Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Tersiksa sepanjang malam



Pria itu meragu saat akan membuka kenop pintu kamarnya sendiri. Matanya malahan kembali teralihkan pada pintu kamar yang sedikit terbuka di seberang kamarnya. Setelah berpikir beberapa saat pun, akhirnya ia melepaskan tangannya pada pegangan pintu itu. Lalu bergerak ke arah hal yang ia pikirkan barusan.


"Cekk! Coba saja dia sedang tidur di sarang harimau, paling juga sudah jadi mangsa gratis oleh mereka!", Ben berdecak, mengomel sendiri sambil memegang kenop pintu kamar Rose yang masih terbuka.


Ia berpikir bagaimana jadinya jika wanita itu tertidur begitu saja di markasnya yang sebagian besar anggotanya adalah lelaki. Pasti wanita itu sudah dibabat oleh mereka yang matanya selalu kelaparan. Huh, memikirkan hal itu membuatnya kesal sendiri! Wanitanya tidak boleh dinikmati oleh mata siapapun, hanya boleh untuk dirinya sendiri. Jika ada yang berani, maka ia tak akan segan untuk mencongkel bola mata yang lancang itu.


"Dasar ceroboh!", mata pria itu menyipit masih belum hilang kesalnya. Ia mengumpat pada wanita yang sudah tertidur lelap itu.


Tinggal satu sentimeter lagi jarak pintu itu akan tertutup, mendadak Ben mengubah pikirannya. Karena ia memiliki tugas untuk menjaga wanitanya, maka ia akan menjaga wanita itu dari dekat. Menghindari serangan yang tiba-tiba, atau juga agar ia bisa berjaga dari mata lapar yang akan memangsa wanitanya. Jadi ia akan secara khusus menjaga Rose dari samping. Agar wanita itu selalu berada di dalam jangkauan matanya.


Katakanlah itu semua hanya alasannya. Tapi bukan masalah kan, jika saat ini ia memilih untuk menjaga wanita itu secara langsung. Toh mereka itu sepasang kekasih. Dan lagi ia tidak memikirkan apapun saat ini, selain untuk menjaga dan melindunginya. Tidak ada niat lain, benar. Ada senyum licik sebenarnya pada ekspresi wajah pria itu.


Ben masuk kamar itu dengan santainya, seakan ia sedang memasuki kamarnya sendiri. Ia tidak perlu memusingkan kakak dari wanita itu dan juga pria paruh baya di sebelahnya, yang biasanya akan selalu mengganggu momentum yang sangat berharga bagi dirinya dan juga kekasihnya.


Sambil berjalan ke arah ranjang, pria itu tersenyum puas. Ia menyeringai begitu bahagia. Ben lalu duduk di pinggir ranjang, ia membuka selimut yang menutupi sebagian besar tubuh Rose, kemudian ia mengangsur tubuh wanita itu ke samping untuk memberinya tempat. Dan dengan hati-hati ia ikut masuk ke dalam selimut itu , merebahkan diri di samping wanita yang tidak membuka matanya sama sekali.


Ben berbaring miring, menyangga kepalanya dengan satu tangan sambil memperhatikan wajah damai seseorang. Dalam tidurnya, wanita itu mengerutkan alisnya dan juga ekspresi wajahnya juga berubah galak. Pria itu sebenarnya penasaran apa yang ada di dalam mimpinya. Tapi bagaimana juga ia bertanya pada orang yang sedang tidur?!


"Hey, kau marah karena aku menyelinap ke dalam kamarmu diam-diam?!", tanya pria itu sendiri pada wanita yang masih sibuk di alam mimpinya. Ben bersuara pelan memang agar tidak membangunkannya.


Hatinya terasa hangat melihat wanita itu tidur dengan nyenyaknya. Lelaki itu hanya berharap, tidak ada lagi trauma atau kenangan pahit yang selalu menghantui mimpi dan alam bawah sadar kekasihnya itu. Mengingat hal itu hati Ben serasa diperas. Berdenyut hatinya saat mengingat Rose yang mengigau sambil menangis histeris kala itu akibat pengalaman buruk yang begitu mengena di hati dan memorinya.


Saat ini, ia hanya berharap wanita itu bisa mendapatkan kebahagiaannya. Semoga saja ia bisa selalu memberikan kebahagiaan bagi wanita itu. Harapnya dalam hati. Harapan dari seorang pria yang tak pernah banyak berharap untuk orang lain. Karena Rose istimewa, karena Rose berharga baginya, maka sekarang ia selalu memiliki harapan bagi dirinya dan juga kekasihnya itu.


