
"Haha! Darah! Ini bukan apa-apa! Tenang saja!", pria itu juga menyentuh bagian kepalanya yang kini terasa basah. Namun pria itu masih saja bisa menguarkan tawanya.
hap
Akhirnya pria eksentrik itu tumbang juga. Tapi untungnya Rose masih berusaha menahan tubuh pria itu agar tidak jatuh ke tanah.
"Cepat bantu aku membawanya, Paman Alex!", seru Rose dengan cepat.
"Nona, rasanya Tuan Ben sangat,,, ugh,, berat!", mau tak mau Paman Alex mengeluh juga saat berusaha memapah pria tegap itu bersama dengan Rose.
Ya! Memang benar, pria ini sudah tinggi, tubuhnya lumayan berisi. Jadi wajar saja ketika tak sadarkan diri begini, bobotnya akan sangat membebani mereka yang berusaha membawanya.
Ia pun memandangi kakaknya itu dengan tatapan penuh harap. Rose merasa juga tak mungkin baginya memaksakan kekuatan Paman Alex yang umurnya sudah tidak muda lagi. Dan dia sebagai wanita, tidak sekuat itu juga. Hey! Dirinya ini bukan wonder woman yang bisa menanggung beban seberat itu.
"Apa?! Kau ingin Kakakmu ini membantumu, hah?! Apa kau tidak salah?! Bagaimana mungkin aku yang membawa tubuhku sendiri saja susah, lalu aku harus memban,,,", Victor asik mengoceh sambil memejamkan matanya. Dan saat matanya terbuka, ia akhirnya bisa melihat tampang adiknya itu yang sudah terlihat sangat garang.
"Bisakah Kakak diam sebentar?!", Rose memicingkan matanya ke arah pria dengan kursi roda itu.
"Ya, Tuhan! Sejak kapan Kakakku ini menjadi begitu cerewet begini?!", sambil menengadah Rose menyampaikan keluhannya.
Paman Alex hanya bisa tersenyum melihat hal ini. Tentu saja ia sangat tau jawabannya. Itu semua terjadi semenjak kedatangan Nona Rose-nya ini. Adik dari tuannya ini memang sesuai dengan apa yang tuannya katakan. Nona Rose memang menjadikan rumah ini, bahkan hidup setiap orang menjadi lebih berwarna. Tidak seperti biasanya yang hanya ada hitam, putih atau abu-abu saja.
"Jadi apa maksud tatapanmu itu?", Victor mengangkat dagunya sambil menyipitkan mata. Ingin tau adiknya ini sedang berkilah atau memang memiliki alasan lainnya.
"Cepat panggil siapa pun dua orang pria lagi ke sini! Apa kau tau?! Tubuh temanmu ini sangat berat! Hingga rasanya bahuku mau patah sebentar lagi!", pinta Rose setengah memerintah kakaknya itu.
"Kenapa harus dua orang?! Apa tidak bisa satu saja?!", alis Victor mengernyit heran dengan permintaan adiknya ini. Padahal menurut perhitungannya, dua orang pria saja sudah cukup untuk membawa tubuh temannya itu.
"Jadi apa Kakak berpikir untuk tetap membiarkan kami, dimana yang satunya seorang wanita yang lemah, lalu yang satunya lagi seorang paruh baya, harus tetap membantu mengangkat tubuh pria ini yang berat?", Rose membuka matanya lebar-lebar menyodorkan kenyataan yang harus kakaknya itu lihat.
uhukk,, uhukk,,
Paman Alex terbatuk saat mendengar ucapan nonanya itu. Apakah ia terlihat setua itu?! Tapi mau bagaimana lagi?! Kenyataannya memang ia tidak bisa lagi menyusahkan seluruh otot dan tulangnya untuk membawa beban yang terlalu berat. Baiklah! Ia akan menerima kenyataan bahwa dirinya ini memang sudah tua!
"Tapi Rose, kau ini kan masih muda! Masa kau tidak kuat membantu membawa pria ini ke dalam rumah?!", Victor masih berusaha menyangkal ucapan adiknya itu.
