
Wajah Ben masih menunjukkan ketidakberdayaan. Jika seperti ini, berarti ia harus menyelesaikan masalah ini sendiri. Pikiran Rose benar-benar kalang kabut saat ini.
Dengan pasrah ia menyingkirkan bantal yang menutupi tubuh polosnya itu. Menekan rasa malunya, Rose pun membanting tubuh Ben ke tempat tidur begitu saja. Ia tak peduli apa yang pria itu rasakan setelahnya. Pening atau pusing pun masa bodoh baginya! Ia membaringkan tubuh Tuan seramnya itu lalu ia tutup seluruh tubuh pria yang tinggi itu dengan selimutnya. Ia bermaksud menyembunyikan Ben untuk saat ini.
"Nona! Nona! Apa Nona baik-baik saja?", Paman Alex ternyata masih berteriak dengan tidak sabar dari arah luar kamarnya.
"Hish,, orang tua memang selalu tidak sabaran!", Rose menggerutu sambil berusaha memakai kaosnya yang ia pungut di lantai. Orang itu sepertinya masih penasaran dengan apa yang sebenarnya yang terjadi kepada dirinya.
"Iya, Paman! Aku baik-baik saja!", dan Rose masih menyempatkan diri untuk menjawab di tengah kegiatannya yang terburu-buru itu. Wanita itu yakin jika ia belum menunjukkan batang hidungnya di depan pria paruh baya yang masih terus berterik di depan kamarnya.
"Paman! Aku benar-benar baik-baik saja!", ia segera membuka sedikit pintu kamarnya. Ia mengeluarkan sedikit kepalanya tak ingin Paman Alex sampai mengetahui apa yang ada di dalam kamarnya saat ini.
"Apakah Nona yakin, jika Nona baik-baik saja?! Tadi saya dan Tuan Victor mendengar Nona berteriak kencang sekali. Kami jadi sangat khawatir. Dan Tuan Victor segera memerintahkan saya untuk memeriksanya", Paman Alex bicara dengan sangat bersungguh-sungguh. Memang benar ada jejak kekhawatiran di wajah pria paruh baya itu. Nafasnya juga terlihat memburu seperti tadi ia begitu tergesa-gesa naik ke lantai ini.
Rose menghela nafas tak berdaya diam-diam. Ia tidak tega sekali melihat pria berumur ini sepertinya lelah sekali. Gara-gara keributan yang ia buat, Paman Alex harus berusaha keras untuk menaiki puluhan anak tangga itu. Maafkan Rose, Paman Alex!
"Tadi itu aku hanya kaget saja karena saat terbangun tiba-tiba aku melihat kecoa terbang di atas kepalaku!", ide ini saja yang muncul di kepalanya saat ini. Semoga saja Paman Alex mau mempercayai alasannya ini. Ia tak lupa menambahkan ekspresi serius yang dapat dipercaya.
"Kecoa? Benarkah? Kalau begitu biar saya usir kecoa itu, Nona!", Paman Alex sudah hampir menerobos masuk kamarnya.
Rose sedikit panik, tapi untungnya ia masih dapat berpikir dengan cepat. Sebaiknya ia saja yang keluar daripada Paman Alex yang masuk ke dalam kamarnya. Pintu kamarnya tidak ia buka lebih lebar lagi. Ia khawatir Paman Alex akan melihat apa yang ia sembunyikan di dalam kamarnya ini. Setelah berhasil berdiri di luar kamar, ia buru-buru menutup pintu kamarnya itu.
Terbesit sedikit kecurigaan dalam pikiran Paman Alex. Ia merasa jika nonanya ini seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi langsung ia tepis pikiran itu, karena ia merasa tak ada gunanya ia mencurigai nonanya. Lagipula apa pula yang disembunyikan?! Ia merasa terlalu banyak berpikir.
