Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Memperbaiki mood



Kilas balik dari sebuah peperangan juga sebuah pengintaian telah berakhir. Kini gulita yang menyelimuti mata mereka. Ben masih terjerembab dalam alam bawah sadarnya. Lelahnya membawa pria itu tenggelam dalam lelapnya di atas sofa. Padahal waktu sudah menyentuh mentari terik di siang ini, namun lelaki itu seolah tak peduli. Kelopak matanya saling menempel erat seperti enggan ia melepaskan tautan keduanya.


🎶🎶🎶🎶🎶


Sebuah perpaduan nada-nada, yang telah menjadi satu kesatuan melodi indah terus bernyanyi di atas meja kerja, tak jauh dari dirinya berada. Suara itu begitu keras kepala terus berbunyi nyaring sehingga mengganggu indera pendengarannya. Nyanyian itu terus mengusiknya tak peduli jika dirinya lelah dan tengah tertidur lelap saat ini.


Bulu mata nan lentik bergerak-gerak bagai gelombang ombak di tepi pantai. Amat nikmat untuk dipandangi. Kelopak mata pria itu mulai terbuka perlahan di bawah tekanan silaunya mentari. Sinarnya menelusup dengan paksa lewat sela-sela gorden yang masih menutupi ruangan itu. Meski di luar sudah terang benderang, namun di dalam sini masih redup dan temaram suasananya. Masih amat nyaman untuk seseorang melanjutkan lelapnya lagi.


"Cekk!", pria itu berdecak di tengah peningnya lantaran matanya harus dibuka secara paksa. Ia kembali memejamkan matanya dengan erat sampai tengah alisnya berkerut dalam. Masih perlu masa bagi dirinya untuk menarik keseluruhan nyawa yang sudah berterbangan di alam bawah sadarnya tadi.


Sambil mendudukkan diri, Ben mengambil topi koboinya di atas meja untuk ia pakai. Beberapa kali ia masih menguap sambil melirik kesal pada benda pipih yang amat berisik di atas meja kerjanya itu. Sambil membawa langkahnya, ia mengusap dengan kasar matanya yang masih terasa berat dan lengket untuk ia buka. Siapa yang sudah berani mengganggu istirahatnya kali ini?!


"Victor?!", gumamnya tidak yakin dengan suara pelan saat melihat nama yang tertera di sana. Ia angkat ponselnya yang sudah berbaring sendirian sejak mereka datang subuh tadi.


"Ya!", sapanya ketika ia sudah meletakkan benda pipih itu di telinganya.


"Ben, Rose menghilang!", lalu disambut dengan kabar tidak menyenangkan ini. Pria bertopi koboi itu langsung mengembuskan nafasnya dengan cepat dan kasar, seperti dengusan seekor naga. Berbahaya dan membakar.


"Bagaimana itu bisa terjadi? Bukannya masih ada beberapa orangku yang berjaga di sekitar rumahmu!", Ben memijit keningnya. Sakit kepala yang ia rasakan akibat belum puas lelapnya, kini ditumpuk lagi dengan berita tidak mengenakkan hati. Kemana gerangan perginya wanita itu?! Gemuruh khawatir segera menggelegar di dadanya.


"Entahlah! Tiba-tiba anak itu menghilang tanpa meninggalkan kabar kepada kami. Orang rumah juga tidak ada satu pun yang melihat kepergiannya! Nomor ponselnya juga tidak bisa dihubungi sejak tadi", jelas Victor yang sekilas terdengar tenang, namun jika dijelas lagi dirinya begitu mengkhawatirkan adiknya itu.


"Apakah urusanmu sudah selesai?", tanyanya lagi, ingat jika temannya itu memiliki hal penting yang harus diurus.


"Ya, kira-kira begitu! Aku akan segera mencari keberadaannya! Kau tenang dulu di rumah dan jangan membuat pergerakan apa pun. Biar aku saja yang mengerahkan semua orang-orangku!", wajah kusut yang baru bangun itu dengan ajaibnya berubah lurus seketika. Pandangan matanya yang tajam sudah kembali, pun sudah ia hunuskan ke beberapa hal yang ia lihat sambil memikirkan rencana di kepalanya.


