
Langit terang telah berubah warna menjadi kelabu hingga gelap gulita. Tapi bulan tidak sepenuhnya menyetujui kegelapan yang ada. Sinarnya menghilangkan dahaga setiap makhluk yang seakan kehausan akan cahaya di temaramnya malam ini.
Pun sama halnya dengan dua insan di lain sisi yang sama-sama sedang menikmati siraman sinar rembulan malam ini. Keduanya sama-sama menarik sebuah kursi mendekat ke arah jendela yang telah sengaja mereka buka. Mereka letakkan bokong mereka di sana, di atas kursi yang mereka tarik dengan tangan mereka masing-masing.
Ben duduk memaku tubuhnya tak bergerak sedikitpun di dalam kamarnya di markas. Sedangkan Rose, ia menyangga dagunya dengan satu tangan sambil memandangi benda bulat yang bercahaya di angkasa sana.
"Aku merindukannya!", keduanya merapalkan kalimat yang sama di tempat yang berbeda. Berbicara dengan bulan, mungkin itu yang mereka lakukan saat ini. Meluapkan perasaan mereka setelah sekian lama belum juga berjumpa. Berharap perasaan itu akan sampai kepada orang yang sama-sama berada di bawah sinar rembulan.
Baik Ben maupun Rose mengeluarkan ponsel dari saku celana mereka. Melihat jam yang tertera membuat mereka mengurungkan suatu niatan tertentu untuk melepas rindu yang mereka rasakan saat ini. Ini sudah lewat tengah malam rupanya. Mungkin saja orang yang sedang mereka pikirkan sudah beristirahat di sana. Mereka tak ingin menjadi pengganggu di malam ini. Benda pipih itu hanya bisa digenggam dengan erat sekarang, sebagai pelampiasan perasaan yang terkekang karena waktu dan keadaan.
Ben mengepulkan asap rokok dari bibirnya yang seksi untuk meringankan beban pikiran yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Sedangkan Rose masih khidmat memandangi bola terang di langit sana. Betapa menyenangkannya perasaan mereka ketika membayangkan sosok yang mereka rindukan hadir di sisi mereka meski hanya sebuah ilusi. Kedua ilusi itu memberikan senyuman dan sebuah kecupan hangat pada kening satu sama lainnya di tempat yang berbeda, di tempat dimana Ben dan Rose berada. Lalu ilusi itu hilang bak asap. Tertelan temaramnya malam, hingga bahkan tak mungkin untuk digapai.
"Hah!", Rose mendesah dengan wajah muramnya. Sekarang ia menjatuhkan kepalanya pada bingkai jendela. Pelampiasan rasa rindunya ini tak berguna. Bukannya berkurang, dorongan untuk bertemu orang itu makinlah kuat. Ia malah makin merindukan Tuan seram itu.
Lalu keduanya kembali mengambil ponsel mereka masing-masing. Mengetikkan sesuatu lalu beranjak dari jendela menuju ranjang yang berada tak jauh dari tempat mereka berada.
Ben melepaskan topi koboinya, lalu menggantungkannya di dekat kepala ranjangnya. Dan lagi-lagi keduanya melakukan hal yang sama. Sama-sama melemparkan diri ke atas ranjang dengan kasar. Berharap guncangan yang mendera kepala mereka membuat isi kepala itu menjadi kosong tak tersisa. Sehingga mereka tak harus lagi memendam perasaan yang menyiksa.
Rose menggulung dirinya dengan selimut lalu berguling ke sana ke mari hingga sprei yang ia tempati menjadi hancur berantakan. Sedangkan pria di sisi lainnya, Ben sudah merebahkan diri dengan tenang di ranjangnya. Dengan posisi telentang, ia menutup matanya yang tetap terbuka dengan salah satu lengannya. Tapi nyatanya pikirannya tak setenang dirinya saat ini. Perasaan ini terlalu mengganggu baginya yang tak pernah jatuh cinta.
