
sedikit info ya teman-teman,, ini bab aku tulis lebih dari 2700 kata lebih,, aku ga sempet ngedit lagi karena mataku udah nyerah buat kerja lebih lama lagi,,
semoga kalian puas dan suka ya bacanya 😉😘
"Yakin tidak ingin melihatnya? Aku takut kau akan menyesal nanti. Karena jika Tuan tidak menginginkannya maka aku akan langsung membuangnya ke tempat sampah!", kembali Rose memberikan penawaran yang menggiurkan bagi Ben. Meski pria itu secara nyata menolaknya.
"Baiklah kalau begitu! Sepertinya kau tidak tertarik. Jadi lebih baik aku buang sajalah!", Rose bangun dari duduknya. Ia menyambar tas belanjanya. Sengaja membawanya seraya menyenggol bahu pria itu untuk memprovokasi rasa penasarannya.
"Tunggu!", baiklah Ben menyerah. Ia sudah menahan tangan Rose yang sedang memegang tas belanja. Tanpa menoleh karena ia terlalu malu saat ini harus menelan perkataannya sendiri.
"Lihatlah apa isinya, Tuan!", perlahan Rose melepaskan pegangannya pada tali tas belanja di tangannya.
Entah kenapa rasanya Ben seperti sedang membongkar sebuah peti harta karun. Wajahnya memang terlihat tenang. Tapi sebenarnya di dalam sana jantungnya berpacu dengan cepat efek dari rasa gugup yang menderanya sekarang.
"Ini?!", ia mengangkat sebuah sweater coklat berukuran kecil dan yang jelas tidak akan muat untuk tubuhnya yang berotot itu.
"Apa maksudnya ini? Ini tidak akan bisa aku pakai!", kening Ben jelas berkerut sambil menatap sweater coklat yang ia rentangkan di depan wajahnya itu.
"Memangnya siapa bilang ini untukmu?! Ini untukku!", Rose menyambar pakaian yang masih berada di tangan pria itu lalu memeluknya.
"Lalu untuk apa kau memintaku untuk melihatnya?! Memang tidak ada untungnya kan untukku?!", pria itu mencibirkan bibirnya. Sudah akan senang karena ia pikir akan mendapatkan sesuatu, nyatanya malahan pakaian wanita yang didapat di tangannya.
"Kau ini sudah seperti wanita! Mengomel saja bisanya! Lihat ini!", wanita itu mengangkat satu lagi sweater coklat yang sama namun ukurannya lebih besar. Dan Ben rasa yang satu ini sangat pas untuk tubuhnya.
"Ini pasti untukku!", dan ia pun langsung menyambar sweater yang saat ini sedang ia pegang. Wajahnya penuh suka cita dan rasa gembira yang begitu besar layaknya anak laki-laki yang baru saja mendapatkan hadiah mobil-mobilan dari ibunya.
"Bukan! Itu untuk kakakku!", ucap Rose dengan santainya lalu menenggak segelas air putih untuk memperlancar tenggorokannya yang mulai terasa kering.
"Heh!", wajah Ben berubah gelap. Ia melemparkan sweater yang ia pegang ke pangkuan wanita itu dengan wajah kesal. Wanita ini benar-benar berani mempermainkannya.
"Benar, ini untukmu! Pakailah!", Ben segera menyambar sweater yang telah Rose sodorkan lagi ke depan wajahnya.
Mereka berdua pun mengenakan sweater yang sama. Saling menatap dengan senyuman puas namun dipenuhi kasih sayang.
***
Tidak tau saja jika saat ini di markas Harimau Putih, seorang pria tak sengaja melihat rekaman dari laptop milik bosnya itu. Relly melihat bosnya itu tengah mengenakan sweater dengan warna senada dengan wanita yang ia kenal.
Manisnya hingga Relly sendiri menjadi sangat iri saat ini. Tapi oh tidak! Bagaimana bosnya itu menjadi lebih muda dan lebih tampan dari biasanya saat menggunakan setelan casual seperti itu?! Hampir saja Relly salah mengenali orang. Karena ia pikir itu adalah orang lain dan bukan bosnya sendiri.
"Kira-kira bagaimana jika anak buahnya yang lain melihat penampilannya yang seperti ini, ya?!", Relly menyeringai dengan konyolnya. Tapi itu hanya angan saja, bukan! Di dunia nyata ini, mana ada keberanian dia mengungkapkan penampilan segar milik bosnya ini pada rekan-rekannya yang lain. Bisa muntah darah mereka melihat bosnya bisa berpenampilan semanis itu.
