
#FLASHBACK ON
Ini sudah lebih dari lima tahun yang lalu. Kala itu Victor masih seorang pria muda yang gagah dan tampan. Selain Ben, Victor adalah nama yang diandalkan setiap kali Geng Harimau Putih memiliki tugas yang agak sulit. Ben memang tak memiliki tandingan dalam hal kepercayaan, maka dari itu setelah Tuan Danu memilih untuk pensiun dari dunia bawah, Benlah yang dipilih untuk menggantikannya. Sedangkan Victor adalah teman andalan bagi Ben.
Suatu ketika mereka memiliki sebuah misi yang berhubungan dengan sebuah negara. Seseorang meminta salah satu anggota Geng Harimau Putih untuk mengawasi dan mencari bukti tentang putra dari seorang senat di negara F. Dia dicurigai merupakan ketua geng mafia di negara tersebut. Itu adalah negara kelahiran Victor, maka dia dengan senang hati menerima misi itu. Kebetulan sekali ia jadi bisa berkunjung untuk menemui adik dan ayahnya.
Victor pun segera terbang ke negaranya tanpa menunggu lama. Tapi setelah tiba, ia memilih untuk tinggal di apartemen yang sudah disewa atas nama dirinya. Maksudnya identitas palsunya. Seseorang yang menyewanya itu sudah menyiapkan segala akomodasi yang diperlukan untuk dirinya selama tinggal di sana.
Keesokan hari, barulah ia menemui keluarganya yang tinggalnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya sekarang ini. Victor mengendarai mobil yang telah disiapkan untuk menuju ke rumah keluarganya.
Seharian penuh ia habiskan untuk bercengkerama dengan adiknya. Waktu itu Rose adalah seorang gadis belia yang sangat ceria. Ia sangat menyayangi adiknya itu. Rasanya ia ingin sekali membawa adiknya ikut bersama dirinya kemanapun ia pergi agar bisa lebih tenang menjaga adiknya itu. Ayahnya terlalu sibuk bekerja sehingga Victor cukup mengkhawatirkan adiknya yang seorang perempuan itu. Tapi Rose memiliki kepercayaan diri yang kuat, ia berhasil meyakinkan kakaknya itu bahwa ia akan baik-baik saja di sana.
"Tenang saja, Kakak! Percaya saja bahwa aku akan baik-baik saja di sini! Adikmu ini kan gadis hebat!", Rose bergelayut manja pada lengan kekar kakaknya itu sambil menunjukkan otot lengannya yang masih rata.
"Oke! Kakak percaya padamu!", pria itu mengacak-acak rambut adiknya dengan tatapan penuh kasih sayang.
Baiklah, Victor mengalah. Kali ini ia akan mempercayai ucapan adiknya itu. Tapi jika sekali saja ia mendengar terjadi sesuatu terhadap adiknya, maka Victor mengancam akan langsung membawa adiknya itu untuk ikut bersamanya, dengan atau tanpa persetujuan dari adiknya itu.
Menjelang malam ayahnya, Tuan Benneth pulang. Victor sempatkan untuk sedikit mengobrol dengan ayahnya sebelum pulang. Hubungan ayah anak itu memang sudah kurang baik sejak lama. Victor masih menyalahkan ayahnya atas kematian ibunya dulu. Maka pria itu biasanya akan bersikap dingin kepada ayahnya itu. Lantaran sampai saat ini pun ayahnya itu masih terlalu sibuk dengan pekerjaannya saja dan kurang memperhatikan anak-anaknya.
Tapi kali ini ia berusaha untuk bersikap biasa mengingat sudah setahun ini dia belum pulang ke rumah. Ia sempatkan berbincang beberapa kata sebelum akhirnya ia pamit pulang pada ayah dan adiknya.
"Kembalilah secepatnya! Rumah ini selalu menantimu pulang", satu kalimat terakhir yang begitu tulus terdengar sampai ke telinga Victor. Pria itu baru saja akan membuka pintu mobilnya. Ia tertegun sesaat, lalu memutar tubuhnya.
"Akan ku usahakan", Victor sedikit menipiskan bibirnya lalu kembali melanjutkan kegiatannya untuk membuka pintu.
"Aku pergi!", pria itu membuka kaca jendela mobil lalu melambaikan tangannya pada adik dan ayahnya yang masih menunggunya di depan teras.
