Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Penyesalan dan kesedihan



Ben terkekeh, ia tersenyum meremehkan pemikiran cetek orang di hadapannya. Dengan senang hati ia menikmati cake yang masih utuh di hadapannya, tak menghiraukan Baz yang seakan tak sabar menunggu Ben menjelaskan lanjutannya.


"Sudah begini apa kau berpikir bahwa ini semua hanya permainan saja?!", Ben menggeleng pelan lalu menyesap kopi di cangkirnya dengan gaya elegan dan acuh khas dirinya.


"Victor terus mengawasi adik dan ayahmu hingga kau datang. Sayangnya ayahmu tak terselamatkan nyawanya. Sedangkan adikmu belum sadarkan diri karena dia terlalu shock saat itu. Hingga akhirnya kau pun datang beserta orang-orangmu dengan wajah panik dan marah. Victor yang tengah duduk di kejauhan pun ingin bangkit untuk menghampiri dirimu. Sayangnya seseorang segera memberi laporan bahwa kecelakaan itu disebabkan oleh dirinya. Dan timbul berita untuk menjatuhkan ayahmu, itupun dengan sebab dirinya. Jadi ia tetap diam sambil menyembunyikan wajahnya agar kau tidak menyadari kehadirannya. Victor sudah tau siapa penyebab semua itu yang tak lain adalah Tua Ergy, lawan ayahmu di dunia politik", Ben menjelaskan apa yang ia ketahui tentang penyelidikannya selama ini. Dan juga beberapa bukti yang sengaja Victor simpan seperti beberapa rekaman yang tadi keduanya dengar dan lihat.


Baz tercenung, ia memikirkan apa yang Ben jelaskan padanya. Semuanya masuk ke dalam kejadian saat itu. Tapi karena terlalu diliputi kemarahan, ia sendiri jadi tidak sempat menyelidiki apapun dan malah termakan oleh laporan palsu itu. Ia ingat, saat itu setelah mendengar laporan sialan itu dokter segera menghampirinya untuk memberi kabar duka bahwa ayahnya tak terselamatkan. Saat itu, Baz segera marah besar. Dalam hatinya, ia langsung membenci Victor saat itu juga.


Saat ini, ia merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh tidak melakukan apa-apa untuk mencari bukti yang konkret mengenai kejadian yang melibatkan ayah dan adiknya. Bahkan sampai merenggut nyawa ayahnya, orangtua satu-satunya yang tinggal Baz miliki saat itu. Baz hanya marah dan marah. Ia menyadari betapa bodoh dirinya dulu.


Baz mengusap wajahnya kasar, cangkir di tangan lainnya juga hampir retak dengan emosi yang ia lampiaskan dengan eratnya genggaman. Sudut bibir Ben berkedut melihat hal itu, ia harap pria itu segera memahami apa yang sebenarnya terjadi.


"Minumlah kopimu agar lebih santai!", saran Ben sambil menunjuk dengan dagunya ke arah cangkir yang sedang Baz remas dengan kekuatan.


"Maaf!", dengan gaya kaku Baz melonggarkan tangannya pada cangkir itu dan segera menyesap kopinya, bukan, ia menenggaknya sampai habis lalu meletakkan kembali cangkir itu ke meja dengan keras.


"Aku tidak berhak menerima maafmu. Kau salah sasaran!", sindir Ben halus juga dengan santainya ia kembali menyesap kopi miliknya sendiri.


Benar, ia memiliki hutang permintaan maaf kepada banyak orang. Kepada Victor, karena telah salah membencinya. Kepada Rose, adik Victor yang ia jadikan sasaran balas dendamnya hingga hidupnya sangat menderita. Dan juga kepada adik dan keponakannya, ia telah merenggut kebahagiaan yang seharusnya mereka miliki sejak lama.


Wajah Baz layu penuh penyesalan. Tapi mengingat keponakan tersayang yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri, ada sesuatu yang mengganjal dalam hal ini. Baz kembali menyorotkan tatapan tajamnya pada pria di hadapannya.


"Lalu bagaimana bisa Bella hamil anak Victor?", tanya Baz dengan nada menuduh. Masih tersirat ketidakpercayaan salam sorot mata pria itu.


