
"Apakah dia punya alasan untuk menolak?!", ucap Ben tanpa keraguan. Secara rasional tentu Victor akan menerima anak itu. Di samping memang ia mencintai Bella, tapi untuk penyakitnya sekarang ini, Victor juga membutuhkan anak itu untuk kesembuhannya.
"Baiklah kalau begitu, tolong sampaikan berita baik ini kepadanya!", Baz kembali menepuk bahu pria itu seraya tersenyum.
"Ah,, ini sudah waktunya! Jika urusanku dengan Tuan Ergy itu sudah selesai, maka aku akan langsung membawa adik dan keponakanku ke sini!", ia melihat ke arah jam tangannya. Sebentar lagi waktunya untuk terbang.
"Kirim Bella dan putranya terlebih dahulu! Kau bisa datang belakangan!", ucap Ben seraya menolehkan kepalanya.
Pria ini terlalu bersemangat untuk datang ke sini lagi pasti karena ingin bertemu dengan wanitanya, kan?! Jangan kira dirinya tidak tau, ya?! Sudah tau juga saat ini kondisi Victor sedang kritis, kenapa harus mengulur waktu lagi untuk mengirim Bella dan anaknya ke sini?! Sungguh membuat Ben semakin kesal saja!
Baz terkekeh melihat tingkah cemburu pria eksentrik itu sejak tadi. Jadi begini rupa seorang ketua geng mafia yang terkenal itu jika sudah marah dengan alasan seorang wanita?! Hehe,,, apakah dirinya juga mungkin akan memiliki kelakuan yang sama jika dirinya memiliki kekasih yang disukai oleh orang lain juga?! Sepertinya sangat seru,,, Baz jadi ingin merasakannya.
"Kenapa kau malah tertawa?!", Ben melemparkan tatapan tidak suka.
Saat menoleh ia jelas melihat bahwa Baz sedang menutupi mulutnya yang sedang tertawa kecil. Dan Ben yakin jika Baz sedang menertawakannya.
"Ben,, kami hanya teman! Lebih tepatnya,, dia hanya menganggap diriku sebagai teman! Jadi jangan memiliki rasa khawatir yang berlebih-lebihan!", Baz mencondongkan tubuhnya ke arah Ben. Ia menempatkan wajahnya di samping wajah pria itu, lalu membisikkan sesuatu seraya tersenyum konyol.
"Yasudah,,, kalau begitu aku berangkat sekarang!", lalu pria itu berbalik dengan cepat dan segera melangkahkan kakinya dari sana tanpa menoleh lagi ke arah Ben yang ia tinggal di belakang. Pria itu juga sempat melambaikan satu tangannya sebagai tanda perpisahan.
"Hey,, bagaimana aku tidak kesal! Jelas aku melihat bahwa kau itu memeluknya!", Ben akhirnya berteriak meluapkan penyebab kekesalannya pada Baz yang ia simpan sejak tadi.
Ia tak peduli orang-orang yang lewat melihatnya dengan tatapan aneh. Saling berbisik dan sesekali menertawai Ben rupanya. Tapi apa Ben memikirkannya, tidak. Yang ada semua orang itu malahan memilih untuk buru-buru lari saat Ben menatap mereka balik dengan tatapan khasnya yang kejam dan tirani. Padahal itu hanya tatapan biasa saja bagi Ben, ke tapi itu juga sudah membuat nyali orang-orang menjadi ciut.
"Jangan terlalu pelit, Ben!", Baz menimpali teriakan pria bertopi koboi itu dengan suka hati. Sambil terus melangkahkan kakinya ke depan.
"Hey, kau! Kau ini memang benar-benar,,,,!", jadilah Ben kesal sendiri karena tidak dapat melampiaskannya pada orang itu.
Ben memukul udara di depan wajahnya. Bayangkan saja jika wajah Baz saat ini berada di hadapannya. Kesal sekali pria itu saat ini apalagi saat melihat punggung Baz yang semakin menjauh dan makin tak terlihat lagi.
***
Pria bertopi koboi itu sudah memegang kemudinya lagi. Ia sudah siap menjalankan mobilnya yang keren itu menuju rumah teman lamanya lagi. Rumah yang biasanya menginginkan dirinya untuk pulang.
Pria itu lantas tersenyum mengingat semua percakapannya dengan Baz tadi. Ya! Dia hanya cemburu,, sangat cemburu. Tapi pria itu masih santai menanggapinya. Sabar sekali pria itu, pikir Ben saat ini.
Baiklah! Paling tidak mereka sudah mengetahui status mereka masing-masing terhadap Rose saat ini. Jadi Ben harap Baz bisa menjaga diri untuk tidak dekat-dekat atau pun sengaja mendekati Rose lagi. Karena Rose adalah miliknya,, wanita miliknya.
***
Di dalam pesawat yang sudah terbang di atas awan, Baz duduk santai di pinggir jendela. Menikmati pemandangan awan yang memiliki berbagai bentuk dengan keindahannya. Ia tersenyum, melengkung bibirnya dengan sangat sempurna. Kedatangannya ke negara ini sungguh tidak disangka akan memiliki banyak cerita.
