Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Kebahagiaan Rose



Setelah memberikan penjelasan lagi kepada wanita itu, akhirnya tekanan yang Ben dapatkan hilang sudah. Rose tidak mau berhenti bertanya. Ocehannya bahkan telah membuat telinganya hampir tuli. Rasanya sakit telingnya itu hingga ia harus mengguncang indera pendengarannya beberapa kali.


Ia telah menjelaskan bahwa memang ia tidak banyak mengetahui detail tentang masalah temannya itu dengan wanitanya. Ben mengatakan pada Rose bahwa itu berkaitan dengan tugas terakhir yang diambil kakaknya sebelum memutuskan untuk keluar dari gengnya. Dan wanita itu adalah adik dari target kakaknya.


Seperti apa hubungan antara Victor dan wanita itu, Ben tidak tau pasti. Yang jelas hanya ada satu nama wanita itu seorang yang pernah Ben dengar dari mulut kakaknya. Yang selama mereka berteman, tak satu nama kaum hawa pernah tersebut dari mulutnya..


Entahlah firasat apa ini, tapi Rose merasa bahwa mereka sepertinya memang ditakdirkan untuk bersama. Karena setelah terpisah sekian tahun pun, Tuhan masih memberikan jalan pada keduanya untuk bertemu kembali. Bahkan ada putra ditengah mereka.


Tapi ada perasaan mengganjal di dalam hati wanita itu saat memikirkan tentang hal ini. Rasanya ada yang aneh di dalam hatinya. Lebih tepatnya seperti firasat buruk yang datang. Hatinya sedikit resah, tapi ia tidak ingin menyampaikan hal ini kepada Tuan seramnya itu. Lagipula ia tidak ingin merusak kabar bahagia tentang kakaknya. Mungkin saja ini memang hanya perasaannya saja.


Malam itu Rose sudah tidur dengan nyenyaknya, Ben dapat melihat hal itu dari pintu kabar yang tidak sengaja masih terbuka sedikit. Wanita itu tidur lebih awal. Sepertinya kelelahan dan juga terlalu kenyang. Kegiatannya hari ini cukup padat. Dari mulai memanjat pohon mangga yang tinggi itu, lalu membantu memapah tubuh Ben yang lumayan berbobot, ditambah lagi ia terus saja mengejar kakaknya berusaha untuk menggali informasi. Tapi yang dibuntuti mulutnya seperti dilem, tidak mau bicara. Sambil menyentuh kepalanya yang masih diperban, Ben tersenyum memandangi wajah pulas yang menyembul di antara selimut itu.


"Selamat malam!", sapanya sambil lalu karena memang tadi ia belum sempat mengataknnya pada wanitai itu. Karena Rose sudah lebih dulu tidur saat Ben akan menemuinya lagi.


Malam memang telah datang, tapi mata pria itu masih segar karena sudah tidur siang cukup lama saat ia sedang mengerjai kakak beradik itu siang tadi. Tapi memang ada juga pikiran lainnya yang masih mengganggu di dalam benaknya. Dan hal ini harus ia diskusikan dengan teman lamanya itu. Akhirnya Ben memutuskan untuk turun ke bawah, siapa tahu saja temannya itu belum memejamkan mata juga.


"Kau belum tidur?!", ucap Ben seraya menuruni anak tangga.


Baguslah jika temannya itu masih terjaga! Jadi ia tidak begitu lama menyimpan pikirannya ini sendiri. Saat ini Victor tengah membaca sebuah buku di tangannya. Orang itu duduk sendirian di ruang tengah tanpa Paman Alex yang biasanya menemani.


"Sejak kapan kau jadi suka membaca?", tanya Ben sedikit heran sambil berjalan mendekat. Melihat wajah temannya itu yang terlihat sangat serius dengan benda di tangannya, tentu saja membuatnya heran.


"Kau belum tidur?", tanya Victor balik tanpa melihat ke arahnya. Pria itu seperti sedang berkutat dengan buku yang ia baca. Seperti topik yang berada dibahas itu sangat penting.


Bibir pria bertopi koboi itu lantas naik sebelah saat ia melewati orang itu. Ben tersenyum penuh ironi setelah melewati Victor. Karena bukannya membaca, tapi yang temannya itu lakukan adalah melamun. Buku yang ada di tangannya juga hanya ditatap dengan pandangan yang kosong.


