
"Sebenarnya aku tidak masalah jika memang Victor tidak mau menerima Bervan, Kak. Aku hanya berharap dia bisa sembuh. Itu sudah cukup bagiku!", Bella berpaling dari hadapan kakaknya untuk menghadap ke arah lain.
Ia mencoba berbicara setenang mungkin saat ini. Meskipun sebenarnya tangannya yang mengepal di udara itu gemetar di depan dadanya. Pun sama halnya dengan bibirnya yang mengerut menahan tangis yang sengaja ia tahan di tenggorokannya.
Benar, memang hanya itu harapannya setelah mendengar kabar yang amat memukul hatinya itu. Nama pria yang ia simpan di dalam hatinya, meskipun telah terpisah oleh jarak dan waktu, ia berharap orang itu akan bahagia di dalam kehidupannya. Tanpa harus tau bahwa ia memiliki seorang putra dengan dirinya. Ia hanya berharap orang itu bahagia.
Tapi setelah mendengar bagaimana hidup pria itu begitu malang selama ini, apalagi dengan penyakit parah yang sudah dideritanya, Bella jadi banyak berpikir. Mungkinkah, di saat pertemuan mereka itu Victor sengaja tidak ingin Bella berharap lebih darinya, lantaran pria itu sudah mengetahui penyakitnya itu?! Mungkinkah pria itu melakukannya demi kebahagiaan Bella sendiri?!
Sungguh setelah menedengar kabar dari kakaknya itu, sampai detik ini, perasaannya masih sangat kacau. Terlalu berantakan rasanya di dalam sana. Ada sekilas perasaan bahagia karena setelah penantiannya selama ini, akhirnya kakaknya yang keras kepala itu mau mengizinkannya untuk bertemu dengan Victor lagi. Bahkan ia mengizinkan Bervan untuk ikut bersamanya. Tentu saja hatinya sangat bahagia.
Tapi berita selanjutnya adalah hal yang sangat memukul hatinya dengan keras. Langsung nyeri hatinya setelah mendengar kabar mengenai penyakit yang sedang diderita orang itu. Jantungnya seperti diremas saat mendengar hal it.
Jadi saat ini, yang terpenting bagi Bella adalah kesembuhan Victor. Semoga saja dengan Bervan, orang itu bisa sembuh dari penyakitnya yang parah.
Masalah Victor nanti mau menerima Bervan atau tidak, Bella bisa memikirkan lagi setelah itu. Atau,, misalnya Victor tidak menerima Bervan pun, asalkan orang itu sembuh, setelah itu Bella akan kembali dengan putranya itu ke negaranya.
Wanita itu cukup tau diri, siapa pula yang dapat menerima kenyataan begitu saja saat tiba-tiba seorang wanita datang dan mengatakan bahwa anak yang ia bawa adalah putranya. Dalam posisi ini, Bella cukup memahami hal itu. Lagipula ia sudah terbiasa berdua saja dengan Bervannya.
"Maafkan Kakak, Bella!", Baz yang berada di belakangnya pun tak tahan melihat adiknya yang terlalu menahan perasaannya. Atau mungkin, memang adiknya itu sudah terbiasa menahan perasaannya selama ini, dan itu karena ulahnya sendiri.
"Maafkan Kakak yang pada saat itu terlalu keras kepala dan tidak mau mendengarkanmu! Maafkan Kakak karena telah merenggut kebahagiaanmu dan Bervan selama ini! Maafkan Kakak, Bella! Maafkan Kakak!", pria itu tidak tahan lagi dengan bola besar yang masih bersarang di dadanya. Ia menarik tangan adiknya itu. Lalu ia dekap tubuh adik kesayangannya itu dengan begitu eratnya.
"Tidak, Kakak! Tidak!", Bella menggelengkan kepalanya di dalam pelukan kakaknya itu.
Kakak beradik itu menangis bersama. Di dalam perasaan kacau mereka masing-masing. Baz dengan rasa bersalahnya yang luar biasa ia rasakan sampai hampir berpikit untuk tidak ingin hidup lagi. Dan juga Bella, dengan perasaan campur aduk yang terus mengganjal hatinya sampai saat ini.
