
Mereka masih sibuk dengan rasa canggung mereka masing-masing. Yang satu masih sibuk garuk-garuk kepala, yang satu lagi masih bingung harus berbuat apa. Hingga tiba-tiba seorang pria menabrak Rose yang berada di sebelahnya.
"Maaf, Nona! Maaf! Sungguh aku tidak sengaja!", tapi pria itu nampak seperti sengaja melakukan hal itu. Karena saat ini dengan lancang tangannya tengah mengelus-elus bahu Rose dengan tatapan laparnya. Mencari kesempatan di dalam kesempitan rupanya. Sedangkan Rose terdiam linglung tak mengerti dengan situasi yang ada.
Ben yang melihat hal itu pun menjadi hilang kesabaran. Ia merapatkan giginya seraya menggeram marah. Langsung saja pria itu menyela di antara keduanya, sehingga otomatis tangan pria yang tadi menabrak Rose terlepas ke udara. Dan secara impulsif, Ben mendekap pinggang Rose begitu eratnya.
"Apa yang kau lakukan, Tuan?", bisik Rose pelan sambil merapatkan giginya menahan geram. Yang Rose pikirkan justru Ben yang sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan rupanya.
"Diam dan ikuti saja!", balas Ben dengan tatapan tajamnya. Ia juga berbisik sambil merapatkan giginya, tak sabar untuk memberi pelajaran kepada pria barusan.
"Ayo sayang, kita mulai memilih bahan-bahannya! Hari sudah semakin siang, kan! Tadi kau bilang akan memasak makan siang untukku. Tidak perlu berlama-lama di sini meladeni ulat bulu yang membuat orang menjadi gatal!", ucap Ben dengan nada yang dibuat dengan begitu mesranya. Tapi diakhir kalimatnya jelas Ben memberi tekanan untuk pria di hadapannya saat ini.
Si pria merasa kesal dengan ucapan yang Ben keluarkan. Sangat jelas bahwa Ben tengah menyindirnya. Apalagi si pria dikatakan sebagai ulat bulu, sebenarnya siapa yang pengganggu. Bagi pria itu Ben lah yang pengganggu, karena telah merusak rencananya untuk mendekati Rose tentunya.
"Berani menatap pria itu lagi, aku akan patahkan pinggangmu!", Ben sedikit meremas pinggang wanita itu sebagai ancaman.
Rose masih wanita normal tentunya. Mendapat perlakuan seperti itu jelas membuatnya merasa kepanasan lagi. Rose wajahnya kembali memerah, tapi ia masih harus menyempatkan diri untuk memperingati Tuan ini tentang perlakuannya ini terhadapnya.
"Tapi kau malah seperti yang mengambil kesempatan di dalam kesempitan, Tuan!", gertak Rose sambil berbisik. Tangannya ia tempatkan dia atas tangan Ben yang berada di pinggangnya, lalu ia juga meremas tangan Ben itu. Ia memperingatkan pria itu bahwa yang dilakukannya adalah tidak ada bedanya.
"Hisshh!", Ben mulai tak sabar karena pikiran mereka tak sejalan. Sedangkan waktu mereka sudah tidak banyak lagi menjelang waktu makan siang.
"Ayo, sayang!", kali ini Ben memutuskan untuk menggenggam tangan Rose dan sedikit menariknya. Wanita itu pun pasrah terbawa dengan keranjang di tangannya. Tapi sejenak ia melirik ke arah pria itu yang jelas-jelas sedang memberi senyuman menggoda ke arahnya.
Oh, dia telah salah paham kepada Tuan ini rupanya. Benar, ia telah melihat sendiri pria yang tadi menabraknya itu sama saja dengan pria-pria lainnya yang menatap dirinya dengan tatapan lapar. Kalau begitu kali ini Rose juga harus beraksi rupanya. Ia membalas genggaman tangan Ben sembari memberikan senyuman hangat ke arah pria yang jika dilihat dari depan tengah mengernyitkan alisnya.
"Dia buaya!", bisik Rose pelan sambil merapatkan giginya lagi supaya bisa tetap mempertahankan senyumannya. Rose seakan mengerti arti tatapan Ben kali ini. Maka buru-buru ia menjelaskan tentang pria itu tadi.
"Baiklah, anak pintar!", Ben mengusap-usap kepala Rose dengan penuh kasih sayang, tapi itu juga jika dilihat dari belakang. Sesungguhnya keduanya kini tengah saling melemparkan tatapan tajam penuh permusuhan. Ekor mata Ben memperhatikan si pria tadi yang sepertinya sudah menyerah dengan usahanya. Ben pun menyeringai puas, kerja kerasnya ternyata berhasil.
Beberapa langkah mereka lalui masih sambil berpegangan tangan. Hampir semua pengunjung melihat ke arah mereka dengan rasa iri di dalam hatinya. Bagaimana bisa Tuhan begitu adil pada keduanya, pasangan dengan wajah rupawan satu sama lainnya. Yang satu cantik menawan, yang satunya lagi tampan nan memukau. Sadar akan tatapan-tatapan itu, Rose dan Ben pun melepaskan genggaman tangan mereka dengan cepat sambil canggung.
"Lihatlah, pasangan kekasih itu membuatku iri saja!", salah satu ibu-ibu memberikan komentarnya dan terdengar di telinga Rose.
"Hehe,,, dia bukan kekasihku, Bu!", Rose menjelaskan kepada wanita-wanita itu dengan senyuman yang terpaksa.
"Akui saja Nona jika pria itu memanglah kekasihmu! Ah, anak muda jaman sekarang selalu malu-malu begini", mereka menertawai Rose pada akhirnya.
