Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Tidak sepenuhnya jujur



"Ii,,, iya,, aku dengar!", sambung Rose setelah kembali memegang ponsel itu lagi. Wajahnya gugup karena sebenarnya ia tidak mendengar jelas nyanyian merdu yang tadi Ben senandungkan.


"Lalu kenapa dari tadi kau diam?", tanya Ben penasaran.


"Tadi itu aku,, aku sedang membuka gorden,, iya membuka gorden kamarmu ini! Jadi sinar matahari bisa masuk dan kamar ini jadi tidak lembab. Begitu,,,, bagus bukan ideku!", seru Rose bersemangat menutupi kebohongannya.


"Itu bagus jika kau mendengarkannya!", Ben tak bisa lagi menahan diri untuk tidak tersenyum di sana. Ia sangat tau jika sebenarnya Rose sedang berbohong dan tidak mendengarkan penjelasannya itu. Ia berpikir jika wanita itu pasti sedang terlalu senang karena Ben sedang mengkhawatirkannya saat ini.


"Ya sudah, aku,, aku ingin mandi lalu segera turun karena perutku sudah lapar sekarang!", Rose sudah ingin segera mengakhiri panggilan ini karena ia tidak ingin Ben sampai tau jika ia tadi sudah tidak mendengarnya berbicara. Jika nanti Ben mulai bertanya-tanya ia pasti tidak akan bisa menjawabnya.


"Mandi? Apa mau aku temani?", Ben menggoda Rose hingga wajah wanita itu menjadi merah.


"Kau itu sudah di sana, tapi kenapa masih cabul saja pikirannya Temani ya temani saja, hanya lewat telepon kan, siapa takut! Paling-paling kau hanya akan mendengar suara air saja", tantang Rose sambil menaikkan dagunya. Ia bahkan menampakkan wajah angkuhnya meski Ben tidak melihatnya.


"Apa kau tidak tau?! Setiap sudut kamarmu sudah ku pasang cctv, bahkan di kamar mandi. Jadi aku bisa langsung melihatmu tanpa baju dari sini", Ben terkekeh pelan agar Rose tidak mendengarnya. Senang sekali rasanya bisa menggoda wanita itu lagi seperti sekarang ini.


"Kau,,, kau tidak serius kan Tuan?", kini wanita itu mulai ketakutan. Ia segera berpindah ke kamarnya sendiri sambil mencari-cari dimana benda yang Ben sebutkan tadi. Ia menjelajahi setiap sudut kamarnya bahkan sampai membolak-balik benda-benda yang terlihat memiliki kemungkinan bisa dipasang kamera cctv. Ia juga sudah menengadah melihat ke atas langit-langit, tapi benda yang Ben bicarakan itu tidak ditemukan juga. Kali ini Rose menggeram marah merasa telah ditipu olehnya.


"Dasar pembual! Aku tidak melihat ada satupun kamera di kamarku! Haha", Rose tertawa puas sambil berkacak pinggang setelah berhasil membuktikan bahwa perkataan Ben itu salah. Ia sangat yakin sekarang jika pria itu pasti sedang menjahilinya.


"Memangnya kamera itu harus sebesar buah apel baru kau sebut kamera. Tentu saja itu kamera nano yang berukuran sangat kecil hingga bahkan kau tidak akan menyadarinya", Rose menepuk jidatnya dengan sangat keras. Ah dia lupa jika pria ini adalah bos mafia. Tentunya semua benda yang dimilikinya memiliki kelebihan tertentu. Rose benar-benar menyesal telah meremehkan pria ini. Lalu,,, bagaimana dia mandiiii??? Rose menjerit dalam hati.


"Tidak,,, tidak! Aku hanya bercanda! Akhirnya tidak memasang apapun di sana", Ben berbicara lagi setelah ia merasa wanita itu mulai frustasi. Ia jadi tidak tega untuk melanjutkan aksinya yang sedang mengerjai Rose ini. Sayang sekali, padahal Ben belum puas membuat wanita itu sampai benar-benar marah. Haha


"Apakah kau yakin, Tuan?!", Rose memastikan lagi bahwa kali ini dirinya tidak akan dijahili lagi.


"Iya,, iya! Yasudah mandi sana! Hidungku mengecil gara-gara mencium baumu itu!", tak sudah-sudah Ben menggoda wanita itu.


"Hey, mana ada! Kau itu ada di sana, jadi mana mungkin bisa mencium bauku saat ini!", wanita itu mengerucutkan bibirnya tak henti.


"Baiklah, aku tutup! Ingat apa yang aku katakan tadi!", Ben sudah akan mengakhiri panggilannya.


"Ya, tutup saja! Jika perlu jangan menelponku lagi! Heh!", Rose masih kesal jadi ia melampiaskannya sekarang juga. Mungkin ia akan menyesali ucapannya nanti, tapi ia tak peduli.


