
Ben sudah mencapai sisi barat bangunan dimana ia sudah sangat dekat dengan pintu masuknya. Ia juga sudah melihat ke sekitar, dan ternyata hanya ada satu pintu masuk untuk mencapai ke dalam dimana titik merah masih menyala pada ponsel yang Ben pegang. Ia memutuskan untuk mengintip sebentar, melihat situasi di bagian pintu masuk bangunan itu.
Ternyata di sana sedang dijaga oleh empat orang pria berpakaian hitam semua. Lalu ia melihat ada sebuah mobil berhenti di depan mereka dan dua orang berada di dalamnya. Mobil itu seperti sedang menunggu seseorang dari dalam. Ben sempat berpikir bahwa itu adalah untuk membawa Rose dari sana, tapi dugaannya salah karena tiba-tiba keluar seseorang dari pintu masuk itu. Pria itu adalah pria yang memakai mantel jas berwarna coklat dengan kepala yang ditutupi oleh hoodie. Ben tak dapat melihat dengan jelas wajahnya karena tertutupi hoodie yang ia kenakan. Empat pria yang berjaga di luar kelihatan membungkuk hormat saat pria itu melewati mereka saat akan masuk ke dalam mobilnya.
Ben masih diam di tempat sambil mengatur strateginya. Bersamaan dengan itu pula, mobil yang tadi mulai berjalan ke arah pagar hitam tinggi itu. Dan tepat melewati Ben yang sedang bersembunyi di belakang sebuah mobil yang terbengkalai. Namun untungnya mereka yang berada di dalam mobil tak ada yang menyadari kehadiran Ben di sana. Maka hal itu menjadi melegakan baginya.
Ben kembali memperhatikan keempat pria yang berjaga. Dua di antaranya memiliki senjata laras panjang di tangannya. Sedangkan yang dua lagi hanya berdiri sambil melipat tangannya di depan dada. Tapi Ben melihat mereka memiliki pistol pada masing-masing pinggangnya. Ben mengeluarkan senjata api yang ia punya. Lalu membidikkan senjatanya pada mereka.
duar
duar
duar
duar
Empat tembakan melesat dengan cepat, lalu keempat pria yang berjaga langsung ambruk seketika. Sebagai ketua geng mafia besar, jangan ragukan lagi keakuratan tembakan dan kemampuan juga keterampilan yang Ben miliki. Ben membidik kepala mereka sebagai titik fatal yang dapat langsung melumpuhkan mereka tanpa perlawanan. Sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, Ben mendekati tubuh-tubuh yang tergeletak itu. Kemudian ia mengambil kedua pistol yang ia lihat tadi. Senjata ini mungkin akan berguna nanti. Pasalnya Ben sendiri belum mengetahui ada berapa orang lagi di dalam. Hal ini ia lakukan untuk berjaga-jaga.
Masih sambil berhati-hati, Ben meninggalkan tubuh-tubuh yang terjebak dalam kubangan darah itu. Ia mulai masuk ke dalam bangunan. Terdengar samar suara tawa yang menggelegar diiringi isak tangis dari seorang wanita. Nafas Ben terasa berat, tubuhnya memaku seketika. Mungkinkah ia sudah terlambat?! Ben tak mampu memikirkannya kali ini, ia hanya dapat untuk terus berusaha berjalan ke arah dimana Rose berada.
Ben berjalan ke kanan dan ke kiri melewati banyak ruangan yang terlihat kosong dan begitu kotor. Titik itu berada hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri. Ben mengangkat kepalanya, ia melihat sebuah pintu di sudut sana. Ia pun berlari dan segera mendobrak pintu itu dengan satu kakinya.
brrakk
Tendangan yang cukup kuat hingga hanya dengan satu kali dorongan, pintu itu sudah terlepas dari engselnya. Segera Ben menerobos ke dalam sana sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Amarahnya segera memuncak kala ia melihat Rose yang sudah terjerembab di lantai dengan seorang pria di atasnya.