Tadi itu, setelah Relly mengurus beberapa hal diluar, dia lupa belum mengecek kembali kondisi ruangan bosnya itu. Ruang kerja bosnya itu harus terlihat rapih dan bersih meskipun bosnya sedang tidak ada di markas. Itu hal yang selalu dipesankan oleh Ben selama ini pada orang kepercayaannya itu.
Relly melihat laptop milik Ben masih dalam posisi terbuka. Ia lalu berinisiatif untuk mematikan benda pipih yang ternyata masih menyala itu. Dan tanpa sengaja ia melihat reaman cct yang Ben pasang dan langsung terhubung ke laptop yang Relly pegang saat ini.
Sebenarnya ia sedang geli dan nyaman sekali menguntit seperti ini. Tapi orang yang sedang ia perhatikan adalah bosnya sendiri. Dan di ruangan ini juga terdapat cctv, jangan sampai bosnya itu tau jika ia sempat melihat rekaman dirinya dari layar laptopnya sendiri. BIsa dihukum habis-habisan Relly.
Pria itu bergidik ngeri. Lalu memutuskan untuk mematikan layar laptop itu dan menutupnya rapat. Ia simpan dengan rapih laptop yang sudah tertutup itu di atas meja kerja bosnya.
Ia juga mengecek kesegaran bunga lili putih yang harus selalu ada di meja kerja bosnya itu. Ia pikir, setangkai bunga cantik itu masih bisa bertahan sampai besok pagi. Maka ia akan menggantinya besok pagi saja. Karena, saat tidak ada bosnya seperti sekarang ini, otomatis pekerajaannya juga jadi bertambah. Ia akan mengurus hal penting yang lainnya dulu.
"Yah! Lagi-lagi karena cinta?!", Relly mendesah sambil meninggalkan ruang kerja bosnya itu.
Dulu, demi Nona Ana bosnya itu berkorban banyak tentang perasaannya. Mengesampingkan rasa cintanya demi kebahagiaan Nona Ana. Dan sekarang, bosnya pergi meninggalkannya sendiri demi mengejar cinta yang baru saja bersemi di hatinya. Sebenarnya, Relly hanya iri! Ingin merasakan cinta juga. Namun ngeri untuk ditipu lagi.
***
"Ini sweater pasangan! Saat membelikan orang itu pakaian, aku juga langsung teringat dirimu, Tuan. Kemana pun aku pergi, aku selalu menyertakan dirimu di dalam ingatanku. Mana pernah aku berani memikirkan lelaki lain di saat otakku saja penuh dengan namamu!", Rose juga menunjukkan kalung dengan inisial B yang berjumlah dua buah itu.
Ketua geng mafia itu tentu saja langsung tersentuh hatinya. Ia benar-benar telah dikalahkan oleh wanita ini. Hatinya sudah luluh lantak diserang kata-kata manis yang bisa menjadi candu kapan saja jika Ben menginginkannya. Sungguh mulut wanita ini meminta diberi sebuah hadiah.
cup
Mata Rose tak bisa tertutup karena terkejut mendapatkan serangan mendadak seperti ini. Dikejutkan dengan sebuah ciuman, apakah Tuan seramnya ini sedang memberinya balasan?! Tangannya masih menggantung di udara memegangi kalung dengan liontin huruf B yang indah.
"Ini pasti untukku juga, kan?!", Ben mengambil kalung itu pada tangan wanita yang saat ini sedang mematung. Belum hilang rasa terkejutnya. Dan ia pun terkekeh melihat hal itu.
"Tapi kenapa ada dua buah?! Mau kau berikan kepada siapa lagi yang satunya?!", nada bicara pria itu menajdi sangat serius dan tajam. Ia lemparkn lirikan yang membuat Rose akhirnya tersadar.
"Oh , itu! Tadinya aku ingin membeli satu lagi dengan huruf R. Tapi sayangnya tidak ada, lalu aku menemukan ada lagi inisial B yang sama, jadi aku beli juga. Aku ingin kau memakai satu dan aku satu juga. Inisial B tidak buruk juga!", Rose mengambil salah satu kalung itu dari tangan Ben. Lalu mengangkatnya ke depan wajahnya. Ia pandangi kalung itu dengan senym ceria.
