
Di lain sisi malam yang terang ini, seseorang tengah menenggak segelas penuh minuman di tangannya meski kelihatannya pria itu sudah mabuk parah. Wajahnya sudah memerah, bahkan pandangan matanya sudah kabur. Tak lama setelah itu, ia akhirnya jatuh ke dalam alam bawah sadarnya sendiri. Tubuhnya sudah tidak mampu menampung alkohol yang masuk melewati mulutnya itu.
Baz benar-benar merasa terpukul setelah mengetahui semua kenyataan ini. Ia merasa menjadi manusia penuh dosa. Ia telah merenggut kebahagiaan adiknya, Bella. Juga telah merusak kebahagiaan Rose yang sudah seharusnya ia punya.
Dulu matanya, hati dan pikirannya telah dibutakan oleh rasa benci yang membahana. Ia tak mempedulikan lagi bukti-bukti lain yang harus ia cari. Hingga ia akhirnya harus termakan oleh kenyataan palsu yang terus mendorongnya untuk melakukan balas dendam yang salah ini.
Sudah berapa banyak dosa yang telah ia lakukan jika diakumulasi dari dulu hingga sekarang?! Baz sungguh sangat malu bahkan untuk menatap dirinya sendiri dalam bayangan. Nanti bagaimana juga saat ia harus menghadapi adiknya?! Ia merasa sangat tidak berguna sekali sebagai kakak. Tempat bernaung yang Bella miliki satu-satunya malahan membuat hidup adiknya itu menderita. Baz sungguh membenci dirinya sendiri saat ini.
Tidak ada yang memperhatikan, jika selama dia duduk di sana, berulang kali ia menyeka matanya. Air mata penyesalannya, air mata dari rasa bersalahnya. Ia ingat Rose adik dari Victor. Bagaimana bisa ia melakukan hal kejam dengan menjadikan wanita itu sebagai pelampiasannya. Sedangkan ia sendiri memiliki adik perempuan yang sangat ia sayang.
Dimana letak hati nuraninya saat itu?! Hati Baz benar-benar kacau. Ia jadi membayangkan bagaimana jika Bella yang berada di posisi Rose, bagaimana Bella melalui hari-hari menyedihkan seperti yang Rose alami?! Bukan tentang bagaimana perasaan Bella, tapi bagaimana dengan perasaannya sendiri jika mengetahui adiknya telah melalui masa-masa berat sendirian?! Tentu hancur bukan, mungkin itu yang telah Victor alami sebelumnya. Dan kenyataan ini, makin membuat hati Baz terluka sendiri. Banyak maaf yang ia perlukan untuk menyembuhkan hatinya yang sakit ini. Jika perlu bersujud bahkan ia rela, demi mendapatkan kata maaf itu dari orang-orang yang telah ia sakiti.
Dan untuk Tuan Ergy, ia telah memiliki perhitungannya sendiri. Nanti,,, ketika ia telah kembali ke negaranya, ia akan melakukan banyak hal. Selain menjelaskan semua hal yang ia ketahui kepada adiknya, ia juga akan membuat pembalasan atas hancurnya hidup ia beserta orang-orang yang telah terlibat sampai saat ini. Baz tidak akan berbelas kasih pada manusia kejam dan picik macam Tuan Ergy itu. Orang itu harus merasakan hal yang sama, dimana keluarganya hancur karena ulahnya sendiri.
Dan karena tenggelam dengan perasaannya itulah, Baz tak mampu menahannya sendiri. Ia memerlukan teman untuk berbagi saat ini. Karena ia berada di tempat asing, maka tak ada teman pula yang ia miliki. Maka hanya alkohol pilihannya, hingga ia pun tenggelam di dalam belasan gelas yang telah ia habiskan sendiri.
***
Club malam itu sudah hampir tutup, sudah tutup bahkan karena saat ini para karyawannya tengah membersihkan tempat itu dimana semua pengunjung juga sudah habis tak tersisa. Hanya tinggal Baz sendiri yang masih larut dalam mimpinya.
"Tuan, tuan! Bangun, Tuan! Kami sudah tutup!", seorang pegawai lelaki membangunkan Baz dengan menepuk-nepuk punggungnya.
Setelah berulang kali berusaha, akhirnya Baz memiliki kesadarannya. Meskipun hanya beberapa persen saja, tapi paling tidak ia sudah mengangkat kepalanya yang terasa berat saat ini. Ia bergumam tidak jelas sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya beberapa persen lagi.
"Tuan, lebih baik Anda pulang! Kami sudah tutup sekarang!", pegawai itu memberi peringatan dengan sopan.