"Baik! Aku tidak akan menelponmu lagi!", Ben segera menutup teleponnya dengan suara angkuh dan tegas.


Rose segera melihat ke arah ponsel yang ditinggalkan Ben untuknya itu. Cih, pria itu benar-benar memutus panggilan secara sepihak hanya karena ucapannya barusan. Sungguh kekanakan sekali pria itu. Rose segera mengumpat beberapa kali ke arah ponsel yang ia pegang. Tapi matanya segera melebar saat tiba-tiba nama pria itu memanggilnya lagi. Dengan malas ia menggeser tombol jawab lagi.


"Ingat untuk merindukan aku! Dan ingat nama yang aku tinggalkan untukmu! Kau adalah milikku", Ben berucap cepat kemudian menutup sambungan telepon itu lagi.


Perlahan tangan wanita itu turun dengan wajah yang diterpa kebingungan besar saat ini. Mulutnya menganga seperti sedang kehabisan nafas. Benar, saking terkejutnya ia sampai lupa untuk bernafas dengan benar. Nafasnya menjadi pendek-pendek seperti habis berlari marathon. Itu berarti jantungnya pun kini tengah bergerak sangat cepat setelah dipacu barusan.


Pria itu menjadi manis sekali. Dan Rose belum bisa menerima hal ini. Ini terlalu mendadak untuk ia cerna. Kedua tangannya mematung di udara. Yang satu memegang ponselnya, yang satu lagi sedang mengepalkan tangannya.


"Aaaakhh! Aaakkhhhh!", wanita itu berteriak histeris sambil melompat-lompat sambil mengingat lagi kata-kata yang terakhir Ben ucapkan. Hatinya menjadi berbunga-bunga dan ia tidak memiliki keranjang yang cukup besar untuk menampung bunga yang begitu banyak itu.


Di markas,


Pria eksentrik yang telah kembali ke penampilan semulanya kini menarik diri untuk bersandar ke punggung sofa yang ia duduki. Garis bibirnya melengkung sempurna ke atas. Dan itu tidak lepas sejak tadi. Sejak awal dirinya memulai panggilan tadi.


Ahh,, ia lega setelah dapat mendengar suara Rose tadi. Mendengarnya mendesah sedih, mendengarnya berteriak karena marah, dan juga ia saat ini sedang melihat wanita itu berteriak histeris di kamarnya.


Ben tidak sepenuhnya jujur mengenai kamera cctv. Semalam setelah selesai berbicara dengan Victor, ia mulai melaju tugasnya. Ben memasang kamera berukuran nano di balik tudung lampu tidur di samping ranjang wanita itu. Hanya satu memang, tapi itu sudah menampakkan keseluruhan wajah kamar itu. Sehingga Ben bisa melihat dengan jelas bagaimana Rose dengan tingkah konyolnya saat ini.


Bukan bermaksud untuk menguntit, hal itu ia lakukan juga untuk keamanan Rose agar Ben bisa secara langsung memantaunya dari kejauhan. Jadi ia juga bisa melihat wajah wanita itu yang masih tertidur tadi.


Ben mengelus layar benda persegi di atas mejanya itu dengan jari telunjuknya yang ditekuk, dimana yang ia bayangkan itu adalah pipi mulus milik Rose. Dan dalam bayangannya wanita itu sedang tersenyum ke arahnya.


"Tuan! Apa yang sedang Tuan lakukan?", entah sejak kapan Relly ada di sana. Yang jelas pria itu kini tengah menatapnya sambil terheran-heran. Ya jelas saja, sejak kapan bosnya begitu menyayangi laptopnya sampai mengelusnya seperti itu. Bahkan yang Relly lihat adalah, tatapan mata bosnya itu lebih kepada tatapan kepada seorang kekasih.


"Tidak ada! Layarnya hanya sedikit kotor, makanya aku sedang membersihkannya", Ben berusaha keras menutupi gemetar gugupnya. Betapa malunya ia saat ini karena tertangkap basah oleh anak buahnya sedang bertindak konyol hingga harus mencari alasan yang masuk akal.


blam


Ia juga segera menutup laptopnya itu sebelum Relly berhasil melihat apa yang sedang tampil di layar. Ia masih belum bisa mengekspos perasaannya terhadap Rose pada bawahannya itu, yang memang biasanya akan selalu tau apa saja tentang dirinya. Ben masih malu saat ini, lebih tepatnya ia bahkan belum memastikan apa nama perasaan yang ia alami saat ini.


-


-


-


-


-


baca juga ya novel perdana aku yang judulnya


๐ŸŒนwanita pertama presdir ๐ŸŒน


karena dari sana kisahnya ben dan rose dimulai. dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya ben dan rose di sini


oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐Ÿ˜Š


**jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya ๐Ÿ˜


love u teman-teman ๐Ÿ˜˜


keep strong and healthy ya