"Aku yakin bisa mengandalkanmu, Ben! Jika sudah ada kabar segera kabari aku!", Victor tahu temannya itu pasti bisa diandalkan.


Ben masih menggenggam ponsel di tangannya. Geramnya marah sambil terus mempererat pegangannya pada benda pipih itu. Seberapa nakal sebenarnya kucing kecilnya itu?! Apakah atidka cukup dengan hanya membuatnya khawatir saja?! Mengapa sekarang dia membawa semua orang jadi mengkhawatirkan dirinya?! Namun,, apa pula sebenarnya yang terjadi?! Kemana kekasihnya itu pergi, Ben akan dengan cepat menemukan keberadaannya, juga alasan wanita itu pergi.


Ia memasuki ruangannya untuk sekadar menyegarkan diri dari segala penat dan gelisah yang kini menderanya. Masalah biang keladi dari masalah kelompoknya saja belum ia temukan. Lalu kini hadir lagi permasalahan kekasihnya yang menghilang. Awas saja! Ketika dia sudah menemukan kekasihnya, akan ia hukum dengan berat nanti! Supaya wanita itu akan selalu mengingatnya! Pria yang tengah telanjang di bawah guyuran pancuran air itu berjanji di dalam hatinya.


***


"Relly, kerahkan beberapa orang untuk menemukan keberadaan Rose! Dia baru saja menghilang!", perintahnya dengan tenang kepada asistennya itu untuk mengerahkan semua orang kepercayaannya. Pria bertopi koboi itu tengah menikmati minuman hitam yang masih mengepul asapnya bersama dengan kue keju strawberi kesukaannya. Dengan tenang ia menyantap suap demi suap sebongkah makanan manis di piring keramik itu.


"Baik, Tuan!", Relly segera mengiyakan. Namun kakinya serasa berat untuk ia angkat. Tubuhnya memaku di sana dengan sebuah ungkapan ayang saat ini tertahan di dalam hatinya.


Yang ia ketahui,, saat ini adalah situasi yang cukup genting dimana wanita yang amat berarti untuk bosnya itu sedang hilang kabar. Entah di antah berantah mana wanita itu berada saat ini. Dia yang bukan siapa-siapa saja sudah merasa panik setengah mati begitu mendengar kabar ini. Namun, bosnya ini mengapa masih bisa santai dengan makanan manis yang selalu membuat giginya menderita itu?!


Normalnya, seorang lelaki akan begitu khawatir sampai menggila ketika mengetahui kabar seperti ini. Ahh, ternyata Relly yang salah! Dia yang lupa jika bosnya ini adalah seorang manusia yang memiliki kenormalan di atas rata-rata. Relly menggaruk kepalanya dengan keras karena ia telah merasa bodoh sendiri.


"Apa masih ada yang ingin kau sampaikan?", tanya Ben dingin dengan sekali lirik.


"Tidak ada, Tuan!", pria itu pun memamerkan deretan gigi putihnya yang berbaris dengan sempurna.


"Hanya saja, ini sudah masuk makan siang! Apakah tidak sebaiknya Tuan makan makanan yang lebih berat saja daripada ini?", tanyanya meragu. Bola matanya bergerak menunjuk ke arah kue manis yang sedang bertengger di telapak tangan bosnya. Strawberry cheese cake itu sama tabunya dengan seorang kekasih bagi Ben. Jadi ia tahu bahwa ia harus berhati-hati ketika sedang membahas ke arah makanan manis itu.


"Apakah tidak sebaiknya kau tutup mulutmu saja dan lekas jalankan perintahku?!", balas Ben lebih dingin dari yang sebelumnya.


"Lagipula,, saat ini aku lebih membutuhkan ini untuk memperbaiki perasaanku! Setelah itu barulah aku bergerak sendiri mencari wanita itu! jika ada informasi terbaru, segera kau hubungi aku!", tuturnya jujur karena saat ini Ben masih menyimpan marahnya pada kekasihnya yang nakal itu. Jadi ia membutuhkan sesuatu yang manis untuk memperbaiki mood nya terlebih dahulu.


"Baik, Tuan! Baik! Aku akan segera pergi sekarang juga!", kemudian Relly benar-benar membalikkan tubuhnya untuk beranjak dari sana.