
"Maaf!", ucap Ben lirih. Ia menyesal telah menanyakan hal itu. Padahal tadi wanita ini sudah bertindak seperti biasanya lagi. Sudah cerewet dan lebih ceria ketimbang sebelumnya.
Rose masih menundukkan kepalanya dalam. Hah! Ia lelah menangis saat ini. Sudah cukup tangisannya tadi. Ia masih sayang jika makanan yang masuk tadi hanya menjadi bahan bakarnya untuk menangis lagi. Lalu matanya tertuju pada sweater yang ia kenakan saat ini. Ah, Rose menyadari bahwa tadi dress yang ia kenakan sempat berantakan di bagian depan, sehingga pria itu memakaikan sweater miliknya untuk Rose kenakan.
Rose mengangkat kepalanya, ia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia baru menyadari bahwa kini dirinya berada di sebuah pantai. Masih sangat bersih dan sepi. Rose suka suasana ini, membuatnya bisa merasakan cukup ketenangan untuk saat ini. Lalu, ia membuka pintu mobil dan kembali mengedarkan pandangan ke sekitar sambil menyandarkan dirinya pada pintu mobil yang telah ia tutup barusan.
Ben menyusulnya keluar. Ia menempatkan dirinya tepat di samping Rose berdiri. Memandang lurus ke depan, juga menikmati keheningan pantai itu saat ini.
"Tuan! Pinjami aku uang!", pinta Rose tiba-tiba dengan tangan yang sudah menengadah ke arah Ben.
"Ap,, Apa?", Ben mengerjapkan matanya. Ia masih mencerna apa yang mendadak wanita itu inginkan.
"Iya, pinjami aku uang! Cepat!", tangan Rose yang menengadah ia gerakkan dengan tidak sabar.
"Apa yang ingin kau lakukan?", tatapan Ben curiga. Tapi ia tetap mengeluarkan uang untuk wanita di hadapannya.
"Kau akan tau nanti! Tunggu di sini, oke!", dengan acuhnya wanita itu berjalan meninggalkan Ben di sana sendirian.
Pria itu benar-benar dibuat tak percaya. Ajaib atau aneh, apa kata yang cocok untuk menggambarkan sosok wanita yang baru saja tertimpa pengalaman pahit itu. Harusnya dia masih bersedih atau semacamnya. Tapi yang wanita itu lakukan adalah makan dan meminta uang. Apa sih isi otaknya saat ini, Ben sungguh penasaran dibuatnya hingga pria itu mengerutkan alisnya dalam.
Tak berapa lama Rose kembali dengan sebuah bungkusan. Ia mengeluarkan dua buah gumpalan kain ke hadapan Ben yang sedang menatapnya heran. Rose tetap masa bodoh dan mengacuhkan tatapan Ben yang dipenuhi tanda tanya. Lalu ia membuka sweater Ben yang masih ia kenakan.
"Pegang!", Rose menyodorkan sweater itu kepada Ben dengan sedikit kekuatan. Ben yang masih linglung sampai terdorong ke belakang.
"Apa ini?", Ben masih bingung saat ini.
Rose membuka dua buah gumpalan kain itu. Yang satu adalah sebuah daster pantai yang bahannya lembut dan nyaman sekali saat dipakai. Dan yang satunya lagi adalah kaos pantai dengan corak motif yang sama warna-warninya. Kaos itu juga ia sodorkan kepada Ben dengan paksa, pria yang masih linglung itu hanya bisa menerimanya saja.
"Aku ingin membuang baju ini!", ucap Rose singkat sambil masuk ke dalam mobil.
Mata Ben mengikuti gerak tubuh wanita itu yang mulai membuka pintu mobil. Dan Rose menyadari hal itu.
"Aku akan ganti baju di dalam! Jadi kau jangan coba-coba mengintipku! Mengerti!", Rose memberi peringatan dengan wajah galaknya. Tak ketinggalan ia menambah kesan garangnya sambil melotot ke arah pria itu.
brrak
Pintu mobil ditutup dengan keras hingga membuat Ben terkesiap dan sadar. Apa yang akan wanita itu lakukan. Dengan santainya mengganti pakaiannya saat sedang bersama dengan seorang pria?! Tidak taukah dia bahwa itu sangat berbahaya. Setiap pria dewasa yang normal, bisa saja pikirannya langsung liar untuk menerkam wanita itu dari belakang. Lalu memakannya tanpa ampunan. Tapi apa yang wanita ini lakukan sungguh di luar dugaan.
"Hey, lihat ke depan!", teriak Rose sambil mengeluarkan kepalanya keluar. Ia masih belum mengganti dressnya karena Ben masih saja menatapnya dalam diam. Dan ketika pria itu berbalik barulah Rose memulai gerakannya.
Di luar sana, Ben sedang menatap ke depan. Ke hamparan pasir yang selalu diterjang ombak. Pria itu kesusahan menelan salivanya saat harus menghadapi situasi canggung seperti ini. Jika itu bukan adik temannya, mungkin ia sudah sama seperti ombak di depannya, menerjang wanita itu berulang kali seperti hamparan pasir di depannya.
Angin berhembus sangat kencang hingga tiba-tiba topinya terbang dan bergerak ke belakang tubuhnya. Refleks Ben menoleh untuk mengambil topinya yang jatuh ke bawah. Dan tanpa sengaja ia melihat punggung polos Rose yang berwarna putih cerah. Hey, Ben masih pria normal seperti yang ucapkan dalam hati tadi. Ia masih sangat normal untuk melihat pemandangan indah itu selama beberapa detik saja.