"Cepat kembali, Kak! Kami akan selalu merindukanmu!", teriakan itu terdengar saat mobil Victor hampir meninggalkan halaman rumahnya. Ia melirik ke arah spion mobil. Dilihatnya Rose sedang melambaikan tangannya dengan begitu bersemangat dan ada ayahnya yang juga ikut melambai kecil di sebelahnya.
Victor tak bisa menahan senyumnya kali ini. Ia kemudian berjanji pada dirinya sendiri jika setelah misinya kali ini selesai, maka ia akan berhenti dari pekerjaannya ini dan berkumpul dengan keluarganya.
***
Hari berlalu dan kini matahari telah menampakkan wajahnya. Victor pun sudah rapi dengan kemeja dan celana bahannya. Misinya kali ini adalah ia akan melamar untuk menjadi supir pribadi dari targetnya. Kebetulan supir lamanya sudah terlalu tua dan memilih untuk pensiun karena sudah tidak kuat mengikuti kegiatan majikannya yang sangat padat itu.
"Baiklah, kau diterima!", calon majikannya itu menjabat tangan Victor dengan senyuman di bibirnya.
"Terimakasih, Tuan!", Victor membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
Singkat cerita Victor segera diterima. Pria muda yang memiliki umur sepantaran itu tertarik dengan pengalaman dan kepribadian yang Victor miliki. Ia masih belum tau jika identitas Victor adalah palsu. Pria itu bernama Baz Peterson. Sehari-hari pria itu menjabat sebagai direktur di perusahaan yang ayahnya miliki. Jadwalnya sangat padat dan Victor siap melayani calon majikannya itu kapan saja.
Tapi ada satu orang lagi yang begitu tertarik untuk merekrut Victor untuk menjadi supir pribadinya. Dia adalah Bellena Peterson, adik dari Baz Peterson. Gadis itu biasa dipanggil Bella oleh keluarga dan orang-orang terdekatnya. Sejak pertama kali Bella bertemu dengan Victor di halaman rumahnya, gadis itu sudah menaruh hati pada pria itu. Pria tampan yang memiliki tubuh tegap, juga aura yang sulit didekati membuat Bella langsung jatuh hati pada pandangan pertama.
***
Sudah satu minggu Victor bekerja di rumah besar keluarga Peterson itu. Ia juga sudah akrab dengan beberapa penghuni lainnya, seperti asisten rumah tangga, tukang kebun ataupun teman supir yang lainnya. Ketampanannya juga membuatnya sangat tenar di rumah itu. Menjadi bahan puja-puji para wanita yang bekerja di sana.
Dan tentu saja hal itu sampai ke telinga nona muda mereka. Bella merasa panas dan kesal setiap kali ia mendengar beberapa pelayan berbisik saat sedang memuji Victor. Akhirnya setelah tidak tahan, ia selalu memarahi orang-orang yang berani memuji Victor di depannya. Ia akan menghukum orang itu karena rasa cemburunya.
Dan sudah satu minggu juga, Bella selalu merengek pada kakaknya itu untuk meminta Victor untuk jadi supir pribadinya saja. Dan selama kurun waktu itu juga, Baz selalu menolak permintaan adiknya itu.
"Minta apa saja, kakak akan mengabulkannya. Tidak untuk yang satu ini", ucap Baz tegas tapi tidak menyakiti hati adiknya. Ia memilih untuk meninggalkan adiknya yang sedang merajuk di atas ranjangnya. Mandi adalah pilihannya. Bukan bermaksud pelit, tapi memang karena sesuatu hal Baz tidak dapat sembarangan memilih orang yang dapat ia percaya. Biasanya apapun yang adiknya inginkan, Baz pasti akan selalu memenuhinya. Tapi untuk kali ini ia harap adiknya bisa mengerti. Baz menyadari jika adiknya ini pasti sedang menyukai supir barunya itu.
"Kakak pelit! Aku kesal! Kakak tidak sayang lagi padaku!", Bella memukul-mukul ranjang kakaknya sambil duduk di sana.
Ia segera bangkit dan memilih untuk kembali ke kamarnya lagi. Tapi baru saja membuka pintu kamar itu, ia malahan menabrak sesuatu yang keras pada kepalanya.
"Aucchhh!", Bella mengusap-usap dahinya yang sakit sambil meringis.
"Sebenarnya apa sih yang aku tabrak?! Batu atau apa!", Bella berdecak kesal masih sambil memejamkan mata.
"Maaf, Nona!".