"Aku sudah berhasil mengusirnya keluar lewat jendela tadi. Makanya aku tadi berteriak-teriak, karena geli dan gemas tidak juga berhasil mengusir binatang menjijikan itu keluar dari kamarku. Sekarang semuanya sudah aman terkendali. Jadi sebaiknya Paman kembali saja ke bawah. Aku akan mandi lalu turun untuk sarapan bersama!", sambil memamerkan senyumnya, Rose membimbing pria paruh baya itu ke arah tangga. Mengusirnya secara halus rupanya.
"Jadi begitu! Jika kecoa itu kembali, Nona bisa langsung memanggil saya atau yang lainnya. Kami pasti akan segera datang untuk membantu mengusirnya! Kalau begitu saya permisi dulu!", Paman Alex pun akhirnya mulai menuruni anak tangga.
Rose mengelus dadanya merasa lega karena masalah ini akhirnya bisa terselesaikan juga. Jika sampai Paman Alex mengetahui apa yang dia sembunyikan di kamarnya, pasti orang itu akan melaporkannya kepada kakaknya. Lalu bisa habislah dia di tangan kakaknya itu jika sampai ketahuan sudah menyembunyikan seorang pria. Padahal dia sendiri belum tahu pasti bagaimana jelasnya semuanya bisa jadi seperti ini.
Di tengah kesibukannya dengan pikirannya sendiri. Rose yang sedang menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali itu pun harus mematung tiba-tiba karena ternyata Paman Alex kembali lagi dan memanggilnya.
"Nona Rose!", pria itu terlihat sangat lelah karena harus kembali menaiki tangga. Umur memang tidak bisa dibohongi. Tenaganya sudah tidak seperti dulu lagi.
"Ya!", Rose pun menoleh dengan wajah setengah paniknya. Ia jadi takut sekarang jika Paman Alex akan berubah pikiran dan ingin memeriksa sendiri kamarnya. Lalu apa yang ia harus lakukan?! Bagaimana jika ketahuan?!
"Itu Nona,, Tuan Ben!", nafas pria paruh baya itu masih pendek-pendek. Masih berusaha mengumpulkan oksigen perlahan. Ia lelah sekali.
"Iya, ada apa dengan Tuan Ben?", Rose menggigit bibir bawahnya untuk menyembunyikan rasa gugupnya saat ini. Aduh,,, ia sangat takut ketahuan! Bagaimana ini?!
"Tolong panggil Tuan Ben juga untuk sarapan bersama! Saya lupa memanggilnya barusan", balon yang menekan dada wanita itu dengan rasa takut akhirnya meletus juga. Ternyata ini alasan Paman Alex kembali memanggilnya lagi.
"Oh,, itu! Tenang saja, nanti aku akan mengajaknya untuk turun juga", Rose benar-benar tersenyum lega sekarang.
"Terima kasih, Nona!", dan tambah lega lagi ketika Paman Alex tidak kembali lagi.
"Sebenarnya, kecoa di dalam kamarku ini baru akan aku usir, Paman!", wanita itu melangkah masuk ke kamarnya lagi sambil menggeram.
***
"Apa yang terjadi?", Victor masih memasang wajah khawatir dan penasaran secara bersamaan saat Paman Alex datang menghampirinya di ruang tengah.
"Nona bilang ada kecoa ketika Nona bangun tadi. Jadi Nona berteriak-teriak saat berusaha mengusir kecoa itu. Tapi untunglah kecoanya sudah berhasil diusir oleh nona melalui jendela", Paman Alex menjelaskan dengan wajah polosnya. Pria paruh baya itu masih kehilangan banyak tenaga dan nafasnya. Ia sekarang sedang berusaha menetralkan nafasnya yang masih pendek-pendek itu.
"Kecoa?", Victor mengulangi objek yang menjadi alasan adiknya itu berteriak sekeras tadi. Ia memegangi dagunya dengan satu tangan seraya berpikir.
