Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Pintar menggombal



Rose tak segan membuang cairan di hidungnya dengan kencang. Pengawalnya pun hanya bisa memejamkan mata dan tak bergeming dari tempatnya. Ia menyingkirkan rasa jijiknya dengan rasa tanggung jawab yang tinggi dengan mengingat tugasnya yang diberikan oleh bosnya secara langsung.


Sambil menunggu Rose selesai menangis dan tenang, pengawal itu mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Ia seperti sedang mengirim pesan kepada seseorang. Pengawal itu menghela nafas, berharap keputusannya adalah benar.


***


Di markas Harimau Putih, pria bertopi koboi itu tengah disibukkan dengan beberapa berkas di tangannya. Di dekat mejanya juga masih terdapat bekas gambar-gambar yang sepertinya mereka baru saja mengadakan sebuah pertemuan.


ting


Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Ben langsung melirik ke arah ponselnya yang kemudian menyala tak jauh dari letak tangannya.


pesan dari nomer tidak dikenal:


Hasil tes buruk, Tuan. Nona Sarah menangis sejak tadi dan belum berhenti.


Ada juga pesan gambar yang dikirim bersamaan, namun tak dapat terlihat langsung pada layar depan ponselnya yang masih terkunci.


Pria itu langsung menghamburkan semua kertas di tangannya ke belakang hingga mengenai wajah Relly yang ternyata sejak tadi berdiri di belakangnya. Ia juga sedang memeriksa beberapa berkas di tangannya. Sebagai seorang bawahan tentu ia hanya bisa mendengus secara sembunyi-sembunyi agar bosnya tidak marah. Dan akhirnya ia pun yang memunguti kertas-kertas yang telah berhamburan di lantai.


Ben buru-buru menyambar ponselnya. Dan langsung saja ia buka pesan yang masuk beserta pesan gambarnya. Itu potret punggung Sarah yang sedang menundukkan kepalanya. Dari belakang tangannya terlihat seperti sedang menyeka air mata.


Ini buruk! Jika saja ia tau hasil tesnya akan begini, harusnya kemarin ia katakan saja bagaimana keadaan Victor sebenarnya kepada Baz. Mungkin saja orang itu bisa membantu. Bagaimanapun juga Victor masih memiliki putra kandungnya yang merupakan keponakan Baz sendiri. Ben benar-benar sangat menyesali hal ini.


Dan ia juga tau betapa sedihnya hati wanita itu saat ini. Karena sejak awal Ben memberitahukan kabar tentang penyakit kakaknya itu, Rose sudah sangat terpukul bahkan sebelum mereka benar-benar bertemu. Keluarga terakhir yang sangat peduli terhadapnya, jika Rose sampai kehilangan kakaknya itu, Ben sangat tau bagaimana hancurnya hati wanita itu.


tut,,, tut,,, tut,,,


Pria itu menunggu sambungan itu terhubung dengan tidak sabar. Ia sudah mondar-mandir di atas lantai dengan gelisah.


Rose yang masih menikmati kesedihannya yang menusuk relung hati, tak menghiraukan siapa nama yang tiba-tiba menghubunginya saat ini. Ia langsung menggeser tombol jawab tanpa melihat ke arah layar ponsel.


"Halo!", sapa wanita itu pertama sambil sesekali menyedot cairan hidungnya dengan keras.


"Kau menangis?", suara bas pria itu Rose sangat mengenalnya. Ia segera menjauhkan ponselnya untuk memastikan sendiri siapa yang sedang meneleponnya saat ini.


Di layar tertera Pria milikku yang melakukan panggilan. Ia menutup mulutnya tak percaya seraya menempelkan kembali ponselnya ke telinga. Hatinya campur aduk antara senang dan sedih. Senang karena akhirnya orang yang ia butuhkan paling tidak meneleponnya. Dan sedih ya karena orang itu belum bisa hadir di sampingnya saat ini.


"Hey, kau mendengarku!", seru Ben tidak sabar karena belum juga mendapatkan jawaban dari saluran seberang.


"Iya aku dengar! Aku tidak tuli", sahut Rose yang masih belum menghentikan tangisnya.


"Berhenti menangis! Wajahmu akan keriput nanti!", sebenarnya hati Ben juga pilu mendengar isakan wanita itu. Tapi kali ini tugasnya adalah untuk menenangkannya. Meski ia sangat menyesal karena tidak bisa mendampingi wanita itu secara langsung.


"Tuan tau darimana jika aku sedang menangis sekarang? Sudah seperti cenayang!", sebelumnya Rose sudah bisa tersenyum di tengah tangisannya. Setelah mendengarkan suara pria ini, apalagi yang namanya Tuan seram itu selalu punya cara dalam menyapanya. Dengan menghinanya, adalah cara normal yang pria itu lakukan untuk menghiburnya. Sama ketika mereka saling menyatakan rindu. Tapi Rose tidak berani mengungkapkan kebahagiaannya hingga ia bersembunyi dibalik nada ketusnya itu.


