Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Menyalahkan diri sendiri



Di kapal kecil yang tengah menyeberangi lautan, tubuh Rose gemetar hebat meski dirinya sudah dibebat sebuah kain panjang. Tangannya terus mengepal kuat, buku-buku jarinya pun sampai memutih. Keringat dingin terus bercucuran bagai air terjun di sekujur tubuhnya.


Ibu pengemis terus memperhatikan Rose dengan tatapan prihatin. Pun juga sama dengan anaknya yang akhirnya saling berpandangan dengan dirinya. Sungguh mereka berdua sangat khawatir dengan keadaan nona di samping mereka. Namun penyebabnya apa, mereka tidak mengetahuinya sama sekali.


Dilihat dari posisi ini, sepertinya tuan muda yang membawa mereka tidak mengetahui kondisi Rose yang memprihatinkan ini. Ibu pengemis itu mengatup-ngatupkan bibirnya, ragu untuk memberitahu tuan itu atau tidak. Ia menoleh kepada Robi, meminta pendapat putranya. Dan anak kecil itu pun mengangguk cepat, menyetujui apa yang akan dilakukan oleh ibunya itu.


"Tuan!", panggilnya meski suaranya masih agak ragu. Ia membuka kesunyian yang membeku di tengah deburan ombak itu.


"Ya!", Eric menoleh seraya mengernyitkan keningnya.


"Sepertinya Nona sakit! Tubuhnya terus gemetar sejak tadi!", ibu pengemis memberitahu sambil mengarahkan pandangannya pada Rose.


"Rose!", pria itu pun membalikkan badannya yang semula menghadap ke depan perahu. Sebenarnya posisinya semula menghadap ke depan, berdampingan dengan orang yang menjalankan perahu itu.


"Apakah kau baik-baik saja?", Eric mengambil tangan wanita itu untuk ia genggam. Bermaksud perhatian sambil mengecek suhu tubuh Rose yang mungkin demam.


"Aku tidak apa-apa!", wanita itu tersenyum hambar sambil menepis tangan Eric. Ia tidak ingin kondisinya diketahui siapa pun saat ini. Hanya tuan seramnya saja yang boleh mengetahui hal ini. Rose masih berharap jika serangan panik yang sekarang sedang melanda dirinya cepat berlalu. Dan ia bisa mengendalikan tubuh dan pikirannya lagi.


"Apakah kau yakin?", pria itu memastikan. Tadi ketika tak sengaja menyentuh tangan Rose yang masih terkepal, ia bisa merasakan tangan wanita itu dingin. Mungkin karena sedang berada di tengah lautan makanya wajar jika tangan Rose dingin. Eric masih bersyukur sebab wanita itu tidak demam.


Rose mengangguk sambil kembali tersenyum. Ia mesti pintar menyembunyikan apa yang terjadi pada tubuhnya saat ini. Eric pun kembali ke posisinya semula setelah merasa teryakinkan. Kemudian Rose menoleh ke arah ibu pengemis dan Robi, ia menggeleng pelan seraya menipiskan bibirnya. Jangan beritahukan orang itu lagi. Sambil mengangguk ia mengatakan bahwa dirinya saat ini tidak apa-apa. Robi dan ibunya lalu mengangguk, mereka mencoba mengerti meski terus saja ragu.


Pinggiran dermaga sudah terlihat di kejauhan. Jarak mereka hanya tinggal beberapa ratus meter saja ke sana. Hati Robi dan ibunya seketika menjadi lega. Akhirnya mereka terlepas dari bahaya yang mereka pun tidak mengetahuinya.


"Sebentar lagi kita akan sampai!", seru Eric gembira. Usahanya menyelematkan Rose tidak sia-sia.


Namun Rose hanya diam. Masih menikmati sakit di hati yang menembus ke seluruh jiwa raganya. Semakin mendekat ke dermaga, semakin jelas pula bayang-bayang masa lalunya dengan Tuan Rogh. Sebenarnya,, sejak tadi wanita itu sedang berperang dengan dirinya sendiri untuk menyingkirkan memori buruk itu dari dalam pikirannya. Sayang,, alam bawah sadarnya masih mengingat jelas dan terus saja membuat mentalnya jatuh.


