Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Tertimpa tangga



"Yaaaaa!", dan dahan itu pun benar-benar patah. Rose yang belum siap dengan apa yang akan terjadi pun berteriak. Ia terkejut, pasrah dan juga panik saat ini karena tubuhnya mulai terjun bebas ke bawah. Paling-paling setelah ini ia akan masuk rumah sakit.


Melihat hal itu, Victor dengan sigap langsung menjalankan kursi rodanya ke arah dimana kira-kira Rose akan mendaratkan tubuhnya. Mungkin dengan begini ia bisa menangkap tubuh adiknya itu di pangkuannya.


"Aku pasrah! Aku pasrah!", Rose bergumam pasrah sambil memejamkan mata kuat-kuat kala dirinya sedang terjun bebas.


"Mengapa pasrah?", suara seorang pria memasuki gendang telinganya.


Sejenak ia tersentak. Bingung dengan situasi macam apa ini?! Bukankah dirinya sedang terjatuh dari dahan paling tinggi?! Apa jangan-jangan itu suara malaikat pencabut nyawa yang akan menjemputnya?! Mengapa suaranya terdengar seram sekali?!


Matanya yang tertutup rapat pun ia buka sebelah. Sangat sedikit bermaksud untuk mengintip.


Dan yang ia lihat pertama adalah penampakan dada bidang seorang pria. Dikarenakan kancing kemejanya yang sengaja dibuka.


"Waahh!", Rose hilang akal dan tanpa sadar menyentuh benda yang lebar dan keras itu dengan ujung jarinya.


"Apa yang kau lakukan?!", seperti terkena setrum, ujung jari wanita itu terkejut. Ia kemudian menarik jari-jari nakalnya yang terulur sambil berusaha menatap ke arah sumber suara yang berasal dari atas wajahnya.


"Tu,, Tuan! Hehe,,,,", akhirnya Rose tau milik siapa dada bidang yang ia sentuh barusan. Pantas saja ia seperti mengenal benda keras itu.


Uuppss!!! Tuan seram?? Ada Tuan seramnya sekarang?? Bukankah orang itu sedang keluar tadi?! Lalu sedang apa dia di sini?!


Bukan,, bukan,,, yang benar adalah mengapa saat ini ia berada di dalam gendongan pria itu?! Tadi itu ia sedang terjatuh dari dahan yang paling tinggi. Lalu harusnya kan saat ini ia terjatuh, dan mungkin saja tubuhnya sudah menjadi remuk saat ini. Kepala Rose bergerak ke atas dan ke bawah menilai situasi.


"Ahh,,, ternyata aku selamat!", wanita itu mengelus dadanya merasa lega. Dirinya saat ini masih mengambang di atas tanah lantaran ia berhasil ditangkap oleh Tuan seramnya itu. Dan yang paling membuatnya senang adalah, tangan yang satunya masih berhasil memeluk mangga incarannya dengan penuh kasih sayang.


# FLASHBACK ON


Tadi,,, begitu Ben sampai, ia merasa rumah itu terlalu sepi. Tak ada siapa pun menyambutnya di dalam rumah itu. Tapi kemudian telinganya menangkap suara keramaian dari arah halaman belakang.


Kakinya menjelajah ke arah sana. Dan ia segera mempercepat langkahnya ketika matanya langsung disajikan pemandangan yang luar biasa. Rose sedang berdiri di atas sebuah dahan pohon yang tidak terlalu kokoh dengan jarak beberapa meter dari atas tanah.


Dan yang lebih membuat jantungnya berdetak tak karuan adalah suara retakan dahan itu yang sampai ke telinganya. Dan lagi, yang berusaha menyelamatkannya adalah dua orang yang tak berdaya. Yang satu pria paruh baya dengan sedikit kekuatan. Dan yang satu lagi adalah kakaknya yang sedang sakit dan menggunakan kursi roda. Haduh!! Sungguh Ben ingin menggelengkan kepalanya.


Pria bertopi koboi itu segera menyingkirkan Victor dengan kursi rodanya. Tidak mungkin juga dengan keadaan pria itu yang lemah bisa menahan bobot adiknya yang akan jatuh itu. Hingga akhirnya pria itu pun bisa menangkap Rose di waktu yang tepat. Dan berhasil menghindari patahan dahan itu.


