
Rose segera memalingkan wajahnya dengan wajah marah. Ia sangat membenci keadaan ini. Dan dapat dilihat dari jendela mobil, sepasang ibu dan anak itu nampak sangat bergembira, bahkan mata mereka terlihat sedang bersorak. Rose menyipitkan matanya dengan nafas yang memburu. Ia bersumpah akan membalas apa yang terjadi pada dirinya sejak dulu ataupun apa yang akan terjadi nanti. Rose menggeram menatap ke arah mereka berdua yang sedang menyembunyikan tawa di balik punggung tangan mereka.
Mobil mulai melaju, pun sama halnya dengan pikiran Rose yang mulai melayang kemana-mana. Entah ia akan dibawa kemana kini. Entah cobaan apa lagi yang akan ia terima nanti. Rose mencoba bersabar dan tetap tenang meski ia tak bisa memungkiri rasa gugup maupun takut menyergapnya begitu kuat. Ia mencengkeram pinggiran tempat duduk yang ia duduki.
Tuan Rogh makin merapatkan posisinya duduknya ke arah Rose. Dan makin menghindar pula Rose padanya. Hingga akhirnya tubuhnya membentur mobil, di situlah tempat akhir yang membuatnya makin tersudut di dalam kendaraan yang tengah melaju ini.
"Apakah kau tau, sayang?! Wajahmu makin menggemaskan jika sedang malu-malu begini", ucapnya seraya memajukan wajahnya mendekat ke arah wajah Rose. Seringainya yang kurang ajar membuat Rose menatap jijik lalu sekuat tenaga mendorong Tuan Rogh dengan kedua tangannya hingga tubuh pria itu membentur pintu mobil yang lainnya.
"Kurang ajar! Kau memang tidak tau terima kasih ya!", dengan nafas yang memburu pria itu mendekat ke arah Rose yang masih meringkuk di ujung lainnya. Dengan gerakan cepat ia membungkam bibir Rose dengan bibirnya yang terasa busuk bagi Rose. Wanita itu terus berusaha untuk melawan dengan terus mendorong tubuh Tuan Rogh yang dengan tidak tau malunya terus menyerbunya dengan ciuman-ciuman menjijikan pada bibirnya.
"Ciuman pertamaku!", Rose sudah menangis dalam hatinya.
Miris sekali hidupnya, ciuman pertamanya yang selama ini ia jaga untuk seseorang yang akan dicintainya kelak, malahan direnggut oleh seorang pria tua yang lebih cocok jadi ayahnya. Ia sudah menjerit di dalam hatinya, namun sebisa mungkin ia bertahan untuk tetap tenang.
plakk
Rose mendapati sebuah telapak tangan melayang di pipinya yang sudah basah oleh peluh selama beberapa saat ini karena perjuangannya melawan buaya busuk dengan otak kotor itu.
"Pertama kepalaku kau buat berdarah, lalu sekarang kau buat punggungku nyeri. Sepertinya aku sudah terlalu baik ya kepadamu?!", Tuan Rogh menggeram marah. Mata buasnya makin menjadi saat ia berada tak jauh dari jangkauannya kepada Rose.
"Hentikan mobilnya! Cepat!", perintahnya dengan tidak sabar sambil melonggarkan kerah kemejanya.
"Keluar!", lagi dia memerintahkan supirnya untuk keluar dari mobil itu dan akhirnya orang itu berjalan menjauh seperti tau hal apa yang biasa tuannya lakukan.
Rose menggigil ketakutan di bawah intimidasi tubuh Tuan Rogh yang makin mendekat. Pria itu merangkak ke atas tubuh Rose dengan tatapan berkabut. Segenap nafsu telah menguasai dirinya. Tak ada yang bisa dilakukan wanita itu selain berpikir keras di tengah ketakutannya.
"Kakak, tolong aku!", jeritnya dalam hati sambil memejamkan matanya kuat-kuat.
Tuan Rogh telah memiringkan wajahnya bersiap menyerang Rose lagi dengan ciumannya dan ia terus berusaha menghindar hingga terlihat kesabaran pria itu hampir habis. Tuan Rogh kembali mendekat, namun sebelum itu, satu lagi tamparan ia terima dengan keras.
plakk
Air matanya sudah terjun bebas merasakan nyeri pada pipinya yang mendapatkan pukulan bertubi-tubi sejak tadi sore. Lalu juga seberapa menakutkan situasi yang tengah ia hadapi saat ini.
"Jangan coba-coba melawan! Nikmati saja, sayang!", ucap pria tua itu dengan senyum menyeramkan.
Tubuh Rose menggigil hebat, ia benar-benar ketakutan. Air matanya yang terjun bebas makin banyak mengalir ke bawah. Ia memeluk dirinya di depan dada dengan mata memohon untuk dilepaskan. Otaknya benar-benar harus dikejar untuk bekerja keras saat Tuan Rogh kembali menyerbunya dengan beberapa ciuman di lekuk lehernya. Rose kembali mendorong tubuh pria itu menjauh. Tapu tenaganya sudah tidak cukup dan malah membuat Tuan Rogh menggeram tidak sabar. Ia mencengkeram dress yang Rose pakai pada bagian dadanya lalu merobeknya dengan tatapan buas.