# FLASHBACK ON
Salah satu pria sudah maju dan bermain-main dengan rambutnya. Rose tidak berani membuka matanya. Tubuhnya makin gemetar saat pria itu mulai meletakkan tangan lancangnya pada bahunya.
"Hey, tidak seru jika wanita itu tidak bersuara! Kita tidak bisa mendengar rintihannya saat kita beri kenikmatan nanti!", seru salah satu temannya yang masih berdiri bersama yang lainnya.
"Benar, lepaskan juga ikatannya! Aku sangat yakin wanita ini tidak memiliki kekuatan untuk melawan kita", tambah lagi yang lainnya hingga menimbulkan gelak tawa pada kelimanya.
Kata-kata itu, kalimat itu, sungguh membuat Rose segera mengingat lagi kejadian saat Tuan Rogh hampir memperkosanya. Wanita itu merasa seakan sudah guncang seluruh hidupnya.
Pria yang berada di hadapannya kini tengah menatapnya dengan senyuman yang sulit diartikan. Ia tak mampu menghilangkan tatapan ketakutannya.
prreak
Pria itu membuka lakban yang menutupi mulutnya dengan gerakan cepat. Hingga menimbun perih di sekitar sana. Rose sedikit meringis menahan rasa sakit itu. Lalu ia mengeluarkan sebilah belati dari salam saku celananya.
"Jangan! Kapan lagi kita memiliki hadiah bagus seperti ini! Bos sungguh sudah berbaik hati memberikan kita hidangan yang cantik. Jadi jangan berani-berani merusaknya. Itu sama saja dengan kita yang tidak menghargai niatan bos!", sahut lagi yang lainnya masih tanpa menyurutkan seringai di bibir mereka.
"Benar juga!", pria tadi menarik belatinya dari wajah Rose. Lalu ia segera memutuskan ikatan tali yang mengikat tangan dan kakinya.
Segera setelah ikatannya terbuka, Rose meringkuk ketakutan. Ia menundukkan tubuhnya dalam-dalam saat lelaki itu pun juga merundukan tubuhnya makin dekat dengan wajah milik Rose.
"Hey, jangan terlalu lama! Kami sedang menunggu giliran di sini!", seru salah satunya disambut oleh gelak tawa mengerikan dari mereka.
"Jika kalian selalu berbicara, lalu kapan aku akan memulainya!", pria yang berada di hadapan Rose berdecak kesal dengan mulut teman-temannya yang cerewet. Umpatan itu malahan menambah gelak tawa yang lainnya karena berhasil menggoda temannya. Tapi berbeda dengan Rose yang makin memiringkan posisi duduknya menghindari wajah pria itu. Rose benar-benar takut saat ini. Jika bisa berteriak mungkin ia akan berteriak saat ini. Sayangnya, suaranya seperti tercekat tak mampu ia keluarkan dari mulutnya.
Pria itu terus menekan tubuhnya ke arah Rose yang sudah meringkukkan tubuhnya. Makin dekat, makin Rose memberi jarak. Hingga akhirnya Rose terjatuh ke lantai dengan tubuh gemetar.
"Jadi kau sudah tidak sabar rupanya!", pria itu menyeringai.
Ia segera menubruk tubuh Rose yang sudah terduduk di lantai. Dan Rose pun langsung tergeletak di bawah kungkungan pria itu. Seperti dulu, mulutnya tak mampu berkata-kata lagi. Bahkan memohon ampun juga lidahnya seperti sudah kaku. Hanya tangisan demi tangisan yang keluar dari mulutnya. Juga dorongan-dorongan yang tangannya lakukan agar lelaki itu tidak terus makin menindihnya dan menciuminya.
# FLASHBACK OFF
-
-
-
-
-
baca juga ya novel perdana aku yang judulnya
๐นwanita pertama presdir ๐น
karena dari sana kisahnya ben dan rose dimulai. dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya ben dan rose di sini
oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐
jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya ๐
love u teman-teman ๐
keep strong and healthy ya ๐ฅฐ