Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Sebuah ide cemerlang



"Tapi, Tuan!", baru dua langkah, ia sudah memutar tubuhnya sendiri. Kembali menghadap ke arah Ben lagi.


"Apa?!", seru Ben tidak suka dengan suara kencangnya. Wajah seram bak iblis itu pun kini hadir lagi. Membuat asistennya itu ingin segera pergi dari sana.


"Apakah Tuan akan pergi sendiri dan meninggalkan aku lagi?", tanya Relly dengan wajah yang begitu didramatisir, berikut genangan air di pelupuk mata. Seperti anak anjing yang akan ditinggalkan oleh si empunya.


"Pergi!", teriak Ben dengan nada arogannya. Kelakuan asistennya ini sungguh membuatnya jijik dan muak. Jika saja Rose yang menampilkan wajah seperti itu mungkin akan tidak tahan dia untuk menciumnya. Tapi ini Relly, membuatnya kehilangan selera pada kue manis kesukaannya ini!


"Biasanya Tuan akan membawaku kemana pun Tuan pergi! Tapi kenapa sekarang Tuan jadi sering meninggalkan aku seorang diri!", keluh Relly seolah tak mengindahkan lolongan Ben sama sekali. Meskipun begitu, sebenarnya hatinya sudah gentar saat ini. Memangnya siapa yang berani melawan bosnya yang menyeramkan itu?! Tentu saja tidak ada! Pun termasuk dengan dirinya!


dorr


Ben melepaskan satu tembakan ke dekat kaki pria itu. Sengaja meleset, karena jika tepat sasaran, maka yang berlubang bukanlah lantai yang menjadi pijakan kaki Relly, melainkan kaki orang itu sendiri. Saat ini perasaannya belum benar-benar membaik, jadi dipicu sedikit saja, ledakannya akan langsung membahana. Tapi dengan tindakan, amarahnya akan semakin nyata.


"Ba,, baik, Tuan! Saya akan pergi!!", setelah memandangi lantai berlubang di samping kakinya. Relly pergi terbirit-birit menuju pintu dengan wajah panik. Jangan sampai kakinya sendiri yang dilubangi seperti itu!


"Tuan benar-benar tidak ingin membawaku?", ia berhenti lagi menoleh sambil memasang wajah memelas. Lengkung bibirnya sengaja ia turunkan ke bawah.


dorr


Tak ada upaya mulut pria bertopi koboi itu untuk memperingati asistennya. Ia terlalu lelah, sehingga tangannya saja yang bekerja dengan melontarkan satu timah panas lagi dengan kecepatan tinggi. Ben menembak tanpa melihat dengan benar ke arah Relly. Jadi kali ini dinding di dekat pintu yang menjadi sasaran. Melewati pipi asistennya, persisi tepat di depan matanya sendiri. Detik itu jantung Relly seperti berhenti memompa. Mulutnya terbuka sedikit, sambil berpikir apakah nyawanya masih diampuni kali ini.


brak


Tak ingin menjawab lagi, urung ia katakan kalimat rajukan yang sudah terkumpul di dalam mulutnya itu. Ia tahu tidak mungkin memang meluluhkan hati bosnya yang keras dan dingin seperti gunung es di kutub selatan. Baiknya memang ia segera menghilang dari tangkapan mata bosnya.


"Lebih baik kau lakukan tugasmu dengan benar!", teriak Ben pada Relly yang sudah berada di luar pintu. Lalu ia lempar ke atas senjata api yang masih sedikit mengepulkan asap di mulutnya. Ia juga mencibir pada sepotong kue yang masih ada di tangannya. Ia hempaskan juga piring keramik itu ke atas meja dengan gerakan kasar, sampai terdengar bunyi nyaring.


kruyukk,,, kruyukk,,, kruyukk,,, kruyukk,,,


Perutnya memang belum diisi lagi setelah kemarin malam. Ada pekerjaan berat yang harus ia lakukan setelah ini. Mencari kemana gerangan kekasihnya pergi. Jadi ada stamina yang harus ia penuhi. Janjinya kepada temannya itu juga harus ia tepati, untuk menemukan adiknya itu kembali.


