Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Rencana kembali



"Bibi!", seru Rose manja kemudian memeluknya dari samping.


"Kenapa Bibi jadi sedih?", lanjutnya lagi tak melepas pelukannya. Rose mengangkat wajahnya supaya bisa melihat wajah Bibi Maya.


"Tidak ada!", Bibi Maya melepas pelukan Rose lalu berbalik menghadapnya.


"Sudah sana bersihkan halaman belakang bersama Ara. Setelah itu kau bisa mandi dan beristirahat. Kau tau, baumu itu menyakiti hidungku!", Bibi Maya mencubit hidung Rose kecil seraya menampilkan senyum teduhnya.


"Kalau begitu jangan dekati aku, haha", Rose lalu berlari menuju halaman belakang sambil tersenyum ceria.


"Hey, jangan lari!", Bibi Maya berteriak dengan sia-sia karena Rose sudah sangat jauh untuk menjangkau suaranya.


Wanita paruh baya itu menatap punggung Rose yang semakin menjauh dengan tatapan sedih itu lagi. Ia tau tak lama lagi Rose pasti akan pergi dari sini. Orang itu akan mempertemukan Rose dengan kakaknya, orang yang ia cari selama ini. Dan dengan penampilan yang mereka miliki, mereka pastilah cukup mumpuni untuk menghidupi Rose nanti sehingga Rose tak perlu bekerja lagi. Kenyataan itulah yang membuat Bibi Maya bersedih lantaran akan tak mampu melepas Rose pergi.


Setelah ia menemukan Rose kala itu, hingga ia membawanya ke villa ini. Bibi Maya sudah menganggap Rose seperti putrinya sendiri. Rose yang rajin, Rose yang ceria, Rose yang ramah dan sopan, Rose yang menyebalkan, sosoknya membuat villa ini terasa hidup selama keberadaannya di sini. Bibi Maya sangat senang ketika suasana villa menjadi hangat. Tapi setelah ini, ia yakin bukan hanya dirinya saja yang akan merasa kehilangan sosok Rose, melainkan seluruh penghuni viila ini, akan merasa kehilangan sosok dirinya juga.


"Baiklah, apapun itu asalkan kau bahagia, Rose!", gumam Bibi Maya sambil memaksakan senyumnya.


***


"Hey!", Rose mengejutkan seorang temannya dari belakang.


"Rose, kau masih hidup!", seruan Ara begitu memekik hingga beberapa pelayan lainnya yang lewat menoleh ke arah mereka.


"Bisa tidak, kau pelankan sedikit suaramu! Mereka melihat ke arah kita!", Rose memukul bahu Ara pelan sebagai peringatan. Ia sungguh tak ingin jadi bahan gosip ataupun omongan. Rose hanya ingin bekerja dengan hati yang senang dan damai. Itu saja cukup, tapi rasanya semua itu berakhir ketikapertemuan pertamanya dengan pria bertopi koboi itu. Semua orang jadi membicarakannya, meskipun tidak berkata buruk namun tetap saja Rose tidak suka menjadi pusat perhatian.


"Ahh, memangnya kenapa? Kau jadi seperti selebriti, kan!", Ara terkekeh saat menyahuti ucapan temannya itu.


"Cekk!", Rose hanya bisa berdecak kesal sambil menggelengkan kepalanya. Ia malas berdebat.


"Tapi sungguh, apakah kau baik-baik saja? Kukira setelah situasi yang menyeramkan seperti tadi kau sudah ditembak atau dicekik lagi oleh Tua itu!", ucap Ara tanpa rasa bersalah.


ttak


Rose memukul kepala Ara pelan dengan sapu yang ia pegang.


"Kau menyumpahi aku mati, hah?!", bibirnya mencibir sebal ke arah temannya itu.


"Bukan begitu! Tapi kau lihat sendiri kan bagaimana tampangnya yang seram itu?! Hiii", sambil mengelus kepalanya yang sakit Ara meringis ngeri mengingat wajah Ben tadi.


"Tenang, hanya wajahnya saja yang seram. Tapi Tuan itu sepertinya orang baik!", jelas Rose sambil tersenyum.


"Darimana kau tau?! Kau bahkan pernah hampir mati olehnya!", Ara penasaran bahkan sampai mengerutkan alisnya. Jelas saja, tempo hari temannya itu dicekik bahkan hampir mati, lalu tadi dengan aura dan gayanya yang menyeramkan pria itu seperti akan menganiaya Rose lagi.


"Bukan, itu hanya salah paham! Sepertinya dia terlalu waspada dengan orang asing saat itu. Dan untuk tadi,,,, hehe", Rose memalingkan wajahnya yang tersenyum. Ia benar-benar bahagia saat ini.


"Ada apa? Katakan! Jangan buat aku penasaran, Rose!", Ara membalikkan tubuh Rose dengan paksa sehingga menghadap ke arahnya lagi.


"Dia akan mempertemukan aku dengan kakakku!", ucap Rose dengan senyuman yang tak hilang barang sedikitpun. Badannya bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri sambil tersenyum lebar hingga matanya menyipit, ekspresi kebahagiannya tak dapat disembunyikan saat ini.


Kakaknya, saudara kandung yang ia cari-cari. Bahkan tanpa usaha darinya sendiri, ia akan bertemu dengan saudaranya itu. Tuhan seakan sedang berpihak kepadanya. Rose benar-benar merasa beruntung mendapat kesempatan besar seperti ini.