ting
Sebuah pesan masuk pada ponsel keduanya. Baik si pria maupun si wanita segera terperanjat dari posisinya. Apalagi Rose yang jadi kesusahan karena saat ini dirinya terbungkus kain tebal akibat ulahnya sendiri. Ia jadi sulit menggapai ponselnya di atas nakas.
pesan dari Wanita milikku :
Rindu
Ben membaca pesan itu dengan seksama. Hatinya mencelos seketika. Beban yang berkumpul di dadanya seakan hilang begitu saja. Sudut bibirnya berkedut hingga melengkung sempurna. Wanita ini memang selalu menggemaskan baginya. Ingin rasanya ia mendekap wanita itu di sisinya. Lalu menghujani wajah wanita itu dengan banyak kecupan hangat dari bibirnya. Sebagai pelampiasan rasa rindu yang telah lama tertahan.
pesan dari Pria milikku :
Aku rindu
Ya ampun, Rose ingin sekali berteriak saking bahagianya setelah membaca pesan itu. Ia tau diri jika ini sudah larut, jadi jika mulutnya tidak bisa ia jaga, maka akan heboh semua penghuni rumah oleh teriakannya. Tapi mau bagaimana lagi, ia terlalu senang saat ini. Ternyata perasaan mereka sama. Mereka sama-sama memendam rindu pada satu sama lainnya.
Jika begini, Rose jadi membekap mulutnya sendiri dengan selimut yang masih membungkus seluruh tubuhnya. Lalu ia berteriak sekencang-kencangnya, karena suara itu pasti akan teredam begitu saja. Ia ingin meluapkan rasa bahagianya saat ini. Meski itu akan lengkap dengan kehadiran orang itu di sini. Mungkin ia akan langsung menghambur ke dalam pelukannya dan tak akan melepaskannya.
ting
pesan dari Pria milikku :
Tidurlah,, besok jika tidak ada urusan, maka aku kita akan bertemu. Aku akan menemanimu ke rumah sakit untuk melihat hasil tes itu. Jangan tersenyum terus, nanti gigimu kering. Sebaiknya kau tidur sekarang, atau besok kau akan sangat jelek dengan mata pandamu. Aku tidak mau bertemu denganmu jika kau jelek ,,
Ya! Apa-apaan pria ini?! Sejak kapan pria seram itu jadi pandai berbicara?! Rose tak mampu melakukan panggilan untuk membalas ucapan Ben saking gugupnya karena terlalu bahagia. Maka ia hanya bisa membalas pesan itu dengan pesan juga.
ting
pesan dari Wanita milikku :
Dasar cerewet! Bukannya kau bilang aku memang jelek,,
"Cihh!", Ben berdecak. Wanita ini memang benar-benar menggemaskan yah. Sungguh jika ada di sini, Ben akan segera melahapnya bulat-bulat. Pria itu tersenyum seraya membalas pesannya.
ting
pesan dari Pria milikku :
Tidak, kau salah! Aku bilang kau cantik
Rose benar-benar ingin menjerit sekarang. Pria yang katanya tidak pernah jatuh cinta dan berhati dingin ini nyatanya malahan seperti seorang penggoda yang ulung. Dia sangat pandai berbicara. Hati Rose benar-benar dibuat meleleh seketika.
ting
pesan dari Wanita milikku :
Baiklah, aku menyerah!
Selamat tidur, tampan!
Wah, wanita ini memang memiliki nyali besar rupanya. Berani sekali ia menggoda pria ini. Jangan salahkan dia jika nanti saat bertemu Ben tak akan segan lagi padanya. Berani sekali memuji pria ini secara langsung, maka tanggung sendiri akibatnya. Ben menggigit bibir bawahnya dengan gemas untuk menahan perasaannya yang tak terkendali saat ini. Ia benar-benar sangat ingin mengulum habis wanita itu dengan bibirnya.
Akhirnya keduanya menyerah oleh serangan kantuk yang membelai mata mereka. Keduanya sama-sama memeluk erat ponsel mereka di dada, bayangkan saja ponsel itu adalah orang yang mereka rindukan saat ini. Hal itu membuat mereka terbang ke alam mimpi dengan lebih cepat dengan seulas senyum yang terbit di bibir mereka masing-masing.