
Setelah saling bercerita untuk beberapa saat, keduanya memutuskan untuk meninggalkan restoran itu. Menggunakan taksi, mereka duduk berdampingan di kursi penumpang. Hanya saja tempat duduk panjang itu terasa penuh, karena Rose meletakkan kantung belanjanya di tengah-tengah, di antara dirinya dan juga Baz. Itu bukan hal yang disengaja, Rose meletakkannya dengan asal saja. Baz mengerti dengan menilai sikap wanita itu yang terkesan tidak peduli.
Rose asyik memandangi jalanan yang tak begitu ramai sambil membayangkan wajah Tuan seram yang telah ia rindukan. Sudut bibirnya naik tanpa sadar.
Di tengah guncangan halus dari taksi yang melintasi jalan raya itu, Baz memperhatikan pantulan bayangan Rose pada kaca jendela taksi. Jantungnya berdegub saat menatap ke arah lengkungan indah pada bibir wanita itu. Baz menyandarkan kepalanya seraya menengadah, tersenyum sendiri sambil memegangi dadanya yang terasa mengembang. Beginikah yang namanya jatuh cinta?!
***
Tak terasa mereka akhirnya sampai tepat di depan halaman rumah yang tak memiliki pagar besi itu. Baz mengedarkan pandangannya, melihat keasrian rumah Victor yang dipenuhi tanaman dan bunga. Jika adik dan keponakannya tinggal di sini pasti akan suka. Nanti ketika ia pulang, ia harus segera menyampaikan kebenarannya kepada adiknya itu.
Lamunannya terhenti saat Rose menutup pintunya, tidak keras namun menimbulkan bunyi yang cukup untuk membuatnya terperanjat. Ia segera membuka pintunya untuk menemui Rose sebelum ia pergi dari sana.
"Rose!", panggilnya lirih. Terasa amat berat melepaskan wanita itu pergi. Karena setelah ini, jelas ia harus kembali ke negaranya untuk menyelesaikan banyak masalah di sana.
"Ya!", wanita berbalik dan menampilkan senyum cerianya. Ia bahkan kembali berjalan mendekat ke arah pria itu lagi.
"Besok aku akan kembali ke negaraku. Kuharap kita bisa bertemu lagi setelah ini", banyak harapan terdengar dari suara Baz yang sedikit bergetar.
"Tentu saja kita harus bertemu lagi. Kita sudah menjadi teman, kan. Sering-seringlah berkunjung kemari!", wanita itu tidak mengetahui maksud dari ucapan Baz. Dengan senyum cerianya ia menepuk-nepuk lengan pria itu sebagai teman.
Yang Baz maksud adalah, entah seberapa sanggup ia untuk menemui Rose lagi. Dengan perasaan bersalah dan perasaan suka yang baru saja ia miliki, Baz merasa tidak pantas untuk melihat Rose lagi. Meskipun di lain sisi, hatinya mengharapkan pertemanan ini untuk menjadi lebih. Tidak mungkin, itu hanya rasa kurang ajar bagi Baz untuk memiliki perasaan seperti itu terhadap orang yang pernah ia sakiti. Harapannya adalah untuk dirinya sendiri agar mampu menghadapi kenyataan nanti saat Rose sudah mengetahui semuanya, berharap wanita itu masih mau menemuinya.
"Maaf jika aku tidak sopan! Tapi,,, bisakah aku memelukmu sebelum pergi?", Baz sangat canggung untuk mengutarakan ini. Tapi ia memilih untuk egois sedikit hanya untuk saat ini. Walau pada akhirnya Rose menolak pun ia tidak akan sakit hati.
"Emmh,,, baiklah!", tak perlu lama untuk Rose berpikir, ia lalu merentangkan tangannya. Tersenyum tulus pada orang di hadapannya. Hubungan di antara mereka hanyalah sebuah pertemanan, jadi Rose rasa tidak ada yang salah. Apalagi temannya itu akan kembali ke negaranya, dan entah kapan akan kembali ke sini.
Baz menarik tangan Rose. Membenamkan tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Menghirup wangi strawberry dari rambut pirang wanita itu. Dan mengingatnya, merekamnya ke dalam memorinya yang terdalam. Supaya ketika nanti Baz sudah berada di negaranya, saat rindu mungkin datang, ia bisa mengingat aroma ini.
