
Fajar telah datang kala Ben mulai membuka matanya. Ia ingat akan janji yang telah ia buat untuk pagi ini. Segera ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk menyegarkan diri dan membuat tubuhnya siap untuk memulai aktivitasnya hari ini.
Wajah pria itu terus tersenyum. Karena setiap kali dirinya memejamkan mata, selalu teringat kejadian tadi malam. Dimana dirinya dan juga wanita di seberang kamarnya barau saja membuat pengakuan cinta.
Tapi apakah setelah sejauh ini mereka bisa dinyatakan sebagai sepasang kekasih?! Ben sendiri belum memiliki jawabannya. Karena semalam itu ia sama sekali tidak menanyakan kesediaan wanita itu untuk menjadi kekasihnya sama sekali.
Ben masih berpikir tentang bagaimana ia menjalani hidupnya saat ini. Dimana selalu ada bahaya di setiap langkahnya. Ia tidak ingin Rose terlibat dengannya lebih jauh lagi, karena itu akan membahayakan nyawa wanita itu.
Tapi mau bagaimana, ternyata perasaan mereka bersambut saat ini. Nyatanya mereka saling mencintai. Dan itu berat untuk Ben sangkal karena ini menyangkut urusan rumit sebuah hati.
Baiklah, hal itu bisa ia pikirkan lagi nanti. Bagaimana status hubungan dirinya dan juga Rose akan ia pikirkan lagi nanti. Pagi ini, masih ada urusan yang harus ia selesaikan dulu.
Pria itu telah nampak segar dengan setelan nyentrik yang menjadi ciri khasnya. Topi koboinya ia pakai sembari berjalan keluar kamar.
Ia berhenti sejenak setelah menutup pintu. Memandangi pintu kamar di depannya yang masih tertutup rapat. Yang ia yakini bahwa penghuninya masih tertidur lelap.
# FLASHBACK ON
Semalam mereka bercengkerama sampai larut malam. Sampai Paman Alex berkali-kali datang memperingatkan mereka untuk segera beristirahat. Dan sampai pria yang kesabarannya sedikit itu sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
Segera pria itu mendorong Paman Alex keluar kamar, bahkan sampai ke tangga. Pria paruh baya itu diusir secara paksa dengan sikap Ben yang tidak sabar. Sebenarnya Rose merasa kasihan pada Paman Alex. Tapi melihat wajah menyeramkan Ben itu, ia lebih memilih untuk diam. Daripada akhirnya kemarahan pria itu akan berimbas padanya.
Katakan pada Tuanmu, jangan cerewet seperti wanita
Begitulah Ben berteriak dari anak tangga paling atas. Berseru pada Paman Alex yang sudah mencapai lantai bawah. Dan ia yakin jika Victor yang berada di ruang tengah pasti mendengarnya.
Dan benar saja, terdengar kekehan seorang pria tak jauh dari arah tangga bawah. Victor tertawa begitu puas karena telah berhasil mengganggu acara yang dimiliki oleh adik dan teman lamanya itu.
# FLASHBACK OFF
Ben sebenarnya ingin berpamitan pada Rose. Tapi ia menyadari jika saat ini masih terlalu pagi. Bahkan mentari saja masih malu-malu dari keluar dari peraduannya. Suasana di luar masih agak gelap sekarang.
Yasudah, biar wanita itu beristirahat lebih banyak saja. Nanti ia bisa mengirim pesan untuk mengabarinya. Sekarang ini ia harus menepati janjinya untuk menjemput seseorang.
***
Mobil sport berwarna putih yang dikendarai oleh pria bertopi koboi telah sampai pada sebuah lobi hotel mewah tepat pukul tujuh pagi.
Dan ternyata seorang pria tampan juga telah menunggunya di lobi bagian dalam. Ia duduk di sofa tunggu sambil memainkan ponsel di tangannya. Ada beberapa hal yang harus Baz periksa selama dia tidak berada di negaranya.
Baz keluar setelah Ben memberi kabar bahwa ia sudah sampai di depan. Melihat sebuah mobil yang dikemudikan oleh seseorang dengan topi koboi di kepalanya, tentu Baz tau bahwa itu adalah mobil yang menunggunya.