Entah kenapa rasanya jadi menyenangkan berdebat dengan seorang adik perempuan?! Hehe,,, bahkan ia jadi lupa jika saat ini seseorang harus segera ditangani.
"Apa Tuan dan Nona masih belum selesai?! Saya rasa sebentar lagi Tuan Ben akan merosot ke tanah!", Paman Alex akhirnya memperingati keduanya.
Sambil meringis pria paruh baya itu berusaha menahan bobot tubuh Ben pada sebelah bahunya. Yang tidak ia pungkiri lagi jika sebentar lagi ia akan merasa kesemutan karena berdiam seperti ini terlalu lama. Lalu pria yang dibawanya akan ikut jatuh bersama dengan Rose dan dirinya.
"Ah, aku lupa!", sambil tersenyum akhirnya Victor sadar.
Ia lalu menelepon dua orang petugas keamanan yang berjaga di depan rumahnya. Ia meminta mereka untuk mengangkat tubuh Ben untuk dibawa menuju kamarnya agar setelah ini Ben bisa segera ditangani. Membawanya ke atas, ke kamarnya tentu membutuhkan tenaga yang lebih lagi. Dan Victor tidak tega untuk memerintahkan hal itu kepada orangnya.
***
Topi koboi yang menjadi ciri khas orang itu telah dibuka dan kini sedang duduk manis di atas nakas di samping ranjang milik seseorang. Karena sang pemiliknya saat ini masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang itu.
Kepala Ben sudah dibalut dengan perban. Ada luka memar dan sobekan di kepala pria itu. Yang sepertinya akibat dari hantaman tangga lipat yang panjang dan lumayan berat itu.
Ada Rose yang sedang menangis karena merasa bersalah di sebelahnya. Lalu, ada juga Victor dan Paman Alex yang berada di samping ranjang tempat Ben berbaring.
"Kakak, ini semua memang salahku! Tidak, bukan! Ini semua karena mangga besar itu! Jika dia tidak menggodaku dengan tubuhnya yang besar itu, pasti aku tidak akan berusaha keras untuk mengambilnya!", sambil tersedu-sedu Rose menyeka air matanya yang belum berhenti mengalir juga.
"Sekarang mangga yang kau salahkan! Huh", pria dengan kursi roda itu mencibir ke arah adiknya.
"Tenang saja, sebentar lagi juga dia akan bangun!", imbuhnya lagi sambil mengelus kepala adiknya yang sedang memeluk tangan Ben.
Victor tersenyum tak percaya. Teman lamanya yang amat kuat itu, seorang ketua geng mafia yang sangat ditakuti oleh semua orang, saat ini sedang terbaring lemah hanya karena tertimpa tangga. Lalu bagaimana jika para anak buahnya mengetahui hal konyol macam ini, apa mereka semua tidak ingin muntah darah?!
"Kakak, sebaiknya aku menghubungi dokter saja! Sudah cukup lama pria ini belum bangun juga. Aku takut terjadi hal yang buruk pada dirinya!", lalu bergegaslah Rose keluar dari kamar itu.
Benar juga apa yang adiknya itu pikirkan. Kenapa tidak sejak awal saja ia memanggil dokter ke sini untuk memeriksa kondisi temannya ini. Dan lagi yang cedera adalah bagian kepala. Itu adalah bagian yang sangat vital bagi tubuh seseorang. Ia pun menjadi sangat bersalah akan hal ini.
"Hey, pria kuat! Kapan kau berencana untuk bangun?! Jika aku tau kau lemah begini, aku jadi menyesal menitipkan adikku padamu. Tapi,,, jika bukan dirimu, lalu siapa lagi yang bisa aku titipkan gadis ceroboh itu setelah aku tiada nanti! Baiklah, aku tak peduli kau akan kuat atau menjadi lemah begini! Yang penting kau bangun dulu sekarang! Aku tidak bisa tenang untuk pergi jika keadaanmu seperti ini!", Victor meluapkan semua keluhannya pada temannya yang masih memejamkan mata itu.
