Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Kapan kau pulang



Laki-laki itu tengah menikmati sinar mentari pagi yang menyirami seluruh tubuhnya saat ini. Seperti biasa, ia duduk di kursi rodanya sambil bersantai di halaman belakang setelah menikmati sarapannya. Hatinya resah, perasaan yang telah lama ia pendam, ia redam untuknya sendiri kini tiba-tiba meluap kembali. Wanita terakhir yang membuatnya jatuh cinta, pikirannya mendadak terisi oleh gambaran orang itu.


"Hah!", Victor menghela nafasnya begitu panjang. Wajah yang sudah tirus itu menampilkan mimik kesedihannya.


"Kakak, ini obatnya diminum dulu!", seru Rose yang tiba-tiba datang membawa nampan berisi segelas air putih dan satu set obat yang memang harus diminum Victor setiap harinya.


"Ah, ya! Terimakasih, Rose", ia kembali dari lamunannya meski masih sedikit linglung pikirannya.


"Ada apa, Kak?", Rose tau ada hal yang tengah dipikirkan oleh kakaknya itu. Namun entah apa ia tidak bisa menangkapnya, karena raut wajah sedih itu Rose tak pernah melihatnya. Lagipula sudah sangat lama ia tidak bertemu dengan kakaknya. Masalah apa yang dimiliki saudaranya itu, ia tidak tahu-menahu sama sekali.


Dan karena hal itu juga Rose menjadi sedih. Ia tidak pernah tau apapun yang kakaknya alami dan lalui. Bahkan sampai kakaknya mengidap penyakit parah begini saja ia tidak tau jika tidak bertemu dengan kakaknya seperti sekarang ini. Rose menundukkan kepalanya sedih saat Victor tengah menenggak obat dengan bantuan air putih untuk mendorongnya masuk ke dalam tenggorokan.


"Sekarang kau yang kenapa?", Victor melihat perubahan ekspresi wajah Rose saat meletakkan kembali gelasnya ke nampan yang masih berada di atas tangan adiknya itu.


"Aku sedih lihat kakak sedih. Tapi aku tidak tau apa alasan kakak sedih. Bahkan aku tidak pernah tau apa saja yang sudah kakak lalui", Rose mengangkat wajahnya untuk menjawabnya pertanyaan kakaknya. Ia tak bisa menyembunyikan sorot mata sendunya saat ini.


"Rose,,, ", Victoria mengusap lengan adiknya itu dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Tidak ada yang Kakak pikirkan. Kakak juga sama, selama ini Kakak juga tidak pernah tau apa saja yang telah kau lalui setelah Kakak meninggalkanmu di sana. Tangan kasarmu ini, darimana itu berasal sebenarnya Kakak sangat penasaran. Rose, kita telah sama-sama melalui banyak perjuangan. Jadi saat ini, ayo kita nikmati waktu yang ada untuk saling berbahagia. Kakak ingin menikmati hari-hari terakhir Kakak dengan orang yang paling Kakak sayangi", Victor tersenyum mencoba menenangkan pikiran kalut adiknya.


Namun ucapannya malahan membuat kalut hatinya sendiri. Ia jadi teringat kembali sosok wanita yang tadi sempat mampir ke dalam pikirannya. Ia juga jadi berpikir bahwa akan sangat bahagia rasanya jika bisa bertemu dengan wanita itu lagi sebelum hari akhirnya nanti.


"Kakak, aku sangat menyayangi Kakak! Tolong jangan mengucapkan hal seperti itu lagi, Kak. Aku yakin Kakak pasti bisa sembuh!", Rose meletakkan nampannya di meja yang berada di dekat sana. Lalu ia berjongkok mengimbangi tinggi kakaknya itu lalu menggenggam kedua tangannya.


"Semoga saja!", Victor hanya bisa menipiskan bibirnya sambil tersenyum penuh ironi. Nyatanya dalam hati ia sudah pasrah dengan jalan hidupnya selanjutnya.


"Kakak,,, jangan seperti ini! Kakak harus berjanji bahwa Kakak harus sembuh!", ucap Rose sedikit tegas sambil mengguncang genggaman tangannya pada tangan Victor.