"Aaaaakhhhh", tiba-tiba saja Rose berseru agak keras. Mendadak wanita itu mendudukkan dirinya.


"Hey, ada apa?!", Ben ikut bangun lalu melihat ke wajah wanita itu untuk mengetahui sesuatu.


Dan melihat mata Rose yang masih terpejam itu, jelas bahwa ia hanya sedang mengigau saja. Hati Ben menjadi lega sekarang. Karena ia sempat berpikir jika Rose mengalami mimpi buruknya lagi.


"Ayo, tidur lagi!", ajaknya dengan lembut seraya membimbing tubuh wanita itu agar mau dibaringkan kembali.


"Emmhh!", wanita itu menolak seraya menggeleng kencang. Tubuhnya pun ikut bergerak sehingga tangan Ben lepas dari pegangannya pada bahu wanita itu.


Apalagi sekarang, pikir Ben tentunya. Bukan mimpi buruk sepertinya, tapi sebenarnya mimpi apa yang membuat Rose sampai bangun dan mendadak duduk seperti ini?! Akhirnya ia memutuskan untuk diam dan memperhatikan apa yang akan dilakukan wanitai itu selanjutnya.


"Hah!", lalu Rose berseru lagi seraya menendang selimut yang sekarang menutupi setengah tubuhnya. Merasa masih belum cukup, wanita itu kembali menendang selimutnya sampai berada di bawah kakinya. Dan pria di sebelahnya saat ini masih memperhatikan, meskipun alisnya mulai berkerut dalam.


"Gerah!", wanitai itu menggerutu dalam tidurnya seraya membuka kaos yang dikenakannya sekarang. Malam ini kebetulan Rose tidur mengenakan kaos oblong dan celana pendek kesukaannya. Ia tidak terbiasa mengenakan gaun malam ataupun piyama.


"Tunggu,, tunggu,, tunggu!", Ben mencegah tangan itu bergerak ke atas lagi saat pinggang mulus wanitanya mulai terekspos.


"Apa yang kau lakukan, Rose?!", Ben sungguh menjerit di dalam hatinya. Dia ini seorang pria normal. Bahkan jika Ben menginginkan hal itu, ia tak pernah menahannya. Urusan itu mudah baginya hanya dengan menguhubungi seseorang, kemudian wanita penghibur datang dang menuntaskan apa yang diingankannya.


Tapi ini berbeda, dia sedang berhadapan dengan seorang wanita yang sudah ia cintai, namun ia memiliki penghargaan yang begitu tinggi kepada dirinya. Ben tidak akan sembarangan menyentuh wanita itu jika Rose sendiri tidak menginginkannya. Ataupun tidak mengetahuinya seperti saat ini.


Tapi jika wanita itu bergerak lebih jauh lagi, bukankah itu namanya sedang membangunkan macan tidur. Juniornya sudah bermeditasi dengan damai di bawah sana. Ia sudah berkompromi dengan juniornya untuk tidak bangun malam ini. Lalu jika begini, bagaiamana ia akan menenangkan juniornya nanti.


"Aku gerah!", usaha wanita itu keras untuk menyingkirkan tangan Ben yang menahannya. Rose tetap membuka bajunya. Hingga nampaklah tubuh indah wanita itu dengan dua buah kacamata berwarna merah muda menutupi bagian depan dadanya yang menonjol.


Rose langsung menampilkan ekspresi puasnya di tengah matanya yang masih terpejam itu. Ia melemparkan kaos yang ia kenakan tadi ke sembarang arah, tak peduli. Lalu dengan santainya wanitai itu membaringkan tubuhnya lagi. Dan melanjutkan tidurnya yang lelap dan damai dengan posisi miring menghadap ke arah Ben.


"Astaga!", reflek tangan pria itu langsung menutupi wajahnya saat Rose memiringkan tubuhnya ke arahnya. Ben tidak ingin melihat hal yang tidak seharusnya ia lihat karena kan sangat membahayakan nasib juniornya.


Tapi itu bukan pemandangan gratis yang bisa ia lihat kapan saja, bukan. Jadilah ia meregangkan jari tengah dan jari manisnya. Memberi celah untuknya agar bisa mengintip sajian indah itu.


