
"Hey, tapi itu bajuku!", tangan Ben menggapai udara bertepatan dengan tangan Rose yang mulai melemparkan bungkusan itu ke tempat sampah.
"Hey! Apa yang kau lakukan?!", bentak Ben saking kesalnya. Setelah mengalami kejadian menyedihkan seperti tadi, umumnya seorang wanita akan menjadi sendu dan sedih. Bahkan terkadang terlihat begitu lemah. Tapi ada apa dengan wanita yang satu ini, kelakuannya makin aneh saja sejak tadi.
"Membuangnya!", sahut Rose dengan wajah tanpa dosa sambil berjalan ke arah pria yang berdiri di hadapannya.
"Kau!", geram Ben marah.
"Kau tau berapa harga baju itu?!", tambahnya lagi sambil berusaha menahan sabarnya. Sebenarnya bukan masalah harga, bahkan Ben sendiri bisa membeli pabrik pakaian itu. Hanya saja kenapa wanita itu begitu tidak bisa menghargai suatu barang. Jika tidak ingin memakainya lagi kan, bisa dibawa pulang untuk dicuci. Ben hanya ingin ia menghargai sesuatu hal saja. Seperti itu maksudnya. Hanya saja yang tersampaikan menjadi berbeda.
"Apa? Kenapa? Tuan ingin memintaku mengganti rugi atas pakaianmu yang sudah ku buang?", sahut Rose dengan berani sambil berkacak pinggang di depan Tuan itu.
"Kau benar-benar,,,, ", Ben mengetatkan rahangnya hingga terlihat jelas di sekitar pipinya. Ia tidak mengiyakan ucapan Rose karena sibuk dengan amarahnya mengenai tingkah Rose yang sudah begitu berani bertindak kepada dirinya. Baru wanita ini saja, hanya Rose seorang yang seakan sudah bosan dengan nyawanya karena berani memancing kemarahan seorang ketua geng mafia.
"Jika kau ingin minta ganti rugi, minta saja pada kakakku. Aku yakin kakakku bisa memberikan apa yang kau mau!", Rose masih berpikir jika Ben kesal karena ia belum memberikan ganti rugi karena telah membuang kaos dan sweater milik Tuan itu. Ia lalu memposisikan dirinya di samping Ben sambil memandang lurus ke arah lepas pantai di hadapannya. Sungguh indah dengan penampakan mentari yang mulai turun dari peraduannya. Hingga menimbulkan siluet jingga yang samar di hamparan lautan yang bergelombang.
"Maaf Tuan! Aku hanya bermaksud membuang kenangan pahitku barusan", ucapan Rose yang tiba-tiba membuat Ben tertegun dan memilih untuk mensejajarkan diri dengannya.
Ben menoleh ke arah Rose yang masih sibuk menikmati semilir angin pantai yang membuat pakaiannya sedikit berkibar. Juga deru ombak yang terus menghantam baik batu karang maupun hamparan pasir di depannya. Sebuah cairan bening jatuh dari ujung mata wanita berambut pirang itu. Ben bertanya-tanya, berapa banyak luka yang wanita itu derita saat ini dan sebelumnya. Pria itu menduga bahwa Rose sudah terbiasa memendam semua keluhannya sendirian.
Ben menoleh lagi ke depan. Jika Rose sedang berusaha melupakan semua kenangan pahit yang pernah di alaminya. Sedangkan Ben sibuk menerka-nerka derita apa saja yang pernah wanita itu alami sampai sejauh ini.
"Mau bermain air?", suara wanita itu otomatis membuat Ben menolehkan kepalanya sambil mengernyitkan kedua alisnya.
Apa-apaan wanita ini?! Harusnya Ben yang mengatakan hal itu duluan. Harusnya Ben yang melakukan hal itu untuk menghibur hatinya. Tapi apa yang wanita ini lakukan adalah dengan mencoba menghibur dirinya sendiri. Dia sakit sendiri, menangis sendiri, dan dia menghibur dirinya sendiri. Mungkinkah wanita ini sudah terbiasa dengan menanggung sendiri?! Lalu apa, apakah Ben harus senang atupun gelisah sekarang?! Wanita itu benar-benar membuat pikiran Ben menjadi kacau. Benny Callary, pikirannya dapat dikacaukan hanya oleh seorang wanita?! Oh, Astaga!
"Kau duluan!", setelah mendengar jawaban dari Ben, Rose segera berlari kecil ke arah depan. Ia mendekati ombak-ombak kecil yang bermain di kakinya yang telanjang.
