Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Polos dan anggun



Sedetik Rose memaku tubuhnya, ia menetralisir gejolak yang tiba-tiba datang dalam dirinya itu. Lalu perlahan ia berangsur menjauh dari tubuh pria itu. Rose menjadi gugup, bahkan ia tak berani melihat wajah Ben saat ini. Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya membelakangi Ben sambil mencengkeram udara di depan dadanya. Rose menghela nafasnya kasar lalu tersenyum ke arah Bibi Maya yang sedang menatap mereka dengan pandangan yang sulit dibaca. Rose tak ingin menghiraukannya, karena hal itu akan berbuntut dengan rona merah lagi di wajahnya.


"Bibi aku berangkat sekarang ya!", tangan yang satunya melambai ke arah Bibi Maya dan yang satunya lagi ia gunakan untuk menarik paksa tangan Ben. Dan pria itu menurut saja tanpa perlawanan berarti darinya.


"Hati-hati, Rose! Jangan lupa berkunjung ke sini!", teriak Bibi Maya karena Rose sudah bergerak menjauh.


"Oke, tenang saja Bi!", Rose buru-buru menoleh lagi ke depan setelah menjawab ucapan Bibi Maya. Ia menghindari menatap wajah pria yang kini tengah ia tarik tangannya.


Ben, pria itu sedikit mengulur kesabarannya dan membiarkan saja tubuhnya terhuyung terbawa tarikan tangan wanita itu. Tapi,,, ia sempatkan menoleh ke belakang dan sedikit mengangguk memberi salam perpisahan dengan Bibi Maya yang lebih tua darinya.


"Cehh! Dasar anak itu!", Bibi Maya berdecak namun dengan senyuman.


"Semoga kau menemukan kebahagiaanmu Rose setelah apa yang kau lalui", tutur Bibi Maya penuh harap sambil menatap punggung dua orang yang sudah menjauh itu.


Bibi Maya tulus berharap bahwa suatu saat nanti Rose dapat mendapatkan dan menjalani kehidupan yang layak. Begitu juga dengan kebahagiaan yang amat didambakannya, Bibi Maya Rose dapat segera meraihnya. Karena setelah apa yang ia dengar dari penuturan Rose tentang cerita hidupnya sebelum ini, Rose memang pantas mendapatkannya.


***


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang melipir dari pinggir pantai tempat villa itu berada ke arah pinggiran kota yang lainnya. Di dalam mobil itu hanya ada Ben dan juga Rose, karena Relly tadi sudah berpamitan untuk kembali ke markas mereka. Hening dan lengang suasana di dalam kendaraan roda empat itu. Mereka berdua masih sama-sama gugup dan malu perihal kejadian pipi hangat tadi di villa. Tapi memang dasarnya Ben dengan wajah acuhnya, semua rasa malu dan gugup tertutupi dengan ekspresi wajahnya yang seperti biasanya itu. Tapi lain halnya dengan Rose yang tak pandai menyimpan perasaannya, ia lebih memilih diam sambil menghadap keluar jendela. Ia tak ingin bertingkah bodoh lagi seperti tadi karena malahan menarik paksa tangan Ben tanpa alasan yang pasti.


Pria di sebelah Rose, yang sedang memainkan kemudi mobil itu, sesekali melirik ke arah Rose yang sejak tadi tak mengeluarkan satu katapun. Tapi ia sendiri juga malas untuk memulai pembicaraan. Untuk apa pikirnya, toh memang tak ada hal yang penting yang perlu mereka obrolkan. Ben mengangkat kedua bahu sambil menipiskan bibirnya, lalu fokus kembali dengan kegiatan menyetirnya.


Beberapa kali Rose meniupkan nafasnya lewat mulutnya. Sebenarnya wanita itu sudah jera untuk berdiam diri sejak tadi. Mulutnya sudah gatal ingin berbicara sejak tadi. Situasi ini sungguh tak nyaman bagi Rose, dimana dua orang manusia duduk di dalam tempat yang sama tapi tak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka. Yang Rose bayangkan adalah jika dirinya dan juga Tuan itu bisa melakukan sebuah obrolan seru pasti akan sangat mengasyikkan pikirnya. Tapi sepertinya itu hanya anganya saja, karena saat ia melirik ke arah wajah itu, Rose sadar bahwa saat ini pria yang berada di sebelahnya adalah si Tuan menyeramkan itu. Rose menyentak punggungnya ke belakang sambil bergidik ngeri, mengurungkan niatnya untuk bisa saling mengobrol lalu menunduk sambil menatap keluar jendela lagi.


"Apa?", sebuah suara membuat Rose terkesiap lalu refleks menoleh ke asal suara.


"Apa yang kau pikirkan tentang diriku?!", tanya Ben sambil melirik tajam dengan ekor matanya yang bergerak perlahan ke arah Rose di sebelahnya.


"Hah?", Rose lambat berpikir kali ini. Ia masih mencerna maksud dari pertanyaan yang Ben utarakan. Ke arah mana pertanyaan ini, Rose masih belum paham. Ia takut salah bicara nantinya. Maka dari itu, ia hanya bisa membuka tutup mulutnya lalu kembali menoleh ke depan.