Gila! Ini benar-benar gila! Harga dirinya sebagai ketua geng mafia yang sangat terkenal sungguh jatuh saat ini. Harga dirinya sudah jadi barang diskonan sekarang jika anak buahnaya tau apa yang dilakukannya sekarang seperti seorang penguntit. Padahal ketua geng yang sangat disegani itu hanya tinggal mengacungkan jarinya jika ia sedang menginginkan seorang wanita.


Tapi sekarang apa, bahkan ia tidak berani melihat dengan jelas tubuh molek itu meskipun orangnya saat ini sedang tertidur.


Ben merasakan luar biasa saat melihat tubuh mulus Rose yang tak tertutup apa-apa itu. Tubuhnya tidak terlalu berisi, dadanya juga tidak besar seperti wanita penghibur yang biasanya ia sewa. Mungkin karena dibarengi dengan rasa cinta, maka dari itu muncul hasrat yang menggebu untuk memilikinya. Padahal wanita itu tidak sengaja menggodanya, padahal wanita itu hanya mengigau saja. Ya, Tuhan! Apakah ini karma baginya, karena itu tidak bisa menyentuh wanita itu seusai keinginannya?!


Ben kembali merapatkan kembali kesepuluh jemari tangannya. Otaknya yang waras, yang meskipun hanya sebagian kecil yang tersisa, ia perintahkan untuk bekerja keras menenangkan semua urat syarafnya yang mulai tegang. Dan ia memerintahkan pikiran warasnya itu untuk menghentikan pikiran gilanya. Ia tidak ingin menggila malam ini. Dan hal ini membuat pria itu sangat frustasi.


Dan panggilan lirih itu membuat Ben akan menjadi benar-benar gila sebentar lagi. Suara itu terlalu merdu dan indah untuk membangkitkan pikiran gilanya yang sedang dijinakkan itu. Pikiran warasnya sedang mencoba untuk merantainya. Tapi mendengar panggilan barusan, pikiran gilanya mencoba melawan dan melepaskan rantai-rantai yang sedang mengekangnya.


"Tidak,,, tidak,,, ini tidak benar!", Ben menggeleng keras untuk menyadarkan pikirannya lagi.


Sambil memejamkan matanya dengan kuat, Ben berusaha menyingkirkan tangan Rose dari celananya. Lalu ia berniat untuk keluar saja dari kamar ini. Ia akan kembali ke kamarnya saja dan menenangkan diri. Jika makin terasa sulit, mungkin ia akan mandi air dingin.


"Tuan, jangan pergi!", tangan Ben yang tertinggal di belakang pun berhasil digapai oleh Rose. Siapa lagi Tuan yang dipanggilnya dengan nada manja seperti itu jika bukan Ben sendiri. Rose menggenggam tangan itu dengan kuat.


Di samping ranjang, Ben membuang wajahnya ke arah lain agar tidak terus menerus melihat tubuh Rose yang setengah telanjang itu. Ia memijit keningnya yang mendadak terasa pening.


"Tuan,,,", lalu wanita itu memanggil lagi. Tapi kali ini terdengar sendu dan sedih.


Hish! Jika sudah begini siapa juga yang akan tega meninggalkannya. Ben pernah melihat Rose mengigau karena mimpi buruknya. Jadi akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke sisi wanita itu lagi untuk menjaganya. Ben khawatir Rose akan mengalami mimpi buruknya lagi seperti dulu.


Tapi wanita ini sungguh telah menyiksanya. Jadilah Tuan seram itu menangis dalam hati. Menangisi diri sendiri yang tersiksa ini. Anugerah indah itu hanya bisa dinikmati oleh matanya saja.


"Jangan nakal!", Ben memukul tangannya sendiri. ia melarang dirinya sendiri untuk menggerakkan tangannya yang sudah memiliki niat jahat untuk menyentuh wanita itu dengan kurang ajarnya. Karena jika sekali saja menyentuh kulit mulus itu, pikiran gilanya yang sudah berhasil dirantai pasti akan memberontak lagi.


Sudah lima belas menit Ben berusaha keras untuk memejamkan matanya itu. Malam ini matanya terlalu nakal karena tidak menuruti perintah yang Ben berikan. Matanya terlalu asyik memindai bagian atas tubuh Rose yang terbuka itu. Ia jadi tidak berkonsentrasi untuk tertidur. Lagi pula sejak kapan tidur memerlukan konsentrasi?! Hah! Entah sudah yang ke berapa kalinya pria itu mendesah tak berdaya.


