Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Gosip yang beredar



🎶🎶🎶🎶🎶


Ketika semua mobil itu pergi, suara nyaring bersenandung, namun tidak ada yang mendengar hal ini. Suaranya berasal dari sebuah selokan kering di sisi jalan. Nyatanya, itu adalah tas dan ponsel Rose yang tak sengaja terjatuh dari pangkuannya ketika ia ditarik paksa oleh para pria bertubuh kekar itu. Layar ponsel itu menghadap ke atas, menyala dan menampilkan nama si pemanggil.


Pria milikku nama yang melakukan panggilan itu. Namun sepertinya suara operator yang akan menjawab panggilan orang itu.


***


"Sial! Kenapa dia tidak mengangkat teleponnya?!", Ben kesal sendiri sambil membanting ponselnya ke dashboard mobil yang sedang mereka kendarai.


Relly tengah fokus mengemudi pun memperhatikan dari samping. Ia masih dapat melihat jika titik yang semula bergerak itu kini diam di tempatnya sejak beberapa saat tadi. Ia tak berani membuka mulutnya. Memberikan penghiburan kepada bosnya yang wajahnya sedang kusut itu pasti tidak ada gunanya. Ia yakin,, yang ada hanya akan menjadi senjata makan tuan saja baginya.


"Aku ingin sampai di sana dengan cepat!", Ben mengeluarkan sebuah pernyataan yang terdengar lebih kepada sebuah perintah. Ia meletakkan ponselnya kembali pada sebuah holder yang membuat ponselnya berdiri tegak. Jadi Relly bisa melihat arah yang ditujukan dengan jelas dari kursi kemudinya.


"Baik, Tuan!", tak perlu banyak bicara untuk menanggapi perintah bosnya itu.


Aura dingin dan mencekam terlalu kental ia rasakan di dalam sana. Ia dapat merasakan suasana hati bosnya yang sedang sangat tidak baik saat ini. Rasa tercekik akibat udara yang membeku, ia kurangi dengan membuka sedikit jendela di sampingnya.


Hah! Akhirnya ia bisa memberikan asupan oksigen yang cukup untuk paru-parunya. Setelah cukup mendapat energi, Relly pun menginjakkan kakinya pada pedal gas. Ia tambahkan kecepatan mobil itu agar melaju seperti pesawat jet.


Ben yang tiba-tiba diserang perasaan khawatir kini tengah membelah jalanan di depan mereka dengan tatapan tajamnya. Pikiran pria itu kini kalut. Tidak seperti sebelumnya ketika Rose pergi bersama Baz. Perasaannya cukup tenang. Namun kali ini ia tidak bisa membendung lagi rasa was-wasnya terhadap wanita itu. Ada apa sebenarnya?!


Pria bertopi koboi itu melirik ke layar ponselnya yang sekarang menampakkan titik berkedip itu diam di tempat. Jarak mereka ke sana tidak jauh lagi. Ia berharap masih bisa menyelamatkan wanita itu meskipun sesuatu yang buruk terjadi.


***


"Ibu, aku taku!", Robi memeluk ibunya dengan erat. Rose melirik kedua ibu dan anak itu dari samping sambil berusaha menenangkan dirinya.


Mereka terombang-ambing di atas truk itu karena lajunya. Saat ini mereka masih bisa bergerak leluasa karena tidak terisi penuh truk yang membawa mereka. Semua orang terduduk sambil menundukkan kepala mereka. Berpikir nasib apa yang akan menimpa mereka kelak.


Rata-rata di antara mereka berpenampilan sama dengan Robi dan ibunya. Rose merasa iba memenuhi hatinya. Siapa sebenarnya orang-orang yang membawa mereka semua?! Apa tujuan mereka?! Apa pula yang akan mereka lakukan terhadap orang-orang ini?! Beribu pertanyaan menyeruak di dalam benaknya. Dan hatinya terus memanjatkan doa agar mereka bisa lekas terselamatkan dari marabahaya ini.


"Ku dengar! Kita akan dibawa ke pelabuhan, lalu dibawa dengan kapal ke luar negeri!", beberapa orang mulai berbincang mengenai apa saja yang mereka tahu.


"Iya, benar! Yang ku dengar juga begitu!".


"Itu masih lebih baik! Yang aku dengar malahan lebih parah! Katanya mereka mengambil kita karena memerlukan organ tubuh kita yang masih sehat dan berfungsi dengan baik. Mereka akan menjualnya di pasar gelap", ucapan yang ini yang membuat Rose dan ibu dari Robi menahan nafas mereka. Apa sebegitu buruk nasib yang akan menimpa mereka kelak?!