# FLASHBACK OFF


"Ya, kau selamat dari dahan pohon itu. Tapi kau tidak akan selamat dari hukumanku!", segera Ben mengangkat tubuh Rose untuk ia bawa di pundaknya. Mengangkat wanita itu seperti saat mereka pertama bertemu. Ben mengangkat Rose seperti sebuah karung beras.


Siapa suruh wanita ini membuat dirinya hampir mati karena jantungan?! Jika dirinya tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi pada wanita itu dan juga kakaknya. Dengan kondisi fisik teman lamanya itu yang lemah, menurut penilaian Ben, Victor tak akan mampu menahan beban yang tiba-tiba terjatuh dari ketinggian itu.


Hah! Ben menghela nafasnya kasar. Baiklah, itu sudah berlalu! Yang terpenting semuanya selamat dan baik-baik saja. Tugasnya saat ini adalah memberikan hukuman atas tindakan konyol wanita itu.


Wanita itu tidak bisa membayangkan hukuman apa yang akan Tuan seramnya itu berikan padanya. Ia sangat tau bagaimana sifat orang itu jika sudah marah. Tidak,, Rose tidak mau dihukum dengan cara yang ia sendiri tidak tau bagaimana. Pasalnya Tuan seramnya itu juga sulit ditebak apa jalan pikirannya.


"Ya, benar! Hukum saja dia!", Victor berbicara setelah bernafas lega. Ia mengelus dadanya, beruntung karena adiknya itu bisa selamat dari bahaya. Tapi mengenai kelakuan adiknya ini, Victor merasa tidak dapat memberikan toleransi. Karena ulah Rose itu, semua orang hampir dibuat jantungan olehnya.


"Kakak! Aku ini masih adikmu, kan?! Kenapa kau tega sekali!", sang adik pun protes di belakang punggung Ben. Dimana kakaknya yang selalu menyayanginya itu?! Saat ini ia malahan diserahkan kepada raja iblis ini begitu saja. Apakah kakaknya itu tidak mengkhawatirkan adiknya sama sekali?! Huh!


"Tidak! Saat ini kau bukan adikku! Ayo Paman Alex, kita masuk ke dalam!", dengan wajah acuhnya Victor mulai menjalankan kursi rodanya dibantu oleh Paman Alex di belakang.


"Kakak!", seru Rose tidak terima.


"Sudah diam! Sekarang waktunya menghukum dirimu!", Ben memutar tubuhnya untuk berjalan mengekori Victor.


"Tidak,, tidak, Tuan! Aku benar-benar berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Jadi sekarang tolong turunkan aku dulu, ya!", Rose memohon sambil meronta-ronta.


Tapi kakinya yang terus menendang tak sengaja mengenai tangga lipat yang masih berdiri kokoh di dekat pohon mangga itu. Tapi tendangan kakinya seperti memiliki kekuatan yang cukup untuk membuat benda itu goyah.


Tangga panjang itu mulai bergoyang ke kanan dan ke kiri. Tapi semua orang tak ada yang menyadarinya. Termasuk Rose yang kepalanya berada di barisan paling belakang di antara mereka semua. Orang-orang itu hanya sibuk melakukan langkah mereka.


Tangga panjang itu bergoyang makin kencang. Rose yang masih berusaha memohon untuk diturunkan pun akhirnya bisa melihat itu. Matanya melebar menatap benda yang mulai condong ke arah mereka itu. Bibirnya terlalu kaku atas keterkejutannya saat ini. Ia tak dapat menyuarakan informasi ini pada mereka semua.


ddakk


Hingga akhirnya, tangga itu mengenai kepala Ben lalu terjatuh ke tanah. Victor dan Paman Alex yang mendengar suara benturan itu pun segera menolehkan kepalanya.


"Ben!".


"Tuan!".


"Aku tidak apa-apa!", tapi bisa-bisanya pria eksentrik itu masih bisa tersenyum kepada mereka yang otomatis memasang wajah paniknya.


Rose segera melompat ke tanah agar bisa segera melihat kondisi Tuan seramnya itu saat ini.


"Tuan, kau berdarah!", wanita itu menyentuh cairan merah yang menetes di dekat matanya. Wajah Rose langsung berubah khawatir luar biasa.


"Haha! Darah! Ini bukan apa-apa! Tenang saja!", pria itu juga menyentuh bagian kepalanya yang kini terasa basah. Namun pria itu masih saja bisa menguarkan tawanya.


hap


Akhirnya pria eksentrik itu tumbang juga. Tapi untungnya Rose masih berusaha menahan tubuh pria itu agar tidak jatuh ke tanah.