"uhukk! uhukk!", akibatnya Rose menjadi tersedak sendiri mendengar ucapan itu. Bahkan wajahnya sampai dibuat memerah seperti ini lagi.
"Ya ampun, rasanya aku ingin tenggelam di dalam tumpukan tomat ini saja!", batin Rose sambil melihat ke arah gunugan tomat di keranjang besar.
Jelas saja, warna pipinya dan juga warna tomat sepertinya sama. Mungkin akan tersamarkan di sana. Rose berkhayal sendiri sambil terus berjalan mengekori Ben yang lebih dulu berjalan di depannya.
"Hissh! Untuk apa juga aku membayangkan bersama dengan dirinya! Bisa mati muda aku jika bersama pria seram seperti Tuan itu!", tambahnya lagi sambil bergidik ngeri.
"Apa saja yang akan kita beli?", suara Ben di depan benar-benar mengakhiri lamunannya. Pria itu bertanya dengan nada tidak sabaran, membuat Rose kesal saja. Ia mencibirkan bibirnya di belakang sebelum menjawab pertanyaan yang Ben lontarkan.
"Tidak banyak! Hanya beberapa sayuran, daging dan bumbu lainnya!", jawab Rose santai sambil memilih beberapa sayuran segar di hadapannya.
"Lakukan dengan cepat!", perintah Ben dingin dan Rose masih bisa merasakan aura kejamnya.
"Iya, iya!", jawab Rose ketus. Hal itu juga belum tentu menjadikan Rose takut untuk meladeninya.
Bukan maksud Ben tidak sabar atau entah apapun yang Rose pikirkan tentangnya. Ben sangat yakin jika wanita itu pasti selalu mencibirnya di belakang jika sedang kesal. Hanya saja Ben merasa ada beberapa mata yang tengah memperhatikan mereka dengan cara yang berbeda. Seperti tatapan memangsa. Entahlah, tapi Ben merasa firasat buruknya akan menjadi nyata dalam waktu yang tak lama lagi.
"Hey Tuan, aku ingin bertanya! Kenapa kau sehari-hari selalu memakai topi koboimu? Apakah kau tidak gerah? Bukankah itu menjadikan kau tampak sangat berbeda", Rose terus mengeluarkan suara.
"Diam!", ucap Ben pelan sambil merapatkan tubuhnya dengan tubuh Rose dari belakang. Seakan-akan pria itu tengah memeluknya dari belakang.
"Diam! Aku merasa seseorang sedang mengawasi kita. Dan aku peringatkan kepadamu, ini untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya, jangan pernah bahas tentang topiku. Karena itu juga merupakan salah satu identitasku. Mereka akan langsung mengenali aku jika aku memakai topi itu keluar. Dan itu akan berbahaya untukmu juga", jelas Ben pelan sambil berbisik disamping wajahnya.
"Oke, baiklah aku berjanji tak akan membahasnya lagi. Tapi mereka itu siapa? Apa mereka musuh-musuh mu?", tanya Rose begitu polos.
"Ya, dan juga kakakmu!", jawab Ben tenang.
"Kakak?!", Rose kehilangan kendali dengan suaranya karena terlalu terkejut.
"Ssttshh! Pelankan suaramu!", Ben memperingatinya.
"Tapi kakak sudah lama keluar dari tempat kalian, kan? Bagaimana bisa kakak masih memiliki musush?", kali ini Rose sudah memelankan lagi suaranya.
"Musuh lama kakakmu sepertinya ingin membalas dendam terkait tugas kakakmu yang terakhir kali!", jawab Ben masih dengan suara pelannya.
"Bagaimana bisa?!", Rose masih tidak terima dengan kenyataan yang ada. Rumit sekali kehidupan kakaknya itu. Di saat sedang sakit parah seperti ini, kakaknya itu masih juga diburu musuh lamanya. Rose makin prihatin dengan situasi yang kakaknya itu hadapi.
"Sudah jangan banyak bertanya! Lakukan saja dengan cepat, lalu kita segera pergi dari sini!", Ben hanya meminta Rose untuk segera mempercepat kegiatan berbelanjanya karena situasinya belum bisa ditebak saat ini.
"Waahh! Lihatlah pah, pasangan itu mesra sekali ya!", celetuk salah satu pengunjung juga saat melewati mereka.
Ben dan Rose jelas tau siapa yang sedang dibicarakan. Maka dari itu, Ben segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh Rose dengan rasa canggung yang luar biasa.
"Ayo cepat belanjanya!", pria itu menutupi rasa canggungnya dengan memarahi Rose jadinya. Ia kembali berjalan mendahului Rose.
"Hey, tunggu Tuan!", akhirnya ia berlari kecil di belakang Ben sambil mengumpat kesal.
Setelah Rose dan Ben agak jauh dari tempat semula mereka menemukan beberapa sayuran segar, seorang pria misterius bertopi menyeringai puas sambil menundukkan kepalanya.
"Jadi itu benar kau?! Sebuah kehormatan bisa bertemu langsung dengan Ketua Geng Harimau Putih! Heh! Tapi nasib baikmu tak akan lama. Karena kini kau sedang sendirian tanpa anak buahmu yang lainnya", ucap pria itu dalam hati.
Matanya menatap ke depan, terlihat kosong namun tetap tajam. Dan bibirnya itu, saat ini benar-benar tengah mengeluarkan seringainya.
-
-
-
-
-
baca juga ya novel perdana aku yang judulnya
๐นwanita pertama presdir ๐น
karena dari sana kisahnya Ben dan Rose dimulai. Dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya Ben dan Rose di sini
oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐
jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya ๐
love u teman-teman ๐
keep strong and healthy ya ๐ฅฐ