
Hari telah bergulir dan sekarang bahkan sang surya sudah nampak keagungannya. Ini sudah tengah hari, namun belum ada kabar juga dari Tuan seramnya. Rose merasakan kegelisahan di hatinya semakin menjadi. Ia pun sudah meminta bantuan kakaknya untuk mengetahui kondisi terkini pada kelompok itu, namun juga sama, masih tak ada yang bisa dihubungi.
Di samping itu, Rose telah menghubungi dokter yang biasa menangani kakaknya. Ia telah meminta untuk dijadwalkan pencocokkan sel tulang sumsum antara kakaknya dan juga Bervan. Ia juga menyampaikan pesan kakaknya untuk mempercepat proses tersebut.
Lalu saat ini yang dilakukan wanita itu adalah duduk dan berdiri, begitu berulang kali ia lakukan di halaman belakang. Ia menggigiti kuku jari tangannya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa tenang sama sekali.
Dari masa ke masa, sudah hampir satu jam Rose berperilaku seperti itu. Hatinya tidak nyaman, ia sangat takut terjadi sesuatu dengan Tuan seramnya. Kegelisahannya meningkat kala bayangan buruk melintas di pikirannya. Mungkinkah terjadi sesuatu dengan pria itu?! Sambil terus menggerogoti jari-jarinya sendiri, Rose bangkit dan berjalan mondar-mandir sampai rumput di bawah kakinya mengering.
Tidak bisa terus seperti ini! Ia akan mencoba menghubungi nomor telepon kekasihnya itu. Namun yang menjawab teleponnya malahan suara operator. Nomor pria itu masih tidak dapat dihubungi. Kegiatan menggigit kukunya pun berakhir. Rose menggenggam erat ponselnya lalu berlari mencari kakaknya.
***
Suasana keluarga kecil itu sudah lebih baik daripada kemarin. Sudah terasa hangat, bahkan sudah terlihat seperti keluarga pada umumnya. Seperti sekarang, ada Bervan yang sedang menggambar sesuatu sambil tengkurap di lantai, begitu santai seraya memainkan kedua kakinya yang ia angkat ke atas. Anak kecil itu terlihat tenang dan nyaman. Lalu di sofa, nampak Bella tengah mengupas buah dan ada kakaknya menunggu di dekatnya.
Sejenak Rose terhenyak oleh desir kehangatan keluarga itu. Suatu saat ia juga ingin mempunyai keluarga kecil yang bahagia seperti itu. Hal yang ia lihat sebenarnya hanyalah gambaran sederhana kegiatan sebuah keluarga. Namun efek dari situasi yang ada, bisa membungkam kesunyian yang selama ini melekat di dalam dirinya, perihal sebuah keluarga bahagia yang sudah sangat lama tak ia miliki.
Ah, sedikit saja, ada perasaan rindu kepada ayahnya! Tapi ia masih ingat betul bagaimana saat itu ayahnya lebih memilih ia untuk dijadikan tumbal untuk perbuatan ibu tirinya itu. Dan ketika di masa terberatnya, pria yang bisa ia andalkan itu tidak muncul batang hidungnya sama sekali. Hingga dirinya hampir hancur dan beruntung bisa melarikan diri ke sini. Jadi, luka yang membekas itu, lebih besar ia rasakan ketimbang perasaan rindunya.
"Kakak!", serunya parau, seraya menyeka air mata yang mendadak membuat matanya basah. Ia tidak ingin air matanya ini dibahas. Tidak ingin juga mengangkat masalah mengenai ayahnya itu di saat kakaknya pun tengah menggapai kebahagiaannya.
"Kau menangis?", Bella dan Victor mengangkat kepala mereka bersamaan. Bervan juga menghentikan aktifitasnya sejenak sambil mendongak ke atas. Victor melihat bulu mata adiknya itu basah, makanya ia bertanya.
"Tidak! Aku tidak menangis!", sergah Rose dengan cepat sambil berusaha membuat dirinya tenang dari kenangannya mengenai ayahnya itu.