Kemudian ia memiliki cara. Ben menengadah, menutup matanya yang kurang ajar itu dengan lengan tangannya yang bebas. Karena tangan yang satunya masih digenggam oleh Rose dengan eratnya. Semestinya ia bisa berbalik, membelakangi Rose, agar ia tidak melihat hal yang tidak semestinya lagi. Dan bahkan,mungkin saja ia bisa ikut terlelap nanti.


Lalu terdengar suara tangisan yang lirih dari sebelahnya. Ben sedikit mengangkat lengannya untuk memastikan apa yang baru saja didengarnya. Benar saja, wanita itu kini menangis dalam tidurnya.


Hati pria itu yang biasanya keras seperti batu pun merasa berdenyut. Ada air mata pula yang mengalir dari mata yang terpejam itu. Oh, sungguh! Rasanya ia sangat ingin mengusir mimpi buruk yang sedang mengganggu kekasihnya itu.


"Kau hanya ku izinkan untuk menghapus air matanya saja! Tidak lebih!", pria itu pun berbicara pada tangannya sendiri. Memberi peringatan dengan mata bulat besar, agar tangannya tidak bergerak lebih dari apa yang telah Ben izinkan.


Ben pun mendesah seraya menghapus jejak air mata yang tertinggal di wajah wanita itu. Hilangnya air mata itu, ia berharap hilang juga mimpi buruk yang sedang dialami Rose saat ini.


"Tuan!" dan tiba-tiba wanita itu menyergap tubuhnya, memeluk tubuhnya dari samping dengan sangat erat. Wanita itu mungkin tidak sadar bahwa saat ini ia sedang tidak memakai pakaian. Tapi bagaimana dengan dirinya yang seorang pria normal, lalu disergap begitu saja oleh wanita yang ia cintai dan tanpa busana pula.


Benar-benar! Rantai yang membelenggu pikiran gilanya pun bergerak dengan kencang. Hampir lepas dari belenggunya. Sambil menutup mata dengan lengannya kembali, Ben berperang dengan dirinya sendiri. Sepertinya malam ini akan sangat menyiksa bagi pria itu.


***


Di negara F, tempat dimana Rose dan Victor berasal. Juga tempat yang sama dimana Baz berasal juga. Ini masih subuh, sang fajar masih mengintip malu-malu dari peraduannya.


Seorang wanita sudah begitu bersemangat setelah bangun dari tidurnya. Wanita itu segera menyiapkan segala keperluan dia dan putranya untuk perjalanan jauh dan entah sampai kapan itu. Ada dua buah koper sudah terisi penuh oleh keperluan ibu dan anak itu. Tapi entah mengapa rasanya masih kurang saja apa yang harus dibawanya nanti. Hingga akhirnya ia mengeluarkan satu koper lagi, tapi bingung harus mengisinya dengan apa. Sepertinya ia terlalu gugup sampai tidak bisa berpikir dengan benar.


"Tidak usah berlebihan! Bawa saja seperlunya. Kau bisa membelinya lagi jika ada keperluan yang kurang! Kau sudah repot membawa Bervan sendirian. Apa kau yakin tidak ingin Kakak antar?", tiba-tiba saja Baz sudah muncul di ambang pintu kamar adiknya itu, Bella, Bellena Peterson.


Matanya menatap teduh pada makhluk kecil yang masih tertidur pulas di atas ranjang. Kepalanya terlihat mungil di antara tumpukan selimut dan bantal yang masih berantakan. Lalu tatapannya melembut seraya berjalan ke arah adiknya yang tengah sibuk itu.


"Kakak memberitahuku terlalu mendadak. Jadi aku tidak memiliki persiapan sama sekali", sejenak ia menatap kakaknya. Tapi kemudian ia berkutat dengan pikirannya lagi, mengabsen apa saja barang yang sudah dibawanya.


"Tapi, Kak,,, ", sesaat gulungan pikirannya ia hentikan. Karena ada hal lain yang masih meninggalkan jejak tersendiri di dalam hatinya.


Baz menatapnya dengan polosnya. Menanti lanjutan dari ucapan apa yang akan keluar dari mulut adiknya itu. Meskipun dengan menangkap gelagat adiknya saat ini, ia sedikit tau apa yang akan sampai ke telinganya nanti.


"Tapi, Kak! Apakah nanti dia akan menerima anakku?", mata Bella berubah sendu seraya menatap ke arah putranya yang masih terlelap.


-


-


Sepeti bab sebelumnya, bab ini aku buat sebanyak 2000 kata lebih ya teman-teman ☺️


Selamat membaca teman-teman 😊


Keep strong and healthy ya semuanya🥰