"Tapi yang kudengar,, para wanita akan dijadikan budak **** untuk para orang kaya!", mendengar hal ini wajah Rose berubah pucat dengan cepat seperti bunglon. Jantungnya juga langsung berdetak dengan cepat hingga hampir terdengar keluar. Serangan panik melandanya saat ini. Di samping itu obrolan mereka terus berlanjut. Tak ada yang mengetahui perubahan Rose saat ini.


"Nona! Apa kau baik-baik saja?", ibunya Robi menyentuh lengan wanita itu dengan perasaan khawatir. Mereka sama-sama mendengar semua hal itu. Jadi pengemis wanita itu bisa menerka apa yang menjadi pikiran Rose saat ini. Wajahnya berubah pucat pasi setelah mendengar gosip terakhir yang dikatakan oleh orang-orang yang duduk di hadapan mereka.


"Ya,, aku baik-baik saja!", jawab Rose dengan senyum kaku yang dipaksakan. Terlihat keringat seukuran biji jagung deras di dahinya.


"Minumlah dulu, Nona! Tenang saja ini bersih! Aku baru saja membelinya!", ibunya Robi menyodorkan sebuah botol air mineral dingin kepada Rose.


"Terima kasih!", gemetar di tangannya terlalu hebat, hingga bahkan ia tidak bisa membuka tutup botol itu. Beberapa kali ia mencoba, namun usahanya tetaplah gagal.


"Biar aku saja, Nona!", ibunya Robi mengambil alih botol itu dari tangan Rose. Sudah jelas jika wanita muda itu tidak baik-baik saja, tapi masih mengelak kepadanya. Mungkin saja semua hal yang mereka dengar terlalu mengejutkan bagi orang seperti Rose. Namun bagi mereka yang hanya orang pinggiran, mereka hanya bisa menerima nasib tanpa bisa melawan.


"Terima kasih!", bahkan saat menerima satu tegukan dari bibir botol itu, tangannya masih gemetar. Sehingga pakaian di dadanya sedikit basah. Yang tidak diketahui semua orang adalah, bahwa trauma mengenai hal-hal itu belum sepenuhnya menghilang. Ingatan buruknya dengan Tuan Rogh kala itu masih melekat erat pada alam bawah sadarnya.


"Mari kita makan ini dulu, Nona! Aku sudah membelinya! Bukankah Nona tadi lapar? Kita makan bersama. Paling tidak kita harus mengisi tenaga kita terlebih dahulu, kan?! Siapa tahu masih ada kesempatan bagi kita untuk melarikan diri!", ibunya Robi menyodorkan sebuah kotak makan yang tadi sempat dibelinya. Dan ucapan wanita itu cukup menghibur hati Rose saat ini. Setidaknya mereka harus terus berharap untuk kemungkinan baik, kan?!


"Baiklah! Terima kasih!", Rose terima kotak makan itu. Sambil menghilangkan energi negatif di dalam hati dan pikirannya saat ini. Ia terus mengumpulkan segenap harapan di dalam dirinya, terus berdoa semoga mereka semua lepas dari apa yang sebenarnya mereka sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka semua di masa depan.


Sambil membangkitkan semangatnya, serangan paniknya berangsur-angsur terkubur perlahan. Sambil menyuap makanan ke mulutnya, Rose memejamkan matanya dengan kuat. Tuan seramnya! Ia sangat berharap Tuan seramnya itu dapat segera menemukannya.


***


"Titik itu bergerak lagi, Tuan!", tak sengaja Relly melihat ke layar ponsel milik Ben.


Pria bertopi koboi yang tadinya sedang termangu sendiri, mendadak bangkit dan membenarkan posisi duduknya. Ia duduk tegak sambil memperhatikan layar ponselnya.


"Ikuti!", perintah Ben dengan wajah sedikit membaik.


Semoga masih besar harapan jika wanitanya itu baik-baik saja saat ini. Semoga saja apa yang ia rasakan sekarang hanya karena ia terlalu terbawa perasaan saja dalam kekhawatirannya. Ben menyadari setelah bertemu dengan wanita itu, ia jadi tak lepas dari perasaan khawatir dan semakin banyak berdoa dan berharap pula. Sebelumnya ia adalah orang yang tidak begitu peduli pada apa pun.


Benar, hal ini ada karena perasaannya yang sangat tidak ingin kehilangan wanita itu. Perasaan cintanya pun semakin bertumbuh besar kepadanya. Maka semakin besar pula rasa ingin melindungi yang ia rasakan terhadap wanita itu. Namun,, hukuman yang menanti juga tak akan ia lewatkan. Wanita itu benar-benar harus disadarkan lagi agar tidak nakal lagi.