"Siapa yang kau pikirkan? Wanita itu atau adikmu?", Ben langsung bertanya pada intinya seraya mendudukkan dirinya ke sofa dekat dengan kursi roda Victor.


"Hah!", lalu pria yang duduk di kursi roda itupun mendesah seraya menyandarkan punggungnya. Ia menatap Ben dengan tatapan memohon. Tolonglah berikan ia solusi dari masalahnya ini!


Victor diambang dilema dan kebingungan saat ini. Awalnya ia tidak tau harus berduka ataupun bersedih mengenai hal ini. Ada sejumput kenangan yang harus ia konfirmasi bersama dengan wanita itu untuk mengetahui lebih lanjut mengenai putra yang disebutkan oleh Ben tadi siang.


Tapi jika itu benar, tentu saja hatinya akan sangat bahagia. Terlepas dari penyakit apa yang tengah dideritanya, siapa yang tidak akan merasa senang jika mendapatkan kabar memiliki seorang putra. Terlebih lagi anak itu lahir dari rahim wanita yang pernah disukainya.


Namun hal itu juga menjadi pertanyaan bagi Victor sendiri, mengapa Bella tidak datang untuk menemuinya, meminta pertanggung jawaban darinya?! Ah benar, mungkin saja situasinya bertambah rumit karena ulah Tuan Ergy itu. Pasti orang itu telah melimpahkan semua kesalahan kepada dirinya, sehingga Baz begitu membencinya dan melarang Bella untuk menemuinya lagi. Meskipun adiknya itu dalam kondisi telah mengandung anaknya. Pasti Baz menolak untuk mengakui bahwa bahwa anak yang adiknya kandung adalah putra dari orang yang telah menghancurkan keluarganya sendiri.


Tapi ada juga perasaan bersalah mengenai adiknya tentang hal ini. Bagaimana nanti ia harus menghadapi Rose jika ia menerima kabar ini, jika ia menerima takdir ini. Sedangkan karena hal itu pula, Baz jadi memiliki dendam kepadanya. Dan yang menjadi bahan untuk pembalasan dendamnya itu. Adiknya yang selama ini menderita adalah karena perbuatan kakak dari wanita itu. Jadi bagaimana ia menjelaskan mengenai masalah pelik ini kepada Rose nanti?! Saat ini Victor dilanda kebingungan yang hebat.


"Aku tau apa yang kau pikirkan saat ini?! Tapi bisakah aku menasihatimu dengan bijak?", dengan gaya acuh dan sombongnya pria bertopi koboi itu merentangkan satu tangannya pada sandaran sofa.


Sikap angkuhnya itu tentu ada sebabnya. Karena memang Ben mengetahui duduk permasalahan ini secara jelas. Hanya saja bagian dimana Victor dan Bella bisa memiliki putra menjadi titik buta baginya. Karena ia tidak memiliki informasi mengenai hal itu sama sekali.


"Bahkan adikmu sudah mengenal orang itu, Baz Peterson!", tambah Ben lagi. Dan hal itu sontak membuat Victor dihentak kepalanya untuk menoleh ke arah Ben dengan cepat.


"Bagaimana, bagaimana bisa, Ben! Lalu apakah adikku terluka? Bagaimana Rose bisa bertemu dengan orang itu?! Baz tidak mencelakai Rose lagi, bukan?! Orang itu tidak melakukan hal apapun pada adikku, kan?!", pria bertopi koboi itu langsung diburu dengan seribu pertanyaan yang dari kakak yang sangat mengkhawatirkan adiknya itu.


"Hishh! Kepalaku sakit lagi mendengar pria cerewet seperti dirimu!", Ben menyahuti ocehan pria itu sambil meringis dan memegangi kepalanya yang masih dibalut kain putih itu.


"Bagaimana bisa Rose bertemu dengan Baz? Katakan padaku, bagaimana? Kau bilang akan menga adikku! Lalu bagaimana bisa kau sampai kecolongan seperti ini?!", ada nada kekesalan dalam pertanyaan yang lagi-lagi keluar secara bersamaan itu.


Victor terlalu mengkhawatirkan adiknya. Karena ia tau bagaimana orang itu telah begitu kejam menghancurkan hidup adiknya sampai ke titik dimana orang lain belum tentu bisa bertahan. Victor tidak ingin adiknya menderita lagi, maka dari itu ia menitipkan keluarga satu-satunya itu pada orang yang bisa ia percaya, yaitu Ben.