Pria itu buru-buru kembali menoleh ke depan sambil memasangkan topinya lagi di kepala. Ia mengusap dadanya lega, karena Rose tidak mendapatinya saat tak sengaja ia melihat pemandangan indah itu. Tak habis pikir pria itu, bagaimana bisa ia sudah seperti seseorang yang habis mencuri?! Padahal jika itu wanita lain, maka Ben sudah akan menyeretnya ke dalam pelukannya.
Setelah memakai pakaian yang baru saja ia beli, sejenak Rose menoleh ke arah Ben. Memastikan bahwa pria itu tidak mengintip dirinya. Dan ia begitu lega saat melihat Ben masih berdiri dengan posisi yang sama. Lalu ia membuka pintu mobil dan mulai menurunkan kakinya ke pasir. Bersamaan itu pula otak Ben kembali pada kewarasannya.
"Kau belum mengganti pakaianmu?", tanya Rose yang melihat Ben hanya meletakkan kaos yang tadi ia beli di pundaknya.
Ben saat ini sedang tertegun melihat betapa cantiknya Rose saat ini. Otaknya berasa akan benar-benar gila saat ini. Tadi, dia terpaksa harus melihat punggung mulusnya yang indah. Lalu sekarang ia disuguhkan pemandangan indah tulang selangka dan penampakan bahunya yang terbuka. Sungguh Ben kali ini benar-benar kesusahan menelan salivanya. Saat ini Rose sudah berganti dengan memakai daster pantai dengan tali satu yang tipis. Rambutnya ia sanggul ke atas hingga benar-benar menampakkan keseluruhan leher jenjang miliknya dan area sekitarnya.
Ben tertegun hingga tak bisa berkata-kata. Padahal ia sudah biasa bertemu dengan banyak wanita. Bahkan yang lebih cantik dan menggoda dari Rose tentunya. Tapi kali ini rasanya berbeda, keinginan Ben pada Rose seperti berasal dari sisi dirinya yang lain. Datangnya bersamaan dengan perasaan aneh yang membuat hatinya berdesir.
"Hey, Tuan! Kenapa kau diam! Aku tau aku memang cantik. Jadi kau tidak usah terlalu terpesona olehku, ya!", Rose tersenyum genit sambil mengedipkan sebelah matanya. Lalu dia berjalan ke arah Ben yang sedang menahan rasa gugupnya.
"Ehh,,,, iya!", kenapa Ben sekarang jadi bertindak bodoh begini. Pria itu sungguh sedang mengumpat sendiri bagaimana dirinya bisa jadi memalukan seperti ini. Hey, ini bukan Benny Callary. Seorang Benny Callary hanya akan memakan mangsanya dan langsung menelannya bulat-bulat. Tidak perlu malu-malu begini.
Menghindari pikiran liarnya. Ben segera membuka kaosnya hingga menampakkan tubuhnya yang begitu berisi dan keras. Kali ini giliran Rose yang kesusahan menelan salivanya. Pemandangan ini sungguh membuat pikirannya kacau. Dada bidangnya, perutnya yang kerasa dan rata. Tubuhnya benar-benar bagaikan bongkahan kayu yang dipahat hingga sedemikian rupa dan menjadi begitu indah dan kokoh saat kita melihatnya. Oh, kali ini otak Rose tak dapat bekerja. Ia bahkan sampai mematung di tempatnya.
"Apa lagi?", tanya Ben sambil mengulum bibirnya menahan senyum saat melihat Rose yang sepertinya sedang terpesona setelah melihat tubuhnya.
Wajah Ben belum sepenuhnya hilang dari rona merah yang tadi hadir di pipinya. Tapi kini wajah Rose lebih merah lagi karena tertangkap basah sedang menikmati pemandangan indah milik pria di hadapannya. Wajah Rose sudah merona seperti tomat yang sudah matang. Merah cerah.
"Be,, berikan pakaianmu!", sambil menahan kegugupannya, tangan Rose menengadah lagi ke arah Ben.
"Apa?", tanya Ben heran.
"Berikan pakaianmu yang tadi kau pakai pertama. Kaos beserta sweaternya!", tangan Rose kembali bergerak dengan tidak sabar.
"Ini!", meskipun bingung ia tetap memberikan apa yang Rose minta.
Lalu wanita itu mengambil apa yang Ben berikan dan memasukkannya ke dalam kantung yang tadi ia bawa untuk membungkus pakaian yang tadi ia beli sebelumnya.
"Apa maksudnya?", jari Ben menunjuk ke arah bungkusan kantung plastik itu.
"Aku akan membuangnya!", sahut Rose singkat sambil melenggang ke arah wajah tempat sampah tak jauh darinya.
"Hey, tapi itu bajuku!", tangan Ben menggapai udara bertepatan dengan tangan Rose yang mulai melemparkan bungkusan itu ke tempat sampah.
-
-
-
-
-
-
**maaf ya teman-teman aku belum bisa crazy upπ auhor ini juga ibu rumah tangga, jadi kalo anak lagi rewel begini jadi ga bisa fokus nulisnya. Jadi aku cuma bisa maksain sampe sini aja buat sekarang ya π
semoga aja author besok bisa crazy up.... di doakan aja ya π**
baca juga ya novel perdana aku yang judulnya
πΉwanita pertama presdir πΉ
karena dari sana kisahnya ben dan rose dimulai. dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya ben dan rose di sini
oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti π
**jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya π
love u teman-teman π
keep strong and healthy ya π₯°**