Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Setangkai lili putih



"Bisakah anda menenangkan diri dulu, Nona!", pinta Relly tiba-tiba. Ia tak tahan melihat tuannya disalahpahami. Karena ia tau betul alasan apa mereka datang ke sini. Tapi ia tidak tau entah kenapa tiba-tiba tuannya itu malah memprovokasi Rose.


Rose diam tak menjawab dengan sepatah kata pun. Ia hanya menoleh perlahan ke arah Relly sambil melempar tatapan tajamnya. Ia ingin berkata baiklah, namun egonya yang sedang marah ini menahan mulutnya untuk berbicara. Tapi dari diamnya, Relly paham bahwa wanita ini akan mendengarkan penjelasannya.


"Kakak anda adalah teman lama Tuan Ben saat kakak anda masih bergabung dengan geng mafia kami. Tapi sudah beberapa tahun, bahkan sangat lama mungkin, Tuan Victor meninggalkan geng mafia kami dan memilih kembali ke negara kalian dengan alasan akan berkumpul dengan keluarga. Tapi beberapa hari yang lalu, Tuan Ben tiba-tiba dihubungi oleh kakak anda dan meminta Tuan untuk bertemu dengannya", Relly mengambil nafas sejenak.


"Apakah kakakku ada di negara ini?", tanya Rose hati-hati mencoba menerka maksud dari penjelasan Relly.


"Benar, kakak anda berada di negara ini, bahkan tinggal tak jauh dari sini. Tapi yang perlu anda ketahui adalah bahwa kakak anda sedang mengidap penyakit parah. Tuan Victor mengidap leukimia sejak lama, tapi dia merahasiakan penyakitnya dari semua orang. Hingga ia menghubungi Tuan Ben dan memintanya untuk datang. Kakak anda mengajukan permintaan pada Tuan Ben untuk menemukan anda dan mempertemukan anda dengannya. Tuan Ben dan kakak anda berteman dekat sejak lama, jadi tidak mungkin Tuan Ben akan menyakiti kakak anda", Relly mengakhiri penjelasannya dengan penekanan bahwa Ben tak berniat buruk kepada Rose. Ben hanya ingin membantu memenuhi permintaan terakhir Victor.


"Leukimia? Sejak lama?", ucap Rose lirih dengan nada yang begitu menyakitkan. Matanya sudah terasa panas hingga menggenang air mata di sana.


"Jangan-jangan saat kakak kembali dulu, sebenarnya kakak sudah tau akan penyakitnya. Lalu kakak lebih memilih untuk mengasingkan diri supaya tak menjadi beban untuk kami. Aku sangat tau kakak, ia selalu menyembunyikan masalahnya sendiri. Ya Tuhan, jadi selama ini kakak sudah menderita sendirian", Rose bersedih dalam hati.


Wanita itu makin menyesali saat-saat dimana kakaknya berpamitan untuk pergi dan ia memilih untuk tidak mengikuti kakaknya. Karena Rose pikir, di sana adalah rumahnya, masih banyak kenangan tentang ibunya yang tak dapat ia tinggalkan begitu saja. Tapi setelah mengetahui kenyataan ini, dadanya seperti dihujam batu besar. Kakaknya menanggung derita ini sendiri, selama bertahun-tahun dan ini bukan penyakit biasa seperti yang lainnya. Entah tinggal berapa lama lagi waktu yang kakaknya miliki, kenyataan itu malah membuat hatinya makin teriris.


Ben sejenak menatap Rose yang tengah duduk dengan kepala tertunduk lemas. Wajahnya acuh, namun hatinya sedikit mengiba dengan situasi yang wanita itu hadapi saat ini. Sebelum wanita itu mengangkat wajahnya sehingga tatapan mereka bertemu, Ben kembali menoleh ke arah lain dengan sikap acuhnya. Tapi sebelum itu ia memberi isyarat pada Relly untuk tidak meneruskan kembali penjelasan yang hanya akan menyakiti hati wanita itu.


"Baiklah, aku mengerti!", jawab Rose menahan kesedihannya yang belum membuncah karena ia berhasil menekannya.


"Tapi tunggu dulu! Tadi dia bilang apa? Geng mafia? Jadi kakak dan mereka adalah seorang mafia? Lupakan, maksudnya mereka ini adalah anggota mafia! Astaga apa yang aku lakukan tadi. Aku telah membentak seorang mafia. Habislah sudah hidupku. Pantas saja wajahnya terlihat sangat kejam!", gumam Rose dalam hati.


Rose meringis membayangkan betapa seramnya orang yang tengah dia hadapi saat ini. Ia tak sanggup mengangkat wajahnya kini, bukan lagi karena kesedihannya melainkan karena rasa takut dan khawatir perihal nasibnya yang tengah menghadapi sekelompok geng mafia.


"Jangan terlalu banyak berpikir, Nona! Kami tidak seburuk yang kau bayangkan!", ucap Ben acuh seraya melangkah pergi. Lagi-lagi ucapannya seakan tau apa yang tengah Rose pikirkan saat ini.


"Kalau begitu kami pamit dulu ,Nona!", Relly membungkuk hormat pada Ana kemudian berlalu mengekor di belakang Ben yang sudah berjalan terlebih dahulu.


"Tunggu!", teriakan itu membuat Ben dan Relly mengehentikan langkah mereka dan menoleh ke arah Rose yang sudah berdiri meskipun wajahnya masih tertunduk.


"Jadi,,, kapan aku bisa bertemu dengan kakakku?", Rose memberanikan diri mengangkat wajahnya.