"Ya, Bella memiliki anak dari Victor. Bagaimana itu bisa terjadi? Aku sangat tau, adikku adalah wanita yang sangat menjaga kesuciannya. Ia tidak mungkin melakukan hal itu jika bukan karena paksaan", masih dengan nada yang sama, Baz seolah menuduh mereka masih menyembunyikan masalah yang satu ini dimana Victor telah bersalah.


"Tidak, kau salah! Bahkan temanku tidak tau jika Bella hamil! Ia sama sekali tidak tau jika Bella memiliki putra dengannya. Jika masalah Victor menyukai Bella, aku tau. Tapi untuk masalah yang satu ini, temanku sendiri bahkan tidak tau apa-apa sama sekali!", wajah Ben masih diliputi keterkejutan.


Kenyataan apalagi ini yang ia dapatkan?! Tapi bagaimana itu bisa terjadi Ben sendiri sangat penasaran. Lalu bagaimana jika temannya itu mengetahui jika ia sudah memiliki seorang putra dari wanita yang disukainya dulu?! Akan bahagiakah dia nanti dengan kondisinya yang sekarang?! Wajah Ben berubah sendu mengingat penyakit yang sedang diderita temannya itu. Tapi tidak mungkin juga Ben menyampaikan berita ini, karena pasti Baz akan berpikir jika Ben hanya akan memanfaatkan keadaan ini saja. Ben memilih untuk menyembunyikan masalah penyakit yang Victor derita saat ini.


"Sepertinya masalah ini hanya diketahui oleh adikmu dan Victor saja!", saran Ben dengan bijak.


Melihat kesungguhan Ben saat menjelaskan ucapannya tadi mengenai Victor, Baz yakin bahwa pria itu tidak berbohong. Baz tidak menemukan sinyal kebohongan pada wajah pria bertopi koboi itu. Tapi bagaimana dengan saat itu, ia mendapatkan beberapa foto Victor dan juga Bella memasuki sebuah kamar bersama. Dan lagi secara tidak langsung adiknya itu juga menyatakan jika anaknya adalah milik Victor semata. Ia juga sempat mendapatkan sebuah laporan bahwa memang benar Victor yang telah menodai adiknya itu, sehingga membuatnya kian membenci Victor di dalam hatinya. Tapi adiknya bilang bahwa itu tidak benar, ia melakukannya dengan kesadaran dan atas keinginannya sendiri. Dan bahwa pria itu tidak tau apa-apa. Tapi karena sudah terlanjur benci, Baz menyangka jika yang Bella katakan hanya untuk melindungi pria itu saja. Karena Baz tau bagaimana Bella begitu menyukai pria bernama Victor itu.


Baz menghela nafas frustasi sambil menyandarkan kepalanya ke punggung sofa seraya memejamkan mata. Ternyata ia benar-benar bodoh saat itu. Tak ada satupun hal yang ia korek lagi dengan tangannya sendiri. Benar-benar bodoh, karena dirinya hanya termakan emosi yang kian menjadi. Hingga semua itu menjadikan dirinya begitu kejam dan merusak hidup beberapa orang. Baz merasa amat berdosa saat ini. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya menahan tangis yang sepertinya akan pecah akibat rasa bersalah yang membuncah. Sungguh ia sudah tak termaafkan kali ini.


"Sepertinya ada pengkhianat di dalam orang-orangmu!", suara Ben yang tenang seperti angin segar bagi indera pendengaran yang Baz miliki. Meniup luka yang telah lama ia simpan dan menjadi dendam. Dendam yang telah salah jalan, salah pelampiasan.


"Kau benar! Aku akan mengorek semua ini sampai tuntas. Tak akan ku ampuni mereka yang telah merusak ketenangan keluargaku, bahkan telah berani merenggut nyawa ayahku!", mata Baz nyalang dipenuhi tekad yang kuat untuk membalikkan keadaan. Membalas dendam kepadanya pihak yang sudah semestinya.


"Tapi kau juga perlu minta maaf pada beberapa orang!", kalimat bijak itu Ben utarakan sambil menyendok cake miliknya.


"Kau benar! Aku memerlukan pengampunan dari beberapa orang!", wajah Baz berubah lesu dipenuhi penyesalan dan kesedihan.