
Pria itu masih tak sadarkan diri. Lukanya sudah dijahit dan diperban rapih. Dan kini dirinya tengah terbaring lemah di ranjang pesakitan dimana tadi ia sempat dibawa oleh seorang wanita.
Wanita itu memperhatikan Baz yang sedang tak sadarkan diri di atas ranjangnya. Ia merasa pernah melihat wajah itu, tapi entah dimana. Hanya sekali, ya hanya sekali ia pernah melihatnya. Tapi ia ragu apakah itu benar atau salah. Hingga seseorang datang untuk memberikan sesuatu kepadanya, lamunan itupun buyar di dalam otaknya.
"Nona Rose, ini hasil tesnya! Jika bisa, dokter bilang ingin membahas hal itu dengan Nona langsung", seseorang yang diutus untuk menjaganya itu memberikan sebuah amplop coklat besar yang lemnya masih rapat.
Victor tidak ikut dengan dirinya. Kakaknya terlihat tidak antusias dan mengatakan bahwa lebih baik jika Rose saja yang datang. Toh pada akhirnya Victor akan mengetahui sendiri hasilnya nanti. Mengingat sikap aneh kakaknya itu, Rose jadi memiliki sebuah firasat. Ini tidak baik.
"Ya, nanti aku akan menemuinya. Aku akan menunggu dia siuman dulu", jawab Rose pada orang itu. Pria itupun pergi meninggalkan ruangan dimana tempat Baz dirawat. Rose memandang amplop besar itu ditangannya dengan wajah ragu. Ia sangat penasaran, namun entah mengapa ia merasa lebih baik nanti ia membukanya.
"Kau! Kau sudah sadar?", wanita itu terkejut saat melihat orang yang tengah terbaring itu sudah membuka matanya.
Sejak kedatangan orang yang menjaga Rose itu sebenarnya Baz sudah mulai siuman. Ia lebih terkejut lagi saat mendapati orang yang berada di hadapannya adalah orang yang ia kenal. Dan Baz sendiri merasa mungkin wanita inilah yang telah menolongnya tadi.
Dia adalah Rose, adik dari Victor. Tentu saja Baz mengenalinya. Ia pernah datang ke negara ini saat penculikan Rose terjadi, dan dia pula yang menemui Rose di gedung itu. Karena wanita inilah yang merupakan bahan pelampiasan dendamnya yang salah jalan.
Selama Rose terdiam dan belum menyadari kesadarannya yang telah pulih. Hati Baz kembali dirundung rasa bersalah yang menggila. Dahulu, ia berusaha keras untuk menghancurkan hidup wanita ini. Tapi sekarang,,, keadaan apa yang sekarang terjadi?! Wanita ini malahan menyelamatkan hidupnya, hidup orang yang begitu jahat kepadanya.
Sungguh, rasanya Baz ingin sekali memukul dadanya yang terasa amat berat saat ini. Tenggorokannya kering, dadanya sesak, berat oleh beban penyesalan yang menghantam begitu kuat ke dalam dirinya. Dan betapa mirisnya lagi saat Rose menoleh ke arahnya dengan wajah terkejut bercampur perhatian. Baz benar-benar ingin mencekik dirinya sendiri saat ini.
"Ya!", akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulutnya yang kelu seraya mengangguk ringan.
"Kau ingin minum? Sini biar kubantu!", tanpa menunggu jawaban dari pria itu Rose mengambil gelas berisi air putih yang berada di atas nakas di sebelah ranjang yang Baz tempati.
"Aku bisa sendiri!", sahut Baz dingin dengan suara rendahnya. Ia mengambil gelas di tangan Rose sambil berusaha untuk duduk. Dan tentu wanita itu tidak tinggal diam, iapun ikut membantu.
Cukup! Cukup! Baz berteriak di dalam hatinya dengan sangat keras. Jangan memberikan hal yang tidak sepantasnya lagi ia terima. Hal yang Rose lakukan padanya hanyalah menambahkan garam pada luka yang sudah menganga di dalam hatinya. Hatinya makin terluka mendapatkan belas kasih dari orang yang telah berusaha ia hancurkan.
"Aku akan keluar dulu! Nanti aku kembali lagi!", wanita itu tak menyurutkan senyuman hangatnya saat berpamitan padanya. Lalu Rose mulai berjalan ke arah pintu.
