Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Jangan lepaskan tanganku



hap


Ben mulai melompat dari tangga lipat itu. Tapi sayang, salah satu kakinya sempat tergelincir sehingga menyebabkan tangga itu terjatuh. Dan ia tidak bisa melompat dengan maksimal. Jadilah hanya satu tangannya yang bisa menggapai bingka jendela itu. Dan orang-orang yang berada di bawah tentu menjadi sangat panik saat ini.


#FLASHBACK ON


Jadi, setelah Rose merampas nampan berisi makanan dari tangan Ben, ia langsung meletakkan nampan itu di ranjang. Merasa agak gerah, ia membuka kembali jendela kamarnya agar ada angin semilir yang masuk. Ia lupakan soal kelelawar, hanya berharap binatang hitam terbang itu tidak datang lagi.


Tangannya sibuk mencicipi beberapa menu yang tersaji di nampan itu. Lalu indera pendengarannya terusik oleh suara berisik dari arah luar jendela. Awalnya ia tak peduli dan bersikap masa bodoh. Tapi,,, lama kelamaan ia semakin penasaran karena ada juga suara khas yang ia kenal.


"Itu bukannya suara Tuan seram, ya?! Sedang apa dia sebenarnya? Berisik sekali!", gumam Rose masih mencicipi beberapa makanan dengan dua jarinya.


"Hisshh! Sebenarnya ada apa sih?!", wanita itu mulai berdiri dari tempat tidurnya saat mendengar suara benda jatuh di luar jendela sana.


"Itu,,, itu apa?", Rose bergidik ngeri saat tiba-tiba empat buah jari manusia hinggap pada bingkai jendela yang ia buka. Namun kakinya tetap menuntunnya untuk mendekat.


#FLASHBACK OFF


"Ben!".


"Tuan Ben!".


Paman Alex dan Victor berteriak dengan kompaknya. Juga dengan ekspresi panik yang sama. Kedua pria itu bahkan sampai saling menggenggam dengan sangat erat.


Ben berulang kali mengeluarkan nafasnya lewat mulut untuk membuat dirinya tetap tenang. Ia perkirakan jarak dari tempatnya bergantung dengan tanah sekitar tiga meter. Kemungkinan resiko yang paling fatal adalah patah tulang yang kan ia derita. Maka dari itu, Ben harus memperhitungkan dengan benar apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


Tangannya berkeringat dan jadi basah, sehingga pegangannya mulai licin dan hampir lepas. Ia ingin meraih bingkai jendela itu dengan tangan yang satunya. Namun jaraknya sudah terlalu jauh, hingga ia tak bisa menggapainya. Ben memejamkan mata dengan ekspresi pasrah saat dirasa tangannya mulai lepas dari pegangannya.


"Tuan!", Rose berteriak sangat kencang. Wanita itu dengan gesit meraih tangan Ben yang hampir terlepas dari bingkai jendelanya.


"Rose!", sapa Ben lirih. Dirinya tertegun saat melihat wajah khawatir wanita itu yang begitu besar. Wanita itu juga sama tertegunnya menatap wajah Ben dari dekat. Dan dalam situasi menegangkan seperti ini pria itu malahan terlihat sangat tenang.


"Hey! Ini bukan waktunya untuk melakukan lomba saling menatap!", Victor berseru dari bawah masih panik wajahnya.


"Ah iya! Tuan jangan lepaskan pegangan tanganku, ya!", Rose yang pertama sadar. Mengesampingkan perasaan canggungnya, ia berusaha keras menyelamatkan pria itu.


"Ya, aku tak akan melepaskan mu!", tatapan pria itu penuh arti. Benar, dalam hati ia sudah menetapkan bahwa Benny Callary tak akan melepaskan wanita ini.


Suara pria itu tenang sampai ke telinga Rose dengan indahnya. Namun,,, lagi-lagi Rose harus mengesampingkan perasaan aneh itu dan mengutamakan keselamatan Tuan seramnya terlebih dahulu.


"Ya ampun, Tuan! Kau ini makan batu ya setiap hari?! Berat sekali,,, uugghh", mulutnya menggerutu tapi ia tetap sekuat tenaga menarik Ben dari luar jendelanya itu. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya, sampai wajahnya memerah.


brugh


Akhirnya Ben bisa ditarik masuk oleh Rose. Dan karena sisa kekuatan tarikan Rose yang begitu besar, keduanya pun sampai terjatuh di lantai kamar. Saat ini Ben tengah menimpa tubuh wanita itu. Dua manusia itu saling menatap dengan begitu intens, dan tak bergerak sedikitpun.


