
Pria bertopi koboi dan seorang wanita terlihat keluar dari mobil yang baru saja mereka kendarai. Ben dengan acuhnya melangkah mendahului Rose yang sedang bersusah payah menyeret langkahnya sambil membawa tas yang lumayan berat. Bibir Rose mencibir di belakang punggung pria itu. Bagaimana tidak, apakah sedikit saja pria itu tidak memiliki hati karena membiarkan dirinya sendiri yang seorang wanita membawa beban yang tidak ringan ini. Sepanjang langkahnya dari halaman menuju teras rumah itu, Rose tak henti-hentinya mengumpat dengan suara yang super pelan dengan bibir mencibir hingga wajahnya terlihat jelek.
"Aku tau apa yang kau lakukan di belakangku!", tiba-tiba Ben menghentikan langkahnya dan berucap dingin tanpa berbalik.
"Heh!", sejenak Rose menyeka keringatnya.
"Jika Tuan tau apa yang saya lakukan di belakang Tuan, harusnya Tuan tau bahwa saya sedang kesusahan berjalan!", ucap Rose sambil mendengus kesal.
Ben menggerakkan bola matanya ke samping agar ekor matanya bisa melihat Rose di belakangnya. Lalu tanpa ragu ia malahan berbalik kemudian mengangkat Rose dan meletakkannya di bahu kanannya. Rose bagai karung beras yang tak seberapa berat bagi pria itu.
Kaget, itu reaksi pertamanya. Kemudian ia tersadar sambil meronta dan memukul pelan punggung pria itu yang nampak kekar. Tidak sakit, pukulan yang Rose berikan hanya memiliki sedikit kekuatan bagi tubuh Ben rupanya. Pria itu tetap acuh dan tetap menggendong Rose di pundaknya.
"Lepaskan aku! Lepaskan!", teriak wanita itu sambil terus memberi pukulan pada punggung Ben.
"Kau bilang tadi kesulitan berjalan, kan!", balas Ben acuh. Maksud pria itu adalah untuk membantu Rose yang sedang kesusahan, maka ia mempermudah sesuatu bagi Rose dengan mengangkat tubuh wanita itu. Hanya begitu saja yang ada di pikiran Ben saat ini. Selama bertahun-tahun lamanya, pria koboi itu memang tidak pernah tau bagaimana caranya memperlakukan wanita.
"Ada yang salah?", batin Rose.
Bola matanya melihat ke arah kedua telapak tangannya yang kosong dan hampa. Lalu mata itu bergerak ke arah teras rumah dimana ia melihat tasnya tertinggal di sana sambil menatap Rose dengan sedih. Tas itu kesepian karena ditinggal si empunya. Oh, Rose mengerti sekarang.
"Stop! Hentikan! Turunkan aku! Turunkan aku! Maksud ucapanku adalah tolong bantu aku membawa tasku. Apakah begitu saja kau tidak tau?! Bukannya malahan mengangkat diriku seperti ini! Heh!", Rose kembali berteriak sehingga Ben menghentikan langkahnya. Pria itu memijit sedikit pangkal alisnya sambil membuang muka ke arah lain.
"Oh, ternyata aku salah!", gumamnya.
Segera ia turunkan Rose dimana mereka sebentar sudah sampai di ambang pintu rumah itu. Lalu ia kembali lagi ke teras dan menyambar tas besar milik wanita itu. Dan seperti biasa, dengan acuhnya ia berjalan dan melewati Rose begitu saja..
"Hey tunggu aku!" teriak Rose saat bola matanya bergerak melihat Ben yang berjalan dari arah teras dan terus menuju ke dalam tanpa mengajaknya.
"Begini baru benar!", wanita itu tersenyum menang.
Rose mengikuti langkah pria itu dengan cepat karena ia tertinggal cukup jauh. Pikir Rose adalah tentang bagaimana rumitnya isi otak pria itu. Yang bahkan mengenai masalah sepele seperti membantu mengangkat tas wanita saja ia tidak tau. Sebenarnya dimana pria itu tinggal? Di pedalaman hutan amazon kah, atau di ujung kutub selatan kah?! Rose pikir pria itu seperti tidak tau banyak bagaimana caranya memperlakukan seseorang.
"Dimana tuanmu?", tanya pada salah satu pelayan yang sedang membersihkan ruang tengah.
"Tuan Victor sedang berjalan-jalan di taman belakang, Tuan!", pelayan itu menjawab dengan sopan sambil menundukkan kepalanya.
Setelah mendengarkan jawaban itu, Ben kembali meneruskan langkahnya dengan wajah acuh seperti biasanya.
Rose melewati pelayan tadi dan tersenyum ramah. Pelayan itu sedikit membungkukkan tubuhnya sambil membalas senyuman yang Rose berikan. Lalu langkah Rose tak berhenti dan terus mengekori pria yang langkahnya sangat panjang itu dengan susah payah.
"Cantik sekali! Siapa wanita itu? Tapi rupanya terlihat mirip dengan Tuan!", gumam pelayan itu pelan setelah melihat Rose dan Ben cukup jauh darinya.
