana caranya untuk membuktikan hal itu. Bagaimana kakaknya akan percaya hanya berdasarkan perasaannya saja?! Sambil meneteskan air mata, Bella menggelengkan kepalanya dengan keras. Ia benar-benar bingung saat ini. Ia berdoa kepada Tuhan supaya semua ini memiliki jalan keluarnya.
dret,, dret,, dret,,
Sambil menyeka air matanya, wanita itu tersenyum. Sepertinya ia harus menjernihkan pikiran dan hatinya walau hanya untuk malam ini. Kebetulan ia sempat mendengar jika kakaknya itu ada perjalanan bisnis ke luar kota dan baru akan kembali lagi besok malam. Jadi ia memiliki celah untuk pergi malam ini.
"Tidak apa-apa! Daripada nantinya aku bertengkar dengan Kakak, lebih baik aku mengatakannya saja. Semoga saja suasana hati Kakak sedang baik, jadi dia mau memberikan izinnya kepadaku!", akhirnya Bella mengirimkan pesan kepada Baz untuk meminat izin pergi malam ini setelah sempat meragu untuk berkata jujur pada kakaknya itu.
dret,, dret,, dret,,
Segera pesan balasan masuk dari kakaknya. Dengan enggan pria itu mengiyakan permohonannya. Dengan catatan harus ada anak buah kakaknya yang mengikutinya. Dan Bella harus berjanji untuk tidak mencari tahu tentang kecelakaan itu lagi. Atau pun membela Victor lagi di hadapannya.
Baginya itu hanyalah syarat yang mudah. Dengan cepat ia membalas pesan kakaknya itu. Ia mengiyakan semua ucapan kakaknya tanpa terkecuali. Karena baginya yang terpenting saat ini adalah ia bisa menghirup udara udara bebas setelah dikurung selama seminggu ini.
Setelah melemparkan ponselnya ke sembarang arah di atas tempat tidur, Bella pun bergegas pergi ke kamar gantinya untuk mencari pakaian yang akan ia kenakan malam nanti.
***
Dua orang pria berbadan tegap berjalan di belakang Bella menuju ke arah dalam club malam dimana pesta ulang tahun temannya itu akan diadakan. Sebelum mencapai pintu masuk, ia menghentikan langkahnya disusul oleh kedua pria di belakangnya itu.
"Kalian!", ia pun memutar balik tubuhnya seraya mengacungkan jari telunjuknya kepada kedua pria itu.
"Tunggu di sini saja! Tidak akan seru jika aku datang dibuntuti oleh kalian. Pasti teman-temanku akan menertawakan aku, nanti di dalam! Sudah, kalian tunggu di mobil saja! Aku janji tidak akan ada masalah untuk kalian!", jari telunjuknya bergerak ke kanan dan ke kiri menunjuk kedua orang itu secara bergantian. Ia memerintahkan kedua orang itu untuk kembali saja.
"Tapi, Nona! Tuan memerintahkan kami untuk menjaga Nona sampai di dalam. Kami khawatir terjadi sesuatu pada Nona", pria yang satu menyampaikan pendapatnya dengan wajah gugup.
"Yang kalian khawatirkan itu hukuman dari Kakakku, kan?! Bukannya cuma keselamatanku! Akui saja! Memangnya aku tidak tahu! Heh!", wanita itu membuang pandangannya ke arah samping sambil merengut.
"Memang benar keduanya, Nona! Jadi kami mohon agar Nona mau bekerja sama dengan kami! Dan dengan begitu, keselamatan Nona bisa terjamin!", jawab pria yang satunya lagi dengan nada tegas dan lugas. Yang ini terlihat lebih blak-blakkan ketimbang yang pertama bicara. Dan tidak ada ketakutan sedikit pun di mata pria barusan.
"Sudahlah, kembali saja ke mobil! Aku berjanji tidak akan bertemu dengan masalah. Dan jika memang masalah yang datang sendiri padaku, akan aku tendang dia jauh-jauh! Jangan khawatir, teman-temanku yang ini sangat baik. Kami semua biasanya akan saling menjaga!", Bella mengeluarkan wajah imutnya saat memohon. Mengeluarkan jurus pamungkas supaya para lelaki itu mau menuruti permintaannya.
Kedua pria itu saling berpandangan beberapa kali. Lalu bola mata mereka bergerak ke atas dan ke samping sambil berpikir. Dan juga sambil menghindari ditatap lebih intens lagi oleh nonanya. Sudah pasti mereka akan lemah dan menyerah.
"Maaf, Nona! Tapi tidak bisa!", salah satunya menjawab dengan wajah datar yang mereka gunakan sejak tadi.
"Ya, ya, ya! Ayolah! Kumohon, sekali ini saja kalian tolong turuti kemauanku!", Bella membungkuk sedikit seraya menggosok-gosokkan kedua tangannya di depan wajah mereka dengan wajah super memelas.
"Sekali lagi kami mohon maaf, Nona!", keduanya menggelengkan kepala mereka bersamaan seraya memejamkan mata.
Bella berdecak kesal. Ia tidak percaya senjata andalan yang biasa ia gunakan kepada mendiang ayahnya dan juga kakaknya itu tidak berguna sama sekali pada mereka. Ia jadi betanya-tanya, apakah dua orang itu tidak punya rasa tertarik sama sekali pada wanita?! Dan ia tidak bisa menyerah begitu saja.
"Kakak!", serunya dengan wajah sangat ceria pada seseorang yang sedang berjalan mendekat di belakang kedua anak buah Baz itu. Bella juga sampai melambaikan tangannya dengan penuh semangat.
"Tuan!", kedua orang itu langsung berbalik dan terkejut. Benar memang mereka mendengar suara langkah kaki berjalan mendekat ke arah mereka berdiri saat ini. Dan mereka pikir itu adalah tuan mereka yang datang lebih awal dari jadwal yang direncanakan.
"Ya! Apakah ada yang bisa saya bantu dari Tuan-tuan ini?", ternyata hanya seorang petugas keamanan saja yang sepertinya sedang bertugas berpatroli di area luar gedung club malam itu.
"Nona!", seru mereka lagi secara bersamaan seraya membalikkan badannya lagi. Tapi yang diteriaki sudah berhasil masuk ke dalam club malam itu sambil melambaikan tangannya ke arah mereka berdua.
"Ck,, ck,, ck,, ternyata Tuan-tuan ini baru saja diperdaya oleh seorang wanita!", petugas keamanan itu menggelengkan kepala seraya melanjutkan langkahnya. Ia berjalan kembali dengan santainya sambil memikul tongkat keamanan di pundaknya.
"Kau!", salah satunya sudah ingin mengejar untuk memberikan pelajaran kepada petugas keamanan itu. Ia telah dibuat kesal dengan kalimat sembarangan yang keluar dari mulutnya itu.
"Sudahlah! Lebih baik kita kembali ke mobil saja! Aku sudah menempelkan pelacak di tas Nona! Jadi kita bisa melihat pergerakan Nona dari sana. Jika sudah lebih dari satu jam Nona belum keluar juga, barulah kita akan ikut masuk ke dalam untuk memantau keadaan!", yang satunya lagi menahan tubuh rekannya untuk tidak bertindak gegabah. Mereka tidak boleh membuat keributan di sini.
"Baiklah!", ucap yang satunya lagi seraya melepaskan diri. Nada bicaranya terdengar tidak rela.
Lalu kemudian mereka berjalan kembali ke arah letak dimana mobil mereka terparkir tadi. Keduanya harap-harap cemas, semoga nona mereka baik-baik saja selama mereka tidak ada bersamanya.