Tapi,, ia tidak pernah menyalahkan kakaknya sedikit pun atas keputusan yang kakaknya itu ambil kala itu. Ia pun mengeri bagaimana murkanya kakaknya itu setelah diberitau kebenaran mengenai kematian ayah mereka yang merupakan sebuah fitnah bagi Victor sebenarnya. Tapi ia juda tidak dapat mencegah kemarahan kakaknya itu lantaran ia tidak memiliki bukti sama sekali untuk membuktikan bahwa Victor tidak bersalah.
Jadi ia mengikuti semua keputusan yang kakaknya ambil dengan berat hati. Meskipun selama bertahun-tahun hidup kakaknya hanya dilingkupi oleh dendam, tapi kepada dirinya dan juga Bervan, kakaknya itu selalu memiliki banyak kasih sayang. Jadi Bervan pun tidak kekurangan perhatian selama ini. Ada juga hal yang masih patut ia syukuri
"Kakak hanya belum tau dengan jelas saat itu! Mata Kakak hanya belum dibuka dengan lebar saat itu! Kakak jangan menyalahkan diri sendiri lagi, ya! Tugas Kakak sekarang adalah untuk mengungkapkan semua kebenaran yang selama ini tertutup dengan rapat. Balas mereka semua yang telah membuat ayah tiada!", Bella melepaskan pelukan itu. Ia menghapus jejak air mata yang membuat wajahnya kakaknya menjadi basah.
Ia pun telah menenangkan dirinya. Namun masih ada air mata juga di pipinya. Jadi dengan perhatian Baz pun mengusap pipi adiknya itu hingga mengering. Keduanya sudah bisa tersenyum bersama. Dan Baz pun mengangguk setuju. Benar, Tuan Ergy dan seluruh anteknya harus merasakan hancurnya hidup seperti yang telah ia alami.
"Ah ya,, sama seperti Kakak, Victor juga memiliki seorang adik perempuan!", sekarang giliran Baz yang menghadap ke arah lain membelakangi adiknya. Bella mengangguk setuju karena ia pun pernah mendengar hal itu.
"Namanya Rose!", wajah pria itu berubah cerah saat menyebutkan nama wanita itu.
"Nama yang indah!", Bella berkomentar.
"Ya,, sama indahnya dengan wajah dan hatinya!", pria itu bergumam pelan sambil membayangkan pertemuannya dengan Rose beberapa hari lalu di sana.
Pertemuan yang tidak disangka-sangka, dimana dirinya malahan ditolong oleh seseorang yang seharusnya membencinya. Entah karena memang Rose belum mengetahui hal itu. Tapi yang jelas, Baz tau jika hati wanita itu selaras dengan cantik wajah yang dimilikinya.
"Aku mendengar apa tadi?! Apa tidak salah?! Kakakku yang selama ini tidak pernah memuji wanita selain adiknya sendiri, sekarang sedang memuji wanita lain?! Ayo katakan padaku, apa Kakak menyukainya?!", Bella masih mendengar ucapan lirih kakaknya itu. Ia pun jadi begitu bersemangat sampai membalikkan tubuh kakaknya itu untuk menghadap ke arahnya.
"Kakak tidak bicara apa-apa! Dengar, dia itu adiknya Victor, namanya Rose! Rose itu adalah orang yang baik dan menyenangkan. Kurasa kau akan betah karena dia akan menemanimu dan Bervan nanti saat kau di sana. Jadi sekarang jangan berpikir macam-macam lagi?! Ingat, dia itu adiknya Victor, bibi dari Bervan!", Baz mendengus pelan karena sepertinya ia harus memeberikan penjelasan yang membuat adiknya yang sering penasaran itu puas.
"Kalau dia adiknya Victor, memangnya kenapa?! Bukankah akan tambah seru jadi kita akan langsung memiliki dua pasangan di dalam keluarga kita! Aku tidak perlu repot-repot lagi mencari kakak ipar yang cocok untuk kakakku!", Bella melepaskan pegangan tangan Baz pada bahunya. Ia merasa percaya diri dengan pemikirannya saat ini. Sepertinya wanita itu sedang melupakan kesedihannya sejenak.
"Hey, kau ini bicara apa?! Sudah jangan berpikir macam-macam lagi! Ayo siap-siap sana!", pria itu pun tak tahan dengan mulut adiknya yang mulai sok tau dan cerewet itu. Jadilah ia mendorong adiknya itu ke arah lain agar ia bisa segera menghindarinya.