"Baiklah, aku percaya!", Victor hanya mengangguk pelan seraya menipiskan bibirnya. Jelas sekali ia tahu jika adiknya itu sedang berbohong sekarang! Bella juga tahu, ia pun tersenyum kecil lalu melanjutkan kegiatannya.
"Kau mau apel?", ia menawari adik dari Victor itu.
Bervan mengedikkan kedua bahunya lalu berekspresi tak peduli. Jelas-jelas ia melihat tadi Bibinya itu menangis. Hah, menjadi orang dewasa sepertinya memang rumit! Mereka terlalu banyak berbohong dengan perasaan mereka sendiri! Dan menurut Bervan, lebih baik ia meneruskan gambarnya yang baru setengah jadi itu.
"Tidak, terima kasih!", bahkan melihat buah itu saja ia tidak berselera. Padahal biasanya apa saja akan masuk ke dalam mulutnya. Ia tidak terlalu pemilih dalam urusan makanan. Rose pun mendudukkan dirinya di lantai di samping keponakannya. Lalu menengadah ke wajah kakaknya itu dengan wajah sangat memohon.
"Apa?", tanya Victor acuh setelah merasa ditatap cukup lama.
"Kak, apa benar-benar tidak ada yang bisa dihubungi sama sekali?! Nomornya tidak dapat dihubungi sampai sekarang! Perasaanku tidak tenang, aku semakin merasa khawatir padanya!", ia sampaikan kegelisahan yang bersemayam di dalam hatinya saat ini.
Hah! Victor mendesah. Ia sudah mendengar keluhan dari adiknya ini berulang kali. Meskipun ia tahu keadaan yang sebenarnya di sana, jelas ia tidak akan berkata jujur kepada adiknya. Tidak ada gunanya sama sekali pula jika Rose tahu. Karena pesan terakhir yang ia dapatkan untuk tidak membiarkan Rose tahu apa pun. Yang jelas, Ben sudah berjanji untuk kembali.
"Kakak sudah mengatakannya kepadamu, kan?! Kakak juga tidak dapat mengetahui apapun! Semua orang tidak dapat dihubungi sama sekali. Mungkin mereka sedang banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Makanya mereka sibuk, jadi tidak dapat dihubungi. Lagipula kau tak perlu khawatir berlebihan seperti itu, Rose! Kakak tahu siapa itu Ben. Pria itu sangat tangguh. Dia tidak terkalahkan! Jangan ragukan kemampuannya lagi, bahkan musuh saja enggan bertemu dengannya! Sudah ya,, berhenti khawatir sekarang!", Victor menggenggam tangan Rose yang singgah di pangkuannya.
Rose menundukkan kepalanya, ia nampak berpikir sejenak. Kilas balik kejadian saat ia diculik pun muncul. Bagaimana hebatnya pria itu memang sudah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Ia tahu jika pria itu sangat hebat. Namun,, hal itu hanya merontokkan sebagian kecil kekhawatirannya. Kegelisahan yang ia miliki ini tidak seperti biasanya.
Sekilas ia memandang kakaknya. Sepertinya tidak ada gunanya juga ia terus memohon kepada kakaknya itu. Jika kakaknya tidak mau membuka mulut, maka ia akan mencari tahu sendiri informasinya. Rose ingat, jika kakaknya menempatkan beberapa orang dari kelompok itu di sekitar rumah ini. Maka ia akan mencari tahu sendiri!
"Baiklah!", desah wanita itu berpura-pura pasrah. Ia menarik tangannya dari genggaman tangan kakaknya. Kemudian ia berlalu pergi dari sana tanpa menoleh lagi.
"Kau mengetahui sesuatu, kan?", mata Victor langsung teralihkan dari punggung adiknya ke wajah Bella. Pandangan mata mereka bertemu, dan Bella bisa mengetahui itu dari sana.
***
#FLASHBACK ON
dor
dor
dor
dor
Sejujurnya Ben tidak menyangka jika pertarungan mereka akan berlangsung alot, hingga dini hari pertempuran di pelabuhan baru selesai. Ben sengaja menjebak orang-orang itu dengan hal yang sama. Jadi, ketika mereka hendak menukar kontainer milik kelompoknya, seluruh pasukan Ben langsung menyergap mereka. Tapi siapa sangka jika mereka terlalu waspada, sehingga yang mereka tangkap sebenarnya hanya warga sipil yang dibayar. Dan mereka tidak tahu pasti identitas orang yang telah membayar mereka.