Bersamaan dengan itu pula sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Relly mengirimkan softcopy mengenai data diri dan hasil penyelidikan mengenai Rose secara lengkap melalui email. Jarinya bergerak menscroll layar ponselnya. Ia terus membaca setiap detail yang tertulis di sana mengenai Rose.
Saat diberikan informasi mengenai Rose tempo hari, yang Ben pedulikan hanyalah dimana posisi wanita itu berada saat itu. Karena hal itu akan mempermudah dan mempersingkat urusannya dalam mencari sosok adik dari teman lamanya itu. Tapi sekarang, Ben merasa menyesal tidak membaca ini semua sejak awal. Kisah hidupnya sungguh memilukan. Keluarga tiri yang licik dan kejam, ayah yang tidak peduli dan juga teman sekolah yang ternyata adalah anak dari pria tua yang akan dinikahinya. Dan yang paling pahit adalah, ia pernah mengalami pelecehan, saat itu Rose hampir diperkosa oleh Tuan Rogh. Dan untungnya bisa melarikan diri dengan ikut menaiki kapal penangkap ikan dan terjun bebas ke lautan yang entah bagaimana dinginnya di dalam sana.
Sungguh Ben ingin bertepuk tangan untuk semua perjuangan hidup Rose yang amat terjal. Dan setelah semua yang dialaminya, termasuk dengan kasus penculikan dan pelecehannya tadi, Rose masih bisa tersenyum dan bahkan masih berusaha menyembuhkan lukanya sendiri. Sungguh hati wanita ini terbuat dari apa Ben sendiri sudah sangat penasaran dibuatnya. Iya, dia itu wanita, dimana lazimnya wanita akan begitu rapuh setelah ditempa berbagai musibah yang tidak kecil seperti itu.
Ben mulai mengingat sesuatu. Tangisan Rose tadi saat mereka masih belum pergi dari sekitar tempat Rose disekap, lalu tangisan beserta mimpi buruk yang dialaminya, Ben merasa sekarang semua itu terasa nyata dengan apa yang baru saja dibacanya, informasi tentang wanita itu. Semua rasa sakit dan pilu itu kini terasa nyata bagi diri Ben saat ini. Tapi apa yang wanita itu lakukan hingga bisa menyembuhkan lukanya sendiri?!
Tidak, bukan itu sepertinya yang lebih tepat adalah bahwa Rose sedang menahan dan menekan perasaan itu sendirian. Ia memikul perasaan hancur itu sendirian dan tidak membiarkan semua orang tau bagaimana hancurnya hati wanita itu saat ini.
Dengan sigap Ben menarik salah satu tangan Rose hingga tubuh wanita itu menghadap ke arah dirinya dan bahkan jarak mereka menjadi sangat dekat. Tatapan Ben sangat dalam dan serius, sedangkan Rose sedang menyembunyikan sesuatu hingga ia berusaha untuk memalingkan wajahnya. Rose seakan tau Ben ingin melontarkan kata-kata, maka ia memilih untuk melepaskan pegangan tangan Ben pada pergelangan tangannya. Sambil tersenyum ramah Rose menundukan tubuhnya sebentar, lalu bangun lagi seraya mencipratkan air ke wajah Ben dengan senyum jahilnya.
"Mau membalas?", senyum Rose terkembang seakan sedang menantang pria itu. Lalu ia berlari menjauh sambil sesekali menoleh ke belakang, memastikan bahwa Ben tidak bisa menangkapnya.
Ben, yang awalnya akan melakukan interogasi kepada wanita itu, kini malah melupakan tujuan awalnya. Pria itu malah tertular senyumannya. Kemudian langkahnya maju dengan sendirinya mengikuti jejak langkah kaki Rose di pasir yang basah itu.
Di bawah langit senja yang telah berubah menjadi gelap ini, kedua insan itu seakan melupakan siapa mereka dan apa yang mereka rasakan saat ini. Keduanya asik bermain hingga lupa waktu. Kini malam mulai tiba bersama bulan dan bintang yang bertebaran di sana. Rose berhenti berlari lalu memandangi lautan bintang di langit itu dengan perasaan yang mengembang di dadanya. Ia ingin sekali menutup hari ini dengan situasi yang sangat gembira.
Ben juga menghentikan langkah kakinya dan memposisikan diri di samping wanita itu. Matanya bergerak mengikuti arah dimana mata wanita itu kini tengah berada.
-
-
-
-
-
-
baca juga ya novel perdana aku yang judulnya
๐นwanita pertama presdir ๐น
karena dari sana kisahnya ben dan rose dimulai. dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya ben dan rose di sini
oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐
**jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya ๐
love u teman-teman ๐
keep strong and healthy ya ๐ฅฐ