"Aku ingin selalu kau selalu mengingatku dimana pun kau berada, Tuan! Sama seperti diriku yang terus memikirkanmu dimanapun diriku berada. Termasuk saat berada di dalam,, toilet!", rasanya senang sekali hati wanita itu saat ini. Menggoda pria seram itu tentu mengasyikan, ketimbang melihat wajah seramnya yang bisa membuat orang bisa membeku kapan saja.
ttak
Ben memberi sebuah sentilan kencang pada dahi wanita itu, Tentu saja Rose langsung menjerit kesakitan. Dan kegiatan selanjutnya adalah dia mengelus dahinya yang terasa sedikit perih dan ia rasa sudah memerah.
"Kau pikir aku ini kotorann, hah?!", keluarlah wajah galak khas pria seram itu.
"Hah?!", tanpa sadar kedua kalung itu sudah berada di tangan Ben. Rose mengernyitkan alisnya meminta penjelasan.
Dan pria itu menjawabnya dengan sebuah tindakan. Ben memakaikan kalung yang satunya ke lehernya. Lalu yang satunya lagi ia ikatkan di tangannya sebagai gelang.
"Huh! Serakah sekali! Itu kan milikku yang satunya lagi!", Rose mengerucutkan bibirnya kesal.
Padahal yang ia bayangkan adalah bisa memakai kalung yang sama seperti pasangan yang pernah ia tonton dalam acara drama. Tapi apa ini?! Tuan seram itu malahan menyambar keduanya dan memakai semuanya tanpa rasa bersalah.
"Kau mengatakan bahwa selalu ada aku di dalam pikiran dan hatimu, bukan?! Jadi cukup aku saja yang memakai ini. Agar aku merasa kau selalu ada di dekatku dimanapun aku berada!", keduanya saling menatap dengan begitu intens hingga tanpa sadar wajah keduanya kini sudah sangat dekat.
Ben tak ragu lagi untuk menyentuh bibir wanita itu ketika Rose sendiri telah memejamkan matanya. Menanamkan bibirnya di sana, lalu menarik sedikit dagu wanita itu agar bibirnya sedikit terbuka. Jadilah bibirnya mengakar pada mulut wanita yang sepertinya sudah siap menerima penjajahan dari pria itu.
Lalu pria itu maju untuk menghimpit wanita itu sampai punggungnya menyentuh kepala ranjang dan tak ada lagi celah di antara mereka berdua. Keduanya terbawa perasaan, saling menyatakan cinta dengan membiarkan rasa manis dan mint berpadu menjadi satu dengan gerakan lincah yang mereka punya. Rose sudah mengalungkan tangannya pada sekitar bahu dan leher pria itu. Sementara Ben, terus memegang kendali dengan memegangi wajah Rose di kedua sisinya.
Pergerakan panas itu tentu saja memancing sesuatu yang tadinya sedang tertidur nyenyak di bawah sana. Dan pria normal itu menyadari hal itu. Dengan wanita yang dicintainya ini, dirinya jadi mudah terangsang meski hanya sebentar saja ia menyentuh wanita ini. Rasanya dirinya ini makin serakah saja dan ingin memiliki wanita ini seutuhnya.
TIidak! Mengingat bagaimana hancurnya hati Rose akibat kejadian sore tadi, Ben tidak boleh membiarkan juniornya mengendalikan dirinya. Ia tidak ingin menyakiti wanita ini lagi. Perkara ia menginginkan hal itu, maka nanti saja. Saat ini ia tidak berpikir untuk merusak wanita yang ia cintai saat ini.
Wanita itu tidak bodoh, ia juga merasakan perubahan pada diri Ben yang makin ganas menciumi bibirnya. Pria itu pasti tengah merasakan sesuatu yang membuat nafsunya kini menjadi lebih besar. Lalu tiba-tiba keduanya berhenti bersamaan sambil menautkan kening mereka satu sama lainnya.
"Maafkan aku, Rose! Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi. Tapi saat ini, bisakah kau membantuku meredam api yang membara dii dalam tubuhku? Aku berjanji aku hanya akan menciummu saja, tidak lebih!", ada tatapan putus asa dan penuh harap datang bersamaan menyergap pandangan matanya.