"Kau pasti berpikir bahwa aku pria yang menyeramkan, bukan?!", lalu tiba-tiba ia menyadari apa yang ia ucapkan. Ben segera membuang muka ke samping sambil mengumpat pelan. Betapa bodohnya dia, untuk apa juga ia menanyakan hal seperti itu, seakan ia ingin menjelaskan seperti apa dirinya kepada wanita yang baru saja dikenalnya. Selama ini Ben mana peduli tentang pikiran orang lain mengenai dirinya. Yang terpenting baginya adalah bahwa tidak ada orang yang berani mengusiknya selama ini.


"Ti,, tidak!", jawab Rose terbata lantaran takut salah menjawab.


"Lupakan!", Ben sudah memasang wajah acuhnya yang seperti biasanya. Entahlah, Ben sendiri juga tidak tau kenapa tiba-tiba pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Lebih baik mereka menganggap bahwa pertanyaan tadi tidak pernah terdengar di telinga mereka. Lalu bola matanya kembali bergerak ke arah Rose, melihatnya melalui ekor matanya.


"Emmh,,,, aneh!", gumam Rose pelan sambil menghela nafasnya. Ada apa dengan pria itu, Rose sendiri enggan mencari tau. Mengetahui perangai Tuan itu yang amat menyeramkan baginya, maka Rose memilih untuk kembali diam. Ia beberapa kali menggaruk rambutnya, saat ini ia masih menggunakan rambut palsu yang biasa dipakainya. Terkadang memang rasanya membuat kepalanya terasa gatal di beberapa bagian karena Rose terlalu sering memakainya.


"Lepaskan benda itu!", perintah Ben tiba-tiba.


"Lepaskan rambut palsumu itu! Lagipula kau akan bertemu dengan kakakmu. Dia mungkin tidak akan mengenalimu jika kau memakainya", Ben menjelaskannya detail dari perintahnya selagi Roswe hanya diam tak bergeming di tempatnya.


Tangannya mulai bergerak untuk membuka rambut palsu yang biasa sehari-hari ia gunakan sambil menggerutu pelan. Rose bingung dengan dirinya sendiri, kenapa akhir-akhir ini setiap kali sedang berbicara dengan Tuan itu ia menjadi bodoh dan lamban dalam mencerna kalimat yang Tuan itu ucapkan. Sambil melepas rambut palsu itu mulutnya pun tak berhenti merutuki dirinya lagi.


Dan ya, selesai!


Rambut palsu berwarna hitam itu sudah berada di tangannya. Dan rambut panjang Rose yang berwarna keemasan tergerai indah di belakang punggungnya. Wanita itu menggerak-gerakkan kepalanya supaya rambutnya benar-benar jatuh sempurna. Rambutnya itu memang adalah identitasnya yang menyatakan bahwa ia bukanlah berasal dari negara ini. Tapi dengan hal itu bukan berarti dia tidak cantik, melainkan Rose sangat cantik seperti putri dari negeri dongeng pada buku cerita anak-anak. Kulit putihnya yang agak pucat namun sedikit memerah di sekitar pipinya, hidung mancungnya, bibir tipisnya, dan juga rambut panjang yang bergelombang itu sangat lengkap untuk sebuah lukisan seorang putri raja dari negeri dongeng sana.


Untuk beberapa saat mata Ben terpaku ke arah wanita yang kini tengah memasukkan rambut palsunya ke dalam tas miliknya. Pesona yang Rose pancarkan tidak seperti wanita kebanyakan yang Ben temui. Pesonanya mirip dengan pesona yang dimiliki oleh Ana. Sebuah maha karya berupa kecantikan yang polos dan anggun, begitu Ben menyimpulkannya. Ia pria yang biasa hidup di medan perang. Tapi ia tetaplah pria biasa yang akan terpana matanya oleh kecantikan kaum hawa yang memukau matanya ini. Segera sadar, Ben menggeleng pelan lalu kembali fokus ke arah jalan raya.


"Apa yang kupikirkan?!", gumamnya dalam hati.


Merasa ada yang mengawasi, Rose menoleh ke arah orang itu. Tapi yang didapatinya adalah bahwa Ben tengah serius mengemudikan mobil itu. Jadilah Rose pun kembali diam, menutup mulutnya setelah selesai memasukkan rambut palsunya ke dalam tas miliknya.


"Mungkin hanya perasaanku saja!", kali batin Rose yang bergumam.


-


-


-


-


-


-


jangan lupa ya teman-teman buat kasih like, vote sama komentar kalian ๐Ÿ˜‰


baca juga ya novel perdana aku yang judulnya


๐ŸŒนwanita pertama presdir ๐ŸŒน


karena dari sana kisahnya Ben dan Rose dimulai. Dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya Ben dan Rose di sini


oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐Ÿ˜Š


love u teman-teman ๐Ÿ˜˜


keep strong and healthy ya ๐Ÿฅฐ