Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Tentang keluarga Peterson



Remang suasana ruangan itu dan bahkan hampir gelap. Seorang pria duduk di singgasananya hanya ditemani sepasang lilin lentik di kanan dan kiri dekat tangannya. Pria itu tersenyum miring sambil mengetuk-ngetukkan jarinya pada pegangan kursi yang ia tempati. Pria itu menggunakan mantel panjang dan juga sebuah hoodie yang menutupi kepala hingga sebagian wajahnya. Sosoknya saat ini bagaikan raja kegelapan yang sedang duduk di singgasananya.


Ya, dia adalah pria yang sama yang menjadi dalang dari kasus penculikan yang Rose alami. Tangannya merogoh saku mantelnya untuk menemukannya sesuatu. Itu adalah foto keluarga Benneth yang telah ia remas-remas tempo hari saat menculik Rose. Ia tersenyum sinis memandangi foto itu. Hingga seorang anak buahnya yang berpakaian serba hitam datang untuk menghadapnya.


"Bagaimana?", tanyanya dingin sambil meluruskan kepala.


"Berjalan sesuai rencana Tuan. Benny Callary sudah kembali ke markas. Tapi,,, rumah itu diperketat penjagaannya atas perintah darinya", anak buahnya itu memberi laporan.


"Baiklah! Kali ini aku sendiri yang akan turun tangan untuk mengatasi mereka semua", orang itu bangkit dari tempat duduknya. Berdiri tegak dan kokoh bagai patung perunggu yang tak mudah goyah. Tekadnya sangat kuat terasa.


Setelah anak buahnya pergi, orang itu melangkahkan kakinya menuju sebuah ruang rahasia. Ia menekan salah satu bagian dinding itu yang terkelupas catnya. Lalu mulai bergeraklah dinding itu berputar bersamaan dengan dirinya yang ikut masuk ke dalam ruangan itu.


Di sana merupakan sebuah ruangan gelap lainnya dimana di salah satu dindingnya terdapat sebuah papan besar dengan foto beberapa orang. Di paling bawah merupakan foto Rose sebagai target utamanya. Lalu naik ke atas ada Victor yang merupakan sumber semua rasa dendamnya. Sedangkan naik satu level lagi adalah beberapa orang yang kita tau adalah Tuan Rogh dan Eric di sebelah kanan, dan juga ada Nyonya Mira dan Mirabel di sebelah kiri juga ada Tuan Benneth di sebelahnya yang terhubung garis dengan Victor lanjut hingga ke Rose.


Kini ia mengeluarkan satu foto lagi dari dalam saku mantelnya yang lain. Sebuah foto lelaki dengan topi koboi di kepalanya. Ya, dia adalah Ben, Benny Callary. Dengan kasar pria itu menempelkan foto Ben tepat di sebelah foto Rose. Lalu senyuman mengejek jatuh dari matanya ke arah foto dua orang itu. Ia ingat, anak buahnya yang berhasil selamat atas penculikan Rose waktu itu memberi laporan bahwa Benny Callary, Ketua Geng Harimau Putih menyelamatkan Rose dan bahkan kelihatannya mereka sangat dekat


"Benny Callary! Harusnya aku membalaskan dendamku pada mereka. Tapi kebetulan sekali, ada kau di sana. Jadi aku bisa menembak dua burung sekaligus", seringainya bak iblis begitu menyeramkan ia torehkan di bibirnya. Ia mengambil belati dari atas sebuah meja yang berada di sampingnya, lalu ia sabetkan ke arah foto Rose, foto Ben hingga ke foto Victor dengan tatapan kejamnya. Lalu ia tusukkan begitu dalam hingga setengahnya dari belati itu masuk menembus papan pada foto terakhir, yaitu foto Victor di hadapannya. Matanya begitu benci menatap foto pria yang pernah begitu gagah itu.


Kau tau! Kehancuran keluargamu itu adalah aku yang mengaturnya!