"Aku tidak terlambat, bukan?!", sapa Ben pertama setelah Baz benar-benar duduk di tempatnya.
"Yah, ku rasa begitu! Mungkin aku yang terlalu tidak sabar menunggu!", Baz menaikkan kedua alisnya dengan wajah santai.
"Memangnya sudah berapa lama kau duduk di sana?", sebenarnya saat Ben menghentikan laju mobilnya, ia sudah melihat Baz yang sedang memainkan ponselnya karena dinding kaca yang membentang di lobi itu menembus pemandangan di dalamnya.
"Tidak lama, hanya lima belas menit saja!", bersikap acuh dan santai, Bas mengedikkan bahunya tak masalah. Kini pria itu telah selesai memasang sabuk pengamannya.
"Wah,, sepertinya aku harus meminta maaf karena sudah membuang-buang waktu orang penting seperti dirimu, yah!", Baz tau jika Ben saat ini tidak sedang dalam keadaan serius sama sekali. Dan lagi memang bukan salah Ben yang datang terlambat. Ini memang karena dirinya sendiri yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pria itu.
"Berhenti bicara, kawan! Kau tau, kau semakin membuang waktu berhargaku!", keduanya pun terkekeh bersama.
Mobil sport putih itu pun telah menghilang dari depan wajah lobi hotel mewah itu. Sekarang mobil itu tengah membelah jalanan yang sudah mulai padat menuju tempat dimana banyak pesawat tinggal dan lepas landas di sana.
***
Sesaat Ben melirik ke arah sweater yang tengah dikenakan oleh Baz saat ini. Ia merasa familiar dengan sweater itu. Entah dimana, ia merasa pernah melihat seseorang memakai hal yang serupa.
Tapi Ben tak dapat berpikir lebih banyak lagi karena saat ini ia tengah mengendarai mobilnya. Ia pikir sweater seperti itu sangat banyak di pasaran. Tapi,,, orang penting seperti Baz ini apakah akan memakai sesuatu yang pasaran?! Ah, sudahlah! Sepertinya saat ini Ben benar-benar sudah berpikir terlalu banyak.
"Ada apa?", suara khas milik seseorang di sebelahnya membuat Ben sadar sepenuhnya dari lamunannya.
"Tidak ada!", Ben sempat tersenyum. Namun ia harus mengerem mobilnya secara mendadak karena lampu lalu lintas di depannya sudah berubah merah.
"Maaf!", Ben tersenyum agak canggung atas guncangan yang baru saja terjadi pada mereka berdua.
"Tak masalah! Ku rasa kau hanya belum sarapan saja!", keduanya kembali tertawa bersama.
Tiba-tiba mata Baz menyipit menatap sebuah benda berkilau yang menggantung di depan dada Ben. Itu seperti sebuah kalung yang ia kenal. Inisial huruf 'B'. Hal itu dapat terlihat jelas karena Ben selalu memakai kemeja dengan beberapa kancing baju yang terbuka. Baz sepertinya ingat sesuatu, hanya saja ia tak ingin asal menebak saja.
"Hey! Kau memakai kalung seperti itu?!", setengah mengejek Baz juga berusaha menggali informasi darinya.
"Yah,,, seseorang memberikannya padaku! Ini aku juga punya satu lagi!", Ben mengembangkan senyumannya saat menunjukkan benda berharga yang diberikan khusus oleh orang yang ia cinta.
Sangat jelas dari ekspresi dan pandangan mata pria itu jika kalung yang sedang ia pakai adalah pemberian dari orang yang sangat spesial baginya. Dan Baz sangat menyadari hal itu.
Itu bahkan ada dua buah. Jumlah yang sama seperti yang Rose beli kemarin di taman. Tapi Baz berusaha menyangkal kemungkinan apa pun di dalam benaknya. Karena kemarin itu Rose tidak menyebutkan seseorang yang spesial sama sekali selain kakaknya yang sedang sakit itu.
Ben menyadari ada sesuatu di wajah penumpangnya. Mimik wajah Baz terlihat sedang berpikir keras saat ini. Kecerdasannya yang luar biasa tinggi pun segera bekerja. Menimbang segala spekulasi yang ada, lalu akan membuahkan sebuah hasil berupa jawaban atas pertanyannya.