"Tapi Tuan, saya merasa tadi Nona seperti sedang menyembunyikan sesuatu! Karena Nona Rose tidak membiarkan saya masuk ke dalam kamarnya. Entahlah, sepertinya saya saja yang terlalu banyak berpikir. Yang penting kecoa itu sudah diusir oleh Nona!", Paman Alex menyampaikan sedikit rasa gusar yang dirasakannya tadi. Tapi lagi-lagi ia kembali berpikir positif mengenai nonanya itu.
"Ya, kecoanya pasti sangat besar sehingga ia berteriak sekencang itu!", Victor tersenyum sinis setelah mendengar penuturan Paman Alex barusan.
Rasanya ia bisa menerka apa yang disembunyikan adiknya itu. Sayangnya ia tidak kuat berjalan saat ini, jangankan berjalan, berdiri terlalu lama saja rasanya ia sudah tidak kuasa. Jika saja Victor sehat dan bugar, pasti ia sudah mendobrak kamar adiknya itu sekarang.
Teman lamanya itu benar-benar! Berani sekali lelaki itu menerkam adiknya di kandangnya sendiri! Sungguh lantang! Sebagai kakak tentu perasaan ingin melindungi yang ia miliki sangat besar. Tapi jika dipikir ulang, keduanya sudah dewasa sekarang. Apapun yang mereka lakukan pasti keduanya sudah tahu konsekuensi apa yang harus mereka hadapi. Keduanya sudah memiliki tanggung jawab atas semua langkah yang mereka ambil.
Lagipula, dua orang itu sama-sama suka, kan. Jadi masih ada sedikit kewajaran dapat Victor berikan kepada dua orang itu. Karena ujung-ujungnya ia hanya bisa mendesah pasrah. Yang jelas, jika sampai terjadi sesuatu pada adik satu-satunya itu, meskipun mereka berteman sudah sangat lama, tapi tak ada ampunan sama sekali akan ia berikan pada orang itu.
"Kecoanya sangat besar?", Paman Alex kembali berpikir dengan wajah polos tidak tahu apa-apa sama sekali.
"Ehhmmm,,,", tapi Victor menjawabnya dengan anggukan tidak pasti.
"Kalau begitu bagaimana jika kecoa itu kembali lagi?! Bagaimana jika saya kembali ke kamar Nona untuk mengeceknya kembali?!", Paman Alex secara sukarela menawarkan diri.
"Naik saja sana jika kau masih kuat!", dengan acuhnya Victor hanya mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. Terkadang asistennya ini memang suka lupa sudah berapa umurnya sekarang. Baru saja orang itu berhasil menetralkan nafasnya yang tinggal setengah. Lalu sekarang sudah bersemangat lagi untuk naik ke lantai dua. Bukan apa-apa, Victor hanya khawatir setelah ini dia akan dirawat intensif karena kelelahan. Lalu jika tidak ada Paman Alex, siapa lagi yang akan mengurusinya dengan sangat telaten?! Tentu saja yang ada di pikirannya adalah tentang kepentingan dirinya sendiri! Kadang manusia itu harus sedikit egois! Haha,,
***
"Hey, bangun! Ayo bangun, Tuan! Ayo bangun!", entah ini usaha yang ke berapa kalinya bagi Rose untuk membangunkan orang itu.
Bahkan selimut yang menutup rapat dirinya sejak tadi pun tidak ia singkap sama sekali. Sepertinya selama ditinggalkan tadi, Tuan seramnya ini langsung jatuh ke alam bawah sadarnya yang paling dalam. Hingga rasanya susah sekali pria ini untuk dibangunkan.
"Pagi-pagi begini aku sudah berkeringat! Dan ini semua karena dirimu, Tuan!", Rose bertolak pinggang di pinggir ranjang dengan gaya tidak sabar. Benar saja, ia sudah seperti habis olahraga lantaran usahanya untuk membangunkan pria itu selalu sia-sia. Mana lagi, tubuh yang dimilikinya sangat berat dan keras seperti batu kali. Ia menyeka keringat di dahinya sambil kembali membulatkan tekad bahwa ini adalah usahanya yang terakhir kali. Dan Tuan seramnya itu harus benar-benar bangun setelahnya.