Memiliki kawan dan teman. Merasakan terluka dan berdarah. Dan juga merasakan jatuh cinta dan juga patah hati sekaligus. Baz terkekeh, sepanjang hidupnya, kunjungannya ke negara ini adalah yang paling menarik.
Meskipun ia tak dapat memiliki wanita itu secara utuh. Tapi biarlah kenangan bersamanya yang ia miliki ini, bisa ia simpan sampai nanti. Dan memeluk wanita itu bukanlah keputusan yang salah ternyata, karena entah kapan lagi ia memiliki kesempatan seperti itu setelah mengetahui bahwa Rose adalah milik kawannya. Atau mungkin ia tidak akan memiliki kesempatan lagi, karena bisa saja senjata yang akan menodong kepalanya.
"Bella, tunggu Kakak bawa kabar baik ini!", pria itu meneduhkan pandangan matanya ke arah luar jendela.
***
"Nona! Ayo turun dulu!", Paman Alex memohon dua meter di bawah kakinya.
"Nanti dulu, Paman! Sedikit lagi aku dapat!", Rose sedikit melompat beberapa kali untuk menggapai buah mangga yang jaraknya hanya tinggal beberapa sentimeter lagi dari ujung jarinya.
Dan Victor yang paling tak berdaya. Mau berteriak pun lelah, mau mencegah juga bagaimana caranya. Dia benar-benar tidak tau sejak kapan adiknya ini menjadi begitu nakal.
Di halaman belakang rumahnya memang terdapat kebun kecil yang ditanami banyak bunga-bunga. Dan Rose sangat menyukai hal itu. Tapi ada satu lagi yang mencuri perhatian adik dari Victor itu, pohon mangga yang kokoh dan besar yang berada di sudut halaman. Itu berada hampir di paling belakang.
Pohon mangga yang memiliki dahan panjang nan kekar, juga banyaknya dedaunan yang rimbun itu kini sedang memasuki masa panennya. Buah mangga bergelayutan di sana-sini. Dan hal itu membuat Rose tidak tahan untuk tidak mengambilnya.
Bermodal tangga lipat yang Ben gunakan semalam untuk memanjat ke kamarnya, Rose juga gunakan benda itu untuk mencapai dahan pohon mangga yang lebih tinggi lagi. Di sana, Rose sudah mengincar buah mangga yang terlihat paling besar dan paling matang di antara yang lainnya.
Semenjak hidupnya menjadi sulit, tinggal di rumah sendiri tapi terasa menjadi seorang pembantu di sana, Rose jadi bisa melakukan banyak hal. Termasuk memanjat pohon untuk sekedar memetik buah seperti ini. Bukan hal yang terlalu sulit lagi baginya. Ini lebih kepada hal yang menyenangkan menurutnya.
Jika dua orang di bawah menampilkan wajah khawatir luar biasa. Rose yang berada di atas sana malahan terlihat sangat ceria. Ia sudah bertekad, pokoknya ia harus mendapatkan buah mangga incarannya itu.
"Cepat turun, Rose!", seru Victor dari bawah dengan nada pasrah. Entah adiknya itu mau mendengarkan dirinya atau tidak. Ia sudah mendesah berulang kali dengan wajah putus asa.
"Apakah saya harus menyusulnya ke atas, Tuan?", Paman Alex juga sama khawatirnya.
"Tunggu sebentar lagi saja! Aku takut kau yang malahan akan celaka karena menolong adikku!", Victor memijit keningnya tak berdaya. Mana mungkin ia membiarkan Paman Alex yang umurnya sudah dua kali lipat dari adiknya itu naik ke atas pohon yang tinggi itu. Bukannya menyelesaikan masalah, yang ada hanya menimbulkan masalah baru nantinya.
"Dapat! Dapat! Dapat!", Rose menyemangati dirinya sendiri saat ujung-ujung jarinya sudah mulai menyentuh buah mangga incarannya itu.
Wanita itu terus melompat pada dahan yang ikut bergoyang karena gerakannya itu. Ia sampai menggigit bibir bawahnya saking gemasnya ia tidak juga mendapatkan buah itu sampai sekarang.
"Dapat!", seru Rose kegirangan karena akhirnya benar-benar bisa menggapai buah mangga itu.
kretek,,, kretek,,,
Tapi sesuatu membuat mimik wajahnya berubah. Dahan yang ia pijak memiliki retakan, dan semakin lama retakan itu semakin panjang dan besar.
"Yaaaaa!", dan dahan itu pun benar-benar patah. Rose yang belum siap dengan apa yang akan terjadi pun berteriak. Ia terkejut, pasrah dan juga panik saat ini karena tubuhnya mulai terjun bebas ke bawah. Paling-paling setelah ini ia akan masuk rumah sakit.
Melihat hal itu, Victor dengan sigap langsung menjalankan kursi rodanya ke arah dimana kira-kira Rose akan mendaratkan tubuhnya. Mungkin dengan begini ia bisa menangkap tubuh adiknya itu di pangkuannya.