Baz tak mengucapkan sepatah katapun. Bukan tak mau, tapi ia tak sanggup. Matanya sudah memanas saat melihat ke arah makanan yang berada di hadapannya. Lalu tiba-tiba wanita itu kembali membalikkan badannya saat sudah membuka pintu.
"Harus dihabiskan! Kalau tidak aku akan marah!", lalu senyuman ceria milik Rose itu pun menghilang di balik pintu putih tak bernoda.
Baz sudah tidak tahan. Sakit hati yang ia rasa sejak kemarin itu membenam makin jauh ke dalam. Bagaimana bisa ia menyakiti wanita sebaik itu?! Bagaimana bisa?! Baz kembali menjerit dalam hati. Hingga ternyata air matanya turun mengalir melewati guratan kesedihan di wajahnya.
Ia ingat apa yang Rose katakan bahwa ia harus menghabiskan makanan ini. Ditambah lagi dengan senyum ceria dan tulus yang wanita itu miliki, maka setelah ini ia berjanji akan menuruti apapun yang wanita itu katakan. Pun termasuk jika Rose memintanya terjun ke jurang. Baz rasa itu cukup sepadan dengan penebusan dosa-dosa yang selama ini ia miliki terhadapnya.
Maka Baz meraih sendok yang sebenarnya ringan menjadi sangat berat di tangannya. Dengan deraian air mata, ia memasukkan sendok demi sendok makanan ke dalam mulutnya. Ia juga masih manusia biasa. Meski saat ia benci ia akan menjadi monster untuk melakukan aksi balas dendamnya. Namun, saat ia merasa bersalah maka ia juga pasti akan merasa sangat menyesal pula. Apalagi mengingat apa yang ia lakukan dulu bisa dibilang cukup parah pada wanita itu.
***
Rose terduduk lemas pada kursi tunggu di salah satu lorong rumah sakit itu. Amplop di tangannya sudah terbuka. Wajahnya sungguh layu tak ceria. Lututnya seakan tak memiliki tenaga untuk menopang tubuhnya. Hingga harus berpegangan kuat saat harus memulai langkahnya lagi. Tapi akhirnya ia kembali terduduk lagi.
Kenyataan bahwa hasil tes pencocokan sel tulang sumsum milik dirinya dan juga kakaknya adalah hanya beberapa persen saja. Maka dengan itu, ia tak dapat menolong kakaknya untuk selamat dari penyakit parah yang kakaknya derita. Lalu harus bagaimana ia sekarang?! Rose sungguh tak tau harus bagaimana lagi. Dan mungkin lelaki itu memiliki firasatnya sendiri, hingga ia memilih untuk tidak ikut pergi ke rumah sakit bersama adiknya ini.
Bulir-bulir air mata jatuh satu persatu di pipinya. Kesedihan ini ia tak mampu menahannya sendiri. Ia ingin ada seseorang yang mampu menopang kepalanya yang terasa amat berat karena begitu banyak pikiran di dalam kepalanya ini. Ia butuh bahu seseorang saat ini.
"Nona, ini! Ada pesan dari Tuan Ben. Beliau bilang sangat menyesal tidak bisa menemani Nona hari ini. Ada sesuatu yang mendesak yang harus diurus Tuan di markas. Mungkin besok Tuan baru akan menemui, Nona", pengawal yang bertugas menjaga Rose mendekat sembari menyodorkan sebuah sapu tangan. Ia juga menyampaikan pesan yang ia terima dari tuannya. Karena ia sendiri masih orang Harimau Putih. Dan dirinya juga ditunjuk sendiri oleh Ben untuk menjaga Rose saat Ben tak ada di sisinya.
Bukannya mereda, tangisan Rose makin kencang. Ia makin merasa sedih sekarang. Orang yang ia harapkan ada di sisinya ternyata tak dapat menemani harinya yang menyedihkan ini. Kesedihan ini makin dalam saat kesepian ikut menemaninya.
Rose tak segan membuang cairan di hidungnya dengan kencang. Pengawalnya pun hanya bisa memejamkan mata dan tak bergeming dari tempatnya. Ia menyingkirkan rasa jijiknya dengan rasa tanggung jawab yang tinggi dengan mengingat tugasnya yang diberikan oleh bosnya secara langsung.