Rose langsung mengeratkan kembali pelukannya kepada tubuhnya sendiri dengan satu tangan. Tangan yang satunya ia gunakan untuk mencoba membuka pintu mobil yang beruntungnya ternyata tak terkunci. Setelah terbuka sedikit tanpa sepengatahuan pria yang sedang berada di atasnya kini, ia meraih jepit rambut dari belakang rambutnya. Dengan sekuat tenaga ia menusukkan jepit rambut itu ke lengan bagian atas Tuan Rogh lalu menendang tubuhnya menjauh. Pria itu meringis kesakitan sambil memegangi bagian lengannya yang terluka. Hal itu Rose gunakan untuk secepat kilat keluar dari sana dan berlari sejauh mungkin.
FLASHBACK OFF
***
Entah sudah berapa kilometer jarak yang ia tempuh sejak tadi. Kakinya yang mulai lemah membuat jalannya jadi terseok-seok. Air matanya tak berhenti jatuh meratapi nasib yang saat ini menimpa dirinya. Lebam-lebam di wajahnya nampak jelas berwarna biru keunguan akibat tamparan yang datang berulangkali di pipi putihnya. Pakaiannya yang terkoyak pada bagian dada dan penampilannya yang berantakan membuat ia terlihat seperti orang gila bagi kebanyakan orang yang menatapnya dari kejauhan. Rose tak ambil pusing karena hal itu juga berdampak baik sehingga tak ada yang mau mengganggunya saat larut malam seperti ini.
Tak lama ia memasuki kawasan pelabuhan. Ia terus berjalan ke arah dermaga. Melarikan diri adalah satu-satunya hal yang ada di benaknya saat ini. Sebuah kapal penangkap ikan yang tak terlalu besar sedang merapat di dermaga. Dan para awaknya terlihat sedang bersiap-siap untuk berangkat dari sana. Rose berjalan mendekat, lalu ia menunggu di balik kontainer kosong tak jauh dari sana. Ia mulai mengatur strategi. Sebuah palet kayu yang di atasnya tertumpuk peti-peti kosong yang mungkin nantinya akan dijadikan untuk menempatkan ikan-ikan membuat Rose memiliki ide cemerlang. Ia mengendap-endap mendekat ke sana dan memasuki salah satu peti besarnya. Dan akhirnya palet kayu itu di angkat untuk diletakkan di atas dek kapal.
Rose menahan nafas dan suaranya. Saat ini ia hanya berdoa untuk bisa selamat kemanapun nanti kapal ini akan dapat bawanya. Perasaan terombang-ambing menandakan kapal itu mulai bergerak menjauhi dermaga. Rose bersorak riang dalam hatinya karena akhirnya berhasil kabur dari tempat yang menjadi amat berbahaya baginya.
Dinginnya angin laut yang masuk lewat sela-sela peti kayu itu membuat Rose menggigil dan memeluk tubuhnya dengan erat. Ia menahan hawa dingin yang menusuk hingga akhirnya ia tertidur lelap, ia lelah setelah semalaman ini mengalami kejadian buruk yang meninggalkan bekas cukup dalam di hatinya.
Pegal, begitu terasa tubuhnya saat ini karena tertidur di ruang sempit itu. Semburat oranye di langit gelap itu muncul dari balik sela-sela peti tempatnya bersembunyi. Fajar telah datang, Rose menggeliat kecil untuk membuat tubuhnya sedikit rileks. Sebuah hamparan pasir dan pepohonan nampak dari kejauhan. Ia kembali memutar otaknya untuk mencari sebuah ide. Pelan-pelan ia membuka penutup peti itu dan mengintip. Ia menyapu pandangannya ke area sekitar dirinya berada. Setelah dirasa cukup aman, ia keluar secara perlahan.
Matanya memancarkan binar kebahagiaan saat ia menemukan sebuah pelampung bersandar tak jauh darinya. Ia berjinjit dan mengambil pelampung itu. Hamparan pasir pantai itu nampak tak terlalu jauh, namun masalahnya adalah dinginnya air laut yang dapat membuatnya dengan mudah terbunuh akibat hipotermia. Tapi tekadnya sudah terlalu kuat untuk mengalahkan rasa sakit apapun. Rose memakai pelampung itu ke tubuhnya lalu meski sempat meragu, akhirnya ia menceburkan diri ke dalam air laut yang jelas dinginnya hanya beberapa derajat saja. Beberapa awak kapal mendekat ke asal suara karena mendengar seperti sesuatu jatuh ke dalam lautan. Tapi setelah mengecek bahwa barang-barang mereka masih utuh, para awak itu kembali masuk ke dalam kabin.
Rose tak menyia-nyiakan kesempatannya ini. Ia terus berenang mendekat ke arah pantai. Ia sudah mati rasa dengan rasa dingin yang menerpa dan menusuk kulitnya hingga ke tulang. Rose terus berenang di sisa tenaganya, hingga akhirnya matanya itu tiba-tiba terpejam dan tubuhnya terombang-ambing gelombang ombak dengan sendirinya.
-
-
-
-
-
-
Setelah ini author akan fokus menyelesaikan cerita Ana sama Ken dulu. Baru lanjut bagi-bagi cerita tentang Ben dan wanitanya nanti.
Jangan lupa kasih like, vote sama komentar kalian ya di sini maupun di sana.
Terima kasih juga buat dukungannya selama ini.. love u teman-teman sekalian 😘
keep strong and stay healthy ya teman-teman 🥰