Tentu saja ada pengkhianat di dalam kelompok miliknya. Setelah mengetahui siapa pengkhianat itu, Ben segera menginterogasi orang itu yang merupakan anak buahnya sendiri. Ketika orang itu tetap keras kepala dan tetap bungkam. Batas ambang kesabaran Ben telah diuji.
dor
Satu tembakan dengan cepat melesat ke kepala orang itu. Bahkan tanpa Ben melihat dengan benar, tembakan itu jatuh tepat sasaran di tengah dahinya. Orang itu pun langsung roboh dengan mata terbuka dan mengalirkan banyak darah dari kepalanya.
"Ada lagi yang ingin seperti ini?!", seru Ben dingin sambil menggerakkan mayat itu dengan kakinya. Bak iblis kejam yang berkuasa.
Suasana pun menjadi hening. Tak ada yang mampu mengeluarkan kata-katanya. Suara mereka tertahan di tenggorokan. Bukannya tidak mau menjawab, tapi mereka memang tidak mau hal itu terjadi pada diri mereka. Hawa dingin yang menguar terlalu kuat dan menusuk hingga mereka menggigil dan tak berani menjawab.
Saat ini Ben dan semua orang-orangnya tengah berkumpul di bagian pelabuhan yang sepi. Dimana banyak bangkai kontainer bertumpuk dan berbaris. Ben menyentuh telinganya yang sudah terpasang earphone kecil di sana. Matanya langsung bergerak ke arah tertentu. Wajah pria yang biasanya acuh itu sekarang sedang berubah seperti setan, sangat menyeramkan. Melihat perubahan itu, beberapa anak buahnya menjadi waspada, namun harus tetap terlihat tenang. Mereka yang sangat tahu kebiasaan bosnya itu. Pasti ada yang tidak beres!
dor
dor
dor
dor
Setelah mengisi peluru lagi ke dalam pistol, Ben segera menembakkannya ke beberapa arah secara acak. Hingga terdengar bunyi orang-orang merintih kesakitan. Dan membuat semua anak buahnya semakin waspada. Ternyata ada yang sedang menguntit mereka.
Relly memberitahu dirinya melalui sambungan telepon jika ada beberapa orang yang sedang mengawasi mereka di balik bangkai-bangkai kontainer yang sedang menjadi pagar bagi kelompok Ben berada. Tak perlu menyampaikan hal ini kepada anak buahnya. Ben sendiri bisa melumpuhkan orang-orang itu setelah melihat bayangan mereka di titik yang Relly beritahukan.
"Kejar mereka! Dapatkan informasi apapun!", perintah Ben bak kaisar. Semua anak buahnya pun bubar untuk mengejar penyusup itu.
Dan siapa sangka, jika penyusup itu memiliki banyak kawanan, setara dengan yang Ben bawa saat ini. Bahkan kemampuan mereka bisa dikatakan hebat, tidak bisa dibilang mereka dari kelompok rendahan. Yang jelas mereka pasti berasal dari kelompok yang mumpuni. Sehingga pertarungan di pelabuhan itu berlangsung cukup lama. Dan sudah pasti berjatuhan korban di antara dua kelompok itu.
"Siapa sebenarnya mereka ini?!", gumam Ben seraya menembakkan senjatanya ke arah orang-orang itu. Wajahnya terlihat tenang, namun dari pandangan matanya, ia terlihat banyak berpikir.
Siapa orang yang tengah bermain-main dengan mereka saat ini?! Karena Ben merasa semua kelompok di negara ini sudah berhasil ia taklukkan. Tak ada yang berani macam-macam dengan dirinya. Jadi pasti ini ulah orang luar! Tapi kapan ia mengusik orang-orang ini?! Pria itu menyipitkan matanya, menatap sekilas ufuk timur yang hampir menyala jingganya.