"Aku baru tau jika orang sakit itu bisa membuat mulutnya menjadi lebih cerewet!", bibir pria bertopi koboi itu mencebik kesal. Tanya saja pelan-pelan, tanya satu persatu hal yang tentu saja akan ia jelaskan dengan jelas.


"Bahkan mereka sudah berteman!", satu lagi kenyataan yang membuat Victor menghentikan nafasnya.


Heh, rasakan! Bukannya Ben kejam, hanya saja ia kesal karena telah diberondong begitu banyak pertanyaan oleh teman lamanya itu sejak tadi. Jadi Ben rasa masih adil jika ia memberikan pukulan kecil pada temannya itu. Selain kejam, pria itu juga sangat licik!


"Itu adikmu sendiri yang menceritakannya padaku! Tenang saja, itu hanya pertemuan yang tidak sengaja. Dan lagipula adikmu itu belum mengetahui siapa identitas orang yang telah dianggapnya teman itu", buru-buru Ben menjelaskan sebelum kondisi Victor karena saking terkejutnya. Ia kadang lupa jika teman lamanya itu sedang sakit parah. Itu juga terjadi karena temannya itu kadang masih suka bersikap menyebalkan.


Dan langsung terdengar helaan nafas panjang dari mulut temannya itu. Memang benar jika Victor sedikit merasa lega sekarang. Tapi mengetahui hal ini pun membuat ia harus semakin waspada. Ia tidak akan membiarkan adiknya itu menderita lagi. Apalagi dalam kondisi mereka sudah saling mengenal. Victor harus menjauhkan orang itu dari hidup Rose. Ia masih ingin adiknya itu hidup bahagia. Meskipun ia harus mengorbankan nyawanya sendiri.


"Aku hanya ingin adikku menjalani hidup yang bahagia. Aku ingin menebus kesalahanku sebagai kakak karena tidak bisa menjaganya dengan baik kala itu. Jadi Ben, tolong jangan biarkan Rose bertemu dengan orang itu lagi. Dan untuk urusan Bella,,, biarkanlah kami menjalani hidup kami sendiri-sendiri!", pria di kursi roda itu meletakkan buku yang dipegangnya ke atas meja. Lalu menoleh dengan lemah ke arah kamarnya. Ia mulai menjalankan kursi rodanya itu perlahan.


"Hishh!", Ben memegangi kepalanya lagi. Rasanya kepalanya ini mau pecah memikirkan temannya itu. Keputusan macam apa itu yang dia ambil?!


Dengan langkah yang tidak sabar, Ben menyusul kursi roda yang sudah mulai bergerak itu. Wajah pria bertopi koboi itu sangat garang saat ia menghentikan lajunya dari depan. Wajah Ben saat ini berada tepat di depan wajah Victor. Tangannya menahan di kedua sisi sandaran tangan.


"Siapa kau memangnya berhak menentukan bagaimana kebahagiaan bagi Rose?! Kau itu hanya kakaknya, bukan Tuhan?! Bahkan umurmu tidak akan lama lagi! Hanya karena kau adalah kakaknya jadi kau sangat tau apa yang membuat Rose paling bahagia?! Kau tidak tau apa-apa, Victor! Yang aku tau dari saat pertama kali bertemu dengannya, kebahagiaan yang ingin Rose raih adalah dengan kesembuhanmu!", Ben sudah tersulur emosinya.


Pria itu memang hanya memiliki stok yang terbatas dengan kesabarannya. Dan limit kesabaran yang punya sudah ia gunakan tadi untuk mendengarkan Victor berbicara sampai akhir. Ben mencengkeram kerah piyama tidur yang Victor kenakan dengan kuat.


"Tapi kau juga tau sendiri hal kejam apa saja yang telah Baz lakukan pada adikku, kan?! Aku tidak ingin egois hanya karena penyakitku saja, aku jadi melupakan derita apa yang telah Rose rasakan selama ini karena ulahnya!", Victor masih keras kepala. Ia menatap Ben balik dengan tatapan nyalang.