Ia sadari jika tak ada lagi harapan untuk kesembuhannya setelah mengetahui hasil tes pencocokan sel sumsum tulang belakangnya dengan milik adiknya itu. Tapi sebelum ia benar-benar pergi, paling tidak Victor ingin memastikan dengan siapa nanti adiknya itu akan bersama. Victor telah memilih Ben, karena ia merasa pria itu yang paling bisa diandalkan di antara temannya yang ia kenal.
"Jika aku mengatakan kau masih memiliki kesempatan, bagaimana?!", lalu pandangan mata Victor bertemu dengan pandangan mata Ben yang masih berusaha untuk terbuka dengan sempurna.
"Ben!", pandangan mata Victor lalu teralihkan oleh suara serak seorang pria yang masih terbaring di ranjangnya.
"Apa maksudmu, Ben? Apa maksud ucapanmu?", sekarang tatapan kedua teman itu sangat serius.
"Masih ada harapan untuk kesembuhanmu, kawan!", Ben mengulas senyum tulusnya. Sangat teduh tatapan matanya, hingga Victor sangat ingin menyangkalnya dengan cepat. Ia sangat yakin, jika temannya ini hanya sedang ingin menghiburnya saja.
"Jangan bercanda, Ben! Kau pikir aku tidak tau apa hasil tes itu?! Jangan membuat lelucon hanya untuk menghibur diriku! Aku sudah sangat pasrah sekarang dengan hidupku. Tidak masalah jika memang hidupku sudah tidak lama lagi. Aku sudah menerima kenyataan itu!", langsung naik intonasi suara Victor.
Pria itu sangat emosional, matanya sampai memerah yang Ben yakini sudah ada genangan air mata di sana. Paman Alex saja sampai dibuat terkejut mendengar lengkingan suara tuannya yang sangat jarang sekali ia dengar. Bahkan hampir saja tidak pernah.
"Apa kau sudah selesai bicara?", Ben terkekeh sambil berusaha duduk dan bersandar pada kepala ranjang.
Wajah pria yang biasanya hanya memiliki kesabaran yang terbatas itu terlihat sangat tenang. Hal itu membuat Victor jadi memiliki banyak pertanyaan di dalam lubuk hatinya. Sebenarnya temannya ini sedang memainkan permainan apa?!
"Katakan dengan jelas, Ben! Jangan bermain-main dengan sebuah harapan!", rahang Victor mengeras dengan tatapan tajamnya.
Ia tidak suka jika ada seseorang yang bermain-main dengan sebuah kata penghiburan untuk hidupnya yang sudah ia pasrahkan itu. Hidupnya memang menyedihkan, tapi hidupnya bukanlah sebuah lelucon bagi siapa pun.
Termasuk Ben, meskipun ia memiliki rasa hormat yang tinggi pada temannya itu, tapi jika temannya itu berani berkata yang tidak-tidak mengenai hidupnya, ia tidak akan menahan amarahnya lagi.
"Kau memiliki seorang putra, Victor! Dia anakmu dengan Bellena Peterson! Bella memiliki putra denganmu!", Ben memajukan tubuhnya lalu mencengkeram kedua bahu temannya itu dengan ekspresi yang begitu bahagia.
Rasanya Ben sangat tidak sabar dan terlalu antusias untuk menyampaikan kabar bahagia ini. Ia menahan kabar ini lantaran belum menyadari jika sebenarnya kenyataan ini sangat penting dan bermanfaat bagi kesembuhan penyakit yang sedang diidap oleh temannya itu.
"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa itu adalah anakku?!", lalu Victor menyingkirkan tangan temannya itu dari bahunya dengan wajah ragu dan kebingungan yang hebat.
Matanya menerawang kemana-mana. Mencari kebenaran dari setiap hal yang dilihatnya. Perasaannya campur aduk saat ini. Ada selintingan rasa bahagia, namun ada juga rasa tidak percaya.
Bagaimana mungkin dirinya memiliki seorang anak dengan wanita itu?! Wanita yang pertama kali disukainya. Sedangkan ia saja tidak pernah menyentuh wanita itu. Tapi tiba-tiba benaknya menangkap sesuatu di dalam kenangannya kala itu.