"Besok aku akan menjemputmu!", jawab Ben datar kemudian melanjutkan langkahnya bersama Relly di belakangnya. Mereka mendekat ke arah mobil yang mereka tumpangi.


Rose belum selesai berbicara, namun kedua orang itu telah pergi begitu saja. Ia juga belum sempat mengucapkan maaf dan rasa terima kasihnya karena akan mempertemukan dirinya dengan kakaknya. Akhirnya Rose menyambar setangkai lili putih dari vas bunga yang berada di meja ruangan itu. Lalu ia berlari ke arah suara deru mobil yang baru saja dinyalakan.


"Tunggu!", Rose merentangkan tangannya di hadapan mobil yang akan melaju itu. Sejenak ia memegangi lututnya yang terasa lemas sambil menetralkan nafasnya yang tersengal karena dia berlari barusan.


tok! tok! tok!


Rose berjalan mendekat ke arah jendela mobil dimana Ben berada, lalu mengetuknya supaya Ben mau membuka jendela itu.


"Ini!", Rose menyerahkan setangkai lili putih yang ia pegang ke arah wajah Ben saat jendela kaca itu sudah terbuka.


"Maaf karena tadi aku sudah berperilaku tidak sopan kepada Tuan. Dan juga terima kasih karena Tuan sudah mau mengabulkan permintaan kakakku. Sekali lagi terima kasih, Tuan!", Rose membungkukkan tubuhnya dengan tangan yang menyodorkan setangkai lili putih kepada Ben.


Awalnya Ben sempat ragu dengan apa yang akan dilakukan dengan wanita itu. Tapi tiba-tiba ia merasa hangat dan terhibur dengan sikap yang Rose tunjukkan kepadanya. Masih mempertahankan wajah acuhnya, Ben mengambil bunga itu dan segera menutup jendela mobil. Lalu mobil itu pun melaju meninggalkan area villa. Ben sempat melihat melalui kaca spion, Rose yang tengah melambaikan tangan ke arah mereka dengan begitu ceria.


"Cehh!", ia tersenyum ironi sambil meletakkan bunga lili putih itu di kursi kosong di samping dirinya. Ia meletakkan bunga itu dengan sangat hati-hati.


"Apa saya perlu membuang bunga itu, Tuan?", Relly tau bahwa tuannya itu tidak pernah menyukai hal-hal manis seperti itu dari seorang wanita.


"Akan kubunuh kau!", Ben malahan mengancam dengan wajah dinginnya. Ia tak tau kenapa kali ini rasanya ia ingin menyimpan bunga ini dengan baik, bahkan jika bisa ia akan membiarkan bunga ini tumbuh di halaman rumahnya.


Okey, Relly tau apa yang harus ia lakukan. Ia hanya harus diam. Diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


***


"Hey, apakah kau baik-baik saja?", seseorang menepuk bahunya dari belakang.


"Astaga, Bibi! Mengagetkan saja!", Rose mengelus dadanya lega karena ternyata seorang manusia yang menegurnya. Bukan hantu, hiii.


"Jelas saja aku bertanya, kau masih diam di sini padahal mobil itu sudah lama pergi!", Bibi Maya memulai langkahnya masuk ke dalam villa.


"Benarkah?!", Rose memiringkan kepalanya tak percaya dengan apa yang ia lakukan. Lalu ia menyusul Bibi Maya ke dalam.


"Apa yang mereka katakan? Apa mereka akan membunuhmu? Atau mereka akan menghancurkan tempat ini?", Bibi Maya melipat kedua tangannya dan menatap Rose dengan begitu serius saat mereka sudah sampai di ruang tamu.


"Tidak! Tidak! Mereka tidak seperti itu, Bibi. Ternyata mereka orang baik!", Rose tersenyum sendiri mengingat dia sendiri juga sempat salah paham terhadap mereka.


"Baik bagaimana? Cara berpakaiannya, cara bicaranya, tatapannya, jelas-jelas bahwa mereka itu orang jahat!", Bibi Maya menekankan pandangannya.


"Hey, sepertinya Bibi terlalu banyak menonton drama. Seperti tau setiap karakter orang saja!", Ana terkekeh dengan penuturannya.


" Aku lebih tua darimu, jadi pasti aku tau!", Bibi Maya tidak mau kalah.


"Baiklah Bibi Tua, jadi apa yang Bibi tau?", Rose melebarkan deretan giginya dengan wajah tanpa dosa.


"Sekarang kau makin berani ya!", Bibi Maya mencubit gemas pipi Rose.


"Auuww sakit, Bibi!", Rose mengelus pipinya yang sakit sambil meringis kesakitan.


"Baiklah aku akan katakan!", Rose membenarkan posisi duduknya di sofa agar bisa memandangi wajah Bibi Maya.


"Mereka bertemu dengan kakakku!", seru Rose kegirangan.


Namun beda halnya dengan Bibi Maya, raut wajah kesedihan nampak jelas di matanya.


-


-


-


-


-


-


maaf ya kalo update yang ini masih sedikit-sedikit,, soalnya author masih memprioritaskan novel yang pertama, yaitu


🌹wanita pertama presdir🌹


kalian wajib baca ya, karena dari sana cerita tentang Ben dan Rose dimulai.


Jangan lupa buat kasih dukungannya di sana dan di sini ya dengan kasih like, vote sama Bu komentar kalian.. okeh 😉


terimakasih teman-teman 😊


Love u semua😘


Keep strong and healthy ya 🥰**