Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Keterlaluan



Sebenarnya tadi Paman Alex sudah keluar terlebih dahulu untuk meletakkan sebuah pot tanaman di halaman. Ia sempat melihat Rose yang sedang berbicara dengan seseorang dan mereka berpelukan pula. Lalu ketika Paman Alex akan masuk ke dalam rumah lagi, ia melihat sebuah mobil sport berwarna putih dengan pengemudi yang dikenalnya. Pengemudi itu tengah mencengkeram kuat stirnya sambil menatap lurus ke depan dengan tatapan tajamnya. Maka dengan begitulah Paman Alex bisa berkomentar seperti itu.


***


Ben menghempaskan tangan Rose begitu saja dengan kasarnya. Ia berjalan ke arah pintu mobil tempatnya mengemudi dengan ekspresi wajah yang sama, sangat menyeramkan. Rose menatap pergelangan tangannya yang memerah. Dan ia yakin itu pasti sakit jika disentuh lagi. Wajah yang semula bingung kini bercampur sedih. Ada apa dengan pria itu?! Kenapa tiba-tiba sikapnya berubah seperti ini?!


"Masuk!", perintah Ben dengan nada rendah yang mencekam. Wajahnya sedikit diturunkan hingga menimbulkan efek yang semakin menyeramkan.


Rose masih bergeming di tempatnya. Ia menatap pria itu dengan tatapan nanar. Matanya sudah berair saat ini, namun sebisa mungkin ia tahan agar tidak banjir sekarang. Sikap Ben ini sama dinginnya ketika mereka pertama kali bertemu. Dimana Rose dianggap sebagai musuh.


"Masuk!", Ben menaikkan intonasinya. Perintahnya bak perintah seorang raja, mutlak. Pria itu makin menekankan tatapannya menyatakan ketidaksukaannya pada penolakan.


Seakan terhipnotis akan ketakutan yang tengah ia miliki saat ini, tangan Rose membuka pintu mobil itu dengan sendirinya. Hingga bunyi pintu mobil terbuka membuatnya sadar. Dan mau tak mau ia harus masuk ke dalam sana.


Rose sudah duduk dengan baik di dalam mobil dengan dua kantung belanja di pangkuannya. Hening hingga akhirnya suara pintu mobil yang ditutup dengan keras membuatnya terperanjat dari tempat duduknya. Ia menoleh, menatap Ben yang mulai menghidupkan mesin mobil dan melajukannya.


Aura dingin yang menguar dari dalam diri Ben sangat kuat hingga membuat Rose seakan membeku di tempat duduknya. Mau bergerak barang satu sentimeter saja rasanya sulit. Ben benar-benar mendiamkannya sampai mobil meninggalkan jauh rumah kakaknya. Ia ingin bertanya, tapi lagi-lagi, lidahnya seakan ikut membeku tak dapat digerakkan. Akhirnya ia memilih untuk pasrah. Ia diam mengikuti kemana pria itu akan membawanya.


***


Mobil sport putih itu berhenti di pinggir pantai yang pernah mereka kunjungi sebelumnya. Saat itu Rose baru saja mengalami kejadian penculikan yang menyebabkan dirinya mengingat sebuah trauma. Waktu sudah senja, sehingga hamparan langit jingga dan pantulannya di laut menyambut kedatangan mereka.


Mesin mobil telah dimatikan, namun suasana dingin ini masih menyala. Keduanya kembali terdiam. Ben masih enggan untuk berbicara lantaran rasa kesal yang memenuhi rongga dadanya. Tapi kenapa, untuk apa rasa kesalnya ini?! Pria seram itu sejujurnya tidak mengerti dengan perasaan marah saat ia melihat Rose bersama pria lain. Apalagi mereka sempat berpelukan. Ben tidak bisa melihat wajah pria itu karena tadi posisinya tepat membelakanginya. Tapi yang jelas, melihat Rose tersenyum pada pria itu membuat darah Ben mendidih dan menimbulkan gejolak amarah yang besar.


Sejenak Rose membiarkan matanya menikmati indahnya hamparan jingga di depan sana. Sudut bibirnya sedikit naik melihat keagungan Tuhan itu. Namun seketika semua itu lenyap tatkala ia melirik Ben yang seakan mematung sambil memegangi kemudinya. Wajahnya belum juga berubah dari ekspresi yang menyeramkan itu.