"Bawakan aku makan siang!", jadi ia memerintahkan Relly untuk kembali ke ruangannya lagi sembari membawa senampan penuh asupan. Bagaimanapun juga ia harus menginterupsi melodi yang terus bergemuruh dari dalam perutnya itu. Masa bodoh dengan drama pengusirannya tadi!


***


Di dalam sebuah kotak sempit nan gelap, seorang wanita berambut pirang sedang meringkuk sambil terus menjaga kesadaran juga indera pendengarannya. Rose,, wanita itu sedang bersembunyi di dalam bagasi belakang sebuah mobil yang masih terus melaju dan entaha kemana tujuannya. Ia sama sekali tidak tahu.


Siang tadi, setelah makan siang, ia masih belum berhasil menghentikan perasaan khawatirnya yang menggebu terhadap Tuan seramnya. Perasaannya itu terus mengganggu pikiranya sehingga ia terus berpikir untuk mencari cara bagaimana ia secepatnya bisa menemui Tuan seramnya itu.


Kebetulan, ketika ia sedang melamun di halaman depan sambil memandangi bunga-bunga yang bermekaran di sana, atak sengaja ia mendengar seseorang yang ia tahu merupakan salah satu anggoata kelompok Harimau Putih sedang melakukan panggilan telepon dan inti dari percakapan itu adalah orang itu akan kembali ke markas sesegera mungkin.


Bola mata wanita itu langsung berkilat penuh dengan ide cemerlang. Setelah mendengar jika orang itu akan berangkat beberapa menit lagi setelah bersiap, maka Rose pun segera berlari secepat kilat ke kamarnya. Ia menyambar tas selempang yang biasa ia pakai berikut benda pipih miliknya. Ia masukkan ponselnya itu ke dalam tas sambil tergesa-gesa menuruni tangga.


Kebetulan saat itu rumah dalam kondisi sepi. Tak satu makhluk pun ia jumpai ketika melesat ke arah luar. Pikirnya ia akan berpamitan dulu kepada kakaknya. Namun ia tahu, jika hal itu sampai terjadi, kakaknya pasti tidak akan membiarkan dirinya pergi. Sambil menggeleng ragu Rose terus melesat ke depan.


"Itu dia!", Rose mengintai orang tadi. Orang itu bertugas berjaga di sekitar rumahnya, makanya ia tahu jika orang itu bagian dari anak buah Tuan seramnya. Sebab ia juga sering melihat orang itu berpatroli di sekitar rumah. Rose melihat orang itu sedang berbicara dengan salah satu asisten rumah kakaknay itu. Lantas ia mengambil kesempatan ini untuk memanjat pagar yang berada beberapa meter dari teras depan.


Setelah menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan situasi, kedua tangannya berpegangan erat pada barisan pagar besi itu dan mulai memanjatnya sampai ke atas dengan begitu lincah. Kemudian menuruni besi-besi itu saat sudah berada di bagian luar.


Hap! Ia menepuk kedua tangannya untuk menyingkirkan debu yang membuat telapak tangannya terasa kasar. Sedikit menundukkan kepalanya sambil kembali menilik situasi. Objek yang menjadi target pun sudah ia kunci, mobil sedan milik orang itu. Rose lalu berjalan mengendap-ngendap ke arah situ.


Wanita itu segera berjongkok di belakang mobil itu ketika ia melihat orang itu mulai bergerak ke arahnya, ke arah mobil lebih tepatnya. Jantungnya berpacu dengan cepat lantaran ia sangat takut akan ketahuan dan rencananya akan gagal. Orang itu menghentikan gerakan tangannya yang akan membuka pintu mobil. Lalu ia tolehkan kepalanya ke arah belakang mobil dengan wajah penasaran.


"Sepertinya tadi aku melihat ada seseorang di sini!", ia melepaskan tangannya dari pintu mobil. Dengan langkah ragu, ia mulai mengangkat kakinya ke bagian buritan mobil. Dan degub jantung Rose semakin tidak terkendali. Ia meremas bajunya di bagian dada dengan wajah panik.