"Emmh,, jam berapa sekarang?", Baz bertanya pada dirinya sendiri. Alisnya mengernyit tanda bahwa kepalanya masih pening, maka ia menyipitkan matanya untuk melihat ke arah jam tangannya dimana ia harus menundukkan kepalanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi. Dan saat ia mengedarkan pandangan dengan mata yang menyipit pun benar bahwa tempat itu sudah rapih tanpa satupun pengunjung di sana. Baz menganggukkan kepalanya yang terasa berat untuk ia bawa. Meskipun dengan susah payah, akhirnya ia bisa berdiri juga.
"Apakah Tuan baik-baik saja? Atau perlu saya panggilkan taksi untuk Anda?", pegawai itu khawatir melihat kondisi Baz yang tak cukup bagus untuk keluar sendiri dari club ini.
***
Ini sudah menjelang subuh, sang fajar pun sudah mengintip di balik langit yang masih gelap itu. Kali ini ia seperti hilang arah, entah kemana kakinya berpijak. Ia sendiri pun tidak tau. Ia ingin sekali mencari apotek untuk membeli obat pereda mabuk, tapi belum juga ia temukan tempat yang buka 24 jam itu. Pikirannya saat ini terlalu kosong untuk memikirkan hal yang lainnya. Ia hanya ingin berjalan dan terus berjalan, berharap bebannya hilang seiring langkah yang terus menyusuri.
Akhirnya ia mendudukkan diri di depan jajaran ruko yang masih tutup. Baz menopang kepalanya yang berat dengan satu tangannya. Ia melihat ke sekeliling pun ternyata ada juga beberapa pengemis dan orang terlantar lainnya yang tertidur di sana. Ia menemukan sebuah kardus tak terpakai. Ia buka lalu ia gunakan sebagai alas untuk merebahkan dirinya.
Niatannya sebentar saja sambil berusaha menghilangkan peningnya. Namun ternyata hari sudah terang saat ia dibangunkan secara paksa oleh beberapa orang yang terlihat seperti preman. Ia menyapu pandangannya, dan benar saja, semua pengemis yang tadi tidur di sekelilingnya sudah terbangun dan pergi entah kemana. Kini hanya tinggal dirinya seorang dan beberapa orang berkerumun di atas kepalanya.
"Bangun!", bentak salah satu di antaranya seraya melayangkan satu tendangan ke arah tubuhnya.
Baz terkesiap, ia segera berdiri sambil mengumpulkan kesadarannya untuk sepenuhnya pulih meski sampai saat ini kepalanya masih terasa berdenyut.
Melihat penampilan Baz yang seperti orang berada, maka orang-orang itu berusaha untuk menggeledah tubuh Baz untuk mencari benda berharga apa yang bisa mereka ambil. Meski kepalanya masih pening, tapi ia masih bisa melawan. Sebagai ketua geng mafia di negaranya, hanya menghadapi tikus-tikus jalanan seperti ini bukanlah masalah besar baginya.
Baz melawan. Saat ada salah satu di antara mereka mulai meraba tubuhnya, Baz melayangkan satu tinju kepadanya hingga orang itu tersungkur ke tanah. Melihat temannya dihajar, yang lainnya pun ikut melawan. Ini tidak adil sebenarnya dalam hal jumlah, lima banding satu. Setelah bunyi-bunyian yang ramai, mereka semua tumbang oleh Baz sendirian.
Merasakan kepalanya yang masih sakit efek dari mabuknya yang terlalu parah semalam. Ia memilih untuk segera beranjak dari sana. Tapi siapa sangka jika salah satu orang-orang itu bangun dan memegang pisau lipat di tangannya. Baz kurang gesit untuk menghindari benda tajam yang menuju ke arahnya tersebut. Lengannya terluka cukup dalam, tapi ia masih bisa menghajar orang itu lagi sampai pingsan.
"Hanya permainan kecil saja!", ucapnya santai seraya beranjak pergi dari sana.
***
Pria itu berjalan lagi, wajahnya menjadi lebih pucat sekarang. Kepalanya masih pening, ditambah darah yang terus mengalir dari tangannya turun ke bawah hingga rembes ke pakaian yang ia kenakan. Entah sudah mati rasa atau sakit yang ia rasa tidak seberapa dengan sakit di hatinya. Baz mengabaikan luka di lengannya yang menganga.
Akhirnya pria itu tumbang juga tepat di dekat halte bus yang ramai. Orang-orang mengerumuninya. Hanya melihat, namun tak ada yang menolongnya. Mungkin mereka tidak berani atau tidak mau ikut campur urusan orang yang mereka tidak kenal. Tapi,, ada satu orang yang tergerak hati nuraninya.
Dia adalah seorang wanita. Wanita itu sempat dicegah oleh orang yang dikenalnya. Namun, ia meyakinkan orang itu bahwa nyawa orang yang pingsan ini lebih penting sekarang. Toh tujuan mereka adalah sama. Dan Baz pun dibawa ke rumah sakit oleh wanita itu dengan menggunakan mobilnya.