Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Masa lalu versi Bella - 2



Saat ini Bella sudah dipindahkan ke ruang rawat. Tidak ada luka luar yang berarti, hanya psikisnya yang terguncang sehingga saat ini ia sedang tak sadarkan diri. Mungkin karena psikisnya belum siap untuk menerima kejadian ini. Sedangkan Tuan Ander masih dalam proses penanganan. Ia masih belum keluar dari ruang operasi sejak dua jam yang lalu. Jadi belum jelas bagaimana kondisinya saat ini.


Dari luar jendela kaca sebuah ruangan, Victor tak berhenti menatap wanita yang kini tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit itu. Tak henti mulutnya merapalkan doa, berharap agar Bella dan juga terutama Tuan Ander akan baik-baik saja. Matanya yang penuh harap itu ternyata sedang ditatap dari dalam ruangan itu.


Bella sudah sadar sejak beberapa saat yang lalu. Setelah mengumpulkan kesadarannya, ia merasa ada mata yang sedang memperhatikannya. Dan benar saja, wajah Victor ia lihat dengan jelas sedang berada di luar jendela. Sedang menatap ke arah dalam, dengan pandangan yang lurus ke depan. Bella berpikir jika mungkin pria itu sedang berdoa untuknya dan juga ayahnya. Dan saking seriusnya, Victor tidak tahu jika saat ini Bella tengah memperhatikannya.


Ingin sekali dirinya memanggil atau bahkan menghampiri orang itu. Bella membutuhkan sebuah sandaran saat ini. Ia butuh disemangati sekarang. Ia menginginkan Victor ada di sisinya saat ini, sambil menunggu kabar tentang kondisi ayahnya.


Tapi tiba-tiba saja wajah Victor di luar jendela itu menghilang, entah kemana, seperti ditelan bumi. Bella segera dimakan rasa penasarannya. Ia bangun, berusaha mendudukkan diri. Di ambilnya tiang infus yang berada tak jauh darinya, wanita itu bermaksud untuk keluar dari kamar dan mencari sosok yang menghilang itu. Kemana orang itu pergi?!


Tapi baru akan melangkah, kisruh dari luar terdengar. Ternyata itu adalah rombongan kakaknya dan juga anak buahnya yang datang. Kakaknya datang dengan penampilan yang sudah tidak karuan. Gurat kekhawatiran menguasai seluruh wajahnya saat ini.


"Bella, kau baik-baik saja? Syukurlah kau baik-baik saja!", ketika datang, kakaknya itu memegangi kedua bahunya untuk memastikan kondisinya. Lalu pria itu menghambur ke pelukannya setelah yakin jika adiknya itu baik-baik saja. Kakaknya itu memeluknya dengan sangat erat seperti sangat takut kehilangan dirinya.


"Aku baik-baik saja, Kak!", ia menjawab seraya melepaskan pelukan kakaknya. Ia tahu bahwa ia harus memaksakan senyumnya di depan kakaknya itu agar membuatnya lebih tenang dan tidak khawatir lagi. Memang benar, hanya ada beberapa luka goresan di sekitar wajah dan juga lengannya. Itu hanya luka ringan, mungkin dalam beberapa hari juga akan hilang.


"Apakah kau yakin tidak ada yang kau rasakan sama sekali?", Baz memastikan lagi seraya membimbing adiknya itu untuk duduk di tepi tempat tidur.


Enggan menjawab, Bella hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan pelan. Sebenarnya ada yang sakit, hatinya yang sakit saat melihat kondisi terakhir ayahnya yang bersimbah darah itu. Ia ingin sekali menggantikan posisi ayahnya, jika bisa! Biar ia saja yang menanggung semua rasa sakit itu, jangan ayahnya!


"Bagaimana dengan kondisi Ayah?", dan ia pun akhirnya bertanya.


"Tadi saat Kakak datang, perawat mengatakan jika Ayah masih di dalam ruang operasi. Sepertinya sebentar lagi akan selesai. Kau sebaiknya istirahat saja, biar Kakak yang menunggu di sana!", perintah Baz seraya merebahkan tubuh adiknya itu di atas tempat tidur.


"Tapi, Kak! Aku baik-baik saja! Aku juga ingin tahu bagaimana kondisi Ayah saat ini!", Bella membantah dengan suara lemahnya. Tentu saja ia sangat ingin mengetahui kondisi ayahnya secara langsung. Bagaimanapun juga ayahnya mengalami hal kecelakaan itu bersama dengan dirinya. Dan mengingat kondisi terakhir ayahnya itu, sudah tentu Bella tidak bisa hanya berdiam diri saja.


"Kau tolong dengarkan Kakak, ya! Sebaiknya kau istirahat saja dulu! Kakak janji, Kakak akan segera ke sini lagi!", Baz membelai kepala adiknya itu dengan tatapan yang sungguh memohon. Bukan karena dia pelit, hanya saja ia tidak ingin terjadi apa-apa lagi pada anggota keluarganya.


"Baiklah!", Bella pun akhirnya luluh setelah mendapat tatapan seperti itu. Sepertinya memang sebaiknya ia menuruti apa kata kakaknya saja. Ia mengangguk seraya tersenyum tipis.