Ben menghentikan langkahnya secara tiba-tiba saat ternyata ia memang telah sampai di pintu belakang. Dari situ ia sudah bisa melihat Victor yang sedang duduk di kursi roda sedang berbincang-bincang dengan pelayan laki-laki yang menemaninya waktu itu.
bruk
Rose menubruk tubuhnya di belakang. Ben menolehkan kepala lambat-lambat. Dengan wajah seramnya ia mendominasi aura dan menekan nyali Rose yang sedang tersenyum canggung sambil menampilkan deretan gigi putihnya.
"Matamu masih berguna, kan?!", sahut Ben dingin.
"Ya, ya, masih berguna! Kalau begitu aku minta maaf!", ucap Rose acuh kemudian berjalan melewati Ben begitu saja.
Tapi baru selangkah, pria itu sudah menarik kerah bajunya ke atas hingga langkahnya pun tertahan. Seperti kucing kecil yang sedang diangkat tuannya Rose menoleh ke belakang dengan susah payah. Wajahnya sudah akan mengeluarkan protes keras. Tapi Ben malah menggerakkan tangannya sehingga Rose yang sambil menyeret langkahnya kini berada di balik tubuh Ben dan sepertinya tak terlihat dari arah Victor.
"Dengar! Itu adalah kakakmu!", jelas Ben dingin. Rose yang penasaran mencoba mengintip melewati samping tubuh Ben yang bidang. Matanya mulai berkaca-kaca melihat keadaan kakaknya saat ini. Lalu kembali ia mengarahkan wajahnya untuk mendengar ucapan Ben selanjutnya.
"Tak perlu kau ucapkan, aku tentu sudah paham!", ucap Rose acuh sambil memalingkan wajahnya ke samping. Ia kesal karena Ben masih menarik kerah bajunya ke atas dan membuat dirinya terlihat konyol. Dan tentunya ia memang tau apa yang harus ia lakukan, pikirnya.
"Jangan sembrono! Jika aku tidak memperingatimu sekarang, yakinlah kau pasti sudah akan menangis histeria di depan kakakmu nanti! Dia sedang sakit parah saat ini, yang dia butuhkan adalah semangat bukan lagi rasa iba dan empati yang akan kau tunjukkan! Buat dia bertahan dan memiliki keyakinan untuk sembuh! Mengerti!", lagi Rose mendapat ceramah panjang dari pria bertopi koboi itu.
Tidak buruk, pikir Rose. Apa yang diucapkan pria itu sepenuhnya memang benar. Mungkin jika saat ini Ben tidak mengatakan hal ini padanya, Rose memang sudah akan menumpahkan air mata di depan kakaknya nanti. Perasaan rindu dan kasih sayang, apalagi melihat kakaknya sekarang, tentu hal itu akan memancing matanya memanas dan mengeluarkan air mata. Tapi,,, karena Ben sudah memperingatinya dari sekarang, Rose paham apa yang harus ia lakukan nanti saat pertama kali bertatap muka dengannya.
"Kenapa diam saja?! Paham tidak?!", suara dingin pria itu membuyarkan lamunannya.
"Ya, ya, aku paham Tuan! Aku paham sepenuhnya, tenang saja!", tersenyum cerah Rose menunjukkan isyarat dengan jarinya, ok.
Ben sempat tertegun melihat wajah Rose yang tiba-tiba berkilau dengan senyuman yang cerah itu. Dari sudut matanya, wajah Rose seakan sedang bermandikan cahaya terang saat ini. Kecantikan yang luar biasa, pikir Ben tiba-tiba. Dan pria itu sempat hanyut dalam lamunannya.
"Hey, Tuan! Hey, hey!", Rose berseru beberapa kali sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ben.
"Tuan, tolong lepaskan aku!", sedikit meronta membuat tangan Ben ikut terguncang dan sadar dari pikirannya yang melenceng.
"Ingat apa yang kukatakan!", peringatan terakhirnya dengan wajah gugup. Lalu memalingkan wajah, Ben menyembunyikan rona merah yang siap menyebar ke seluruh permukaan wajahnya.
"Ingat!", Rose mengangguk patuh.
"Cepat sana pergi!", setelah mendengar perintah itu Rose segera berjalan cepat menuju ke arah kakaknya berada. Bukan bermaksud untuk mengusir wanita itu, hanya saja Ben tak ingin dirinya yang seperti ini terlihat orang lain, apalagi itu Rose sendiri. Sebab dimana pipinya tiba-tiba menjadi hangat seperti ini.
"Memalukan!", gumam Ben pelan dengan wajah acuhnya. Kini ia sudah mengendalikan wajahnya seperti biasanya lagi. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah Rose yang sedang berlari kecil ke arah kakaknya.
"Kakak!", seru Rose dengan gembiranya.
-
-
-
-
-
-
jangan lupa ya teman-teman buat kasih like, vote sama komentar kalian ๐
baca juga ya novel perdana aku yang judulnya
๐นwanita pertama presdir ๐น
karena dari sana kisahnya Ben dan Rose dimulai. Dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya Ben dan Rose di sini
oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐
love u teman-teman ๐
keep strong and healthy ya ๐ฅฐ