
Tentu saja hal pertama yang ingin dilakukan oleh wanita itu adalah memeluk kakaknya yang sudah sangat lama tak dijumpainya. Meski keadaan kakaknya seperti ini, meski kakaknya tak setampan dulu, meski ia tak segagah dulu, tapi pria itu masih kakaknya. Dan dia adalah pria yang memiliki ikatan darah dengannya, selain ayahnya tentunya. Tapi Rose sudah tidak menganggap orang itu. Baginya, keluarganya kini hanya tinggal kakaknya saja. Hanya Victor yang Rose punya.
Ia masih ingat betul peringatan yang Ben keluarkan tadi untuknya. Dilarang keras menangis ataupun merasa iba. Tugasnya adalah membuat kakaknya selalu tersenyum dan semangat untuk mau melakukan proses penyembuhan penyakitnya nanti. Maka dari itu Rose memilih ekspresi gembira saat berlari kecil menuju kakaknya.
"Kakaakk!", begitu seruan nyaringnya dengan senyum yang terkembang sempurna.
Seorang pria yang tengah duduk di kursi roda kemudian menoleh disusul pelayan yang berada di sampingnya. Rona kebahagiaan muncul bersamaan di wajah ketiganya. Terutama Victor, pria itu benar-benar merasa beruntung karena di sisa-sisa hidupnya ini, keinginannya bisa terkabul untuk bertemu dengan adiknya.
"Rose! Itukah dirimu, adikku?", ucap Victor seakan tak percaya. Matanya, hidungnya terasa panas. Cairan bening telah merembes dan lolos dari mata pria itu. Ia menangis haru, saking bahagianya bisa bertemu dengan adik kecilnya yang sudah bertahun-tahun tidak ia temui.
"Iya kakak, ini aku! Rose, kak!", ucap Rose antusias sambil berjongkok dan memegangi tangan kakaknya.
"Dulu kau belum sebesar ini. Bahkan belum secantik ini!", Victor mencubit gemas hidung adiknya itu. Karena dulu saat Victor memilih untuk pergi, Rose masih remaja. Adiknya ini belum menjelma menjadi wanita dewasa yang cantiknya seperti ini, menuruni kecantikan ibunya.
"Kakak tidak mau memelukku?", tanya Rose manja sambil merentangkan kedua tangannya ke atas.
"Tentu saja, kemarilah!", Victor pun telah merentangkan tangannya untuk menyambut Rose ke dalam pelukannya. Mereka berdua tersenyum bahagia, tapi ekspresi Rose sedikit berubah saat berada di pelukan kakaknya. Seperti sedang berjuang keras untuk menekan sesuatu di dalam hatinya.
Dari kejauhan Ben memandangi hal itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tak dapat melihat ekspresi tersiksa Rose saat ini karena wajahnya terhalang oleh kepala Victor disebelahnya. Tapi yang Ben lihat adalah sebuah pertemuan haru yang menghangatkan hatinya.
"Jadi begitu rasanya memiliki keluarga?", gumamnya sendiri.
"Ben! Kemarilah! Kau tak ingin ikut bergabung?!", tangan Victor melambai ke arah Ben. Ia mengajak temannya ikut mengobrol bersama dengan mereka.
"Ya!", sebenarnya ia enggan untuk melakukan hal-hal seperti itu. Hanya saja demi memandang Victor yang merupakan teman lamanya yang cukup ia segani, maka Ben mengiyakannya saja. Lagipula ada Rose di sana, mungkin tak akan jadi terlalu membosankan pikirnya.
"Ahh ya Ben, Rose! Kenalkan ini adalah kepala pelayan di rumahku, namanya Paman Alex. Semua keperluanku dia yang mengurus. Dan jika kalian membutuhkan sesuatu maka bicaralah padanya", ucap Victor pada keduanya. Dan Paman Alex pun membungkukkan badannya memberi salam dengan sopan.
"Saya Alex, anda bisa memanggil saya kapan saja!", pria paruh baya itu memperkenalkan diri.
"Hai, Paman Alex! Aku Rose!", sapa Rose ramah. Dan dibalas dengan anggukan olehnya.
"Sudah seperti pria panggilan saja!", Rose merasa geli sendiri.
Ben seakan paham dengan senyum aneh yang Rose keluarkan, langsung menatap tajam ke arahnya.
"Tidak sopan!", ucap Ben pelan namun tetap ia tujukan kepada adik temannya itu.
Rose yang mendengarnya hanya mencibirkan bibirnya ke arah pria eksentrik itu. Masa bodoh pikir Rose, asal Paman Alex tidak mengetahuinya bukan. Lalu seakan ia tak mendengar apapun, Rose memasang wajah acuh sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar taman.
"Waahh kakak!!! Di sini banyak bunga!", Rose kegirangan lalu berlarian ke arah bunga-bunga yang sedang bermekaran.
"Jangan berlari!" serunya sedikit keras sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Melihat adiknya yang begitu gembira, hati dan pikiran Victor terasa damai. Seperti mendapat stimulus khusus yang membuatnya merasa bersemangat kembali melihat senyum ceria adik kecilnya ini.
"Victor!", Ben menepuk bahu temannya itu.
"Maksud ucapanmu adalah untuk memintaku tinggal di sini, kan?", ucap Ben tajam tapi tak bermaksud menekan.