"Lagipula Rose sepertinya sudah memiliki kekasih. Dan Kakak mengenal orang itu! Dia bukan lawan yang sepadan bagi Kakak! Sepertinya kami memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh!", lagi-lagi Baz bergumam pelan. Dengan wajah lesu ia memandang ke sembarang arah.
"Memangnya Kakak ini Tuhan, bisa mengetahui takdir seseorang! Lagipula itu hanya kekasih kan, mereka belum,,,", lalu terdengar suara seorang anak kecil memanggilnya, sehingga ia harus menghentikan ocehannya barusan.
"Mama!", suara serak Bervan memanggilnya dari atas tempat tidur. Sepertinya ia sedang mencari keberadaan ibunya itu.
"Ya baiklah, ini memang salahku!", Bella mengakui kesalahannya sambil mengedikkan kedua bahunya. Wanita itu pun menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Lagipula mana bisa ia menyalahkan kakaknya yang keras kepala itu!
Sambil berjalan menghampiri keponakannya di tempat tidur, Baz merasa lega. Karena percakapan mereka akhirnya telah usai. Ia akhirnya terhindar dari ucapan-ucapan adiknya itu yang terus menekan. Lagipula bukan hanya siapa pesaing yang harus dihadapinya. Tak masalah siapa pun itu, asalkan mereka belum terikat di dalam pernikahan, Baz yakin pasti bisa merebut hati wanita itu. Tapi ada permasalahan yang lebih mendalam di balik ini semua. Ada dendam yang salah dan juga rasa bersalah yang begitu besar hingga ia sendiri pun merasa tidak punya muka untuk bertemu lagi dengan wanita itu.
***
Sinar mentari yang masih malu-malu itu saja sudah membuat langit fajar yang semula masih gelap, perlahan mulai terang. Rose meregangkan tubuhnya setelah merasa tidurnya cukup. Ia merasa malam ini bantal guling yang biasa menemaninya tidur terasa agak berbeda. Terasa lebih besar dibandingkan dengan biasanya. Dan terasa lebih,, keras. Karena bantal guling kesayangannya itu biasanya terasa sangat lembut dan empuk.
Masih belum banyak berpikir karena nyawanya belum terpukul semua, ia hanya mengambil kesimpulan jika itu hanya perasaannya saja. Wanita itu malahan mengusap-ngusapkan keningnya ke benda yang ia rasa masih bantal gulingnya itu. Sambil terus memeluknya erat dan tersenyum. Padahal yang diusapkan keningnya itu adalah dada bidang seorang pria yang sejak semalam terus dipeluknya.
Tapi selaras dengan nyawanya yang semakin terkumpul, pikirannya pun semakin bekerja dengan benar. Ada hal yang aneh memang dengan guling yang dipeluknya saat ini. Memang ada yang berbeda. Matanya masih susah terbuka. Jadi tangannya saja yang bekerja untuk memastikannya.
Tangannya mulai meraba-raba benda yang saat ini dipeluknya itu. Tangan Rose mulai meraba bagian pertama yang saat ini berada di tepalak tangannya. Dan itu adalah punggung lebar pria itu. Alisnya perlahan mulai berkerut sambil terus memastikan. Telapak tangannya terus bergerak, mengusap-ngusap punggung lebar dan hangat itu sampai terus menyentuh lengan yang berada di sisi tubuh pria itu.
Aneh, pikir Rose tentu saja! Masa iya guling kesayangannya itu seperti bercabang, seperti memiliki bagian lainnya yang lebih kecil. Rose memastikan lagi dengan meremas-remas lengan orang itu. Dan masih terasa empuk sehingga Rose masih berpikir bahwa itu masih sebuah guling baginya.
Tangannya kembali bergerak, kali ini dada pria itu yang disentuhnya. Ada yang aneh lagi, masa iya guling kesayangannya itu berdebar. Sudah seperti manusia saja, gulingnya seperti memiliki jantung di dalamnya. Malahan wanita itu tersenyum karena sempat berpikir benda yang disentuhnya mirip seperti dada bidang Tuan seramnya. Dengan sangat senang, Rose terus mengusap dada itu hingga naik ke bagian atas.
