
Victor menggeser tombol jawab dengan wajah meragu. Ia menempelkan ponselnya di telinga namun belum mengatakan apa-apa.
"Tuan Victor!", sapa seseorang di seberang sana.
"Siapa kau?", tanya Victor dengan suara yang begitu tenang. Namun wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa ketertarikan untuk mengetahui siapa si empunya suara ini.
"Seseorang yang menyewamu!", jawabnya dengan suara kekehan di sana.
Itu suara pria, namun sejak awal memang orang itu tak ingin menunjukkan identitasnya kepada pihak Victor dan gengnya. Orang itu mengatakan bahwa ia puas dengan hasil kerjanya. Ia juga mengatakan bahwa sudah mentransfer uang bayarannya ke rekening pribadi milik Victor. Dan tentu saja ia langsung mengucapkan rasa terimakasihnya.
Lalu pria itu mengatakan bahwa ia akan menyebarluaskan foto ini untuk menjatuhkan ayah dari Baz Peterson itu. Pria itu menjelaskan bahwasanya dirinya itu adalah pihak oposisi dari Tuan Ander Peterson. Ayah dari Baz dan Bella itu sangat terkenal di kalangan politik negara F, maka banyak juga rekan maupun lawan yang ingin menjatuhkan namanya.
Pria itu juga mengungkapkan bahwa dirinya masih membutuhkan Victor untuk melakukan satu pekerjaan lagi. Yaitu, untuk menghabisi nyawa ayah dari dua anak itu. Skenarionya adalah kecelakaan mobil. Pria itu menjelaskan, namun Victor hanya terdiam Pria itu pikir karena dian tentu saja Victor akan setuju. Tapi tidak, ia tentu saja menolak.
Selama bekerja di rumah besar itu. Victor jadi lebih mengenal keluarga itu. Tak ada yang salah dengan keluarga kecil itu. Ayahnya merupakan seorang senat yang bersih dari korupsi dan sangat mencintai rakyat. Bella juga sosok nona muda yang bersahaja meski sedikit manja. Dan Baz, meskipun pria itu merupakan seorang ketua geng mafia, tapi bisnis yang dijalankannya di bawah tanah tidak melenceng ke arah narkoba atau penjualan manusia. Itu hanya bisnis seputar perdagangan senjata ataupun hewan langka, juga masih banyak yang lainnya. Yang jelas bisnis dunia bawahnya tidak sekotor yang dimiliki oleh orang dunia bawah yang lain.
Dan hal itu sama dengan yang dijalankan oleh Geng Harimau Putih dimana dirinya bernaung. Mereka bersih dari hal-hal menyimpang seperti itu. Maka dari itu Victor menaruh respek tersendiri pada diri Baz Peterson itu.
"Aku tidak menerima penolakanmu. Detailnya akan segera aku kirim beserta bayaran tambahannya. Jika kau menolak, aku akan mengirimkan semua bukti yang menyatakan bahwa kau adalah orang yang berada di balik semua ini. Dan jangan kira aku tidak tau apa yang kau pikirkan tentang nona muda keluarga itu", orang itu benar-benar membuat Victor kehilangan kata-kata hingga ia hanya mampu diam tanpa memberi jawaban.
"Kuanggap jawabanmu adalah iya", sambung lagi pria itu setelah menunggu Victor yang masih diam saja.
Sambungannya segera terputus. Namun Victor masih menggantung tangannya di samping telinga beserta ponselnya. Ia masih tertegun dengan ancaman yang orang itu lakukan terhadapnya. Menggunakan seorang wanita. Hah,, licik sekali orang itu rupanya.
Jika ia ingin menyebarkan foto-foto itu ke media, ia masih tidak mempermasalahkan karena kerahasiaan identitasnya akan terjaga jika suatu saat Baz menaruh curiga padanya. Toh setelah misi selesai, dia hanya harus pergi dan menghilang dari negara itu untuk beberapa waktu. Namun kali ini urusannya adalah dengan nyawa. Entah kenapa kali ini ia bekerja benar-benar menggunakan hati. Hingga ia terperosok sendiri ke dalam perasaan tidak tega yang tak pernah ia miliki. Victor kembali membanting dirinya ke ranjang masih dengan ponsel yang ia pegang.
ting
Sebuah pesan masuk. Itu adalah detail yang harus ia kerjakan besok sebagai misi terakhirnya. Yah, iya pikir adalah begitu. Bahwa ia sangat ingin berkumpul dengan keluarganya, bersama adik dan ayahnya. Ia kembali mengernyitkan alisnya karena detail yang orang itu bawakan adalah detail dari proses yang jug akan membahayakan nyawanya.