Itu kalimat yang ia katakan kepada Rose saat berhasil menculiknya waktu itu. Memang benar jika semua dalang dibalik hancurnya hidup Rose di negara asalnya itu adalah dirinya yang sudah mengaturnya untuk Rose. Pertemuan ayahnya Tuan Benneth dengan Nyonya Mira, hingga mereka pun menikah itu pun atas anjuran dari pria itu kepada Nyonya Mira. Pria itu melihat bahwa wanita paruh baya itu beserta putrinya memiliki sifat buruk yang menyenangkan bagi seseorang untuk disiksa dan dibenci karena iri dan dengki mereka sangat kuat.


Sedangkan untuk Tuan Rogh, pria itu diiming-imingi jabatan besar untuk kota tempatnya tinggal oleh orang itu asal dia berhasil menikahi seorang wanita muda yang cantik jelita. Dan memang pria itu juga sudah mengetahui bagaimana hubungan Tuan Rogh dengan Nyonya Mira. Dimana wanita itu terlilit hutang dengannya dan asalnya Tuan Rogh sendiri adalah pria tua yang tamak, curang dan mesum. Jadilah sesuai rencana jika pria tua itu pasti sangat menginginkan Rose untuk menjadi miliknya. Itu sangatlah tepat untuk menghancurkan hidup gadis itu. Jika hidupnya yang di rumah saja sudah berat, maka dengan adanya kasus Tuan Rogh yang mesum itu pasti hidup Rose benar-benar akan hancur berantakan.


Tapi siapa sangka jika wanita itu malahan berhasil melarikan diri bahkan sampai ke luar negara. Hal itu membuat semua rencana yang orang itu atur menjadi berantakan. Ia kesal, sangat-sangat kesal. Dan ia berjanji jika ia sudah menemukan wanita itu, maka ia harus segera menyingkirkannya. Dan untuk masalah hatinya yang masih patah, Rose masih ingin sendiri menenangkan dirinya sambil berbaring manja di ranjangnya.


Pria itu melempar belati itu dengan asal ke sembarang arah. Tak banyak benda juga di sana. Hanya ada sebuah meja kecil dan meja panjang berseberangan, lalu ada papan foto yang menjadi targetnya dan juga beberapa senjata tajam maupun senjata api tergeletak rapi di atas meja panjang di seberangnya.


Pria itu melanjutkan langkahnya lagi menuju sebuah pintu yang berada beberapa langkah darinya. Ia segera menekan tuas pintu itu hingga ke bawah. Muncullah sebuah ruangan gelap yang agak sempit. Tapi ruangan itu juga segera memiliki pintu yang lainnya. Dan pria itu pun segera membuka kembali pintu yang menghalangi jalannya.


Dan, ia akhirnya seperti keluar dari sebuah kemari pakaian berwarna putih di setiap sisinya. Ia telah sampai pada walkin closet miliknya. Di hadapan sebuah cermin besar pria itu mengangkat hoodie yang menutup kepalanya. Tampaklah di sana wajah tampan yang memabukkan. Sekilas wajahnya terlihat ramah dengan sebuah ukiran senyuman di bibirnya. Tapi sorot mata yang dingin dan tirani tak dapat hilang darinya. Seperti memang ia telah diciptakan untuk berwajah seram yang tampan.


"Paman!", suara seorang anak kecil datang dari arah kamarnya. Anak itu berteriak hingga ia sampai dan memeluk kaki pamannya itu.


Pria itu berjongkok mensejajarkan dirinya dengan anak laki-laki berumur sekita empat tahun itu. Ia mengurai senyum hangatnya sambil mengelus pucuk rambut anak lelaki itu.


"Dimana ibumu?", tanyanya sambil melepaskan seluruh pakaian luar yang ia kenakan. Lalu pria itu segera menggendong anak kecil itu.


"Sebentar lagi juga datang!", ucap anak kecil itu dengan suara khasnya yang lucu.


"Bervan! Kemari kau!", suara lantang seorang wanita datang dari arah kamarnya.