Satu menit, dua menit, tiga menit, dan sekarang sudah sepuluh menit keduanya saling berdiam diri. Mentari di ujung lautan sana pun mulai menghilang di telan kegelapan. Suasana makin sunyi karena pengunjung makin berkurang bahkan hampir hanya mereka berdua saja di dalam mobil itu. Semuanya seakan pamit untuk memberikan waktu dan tempat bagi kedua insan itu untuk menyelesaikan permasalahannya. Rose tak tahan, ia pun menguatkan dirinya untuk mulai membuka suara.


"Tu,, Tuan!", serunya pelan sambil menahan gugup.


Bukannya menjawab, Ben malahan menyerang Rose dengan bibirnya. Ia menyergap tubuh Rose yang berada di sampingnya. Lalu menanamkan bibirnya pada bibir wanita mudah itu. Ia nikmati bibir manis yang telah lama ia rindukan itu. Tapi kali ini rindunya bercampur marah. Pria itu menangkup kedua pipi Rose untuk memegang kendali. Rose tak mampu mengimbangi permainan Ben yang terkesan kasar pada bibirnya. Dan akhirnya ia pasrah menerima perlakuan Ben yang seperti ini padanya. Ia membiarkan pria itu meluapkan segala emosinya. Meskipun ia harus merasakan bibirnya menjadi sedikit kebas.


"Aku Rose!", jawabnya polos dengan nafas yang sama pendek-pendeknya.


"Kau adalah milikku! Barang milikku tidak boleh disentuh oleh orang lain!", kata-kata Ben seperti pedang panjang yang menghunus tepat pada jantung wanita itu.


Rose membuka matanya lebar seraya melepaskan tangan Ben dari wajahnya.


plak


Satu tamparan keras ia layangkan pada pipi pria seram itu. Matanya sudah benar-benar panas sekarang. Air matanya sudah tidak tahan lagi untuk terjun bebas dan mengaliri pipinya.


"Barang kau bilang? Jadi menurutmu aku adalah barangmu?!", suara Rose rendah dengan pandangan menuntut pada mata pria itu.


Ben memegangi pipinya yang kini memerah. Dan dengan kata-kata Rose barusan ia jadi tersadar dengan apa yang telah ia lakukan. Bodohnya, sekarang ia malahan membuat sebuah kesalahan besar.


"Aku ini adalah seorang manusia. Aku bukan barang seperti yang kau bilang. Dan aku bukan milik siapa-siapa. Aku adalah milik diriku sendiri. Jadi jangan coba-coba bersikap seenaknya dan kurang ajar lagi kepadaku. Kau sungguh membuatku sangat marah sekarang!", Rose berteriak di dalam mobil itu tepat di depan wajah Ben. Ia melampiaskan semua kekesalannya termasuk saat Ben berbuat kasar dan mendiamkannya seperti tadi.


Dibentak seperti itu emosi Ben pun ikut naik. Apalagi Rose mengatakan jika dia bukanlah milik siapa-siapa. Tidak, Ben tidak terima akan hal itu. Rose adalah miliknya. Hanya miliknya.


"Jika kau bukan milik siapa-siapa, lalu siapa pria tadi? Kenapa sampai kau berpelukan dengannya? Aku tau bahkan kau saja tidak punya teman di kota ini! Apakah ucapanmu yang berarti kau kotor berarti begitu, hah?! Jadi ku mampu berpindah dari lelaki yang satu lalu ke lelaki yang lainnya?!", wajah Ben mendekat dengan tatapan ingin menerkam.


plak


"Jaga ucapanmu, Tuan!", satu tamparan lagi Ben terima dari tangan Rose.


"Kau sudah benar-benar keterlaluan sekarang!", Rose menggeleng pelan dengan volume air mata yang makin banyak di wajahnya.


Hatinya sangat sakit saat Ben menyebutkan hal itu lagi. Dirinya yang kotor itu padahal Ben sendiri yang mengatakan bahwa Rose tidak seperti itu. Dan ia merasa tersentuh karena bahkan Ben mau menyembuhkan lukanya itu dengan cara membersihkan yang ia punya. Tapi sekarang, sekarang ia menyebutkan lagi hal itu dengan mulutnya sendiri bahwa Rose masih seperti itu.


"Kau bilang aku keterlaluan?! Baiklah, akan aku buktikan bagaimana aku yang keterlaluan!", tatapan mata Ben benar-benar seperti raja iblis yang sangat kejam sekarang.