"Suaramu jelek seperti penyihir!", Ben juga menyelipkan senyumannya dibalik kekhawatirannya pada Rose.


"Ya! Terus saja hina aku! Bukankah yang benar itu harusnya saat ini Tuan menghiburku bukannya malah membuatku menjadi kesal!", pengawal Rose menahan senyumnya di belakang punggung Rose melihat tingkah dua insan yang sedang bertelepon ria itu. Akhirnya usahanya tidak sia-sia.


"Tidak! Aku tidak senang! Aku kesal!", setengah menangis, Rose juga setengah tertawa. Tangannya juga sibuk menyeka air mata.


"Yasudah aku tutup teleponnya!", sebenarnya Ben hanya mengancam. Mana mungkin ia mengakhiri panggilan ini sebelum ia benar-benar yakin jika wanita itu sudah merasa lebih baik. Membuatnya menghilangkan kesedihannya itu tidak mungkin, karena ini adalah masalah yang benar-benar serius. Tapi,,, paling tidak ia bisa mengurangi kesedihan yang melanda wanita itu.


"Tunggu,,, tunggu! Kau itu selain seram juga mudah marah ya, seperti anak kecil saja!", Rose berpikir jika Ben benar akan menutup sambungan telepon ini. Maka ia buru-buru menghentikannya.


"Aku memang seperti itu! Kenapa kau baru menyadarinya?! Jika kau bilang aku seperti anak kecil, berarti aku cukup imut, kaann?!", Ben membanggakan dirinya sendiri hingga terdengar menjijikan di telinga wanita itu.


"Hey, Tuan seram! Aku sungguh ingin memukul kepala bodohmu itu!", Rose menggeram sambil menggigit bibir bawahnya, saking gemasnya ia dengan pola pikir pria eksentrik bertopi koboi itu.


"Jika kau sudah memiliki keberanian, maka lakukan saja!", Ben menantang balik Rose tak mau kalah.


"Hah,,, jika sudah diancam begini, aku ya mana beranilah! Hehe", tanpa pria itu ketahui bahwa Rose tengah menggaruk kepalanya sendiri dengan wajah malunya.


"Tapi aku masih kesal karena kau terus saja menghinaku lagi dan lagi. Aku jeleklah, seperti penyihirlah, lalu kapan kau memujiku, mengatakan bahwa aku cantik!", sambungnya lagi secepat kilat dengan nada menuntut yang sangat kesal.


"Sudah! Tadi malam!", jawab Ben dengan santai.


"Kapan,,, Apa? Tad,, tadi malam?", Rose berpikir lagi sebelum ia kembali melampiaskan kekesalannya.


"Ahh!!", wanita itu lalu mendesah karena malu baru saja lupa jika memang semalam mereka saling memuji satu sama lain. Ben bilang Rose cantik. Wajah wanita itu segera memerah setelah mengingat semuanya.


"Hey kau!", panggil Ben agar wanita itu kembali fokus pada suaranya.


"Tersenyumlah! Kau harus kuat! Jika kau lemah, lalu bagaimana caranya kau menyemangati kakakmu! Jangan pikirkan lagi tentang tes itu. Aku yakin pasti ada jalan keluar untuk kesembuhan kakakmu", suara Ben terdengar serius. Namun nadanya tetap menenangkan dan hangat. Hingga Rose menjadi tersenyum dibuatnya.


Ben sudah memiliki ide sendiri di kepalanya. Ia akan mengumumkan hal ini kepada Baz. Mengenai kondisi Victor saat ini, ia rasa Bella dan anaknya berhak untuk mengetahuinya.


"Iya, baiklah!", jawab Rose lirih. Karena bagaimana pun juga masalah ini menyangkut hidup dan mati kakaknya. Jadi ia hanya bisa tersenyum kecut sekarang.


"Janji?", Ben bertanya untuk meyakinkan lagi.


"Iya aku berjanji akan kembali bersemangat setelah ini", ucap Rose meski suaranya belum seperti orang semangat yang lainnya.


"Jika kau bisa tidak bersedih lagi, nanti malam aku akan memberikanmu hadiah!", Ben memberikan tawaran yang menggiurkan.


"Apa hadiahnya?", Rose penasaran sekarang.


"Rahasia!", jawab Ben misterius.


"Baiklah, terserah!", wanita itu mencebik kesal saat ini.


"Ingat! Jangan menangis lagi! Tersenyumlah, karena kau sangat cantik saat sedang tersenyum!", Ben mengakhiri panggilannya setelah mengucapkan sepaket kalimat yang lebih cocok untuk merayu itu. Meskipun sebenarnya pria itu sangat tulus dengan ucapannya.


"Ya ampun, ditutup!", Rose memandang ponselnya dengan kesal. Ia bahkan belum membalas ucapan pria itu. Jadi ini sungguh curang, bukan! Lalu meski terdengar kesal, nyatanya Rose sudah sangat bahagia sekarang. Dan lagi Rose sangat penasaran, sejak kapan pria itu jadi jago menggombal.