Rose menundukkan tubuhnya. Mendekatkan wajahnya ke telinga Tuan seramnya itu. Tadi ia sudah menggunakan cara kasar, tapi pria itu malahan tidak bangun juga. Jadi kali ini ia akan menggunakan cara halus saja. Dan semoga caranya kali ini akan berhasil.
"Tuan! Ayo bangun!", Rose berbisik mesra di telinga pria itu.
Hish! Masih belum berhasil juga! Tapi ia masih belum menyerah.
"Tuan, sayang! Ayo bangun!", kembali ia membisikkan suara yang lembut itu di telinga Ben.
Rose sudah setengah kesal karena orang itu masih belum mau bangun juga. Tapi yang tidak diketahui wanita itu adalah, jika telinga pria itu sedikit bergerak. Sepertinya Ben sudah mulai kembali ke kesadarannya. Hanya saja ia sengaja masih menutup matanya untuk mencari keuntungan lebih. Salah sendiri, semalaman ia sudah dibuat tersiksa!
"Tuan, sayang! Ayo bangun!", dengan kalimat yang sama, namun Rose menambahkan sebuah ciuman di telinga pria itu.
Wah,, wanita ini benar-benar sudah menggodanya lagi. Jangan salahkan dia jika nanti ia akan menyantap sarapannya di sini. Ben tersenyum licik dalam hati.
Sebuah tangan tiba-tiba sudah menahan tengkuk lehernya untuk bisa bangun berdiri lagi. Itu tangan yang besar dan kuat. Rose melirik ke arah wajah Ben. Yang ia takuti pun terjadi, pria itu perlahan membuka matanya sambil menyeringai.
Sejak awal Rose memang tahu, jika cara halusnya ini memang memiliki resiko yang besar. Melihat bagaimana masih lengkap pakaian pria itu saat terbangun, ia yakin jika kekacauan pagi ini pasti karena ulahnya sendiri tadi malam. Meskipun ia tidak bisa mengetahui detailnya karena ia benar-benar tertidur semalam. Yang harus dikonfirmasi adalah bagaimana pria itu bisa ada di kamarnya.
Terlepas dari semua pemikiran itu. Intinya kecanggungan yang ada itu adalah ulahnya. Dan pasti selama semala, pria itu menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Maka dari itu bisa ada mata panda setebal itu di wajah Tuan seramnya. Itu adalah spekulasi yang ia buat sampai saat ini. Dan karena hal itu pula ia mendadak menjadi sangat takut sekarang. Semalam ia sudah menyiksa pria itu, jadi ia menyangka pasti Tuan seramnya akan membalasnya. Sekarang ia yang akan disiksa.
Benar kan, setelah memberinya kecupan ringan di bibirnya, hanya dengan satu gerakan saja dirinya sudah dipenjara di dalam kungkungan pria itu. Saat ini mereka sudah berbaring bersama. Dan dekapan yang begitu kuat itu tak dapat membuatnya bergerak sama sekali. Rasanya ia tidak akan bisa melepaskan diri dengan segala kekuatan yang ia miliki. Dan tiba-tiba firasat buruk datang menghampirinya.
Ben menundukkan kepalanya, tanpa permisi ia langsung menempatkan bibirnya pada bibir Rose. Tak peduli wanita itu belum siap, langsung menyergap seluruh bibir wanita itu dengan begitu agresif.
"Tuan!", seru Rose saat berhasil mendorong dada Ben sedikit menjauh. Nafasnya mulai sedikit tersengal.
"Kau tahu betapa tersiksanya aku semalam?! Jadi biarkan sekarang aku menyembuhkan rasa sakit yang aku derita selama semalaman tadi!", Ben kembali mendekap Rose untuk menanamkan bibirnya.
"Tapi itu juga salahmu karena menyelinap ke dalam kamarku, kan?!", Rose mendorong lagi dada keras itu. Tapi bibirnya sudah berhasil disentuh sedikit.