Rose tersenyum lalu mengangguk setuju. Ia juga melihat ketulusan dari mata pria itu. Pasti Tuan seramnya memikirkann tentang kejadian sore tadi. Pasti pria itu tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama lagi. Dan Rose juga mengerti keinginan besar yang pria itu miliki terhadap dirinya. Lalu sudah sampai sejauh ini, bahkan mereka sudah menyatakan perasaan mereka masing-masing pun, Tuan seramnya malahan tidak mengambil keuntungan dari hal ini. Pria itu malahan semakin berhati-hati dengan meminta izin padanya terlebih dahulu. Siapa juga yang tidak akan tersentuh?!
Ben tersenyum lega. Lalu tanpa basa-basi lagi ia lacarkan aksinya dengan menikmati bibir wanita itu dengan rakusnya. Tubuh Rose seakan melemah dengan serangan yang satu ini. Ia pun dibimbing untuk merebahkan dirinya di atas ranjang. Ben kini berada di atasnya. Tak melepas pertautan bibir mereka, Ben berusaha mengendalikan dirinya. Tangan yang satu ia gunakann untuk menopang tubuhnya, sedangkan yang satunya lagi masih berada di sisi wajah Rose yang sekarang sama merahnya dengan dirinya.
Ben sudah berjanji untuk tidak melakukan hal lebih. Maka sekarang pun ia tengah berkonsentrasi meredam api yang sudah siap meledak tadi. Ya, meskipun sesekali tanganya menjelajah di atas sweater coklat yang wanita itu gunakan. Merasakan dua buah gundukan yang tidak terlalu besar, tapi juga sangat pas untuk ia genggam.
Dan saat mendapati hal itu, berulang kali juga Rose harus memperingati pria itu dengan memukul tangan nakalnya. Ben terkekeh sendiri di tengah ciumannya. Ia pun melepaskan bibirnya lalu mengangkat wanita itu hingga kini berada di pangkuannya.
"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi! Kecuali,, kau yang meminta!", Ben makin terkekeh saat ia mendapatkan satu pukulan di bahunya. Wanita itu sedang berdemo dengan wajah cemberutnya.
"Tapi tugasmu belum selesai. Ayo bantu aku lagi meredakan api di dalam tubuhku ini!", setelah keduanya salingn tersenyum, sepasang makhluk fana itu menyiapkan posisi masing-masing untuk saling menerima penyatuan rasa manis dan minta lagi seperti yang mereka lakukan sebelumnya.
Di atas pangkuan pria itu, Rose merangkulkan lagi tangannya pada bahu Tuan seramnya. Dan demi mencegah tangan nakalnya berkeliaran kemana-mana, maka Ben menyimpan kedua tangannya di belakang punggung wanita itu. Mendekapnya dengan erat seperti tak ingin wanita itu pergi dari rasa nikmat yang sedang keduanya rasakan saat ini.
Mereka berhenti saat nafas mereka hampir habis. Saling menautkan kening dan berusaha memompa oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru merekayang hampir hampa. Keduanya juga terseyum dengan nafas yang terengah-engah. Ini adalah ciuman terpanas yang mereka lakukan di selama hidup meraka.
Meskipun Ben berpengalaman dengan banyak wanita yang biasnya ia bayar untuk menuntaskan kebutuhan bioligisnya, tapi tak sekalipun ia biarkan wanita-wanita itu menikmati bibirnya yang berharga ini. Terkecuali jika ia yang menginginkannya, itupun tidak akan lebih dari lima detik. Bagi pria itu, pertautan bibir yang lama hanya akan menimbulkan rasa welas asih. Dan ia tidak akan memberikan hal itu kepada wanita yang ia bayar. Dan kini untuk pertama kalinya, ia melakukan hal yang ia jaga selama bertahun-tahun lamanya dengan wanita yang memang benar-benar pantas. Karena ia memang mencintai wanita ini.
Dan bagi Rose, ini adalah pengalaman pertama yang gila. Panas namun juga penuh rasa cinta. Hal-hal yang pernah ia lihat dalam drama akhirnya ia melakukannya juga. Rose tidak keberatan karena ia percaya pria itu akan memegang kata-katanya. Tuan seramnya tidak akan melakukan hal lebih lagi, jadi ia ikuti saja permainan bibir yang Ben berikann padanya itu. Hitung-hitung ia juga sekalian belajar, haha.
"Eherm,,, Tuan Victor bertanya apakah makan malamnya sudah dihabiskan semua?", Paman Alex memecah keheningan itu lagi dengan tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar itu.