"Baiklah, Kakak berjanji!", Victor mengalah agar tidak berdebat lagi dengan adiknya. Biar saja adiknya ini berpikir seperti ini, yang penting ia bahagia. Biarlah Victor dengan pemikirannya sendiri. Tentang hasil tes itu pun ia sudah tak berharap banyak.


"Ah iya, Kak! Hasil tesnya akan keluar besok. Kita akan segera melihat hasilnya. Semoga hasilnya sesuai keinginan kita ya, Kak!", ucap Rose senang setelah melepaskan pelukannya pada Victor.


"Iya!", Victor tersenyum. Tidak bisa sepenuhnya, tapi paling tidak saat ini adiknya bisa lega.


***


Di tempat lain, seorang pria juga baru saja menyelesaikan sarapannya di sebuah kamar hotel nan mewah. Ia sudah rapih dengan setelan yang ia pesan pada seorang petugas hotel. Karena terburu-buru, ia jadi tidak sempat membawa baju ganti untuk dirinya sendiri. Tampilan Baz kali ini lebih tampan dan cerah karena saat ini ia menanggalkan mantel jas dan hoodie yang biasanya menutupi sebagian tubuh dan wajahnya. Hingga ia memiliki aura yang lebih kelam daripada orang lain.


"Awas saja kau, Tuan! Jika ini semua hanya manipulasimu saja, maka aku akan lebih marah dari sebelumnya!", Baz menggeram seraya berjalan keluar dari kamarnya.


***


ting


Sebuah pesan masuk pada ponsel yang tergeletak di atas meja. Ben yang melihat bahwa pengirimnya adalah seseorang yang sangat penting maka segera ia menyambarnya.


Kapan kau pulang, Tuan? Besok hasil tes kakak keluar. Apakah kau bisa menemani kami melihat hasil tes itu?


pesan dari : Wanita milikku


Ben segera menyunggingkan senyumannya. Bukan hanya karena dari siapa pesan itu berasal. Tapi isi pesan itu yang membuat hatinya menghangat.


Pulang? Selama ini dia menganggap markasnya inilah yang menjadi rumah baginya. Tak ada satupun rumah yang ia pikir adalah rumah baginya. Ia tak memiliki keluarga selain kawan-kawannya di sana. Jadi ia pikir merekalah keluarganya.


Tapi sekarang, tiba-tiba seseorang menanyakan dirinya kapan pulang. Seolah dirinya sudah dinanti di sebuah rumah yang memanglah tempatnya kembali setelah beraktifitas di luar. Rumah yang memang sebenarnya rumah seperti yang orang lain miliki dimana ia sudah ditunggu-tunggu oleh keluarganya.


Hati Ben bahagia tak terkira. Memang benar, selama tinggal di rumah itu, Ben merasakan hatinya hangat. Ada sebuah keluarga yang menerimanya di sana. Meski itu hanya berisi kakak beradik itu saja, tapi rasanya sudah sangat nyaman dan ceria. Dibandingkan dengan hidupnya yang selama ini dingin dan hambar. Meski ada Ana, tapi ini memang terasa berbeda. Karena bagaimanapun juga Ana memiliki kehidupannya sendiri. Sedangkan dengan Rose dan Victor, Ben merasa mereka memilikinya.


Akan aku usahakan


kirim ke : Wanita milikku


Begitu balasan yang ia berikan untuk wanita itu. Ia jadi bersemangat untuk segera menyelesaikan masalah yang ada di markasnya. Sehingga besok ia bisa segera menemui keluarganya itu.


"Tuan!", Relly masuk dengan raut wajah tak terbaca. Dadanya naik turun dengan cepat seakan ia tengah menahan emosi yang mengembang di hatinya.


"Ada yang ingin bertemu denganmu, Tuan!", Relly menyampaikan laporannya.


"Siapa?", tanya Ben datar. Ia tak berpikir apa-apa karena saat ini pikirannya sedang tertuju pada orang yang menantinya.


"Aku!", seseorang menerobos masuk pintu ruangan itu. Orang itu tak lain adalah Baz Peterson.