Setelahnya Baz beserta anak buahnya keluar dari kamar rawat itu. Tinggallah Bella sendirian lagi. Masih ada rasa penasaran yang masih menggelayuti pikirannya saat itu. Kemanakah perginya Victor?! Kemana perginya orang itu?! Ia menghela nafasnya pasrah. Entahlah! Mencarinya juga tidak akan mungkin bisa. Jika mereka masih ditakdirkan, Bella harap ia masih bisa bertemu dengannya untuk bertanya banyak mengenai kecelakaan yang terjadi hari ini. Ia merasa orang itu mungkin tahu sesuatu. Bella pun memiringkan tubuhnya menghadap dinding sambil tenggelam dalam pikirannya sendiri.


kriet


Terdengar suara derit pintu kamar itu dibuka. Ia pun kembali membenarkan posisinya seraya bertanya.


"Kenapa cepat sekali, Kak! Jadi bagaimana kondisi Ayah sekarang?", ia pikir kakaknya yang kembali lagi. Tapi anehnya kenapa begitu cepat.


"Kau!", tubuhnya tiba-tiba mematung saat menyadari siapa gerangan yang masuk ke dalam kamarnya.


Nafasnya terasa akan berhenti. Wajahnya yang terkejut tidak dapat ia sembunyikan dari orang itu. Ia kehilangan kata-kata. Tenggorokannya terasa sangat kering dan tidak mau membantunya untuk bicara.


"Bella!", suara itu sama persis dengan yang ia dengar saat dirinya hampir tak sadarkan diri ketika kecelakaan tadi baru saja terjadi.


"Vi,, Victor!", perlahan ia tarik seluruh kesadarannya. Lalu ia berusaha mendudukkan diri.


"Sudah! Berbaring saja!", dan pria itu kembali merebahkan tubuhnya.


"Syukurlah kau baik-baik saja!", pria itu mengembangkan senyum menawannya yang sudah sangat Bella rindukan selama ini. Ditambah lagi, pria itu dengan manisnya menyelipkan beberapa anak rambut ke belakang telinganya.


Bella mengulum bibirnya menahan diri untuk tersenyum lebih lebar lagi. Ia yakin pipinya pasti sudah berubah warna saat ini. Tapi ia tak ingin bergeming, ia ingin menunggu kalimat apa yang ingin diucapkan orang itu.


"Bella! Setelah ini kuharap kau bisa melupakan aku!", sekarang ia melihat Victor menghela nafasnya panjang.


"Tapi kenapa?", wajah sumringahnya langsung berubah muram. Kalimat yang ia tunggu nyatanya sungguh menyakiti hatinya. Sangat menusuk ke dalam sana.


"Kecelakaan kali ini sebenarnya berkaitan denganku. Aku bisa bersumpah bahwa bukan aku pelakunya! Tapi,, sepertinya keadaannya pasti akan lebih rumit lagi setelah ini. Aku tidak berharap kau mau mempercayaiku. Aku tidak berharap sama sekali. Kalian adalah orang-orang baik, jadi tidak mungkin aku menyakiti kalian", setelah mengatakan itu, Victor lalu berdiri.


"Bella, orang yang berada di balik ini semua sangat licik dan berbahaya. Ku harap kau dapat memperingati kakakmu. Dan setelah ini, kita jangan sampai bertemu lagi! Aku tidak ingin nyawamu dalam bahaya lagi seperti pagi ini!", pria itu berkata lagi sambil mengusap pucuk kepalanya. Dan Victor pun mulai berbalik pergi.


"Apa hanya itu yang ingin kau katakan? Tidak ada yang lain?", tapi Bella segera menahan tangan orang itu sebelum ia berhasil melangkah pergi.


Bella tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap kepergian orang itu dalam diam. Tapi matanya sudah berkaca-kaca sejak orang itu membelakangi dirinya. Hingga akhirnya tangisnya pecah, beberapa saat setelah pintu kamarnya tertutup kembali.


Sambil menangis Bella memandangi tangannya yang baru saja menyentuh tangan pria itu. Ia juga memegangi pucuk kepalanya yang diusap tadi. Tangisnya kali ini sungguh mendalam dan penuh luka. Sepanjang hidupnya, bukan tidak pernah Bella menyukai seorang pria. Tapi kali ini bukan sekedar suka, ia merasa sudah jatuh cinta pada orang itu.


Baru saja ia berpikir jika takdir memang memihak padanya karena ia kembali dipertemukan dengan orang itu. Namun,, tujuan orang itu mendatangainya hanyalah untuk mengucapkan beberapa peringatan dan juga selamat tinggal. Sungguh menyakitkan kenyataan ini.


Tangisnya makin keras saat ia mengingat perlakuan manis orang itu saat pertama kali datang. Dan lagi kalimat terakhir yang dia ucapkan. Sungguh memiliki makna tersendiri. Dan Bella bisa merasakan hal itu, meskipun ia belum benar-benar tahu situasi dan kondisi semuanya saat ini.


Maafkan aku! Tapi kau memang harus hidup dengan baik setelah ini!