***


Dan di bawah sana,


Paman Alex dan Victor pun akhirnya bisa bernafas lega setelah melihat Ben berhasil melompat masuk ke dalam. Mereka menyadari ada seseorang hal yang tak biasa terjadi pada diri mereka. Saat akan berbalik, Victor merasa tangannya tertahan oleh sesuatu.


"Aakhh!", dia menjerit kecil sambil melepaskan tangannya dari genggaman tangan Paman Alex.


"Maaf, Tuan! Tapi Anda yang memegang tangan saya terlebih dahulu!", Paman Alex membungkuk sopan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Wajahnya tetap terlihat tenang meskipun jelas Victor menyerangnya dengan tatapan tidak percaya.


"Lupakan! Antar aku ke kamar! Sepertinya masalah sudah selesai, dan aku sudah bisa beristirahat sekarang", perintah Victor dengan nada riang.


Ia percaya setelah ini pasti akan ada kabar baik tentang hubungan adiknya sendiri dan juga temannya. Mereka berdua adalah dua orang dewasa yang tak mungkin bagi Victor untuk ikut campur apalagi mengganggu masalah yang mereka miliki. Biarlah itu menjadi urusan keduanya. Tugasnya sebagai kakak dan teman adalah untuk mendukung mereka berdua.


***


"Rose!", tanpa sadar Ben menyerukan suara itu dengan lirih dan lembut. Tangannya terulur untuk menggapai wajah wanita yang sedang menatapnya itu.


"Minggir! Aku mau bangun!", Rose memalingkan wajahnya sebelum tangan Ben benar-benar dapat menyentuh wajahnya. Nadanya yang arogan terdengar lagi di telinga pria itu.


Oh! Sungguh menusuk ke dalam hatinya! Wanita ini masih belum berhenti marah. Seandainya saja mereka dalam kondisi baik-baik saja, lalu mengalami kejadian serupa, tentu Ben tak akan melepaskan wanita ini dengan mudahnya. Ia akan menekannya terus di bawah hingga wanita itu malu dan marah. Mungkin juga terlena.


"Aku bilang minggir!", Rose mendorong bahu pria itu karena masih bergeming dengan posisinya. Ia kesal karena pria itu tidak juga menyingkir dari atas tubuhnya. Ia tidak ingin kejadian menyakitkan seperti sore tadi terjadi lagi. Masih sakit ia rasa, sehingga ia tidak pernah ingin untuk merasakannya lagi.


"Maaf!", ucap Ben pelan. Dengan wajah lesu ia menyingkir dari tubuh Rose.


Keduanya cukup lama terdiam di posisi masing-masing. Rose duduk di tepian ranjang sambil menundukkan kepalanya. Sedangkan Ben masih terduduk di lantai dengan posisi bersimpuh sambil menatap lurus ke depan. Wajah keduanya sangat sulit ditebak tentang apa yang mereka pikirkan saat ini.


Yang jelas, Ben masih memiliki hutang sebuah kata maaf dari mulut Rose sendiri. Lalu wanita itu, Rose sedang terbenam kembali pada rasa sakit hatinya yang tadi sudah mereda. Ia kembali teringat setiap detail momen paling menyedihkan yang pernah ia alami sore tadi. Dan penyebabnya adalah orang yang paling ia percayai. Buliran bening sudah merembes pada ujung matanya, menikmati setiap luka di dalam sana.


Tapi barusan itu, apa yang sebenarnya pria menyebalkan ini pikirkan? Bagaimana jika itu tidak berhasil?! Bagaimana jika pria itu malahan jatuh ke bawah?! Tuan seram itu melakukan hal ini pasti demi dirinya. Tapi,,, jika semua yang ia takutkan terjadi, Rose pasti akan menyalahkan dirinya sendiri. Semua itu terjadi karena dirinya yang begitu keras kepala karena belum juga memberikan maaf untuknya. Rose belum siap memikirkan banyak hal buruk terjadi di antara mereka. Jauh di dalam lubuk hatinya, Rose masih ingin hubungan ini berkembang. Namun,, perbuatan pria itu padanya memang sungguh sulit untuknya benar-benar memaafkan.


"Kau,,,".


"Kau,,,", keduanya membuka suara mereka secara bersamaan. Rose juga sempat melakukan gerakan cepat untuk menyeka air matanya. Tapi, meskipun begitu, Ben masih sempat melihat gerakan tangan wanita itu.