Pria itu kemudian merentangkan kedua tangannya begitu saja. Pikirannya terlalu kacau hari ini, hingga tanpa sadar ia memejamkan matanya hingga terseret ke dalam nyenyaknya belaian mimpi.
#FLASHBACK OFF
"Lalu bagaimana kakak berpikir bahwa ini semua adalah ulah dari keluar Peterson itu?", tanya Rose yang sedari tadi menyimak apa saja yang sedang diceritakan tentang masa lalunya.
"Karena hanya itu masalah yang tak terselesaikan yang kakak punya", jawab Victor dengan sejujurnya. Memang benar seperti masih ada yang mengganjal di antara dirinya dan keluarga Peterson itu. Namun ia tidak bisa mencari tau apa itu. Seperti semuanya sudah tertutup rapat berita-berita mengenai keluarga itu.
Kedua kakak beradik itu kini tengah menikmati senja di halaman belakang rumah Victor. Setelah makan siang, Rose memutuskan untuk menceritakan bagaimana pria yang misterius itu ingin sekali membalaskan dendamnya terhadap Rose. Jelas saja wanita itu jadi mempertanyakan kesalahan apa yang dimilikinya. Tapi siapa sangka jika ia jadi bisa mengetahui masa lalu tentang kakaknya itu. Jadi bukan kesalahannya, ini seperti ia hanya dijadikan target oleh orang itu.
"Mungkin saja terjadi sesuatu dengan Nona Bella sehingga orang itu begitu marah kepada Kakak", Rose mempertimbangkan perkiraan yang dimilikinya. Karana rasanya hal ini menjadi sangat rumit saja.
"Entahlah Kakak juga tidak tau!", mata Victor berubah sendu.
"Apa Kakak masih menyukai Nona Bella itu?", Rose menyangga wajahnya dengan kedua tangan. Ia begitu penasaran dengan hal ini. Pasalnya tak ada satu wanita pun yang pernah diceritakan kakaknya selain Nona Bella.
"Baiklah! Kalau begitu aku akan meminta bantuan Tuan Ben ya!", Rose mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dan segera mata Victor mengikuti gerakan adiknya itu sambil menahan tawa. Teman lamanya itu ternyata benar-benar serius terhadap adiknya.
"Wah! Wah! Wah! Senangnya punya handphone baru! Uupss salah,, bekas sih. Tapi pria itu memberikannya secara langsung untukmu, ya!", ledek Victor pada adiknya yang sedang mengetik beberapa kata pada kolom pesan. Rose sontak menoleh ke arah kakaknya dengan tanda tanya, namun ia tak melepaskan benda di tangannya.
"Apa? Kau pikir kakak tidak tau, ya?", Victor tertawa kecil sebelum meledak nantinya.
Rose mengerucutkan bibirnya untuk protes dengan ledekan kakaknya. Baik yang barusan dengan yang akan dikeluarkannya.
"Pria milikku! Hahahah,,, ", Victor tertawa sambil memegangi perutnya.
Bagaimana ia tidak tau?! Tadi sebelum berangkat, sebenarnya Ben pertama kali menitipkan ponsel itu kepada Victor. Dan ia juga sudah memberikan pengarahan yang sama seperti apa yang ia katakan kepada Rose tadi. Dan entah kenapa, tangan Victor tiba-tiba bergerak dengan sendirinya hingga ia menemukan nama kontak yang terasa aneh baginya.
Pria milikku
Sebelum benar-benar tertawa, ia mengecek lagi takutnya pikirannya yang salah. Ia mengeluarkan ponselnya sendiri untuk menyamakan nomer ponsel yang tertera pada nama itu. Dan benar saja, itu benar-benar nomer Ben ternyata. Di pagi buta itu saja Victor sudah tertawa geli sendirian, apalagi sekarang dimana dia melihat secara langsung ekspresi kesal bercampur malu adiknya. Lalu ia pun memerintahkan pelayan untuk meletakkan ponsel itu di kamar Rose saja jika adiknya itu belum membuka mata.
"Kakak tidak tau jika pria seram itu bisa melakukan hal-hal manis yang tidak sesuai dengan wajahnya,,, hahahaha", Victor benar-benar puas tertawa sekarang. Bahkan tertawa begitu lepas hingga ia sempat menitihkan air mata pada ujung-ujung matanya.
"Aku benci Kakak!", Rose berteriak seraya berlari ke arah dalam meninggalkan Victor yang masih belum puas tertawa.
-
-
-
-
-
baca juga ya novel perdana aku yang judulnya
๐นwanita pertama presdir ๐น
karena dari sana kisahnya ben dan rose dimulai. dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya ben dan rose di sini
oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐
**jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya ๐
love u teman-teman ๐
keep strong and healthy ya