"Uupss,, aku ketahuan!", pria itu tentu tidak merasa bersalah sama sekali.
"Tapi salahkan juga dirimu yang tidak menutup pintu dengan benar! Dan salahkan juga dirimu yang mengigau dengan sembarangan membuka pakaian. Bagaimana jika bukan aku yang ada di sisimu semalam?! Bagaimana jika pria cabul yang semalam berada di sebelahmu?!", Ia malahan makin mendominasi dan menyudutkan wanita itu dengan mata yang menyipit dan menajam.
"Lalu sekarang apa bedanya kau dengan pria cabul yang kau maksud barusan?! Heh!", Rose tak ingin disalahkan begitu saja, sehingga ia berbalik menyerang Ben dengan kata-katanya.
"Tentu saja berbeda! Semalam aku berusaha keras untuk menjagamu dan tidak berbuat jahat! Tapi sekarang,, yang ku lakukan sekarang adalah memberi hukuman agar kau tidak mengulanginya lagi di masa depan!", dia tetaplah Benny Callary, seorang pria tidak sabaran dan juga tidak pernah mau dikalahkan. Harus dia yang menang.
Belum sempat Rose melawan lagi, Ben sudah mulai menikmati bibirnya lagi. Pria itu bosan terlalu lama mendebatkan hal yang tidak berguna. Mau apapun yang dikatakan Rose, dia tetaplah benar. Dan hukuman yang akan ia berikan pun adalah sebuah kebenaran baginya. Percaya saja, setelah beberapa saat kekasihnya itu pasti akan hanyut juga dalam hukumannya nanti.
Jadi sekarang, dengan khidmatnya Ben menciumi bibir Rose yang masih sedikit kaku karena penolakan. Mata wanita itu belum mau menutup dan memutar bola matanya malas. Tapi siapa yang bisa tahan dengan lihainya gerakan bibir dan lidah Tuan seramnya itu dalam memanjakannya. Sampai akhirnya pun ia ikut terbawa permainan. Di saat itu, Ben masih bisa tersenyum. Ia puas karena memang sesuai dugaan bahwa kekasihnya itu pasti akan membalas apa yang ia lakukan.
Beberapa lama terjerat bersama, Ben pun melepas pagutannya pada bibir berwarna merah muda itu. Ia menurunkan bibirnya untuk ia sapukan ke sekitar leher dan telinganya. Ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri. Terus bergantian hingga tubuh Rose benar-benar menegang oleh sengatan listrik yang mengalir hingga ke sekujur tubuhnya.
"Kau harus benar-benar merasakan hukuman ini, Sayang!", lelaki itu berbisik lembut di telinga Rose. Ia juga sengaja menghembuskan nafas hangatnya di sana, membuat tubuh Rose makin menegang.
Terus saja pria itu menciumi setiap senti wajah dan leher wanita itu. Ia masih ingat dengan kemampuan yang dimilikinya, ia sangat handal untuk membuat wanita menjadi gila. Gila karena setelah ini akan meminta hal yang lebih gila lagi darinya.
Tapi,, meskipun begitu ia tidak berniat melakukan hal lebih kepada Rose sama sekali. Ia memang benar-benar sedang menghukum wanita itu karena telah membuat dirinya tersiksa semalam suntuk.
Di saat leher wanita itu sudah setengah basah oleh ciuman yang Ben daratkan. Sebuah ketukan mengganggu acaranya saat ini. Padahal baru saja tangannya berusaha mengukur seberapa besar gundukan yang ia lihat semalam begitu indah dan menggiurkan. Jadilah tangannya hanya bisa mengambang di udara.
Gagal! Wajahnya yang menghitam ia buang ke samping dengan kesal.
-
-
seperti biasa,, kali ini aku buat satu bab aja tapi isinya ada 2400 lebih,, semoga kalian puas ya bacanya 😁🤭
teman-teman jangan lupa kasih dukungannya ya buat novel kedua aku,, terima kasih 😊🙏😊
keep strong and healthy ya semuanya 😘