Sontak saja Rose langsung melompat dari pangkuan Ben tadi. Jika Rose memiliki rasa canggung yang tinggi. Bahkan saat ini wanita itu tengah tersenyum serba salah. Lain halnya dengan Ben yang enggan menatap pria paruh baya itu lebih lama lagi. Wajahnya benar-benar menghitam saat ini. Ini sudah kedua kalinya orang itu mengacaukan suasananya.
"Pintunya tidak dikunci dan sedikit terbuka. Saya sudah mengetuk beberapa kali namun tidak ada jawaban juga!", Ben makin kesal mendengar ucapan datar pria itu.
Penjelasan macam apa itu?! Jadi pria paruh baya itu secara tidak langsung telah menyalahkan mereka berdua karena telah lalai dan tidak menjaga privasi. Jadi maksudnya ini sama sekali bukan salah pria itu, begitu?! Sungguh Ben ingin sekali melempar wajah pria itu dengan nampan yang berada di sebelanya.
"Ini, Paman! Kami sudah selesai!", sebelum Ben bertindak keterlaluan maka dengan cepat ia menyambar nampan yang sudah dilirik tajam oleh Tuan seramnya itu.
"Tuan Victor berpesan agar Nona Rose tidak diganggu lagi karena harus banyak istirahat!", oh wajah Ben sudah berubah merah matang sekarang. Bahkan teman lamanya itu bisa memrintahkannya dari bawah sana, tanpa bertemu dengannya pula. Hidung pria itu sudah kembang-kempis menahan gejolak amarah yang sudah berada di ujung kepalanya.
"Iya, katakan kepada Kakak aku akan istirahat sebantar lagi. OK!", Rose segera mendorong Paman Alex keluar dari kamarnya setelah menyerahkan nampan bekas makannya. Ia tidak ingi pria yang kesabarannya tipis itu akan membahayakan Paman Alex. Karena ia sendiri tau bagaimana pria itu jika sudah menggila.
brak
Pintu kamar ditutup. Di balik pintu itu terlihat Paman Alex tengah mengusap keringat yang sebesar biji jagung pada keningnya. Sebenarnya siapa juga yang berani mengusik ketua geng mafia itu. Ini karena dirinya hanyalah seorang bawahan yang mendapatkan sebuah perintah. Tapi tuannya ini memang benar-benar sedang mengerjainya sejak tadi. Mengambl foto, dan sekarang mengambil nampan sebagai alasan. Ya ampun, sebenarnya Paman Alex masih sangat sayang dengan nyawanya.
# FLASHBACK ON
"Kau periksalah adikku di kamarnya! Aku takut teman lamaku itu akan melahap habis adikku!", perintah Victor yang sedang asyik menontot sebuah acara di televisi.
"Tapi, Tuan! Saya tidak berani!", Paman Alex menyampaikan ketidakberdayaanya. Apalagi tadi ia saja sudah ditatap dengan begitu seramnya oleh teman tuannya itu. Tatapan itu terasa lebih tajam daripada pisau buah.
"Yasudah tidak usah! Jika saja kakiku bisa digerakkan seperti biasanya,,,,!", Victor mendesah tak berdaya sambil sesekali melirik ke arah pria di sebelahnya.
"Baiklah, Tuan! Saya akan ke atas sekarang!", jurursnya selalu berhasil pada Paman Alex. Pria itu selalu tidak tega jika ia sudah mengatakan kalimat-kalimat yang menyedihkan seperit tadi.
Dan, haha! Victor tertawa kecil sambil memandangi punggung pria yang sedang menaiki tangga itu. Tapi memang benar, ia tidak ingin adik kesayangannya itu dimakan habis oleh harimau yang sedang kelaparan dan haus cinta. Tidak sebelum mereka yakinn dengan perasaan mereka msing-masing. Untuk saat inin tidak bisa, karena masih terlalu awal bagi keduanya.
Victor lanjutkan lagi menonton acara televisi yang menjadi tidak seru baginya. Sebenarnya ia juga iri dengan adiknya. Bisa merasakan cinta, kapan ia bisa merasakannya juga. Tapi,, mengingat keadaannya saat ini, mungkin itu hanya akan menjadi angan saja baginya. Penyakitnya sudah semakin parah. Dan ia sendiri juga sudah mengetahui hasilnya dari pengawal yang tadi menjaga Rose ke rumah sakit. Ia menerima laporan tentang hasil tes pencocokan sel tulang sumsumnya. Victor tidak bersedih, ia hanya menyesal belum membuat adiknya bahagia.
# FLASHBACK OFF