"Ayo turun!", ajak Eric kepada mereka semua begitu mereka sampai di pinggir dermaga. Ia mengulurkan tangannya kepada Rose untuk membantunya turun.


"Ayo!", pria itu menggerakkan telapak tangannya yang masih terbuka menunggu disambut oleh Rose. Sambil menyelidiki emosi apa yang wanita itu miliki.


Rose memperhatikan telapak tangan itu sebentar. Ekspresi wajahnya datar saat ia menyambut uluran tangan Eric. Pria itu tersenyum karena Rose lalu meresponnya. Tapi kemudian senyumnya memudar saat Rose mulai mengangkat tubuhnya dan langsung ambruk ke depan, tidak sadarkan diri. Wanita itu terhuyung ke depan langsung bersandar ke tubuh Eric.


"Rose!".


"Nona!".


Mereka bertiga kompak berseru dalam nada keterkejutan. Wajah mereka pun segera dipenuhi gurat kekhawatiran.


***


Saat ini Eric sedang duduk termangu di dalam ruangan serba putih dan beraroma khas desinfektan. Pandangan matanya terarah lurus jatuh pada wajah seorang wanita berwajah pucat. Hingga detik ini, ia sedang mengenang apa saja yang dokter katakan padanya setelah melakukan pemeriksaan terhadap wanita di depannya.


Ibu pengemis itu dan Robi telah ia kirim ke suatu tempat yang layak untuk mereka tinggali. Pun ia sudah menjanjikan sebuah pekerjaan yang dapat menunjang hidup mereka nantinya. Sekarang pikirannya hanya terpusatkan oleh wajah Rose yang pucat pasi.


Tadi, Eric segera membawanya ke rumah sakit terdekat agar Rose bisa segera ditangani. Begitu sampai, wanita itu sempat sadar dan menjalani proses pemeriksaan bersama dengan seorang dokter. Pria itu pun mendampinginya dari awal sampai akhir.


Eric masih ingat betul apa yang dokter katakan, jika Rose mengalami serangan panik akibat trauma yang dimilikinya. Dinginnya tangan wanita itu ternyata menjalar ke seluruh tubuhnya, Rose begitu gelisah hingga wanita itu pingsan Eric baru bisa menyadarinya. Pria itu begitu prihatin mengetahui Rose yang ia kenal bisa memiliki pengalaman buruk yang membuatnya bisa sampai seperti ini.


Ketika bertemu dengan dokter psikologi, Rose mulai mau buka suara mengenai apa yang bersemayam di dalam dirinya sehingga bisa mengalami serangan panik ini. Masa lalu pahit itu pun kembali diceritakan sambil gemetar dan bercucuran air mata. Dan dari situ pula Eric mengetahui kelakuan bejat yang telah dilakukan ayahnya terhadap Rose malam itu.


Penyesalan bersemi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Seandainya saja malam itu ia langsung membawa wanita itu pergi tanpa perlu menunggu lagi, paling tidak ia bisa mencegah hal itu bisa terjadi. Rose yang ia kenal ceria bisa melewati kemalangan itu dengan begitu berani, sungguh luar biasa.


Namun, melihat kondisinya yang seperti sekarang ini, rasa bersalah kemudian berakar di dalam dirinya. Meskipun bukan dia yang melakukannya, tapi dia adalah putra dari orang itu. Ada darah Tuan Rogh mengalir di dalam dirinya. Sambil memandangi Rose yang sedang melakukan konsultasi, Eric merasa jijik terhadap dirinya sendiri.


Kembali ke masa dimana wanita itu tengah beristirahat sekarang. Rose tertidur setelah meminum obat dan lelah menangis tadi. Saat ini ada sedikit kedamaian di wajahnya. Meskipun begitu tangannya di samping masih mencengkeram selimut yang ia pakai. Perasaan apa yang ia miliki saat ini sebenarnya?! Eric sungguh sangat menyalahkan dirinya sendiri saat ini.