Sebenarnya apa yang terjadi?! Mengapa ia merasa keadaannya sangat rumit?! Tapi jika menilai wajah orang itu, Bella merasa semua ucapan Victor terdengar tulus dan tidak mengada-ngada. Berkaitan dengannya? Percaya padanya? Ada apa ini sebenarnya? Bella pun mengakhiri tangisnya dengan banyaknya pertanyaan yang mulai muncul di kepalanya saat ini.


***


Mungkin sekitar satu jam sudah Bella berkutat dengan pikirannya sendiri. Ia duduk sambil memeluk tubuhnya. Membenamkan wajahnya di antara kedua kakinya. Ia memang tidak tahu apa-apa mengenai keluarganya. Yang ia tahu jiak ayahnya memiliki pekerjaan yang mulia dengan mengabdikan diri untuk rakyat. Dan ia mempuyai kakak yang selalu sibuk dengan urusan perusahaan.


Pekerjaan Ayah memiliki resiko tinggi. Jadi,, apapun yang terjadi pada Ayah nanti, kau harus tetap rukun dengan kakakmu! Ayah percaya, kakakmu itu pasti bisa menjagamu dengan baik! Dan ingat, jangan percaya kepada siapa pun. Karena di dunia ini telalu banyak manipulasi!


Lalu ia teringat pesan ayahnya saat di mobil tadi. Sepertinya urusan keluarga mereka tidak sesederhana yang selalu ia pikirkan selama ini. Bella merasa bersalah, karena selama ini menjadi anak manja dan selalu tidak peduli. Sebenarnya selalu ada bahaya yang mengintai keluarga mereka, hanya saja ia tidak pernah menyadarinya karena selama ini ayah dan kakaknya selalu bisa menjaganya dengan baik. Sehingga tak ada celah untuk sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya.


brak


Kemudian ia terperanjat saat mendengar pintu kamarnya dibuka dengan keras. Ia lemparkan tatapannya ke arah sana dengan wajah terkejutnya.


"Kakak!", ia melihat kakaknya masuk dengan wajah yang lebih berantakan daripada sebelumnya. Kakaknya itu seperti sedang menahan sesuatu.


"Bella!", Baz segera memeluknya dengan sangat erat.


"Ayah telah tiada!", lalu terdengar suara kakaknya yang bergetar.


"Kakak pasti sedang bercanda, kan?! Candaan Kakak tidak lucu!", ucapnya seraya melepaskan pelukan kakaknya itu.


Namun Bella tidak perlu memastikan lagi saat melihat mata kakaknya yang memerah dan sudah tergenang air mata. Ia bisa yakin jika kakaknya ini sedang tidak bercanda sekarang. Ini serius! Kakaknya itu serius!


"Ayah!", serunya dengan suara pelan. Air matanya yang tadi mengering kini langsung terjun bebas lagi.


"Dan semua bukti yang telah dikumpulkan menjurus ke arah Victor. Dia yang telah menyebabkan Ayah tiada, Bella!", nada kemarahan terdengar dari suara kakaknya yang masih bergetar itu. Kakaknya itu melempar tatapan tajamnya ke arah dinding di belakang punggungnya dengan rahang yang mengetat.


"Tidak mungkin!", selagi menangis Bella membekap mulutnya tak percaya. Ia masih ingat dengan semua yang diucapkan Victor tadi padanya. Tapi bukti yang kakaknya itu pegang pasti valid. Jadi siapa yang sebenarnya harus ia percaya?!


"Kakak tidak akan mengampuni orang yang telah berani bermain-main dengan nyawa Ayah!", Baz seakan sedang ditulikan indera pendengarannya oleh amarah dan kesedihan yang sedang memenuhi pikiran dan hatinya saat ini.


"Ayah! Ayah!", Bella juga larut dalam kesedihannya sendiri. Hatinya sakit tak tertahankan hingga histerisnya pecah, terdengar begitu pilu di telinga semua orang. Bagaimana tidak, setelah kehilangan ibunya, kini tinggal ayahnya saja yang ia miliki. Ayahnya yang selalu memanjakan dan memberikannya limpahan kasih sayang. Lalu sekarang, jika ayahnya sudah tiada, siapa lagi yang akan memanjakannya seperti dulu?! Siapa lagi yang akan memberikannya kasih sayang yang begitu melimpah seperti itu?! Tidak ada lagi orang tua yang mereka miliki setelah ini. Sakit,, sakit sangat dadanya ketika ia dipaksa untuk menerima kenyataan pahit ini.


Baz memeluk adiknya yang sedang sangat terpukul itu. Di tengah kesedihannya yang mendalam ini, hatinya pun diselimuti amarah yang besar. Tapi amarahnya segera larut mendengar tangis Bella yang tiada henti itu. Hingga akhirnya mereka berdua pun menangis bersama di dalam pelukan itu.


Bahkan para anak buah kakaknya pun menundukkan kepala mereka, ikut merasakan kepedihan yang sekarang tuan dan nona mereka itu alami.


-


-


-


**selamat membaca ya semuanya 😊


keep strong and healthy selalu ya 😘🥰**