"Wahh,, selamat ya Rose! Akhirnya kau bertemu dengan kakakmu. Aku turut bahagia!", dengan tulus Ara memeluk temannya itu. Ia paham bagaimana rasanya bertemu dengan seseorang dengan ikatan darah yang telah lama tak ditemuinya itu, pasti akan sangat menakjubkan bagi Rose nanti.


"Terima kasih, Ara!", Rose membalas pelukan temannya itu.


"Ayo bantu aku membersihkan halaman ini!", ajak Ara setelah melepaskan pelukannya.


"Siap boss!", kedua wanita itu asyik dengan kegiatan mereka sambil bersenda gurau.


***


Begitu sampai di kamarnya, ia segera memindai seisi ruangan itu. Relly ikut masuk ke dalam kamarnya, karena ada beberapa hal yang harus dibahas. Asisten setianya itu mendudukkan diri di sofa di salah satu sudut ruangan itu. Mata Ben bergerak ke arah meja di hadapan Relly, di sana terdapat sebuah vas bunga yang tidak begitu besar, dan mata Ben langsung nyalang dibuatnya. Ia segera menyambar seluruh rangkaian bunga yang tadinya mengisi vas bunga itu. Dengan kasar ia sambar, lalu ia buang ke tempat sampah di sudut sebelah sofa. Lalu ia letakkan dengan hati-hati bunga lili yang ia pegang ke dalam vas bunga itu. Senyum Ben terkembang, merasa puas dengan apa yang telah ia berikan.


Sedangkan Relly, seumur hidupnya, selama ia berada di sisi tuannya, baru kali ini tuannya melakukan hal termanis untuk seorang wanita. Bahkan saat Ben mempunyai perasaan terhadap Ana dulu, pria itu tidak pernah menunjukkan sisi romantisnya.


"Apa saya perlu menambahkan bunga lainnya, Tuan?", tanya Relly hati-hati karena merasa vas bunga itu terlalu sepi dengan hanya satu tangkai bunga lili.


"Boleh! Tapi kau letakkan di telingamu!", sahut Ben acuh sambil membenarkan topi koboinya.


"Hah!", Relly hanya bisa menghela nafasnya panjang. Sebenarnya kapan tuannya ini bisa bersikap sedikit lebih manis kepada dirinya.


"Jadi bagaimana dengan besok, Tuan?", ia mengalihkan topik pembicaraan untuk menghibur dirinya sendiri. Relly tak ingin larut dalam kesedihannya, haha.


"Kabari Victor jika besok dia sudah bisa bertemu dengan adiknya. Setelah acara yang Ana dan laki-lakinya itu rencanakan selesai, maka kita akan langsung pergi dari sana. Aku tak ingin berlama-lama melihat wajah pria itu!", jauh dari lubuk hatinya Ben masih mencintai Ana. Masih ada rasa itu sedikit, karena dia sebagai manusia biasa tak lantas langsung melupakan Ana begitu saja. Maka dari itu masih tersimpan pula rasa cemburu dan tidak suka melihat Ana dengan pria pilihannya.


"Baik Tuan, saya mengerti", Relly mengangguk paham.


"Bagaimana keadaan markas?".


"Semua baik-baik saja, Tuan. Hanya saja beberapa anggota kita sempat diserang, dan yang lainnya masih menyelidiki darimana asal komplotan itu. Tapi tak ada yang mengalami luka serius", jelas Relly serius.


"Berarti itu tidak baik-baik saja!", sahutan Ben nyaris membelah telinganya saking tajamnya Ben berbicara.


"Segera temukan mereka! Aku tak akan mengampuni mereka yang mengusik orang-orangku!", Ben menatap lurus ke depan dengan tatapan yang menusuk ke dalam.


Sebagai ketua Geng Harimau Putih, Ben sudah terkenal bengis dan tak ada ampun ketika menghadapi musuh-musuhnya atau orang yang berani mengusiknya. Maka dari itu, ia sangat disegani sekaligus dihindari.


"Tuan, setelah ini apakah kita akan kembali ke markas?", Relly rasa itu adalah pertanyaan yang tepat saat ini. Hal yang ada sangkut pautnya dengan hal yang sedang mereka bicarakan.


Ben terdiam. Benar, ia belum memikirkan hal ini sebelumnya. Pikirannya terlalu sibuk belakangan ini. Benaknya terisi masalah Ana dan juga permintaan teman lamanya, Victor. Pria itu membuang pandangannya ke arah lain sambil menimbang-nimbang, benar pula ia sudah terlalu lama meninggalkan markas mereka.


"Ya, kita kembali!", jawab Ben cepat.


"Lalu apa yang akan kita lakukan dengan Tuan Victor dan Nona Rose?", satu pertanyaan lagi muncul dari mulut Relly dan segera membuat tuannya itu mantap tajam ke arahnya. Ben memasang tampang tidak sabarnya.


-


-


-


-


-


-


maaf ya kalo update yang ini masih sedikit-sedikit,, soalnya author masih memprioritaskan novel yang pertama, yaitu


🌹wanita pertama presdir🌹


kalian wajib baca ya, karena dari sana cerita tentang Ben dan Rose dimulai.


Jangan lupa buat kasih dukungannya di sana dan di sini ya dengan kasih like, vote sama Bu komentar kalian.. okeh 😉


terimakasih teman-teman 😊


Love u semua😘


Keep strong and healthy ya 🥰