Aneh! gumamnya lagi sendiri di dalam hati. Kenapa makin aneh saja bentuk gulingnya sekarang. Yang disentuhnya ini bergerak-gerak ke atas dan ke bawah. Seperti ada benda tumpul kecil yang bergerak di dalamnya. Saat ini tangan Rose berada di leher Ben, dan tangannya itu sedang menyentuh jakun pria itu. Hal yang menambah nilai maskulin dari seorang pria.
"Ini benar-benar aneh!", sekarang dia benar-benar bergumam.
"Kenapa bantal gulingku terasa sangat hangat?! Dan bentuknya juga memang terasa berbeda!", tangan wanita itu turun kembali ke dada Ben. Mengusap-ngusanya lagi dengan lembut.
Rose telah dibuai dengan rasa penasarannya sekarang. Ia harus memantikannya langsung dengan mata kepalanya sendiri agar penasarannya hilang. Perlahan matanya mengerjap hingga menampakkan bayangan samar di depan wajahnya.
"Aaaaakkhhhh! Hantu! Tolong ada hantu!", Rose langsung menjerit saat melihat sosok di hadapannya ini.
Wajah pria itu memang pada dasarnya sudah putih, lalu ada lingkar hitam besar di sekitar matanya. Sepertinya semalam memang benar-benar sebuah penyiksaan baginya, sehingga ia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Wajah pria itu begitu layu dengan mata hitam, benar terlihat seperti sosok hantu.
Rose terperanjat dalam rasa terkejutnya. Ia mendudukkan dirinya sambil memeluk bantal dengan eratnya. Begitu sama halnya dengan Ben, ia pun ikut mendudukkan dirinya dengan lemas. Rasanya ia seperti habis bertempur habis-habisan semalam, sehingga tidak ada lagi daya yang ia punya. Jadi ia pun belum mampu menanggapi teriakan Rose sama sekali.
"Kau,, Kenapa kau ada di sini!", tudingnya tepat di depan wajah Ben, setelah ia menyadari siapa yang berada di hadapannya kini.
"Aku,,, ", suara Ben yang lemah belum selesai mengucapkan penjelasannya, tapi Rose sudah berteriak lagi.
"Aaaaaaaakkhhh!", dan kali ini bahkan teriakannya lebih keras daripada yang tadi.
Rose ikut pucat setelah melihat tubuhnya yang polos dan tak berpakaian. Ini apa yang sebenarnya terjadi?! Kenapa ia bisa setengah telanjang seperti ini?! Dimana pakaian yang ia kenakan sebelumnya. Rose masih menjauhkan bantal dari tubuhnya, matanya akhirnya berhasil menangkap letak kaos yang sebelumnya ia pakai itu sudah berada di bawah tempat tidurnya.
"Ini bagaimana bisa?!", Rose memeluk bantal itu lagi dengan wajah frustasi. Bibirnya melengkung ke bawah merasa sangat sedih.
Bagaimana hal ini bisa terjadi padanya?! Meskipun ia mencintai pria yang berada di hadapannya ini. Tapi ia belum siap untuk menyerahkan segalanya kepada pria itu. Hatinya belum siap.
Tapi tunggu dulu! Kenapa rasanya ada yang aneh lagi! Wajah pria itu bukannya segar malahan terlihat sangat layu seperti tanaman yang sudah sangat lama tidak disiram. Lalu pakaian pria itu juga masih lengkap terpakai semua. Sedangkan hanya dirinya saja yang tidak mengenakan pakaian. Jadi apa yang sebenarnya terjadi?!
Tapi rasanya pria itu juga terlalu lemah untuk berkata-kata. Rasanya ia ingin tidur saja. Rasanya ia ingin mengistirahatkan dirinya saja. Meskipun tidak melakukan apa-apa sama sekali, tapi rasanya malam ini telah menguras seluruh tenaga dan juga energinya.
"Nona! Nona! Apa yang terjadi? Apakah ada yang bisa saya bantu? Mengapa Nona berteriak keras sekali?", belum lagi mereka menyelesaikan masalah yang ada. Satu lagi masalah muncul. Paman Alex mengetuk pintu kamarnya berulang kali dengan suara yang amat mengkhawatirkan dirinya.
-
-
...Selamat membaca ya teman-teman semua 😊...