"Hanya kau dan Bella yang tau jawabannya, Victor!", sambil tersenyum Ben menepuk bahu pria itu.
Ia bukanlah Tuhan yang Maha Tahu. Bagaimana pun Ben adalah seorang manusia biasa. Pengetahuannya hanya sampai di sini saja. Bahkan Baz sendiri tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya. Karena adiknya selalu bungkam selama bertahun-tahun ini.
Jadi, bisa dipastikan hanya Bella yang paling tau apa yang sebenarnya terjadi. Karena saat ini wajah Victor telah berubah menjadi bentuk tanda tanya besar dengan alis yang berkerut dalam.
Pria yang duduk di kursi roda itu menghela nafas panjang. Namun ekspresi wajahnya tidak berubah banyak. Ben juga tidak dapat mengatakan hal apa pun karena informasi yang ia punya terputus sampai di sini. Dan sisanya adalah bagaimana Victor akan menghadapi kenyataan ini.
"Aku akan menyusul Rose di depan!", tanpa melihat ke arah Ben, ia memutar kursi rodanya hingga membelakangi Ben yang masih terduduk di ranjang.
Ben hanya menipiskan bibirnya untuk menanggapi sikap temannya ini. Victor pasti saat ini membutuhkan waktu dan kedamaian untuk berpikir dengan jernih. Maka ia tak mencegah temannya itu pergi dari kamar ini.
"Katakan pada Rose untuk tidak menelepon dokter. Karena sebenarnya aku baik-baik saja", tak lupa Ben menyampaikan permintaannya ini.
Hal itu tentu saja membuat Victor menghentikan laju kursi rodanya lalu menoleh ke belakang lagi, ke arah temannya itu.
"Darimana kau tau jika saat ini Rose sedang menelepon dokter?", ia lalu menyipitkan matanya, menatap curiga ke arah Ben di sana.
"Tentu saja karena aku mendengarnya!", satu tangannya ia letakkan di belakang kepala, dan ia gunakan untuk sandaran kepalanya. Wajah tenangnya membuat Victor mencium bau-bau kelicikan.
"Kau sudah sadar dari tadi atau sebenarnya kau tidak pingsan?!", tebakan Victor langsung membuat Ben tertawa lebar. Meskipun sedang sakit parah, ternyata temannya ini masih memiliki insting yang tajam juga.
"Kedua-duanya benar!", Ben menaikkan kedua alisnya secara bersamaan. Lalu bibirnya mengembangkan senyum menyebalkan ke arah Victor yang langsung membalasnya dengan memutar bola matanya.
"Jangan sampai Rose tau jika kau sudah berbohong tadi!", Victor kembali memutar kepalanya untuk menghadap ke depan.
"Paman Alex, ayo bantu dorong kursi rodaku!", Victor menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan tingkah temannya itu.
Ia tidak bertanya lebih lanjut, karena saat ini hati dan pikirannya masih terganggu dengan pernyataan Ben yang mengejutkan itu.
"Ini pelajaran karena telah membuatku jantungan!", Ben bergumam sendiri sambil menatap punggung Paman Alex yang mulai menjauh dari kamarnya. Sedikit rasa kesal mengingat kejadian tadi saat Rose hampir saja terjatuh dari tempat yang sangat tinggi.
Dan dari pintu yang terbuka itu, ia melihat Rose berpapasan di luar kamar. Adik kakak itu terlihat berbincang sebentar. Lalu keduanya pun berpisah arah. Rose kembali ke arah kamar tempat dimana Ben berada. Sedangkan kakaknya itu dibantu Paman Alex menuju ke halaman belakang.
"Tuan, kau sudah sadar?!", dengan antusias Rose mendekat dari arah pintu.
"Ya! Seperti yang kau lihat! Aku sudah sangat segar bahkan, karena tadi tidurku lumayan nyenyak!", dengan santainya pria itu tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Syukurlah kalau begitu!", Rose mengelus dadanya merasa lega.
"Ap,, apa?? Tidur nyenyak? Apa maksudmu, Tuan?!", lalu setelah sadar, Rose pun melemparkan tatapan tajamnya ke arah pria itu.