Dan mereka berdua tidak tau saja, jika beberapa meter di belakang mereka sebuah mobil terparkir seperti sedang mengintai keduanya. Mobil sport putih itu berdiam dengan tatapan tajam pada seseorang yang duduk di belakang kemudinya. Tangannya mencengkram kuat kemudi itu, mungkin saja sebentar lagi remuk jika saja pria itu belum melepaskan pelukannya pada Rose. Rahangnya mengetat dengan gejolak emosi yang bangkit bersamaan. Aura raja iblis yang kejam menguar dari sekitar tubuhnya. Dingin hingga membuat mobil itu seakan membeku dibuatnya.
"Sampai jumpa! Hati-hati di jalan!", Rose melambaikan tangannya pada orang yang berada di dalam mobil. Lalu ia berbalik dan mulai melangkahkan kakinya menuju ke dalam halaman rumah.
"Ada apa lagi?", tanyanya Rose bingung saat tangannya dicekal kuat dan ditarik hingga tubuhnya berputar lalu membentur sebuah dada bidang dan keras.
"Tu,, tuan!", Rose dilanda kebingungan yang teramat sangat. Bagaimana bisa ada pria itu di hadapannya saat ini?! Pria yang sangat ia rindukan, pria yang sangat ingin ia temui. Tapi,, tapi ada apa dengan raut wajahnya yang berbeda. Tatapan matanya tak bersahabat. Bahkan Rose merasa cekalan di tangannya sangat kuat dan menyakiti.
"Rose! Ben! Kapan kalian datang?", tiba-tiba suara Victor datang dari arah teras rumah.
"Baru saja!", suara Ben jelas terdengar sangat dingin di telinganya. Rose bisa merasakan aura kemarahan yang pekat dari nada suara pria itu. Tapi apa kesalahannya?! Rose sendiri ingin tau apa itu!
"Syukurlah! Ternyata kalian pergi bersama. Aku khawatir karena Rose belum pulang juga sejak pagi tadi!", Victor menghela nafas lega ketika melihat adiknya yang sudah pergi sejak pagi kembali pulang dengan orang yang bisa ia percaya.
deg
Ada perasaan bersalah yang menghujam ke dalam dadanya. Rose mantap Ben yang kini tengah menatapnya tajam. Ia tau bahwa ini adalah kesalahannya karena telah kabur dari pengawal yang telah Ben tugaskan. Dan kakaknya terlihat tidak mengetahui hal ini sama sekali. Wanita itu pun jadi menundukkan kepalanya.
"Ya! Dan sepertinya ada sesuatu yang tertinggal, jadi kami harus kembali dulu. Victor, aku pinjam adikmu sebentar lagi!", itu bukanlah sebuah permohonan izin. Suara yang Ben keluarkan lebih seperti titah seorang raja yang tak bisa dibantah.
Meskipun sempat tertegun oleh suara yang Ben keluarkan, namun Victor tetap mengiyakan saja ucapan temannya itu.
"Ayo!", suara besar itu memiliki nada dan suhu yang rendah, sehingga dingin menyapu ke telinga sekitarnya.
"Kakak, aku pergi dulu,,, emmhh bukan, pergi lagi ya!", dan tubuh Rose terbawa oleh tarikan kasar tangan Ben padanya.
"Ada apa dengan mereka?", tanya Victor pada Paman Alex di belakangnya. Wajahnya keheranan.
"Apakah urusan anak muda saya juga harus memberi komentar, Tuan?", dengan sungkan Paman Alex menyampaikan pertanyaannya.
"Ya, jawab saja! Aku ingin mendengar jawabanmu", jawab Victor dengan santainya. Memang ia penasaran, karena bagaimanapun juga ia belum pernah memiliki hubungan apapun dengan seorang wanita. Ia kalah dalam hal pengalaman.
"Saya,,, saya hanya mencium bau-bau kecemburuan!", jawaban Paman Alex sontak membuat Victor segera mendongakkan kepalanya.
-
-
cie kaget ya,, ternyata Ben sama Rose ketemunya di ujung doang ya,, udah gitu ga ada romantis-romantisnya lagi,,
tenang,, jangan kesel dulu 😉
tar malem barulah kalian bisa lepas kangen sama ke-uwu-an kisah mereka berdua