"Heh! Rasanya ingin sekali aku memukul kepalamu yang keras itu!", akhirnya Ben sadar bahwa yang ia hadapi hanya orang lemah yang memiliki penyakit parah. Ia pun melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Pria itu meraup wajahnya sekali sebelum melanjutkan berbicara lagi.


"Victor, sejak pertama aku bertemu dengan adikmu, yang dia pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar kau bisa sembuh. Tidak peduli berapa kemungkinan yang ada, kebahagiaannya adalah melihat kau sembuh. Bahkan setelah mendengar kau memiliki seorang putra, wajahnya langsung bersemangat. Padahal ia belum tau bagaimana itu akan cocok dengan dirimu. Tapi mendengar kabar itu saja, ia sudah sebahagia itu! Apalagi jika kau dan anakmu memang cocok, bagaimana bahagianya Rose nanti?! Apakah kau tidak bisa berpikir ke arah situ!", Ben berteriak melampiaskan emosinya yang meledak-ledak ini.


Paman Alex bahkan sampai datang setelah mendengar keributan di ruang tengah itu. Tapi ia tidak berani mendekat, biarkan saja dulu tuan-tuan itu menyelesaikan masalah mereka. Paman Alex hanya khawatir terjadi sesuatu pada tuannya itu, mengingat temperamen buruk yangn dimiliki oleh teman tuannya. Jika nanti kondisi Victor melemah, barulah ia akan bergerak membawanya untuk beristirahat di kamar.


"Jika kau masih berpikir seperti itu, bukan hanya kebahagiaan Rose saja yang kau renggut, tapi juga kebahagiaan Bella dan putramu! Apakah kau juga tidak pernah berpikir bagaimana Bella dan putramu menjalani hidupnya selama ini?! Kenapa yang kau pikirkan hanya tentang apa yang kau pikirkan saja, Victor?! Kau pikir mudah hidup tanpa suami dan juga ayah?! Pikirkan tentang semua orang! Pikirkan bagaimana perasaan mereka semua!", Ben pun mengakhiri kemarahannya. Ia kembali meraup wajahnya dengan kasar sambil melempar pandangannya ke arah lain. Ia terlalu kecewa dengan cara berpikir temannya itu yang terlalu egois.


Victor tertunduk lemah setelah mendengarkan semua penuturan Ben yang meskipun terdengar menyakitkan dan menohok, tapi itu memang benar-benar langsung mengenai ke dasar hatinya. Apalagi menyangkut darah dagingnya sendiri. Dan hal yang paling sensitif adalah mengenai kasih sayang seorang ayah yang tak pernah di dapatkan oleh putranya. Alis Victor langsung berkerut memikirkan hal itu. Bodohnya dirinya jika ia masih berpikir sama seperti tadi. Ben memang tidak memukulnya secara fisik, tapi batinnya benar-benar dipukul habis oleh temannya itu. Hatinya disadarkan oleh semua ucapannya.


"Baz sudah menyesal, orang itu sudah benar-benar menyesal! Dia tidak mungkin menyakiti adikmu lagi. Bahkan sepertinya,,, dia menyukai adikmu itu!", setelah itu Ben langsung pergi dari sana. Dengan perasaan kesal ia merutuki dirinya sendiri. Untuk apa pula ia mengatakan hal yang terakhir tadi. Itu sama saja ia sedang merendahkan dirinya sendiri. Tidak ada saingan, karena ia sangat yakin hati Rose hanya miliknya seorang. Sambil menaiki tangga, pria itu lalu tersenyum penuh percaya diri.


"Mari Tuan, saya bantu ke kamar!", dengan inisiatif tinggi Paman Alex maju dan mulai mendorong kursi roda itu.


"Sejak kapan kau berubah menjadi seperti hantu! Tiba-tiba datang tak diundang!", ucap Victor acuh pada pria paruh baya itu.


"Saingan, heh!", gumam Victor lagi seraya memasuki kamarnya.


Tapi setelah itu wajahnya kembali mengeras. Ia kembali memikirkan apa saja yang telah diucapkan oleh Ben tadi. Dan sepertinya malam ini ia harus menata ulang pikiran dan perasaannya mengenai semua hal ini.


-


-


**sekian dulu ya pemirsa,, mataku sudah sangat lelah,,


bab ini aku tulis sepanjang 2000 kata lebih ya,, semoga kalian puas bacanya,, cinta-cintaannya besok lagi ya teman-teman 🤭**