"Kau!", jari telunjuknya mengarah kepada Victor. Yakinlah, wajah Bella sudah sangat merah sekarang. Ia ingin segera berlari dari sana karena malu.
Bella menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya untuk menyembunyikan semburat di wajahnya. Kemudian ia segera memulai langkahnya untuk berlari dari sana.
Tapi sayang, ternyata kaos yang ia pakai tersangkut pada tuas pintu kamar kakaknya. Jadilah karena panik akan jatuh, Bella menarik kemeja yang Victor pakai. Namun saat itu Victor belum siap sehingga akhirnya mereka jatuh bersamaan. Victor menimpa tubuh Bella tapi tangannya masih berusaha menahan agar ia tidak sepenuhnya menyakiti tubuh nonanya itu.
Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah bibir mereka yang saling bertemu. Seperti sedang memberi salam akan pertemuan mereka yang mendadak ini. Kedua orang itu sama-sama membulatkan matanya. Wajah keduanya pun sama merahnya. Untuk beberapa saat keduanya merasa seperti waktu berhenti di sekitar mereka.
"Hey, sedang apa kalian?!", tegur Baz yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Suara itu sudah sangat cukup untuk mengembalikan kesadaran mereka berdua. Dalam hati Bella sangat senang. Sedangkan Victor bingung untuk menjelaskan suasana hatinya. Tapi ia masih bisa mengendalikan diri, lalu bangun dari atas tubuh nonanya itu. Begitu juga dengan Bella yang dengan gugupnya berdiri sambil membelakangi kakaknya itu. Ia tak ingin kakaknya melihat wajahnya yang sudah matang.
"Maaf Tuan, ini salah saya!", Victor membungkukkan tubuhnya untuk meminta maaf kepada tuannya. Ia sebenarnya sudah sangat takut akibat hal yang terjadi barusan, Baz akan marah dan langsung memecatnya. Misinya belum selesai dan bahkan baru saja dimulai. Baz mulai mempercayai dirinya.
"Tidak!", Bella dengan keras menolak. Ia mengangkat tangannya ke atas menginterupsi agar semuanya diam.
"Aku yang salah karena ceroboh! Tadi bajuku tersangkut jadi aku reflek menariknya hingga kami terjatuh bersama! Mohon kakak jangan memarahinya", Bella ikut membungkukkan tubuhnya sebagai permintaan tulusnya.
Siapa juga yang akan marah. Justru sekarang Baz tengah menahan senyumnya sambil memandang dua orang yang seperti baru saja ketahuan. Kapan lagi ia menyaksikan tingkah adiknya yang sedang jatuh cinta itu di depan matanya secara langsung.
"Baik! Aku tidak akan marah!", ucap Baz dengan santainya sambil menutup mulutnya dengan satu kepalan tangan.
"Terimakasih, kakak! Kalau begitu aku kembali ke kamar dulu!", buru-buru Bella berbalik pergi. Victor pun ikut mengangkat kepalanya.
Kembali, kaos yang Bella pakai tersangkut pada tuas pintu. Tapi kali ini gadis itu lebih berhati-hati. Jadi ia bisa menahan diri agar tidak terjatuh. Victor dan Baz sempat menahan nafas karena berpikir bahwa Bella akan jatuh lagi terpelanting ke bawah.
"Aku baik-baik saja!", Bella melambaikan tangannya sambil tersenyum kaku seperti kuda. Lalu secepat kilat pergi dari sana.
"Anak itu!", Baz menggelengkan kepalanya.
"Ada apa Tuan memanggil saya?", akhirnya Victor membuka suara untuk maksud kedatangannya.
"Ada sesuatu yang penting yang ingin aku bicarakan denganmu! Tunggu aku!", ucap Baz dingin sambil menunjuk sofa di sudut kamarnya. Ia lalu melenggang menuju walkin closet untuk mengambil pakaiannya, karena saat ini pria itu hanya terbalut handuk dari perut sampai ke pinggangnya.
Victor mengangguk patuh lalu berjalan ke arah titik yang tuannya tunjuk. Ia mendudukkan diri di sofa empuk di kamar itu sambil menerka-nerka apa yang ingin dibicarakan tuannya nanti.
-
-
-
-
-
baca juga ya novel perdana aku yang judulnya
๐นwanita pertama presdir ๐น
karena dari sana kisahnya ben dan rose dimulai. dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya ben dan rose di sini
oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐
**jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya ๐
love u teman-teman ๐
keep strong and healthy ya