"Ayolah kawan, untuk apa juga kau tinggal di hotel itu sendirian. Relly sudah kembali ke markas, bukan! Daripada kau kesepian di gedung besar itu, lebih baik kau tinggal di sini bersama kami. Lagipula rumah ini masih cukup untuk menampung beberapa orang lagi. Ya, meskipun tak semewah hotel yang kau sewa. Tapi kurasa akan lebih baik daripada kesepian. Dan sekarang sudah ada Rose di sini, dengan kehadirannya hidup akan lebih berwarna, Ben", jelas Victor yang tak bisa menahan senyumnya sambil memandangi adiknya yang tengah hinggap ke sana kemari seperti seekor kupu-kupu.
"Dia adikmu! Lalu apa urusannya denganku?", tanya Ben sengit.
Bukannya menjawab, Victor malah terkekeh duluan. Ia selalu lucu dengan temannya yang selalu saja serius seperti itu,,, dan sejak dulu.
"Ya benar, dia adikmu! Tak ada urusannya denganku!", Ben menjawab sendiri pertanyaannya dengan wajah kaku.
"Tinggallah di sini, kawan! Tempat ini juga jauh dari keramaian. Cukup aman bagimu, aku jamin!", Victor memberikan penawaran yang sekiranya akan Ben pertimbangkan.
"Ya, aku jamin!", jawab Victor dengan santainya.
"Aku menyewa beberapa orangmu atas nama Paman Alex untuk berjaga di sekitar rumahku dengan menyamar menjadi warga sekitar. Meski aku sudah meninggalkan dunia itu sejak lama, tapi masih ada beberapa musuh yang mengintaiku. Ditambah lagi ada Rose saat ini, jadi aku menambahkan pengamanan di sekitar rumahku", Victor menjelaskan sambil memandangi adiknya yang sedang tersenyum ke arahnya sambil melambaikan tangan.
"Ceh! Banyak juga uangmu rupanya!", desis Ben tak percaya. Ia tak menyangka mantan anggota gengnya yang telah lama mengundurkan diri, sekarang malahan menyewa bekas rekan-rekannya. Pasalnya untuk menyewa orang-orang dari Geng Harimau Putih perlu memakan biaya yang tidak sedikit. Perlu menguras tabungan tentunya.
"Hey, aku sudah menabung sejak lama, sangat lama bahkan sebelum mengetahui,,, penyakitku" seruan Victor melemah di ujung kalimatnya. Matanya berubah sendu dan berkaca-kaca.
"Jangan cengeng! Itu bukan dirimu!", sindir Ben dengan suara datar tapi terdengar cukup lembut di telinga Victor.
"Ceh!", yang akhirnya membuat Victor berdecak sebal seraya tersenyum ke arah temannya.
Dari kejauhan yang terlihat adalah Rose yang tengah menikmati keindahan bunga-bunga di taman itu. Nyatanya sejak pertama ia berlari ke arah satu kuncup bunga dan menundukkan kepala, yang terlihat dari sana adalah Rose yang tengah menghirup aroma wangi yang semerbak ke seluruh penjuru taman. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah, bahwa ia langsung menumpahkan air matanya seketika. Ia sudah tak bisa menahan perasaan sedih ini. Melihat ketidakberdayaan kakaknya, membuat hati Rose sakit. Seandainya saja mereka bisa berbagi rasa sakit dan bahagia bersama-sama, pasti akan sangat menyenangkan, pikirnya. Dan setelah ini Rose berjanji, ia akan melakukan apapun demi kesembuhan kakaknya kelak.
"Siapa orangnya?", tanya Ben tiba-tiba dengan raut wajah seram beserta aura dingin yang menekan. Pertanyaan Ben mengacu pada orang-orang yang masih mengintai Victor selama ini, padahal temannya itu sudah bertahun-tahun lamanya meninggalkan dunia mereka.
"Seseorang dengan nama keluarga Peterson! Kudengar orang itu sampai memutuskan pindah ke negara ini demi untuk mencari diriku", jawab Victor dengan tenang. Tapi guratan kekhawatiran menetap pada iris bola matanya. Bukan tentang dirinya, melainkan tentang adiknya yang kini sudah bersama dengannya.
"Aku tidak peduli dengan diriku, karena umurku sudah tak banyak lagi. Tapi ini mengenai Rose. Jujur saja permintaanku ini sangat beresiko. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak mampu lagi menahan rasa rinduku pada Rose. Aku ingin Rose ada di sisiku di saat-saat terakhir hidupku", tambahnya lagi dengan suara parau. Victor menahan tangisnya.
"Berhenti bicara!", perintah Ben tegas tapi tidak terkesan galak. Pria itu tak ingin mendengar hal-hal yang membuat emosional temannya menjadi kacau.
"Seseorang dari keluarga Peterson", gumam Ben sambil berpikir.
"Apakah mungkin,,,,", ucapan Ben terhenti saat melihat kedatangan Rose. Dan Victor juga telah memberi isyarat untuk menghentikan apa yang akan ia ucapkan. Berati masalah ini akan mereka telan berdua tanpa sepengetahuan Rose sebagai adiknya. Ben paham akan hal itu.
"Baiklah! Aku akan tinggal di sini sementara", ucap Ben tiba-tiba dengan wajah datarnya. Dan kakak beradik itu memiliki ekspresi berbeda saat mendengarnya.
-
-
-
-
-
-
jangan lupa ya teman-teman buat kasih like, vote sama komentar kalian ๐
baca juga ya novel perdana aku yang judulnya
๐นwanita pertama presdir ๐น
karena dari sana kisahnya Ben dan Rose dimulai. Dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya Ben dan Rose di sini
oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐
love u teman-teman ๐
keep strong and healthy ya ๐ฅฐ