"Bervan!", suara wanita itu terhenti tatkala dirinya telah menemukan posisi putranya saat ini.


"Ayolah, Bella! Kau jangan terlalu galak begitu terhadap putramu! Iya kan, sayang!", pria itu mencubit kecil hidung keponakannya yang menggemaskan itu. Matanya menatap Bervan dengan penuh kasih sayang. Dan matanya juga menangkap wajah adik perempuannya yang diliputi tanda tanya.


"Bervan main lagi ya!", pria itu menurunkan keponakannya yang sedang mengangguk setuju dengan begitu antusiasnya. Anak kecil itu menjulurkan lidahnya kepada sosok ibunya yang kini sedang melipat tangannya di depan dada dengan wajah galaknya.


"Kakak!", seru Bella pada sosok pria yang kini tengah memilih-milih pada tumpukan kaosnya di lemari.


"Ehhmm!", sahutnya bergumam sambil melempar kaos yang habis ia pakai ke keranjang di sudut tak jauh darinya.


"Kakak! Jawab aku!", seru Bella sedikit keras sambil mengguncang lengan pria itu yang sedang memakai kaosnya.


Pria itu acuh, ia tak ingin menjawab pertanyaan adiknya. Semua rasa benci dan kemarahan telah menutupinya kini. Perikemanusiaan yang ia miliki sangat tipis untuk orang-orang yang ia targetkan. Keputusannya sudah bulat, dan hanya dirinya seorang yang mampu merubah keputusan itu. Itupun jika dirinya mampu, mampu mengalahkan dendam masa lalu yang telah merebak ke seluruh rongga hatinya.


"Tuan Baz! Seseorang datang mencari Anda di luar!", suara seorang pria melapor dari arah pintu kamarnya.


"Aku ada tamu!", ucap Baz begitu saja seraya melangkahkan kakinya. Ia tetap tak ingin meladeni ceramah adiknya itu yang membuat telinganya segera mati rasa.


"Kakak! Kakak!", seru Bella terus menerus karena pria itu tak juga menanggapinya.


"Harus bagaimana lagi aku menjelaskan padamu, kak! Bahwa mereka tidak bersalah!", Bella menyandarkan dirinya pada dinding ruangan itu. Wajahnya berubah lesu. Hatinya sakit dan bahkan lebih sakit lagi karena kakaknya sudah bertekad untuk menghancurkan keluarga orang itu. Hingga tidak ada lagi kebahagiaan yang tersisa seperti apa yang ia alami sebelumnya.


***


"Siapa kau?", tanya Baz dengan wajah dinginnya. Ia bersandar pada sofa ruang tamu yang sangat luas itu. Sedangkan tamu yang ia temui memilih untuk tetap berdiri di seberangnya.


"Ini dari Tuan Ben!", pria itu menyodorkan sebuah amplop putih panjang ke atas meja di hadapan Baz.


"Ben maksudmu, Benny Callary!", matanya menangkap sebuah tato khas gambar harimau di punggung tangan di bawah ibu jarinya. Jadi Baz langsung menebak jika Ben yang pria itu maksud adalah Benny Callary, si ketua geng tersebut.


"Apa yang Tuanmu inginkan dariku?", tangannya enggan untuk mengambil amplop itu. Meski sebenarnya ia sudah sangat penasaran saat ini.


"Silahkan Tuan lihat isi amplopnya sendiri", datar orang suruhan Ben mengucapkan perkataannya.


"Ini,,,, ", mata Baz segera melotot dan menatap tajam ke arah pria yang menjadi orang suruhan Ben itu.


-


-


-


-


-


baca juga ya novel perdana aku yang judulnya


๐ŸŒนwanita pertama presdir ๐ŸŒน


karena dari sana kisahnya ben dan rose dimulai. dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya ben dan rose di sini


oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐Ÿ˜Š


**jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya ๐Ÿ˜


love u teman-teman ๐Ÿ˜˜


keep strong and healthy ya